Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
#44 Kemarahan Bram saat itu



Meski acara makan yang terjadi antara keluarga Sanjaya dan Angkasa berjalan sedikit canggung, tapi tidak dapat di elak jika terlihat mereka sama-sama menikmati makan malam itu.


Sepulang dari rumah Angkasa, Hanny mengajak Hero untuk menginap di mansion keluarga Sanjaya.


“Mah, Hero akan kembali ke rumah sakit untuk mengerjakan tugas perusahaan,” ucap Hero yang Hanny jawab dengan pandangan datar dan tidak sukanya.


“Hari ini, kamu menginap, karena mungkin seminggu ke depan Ayah akan ke luar negeri. Memang kamu tega membiarkan Bunda merasa kesepian?” tanya Hanny.


Hero hanya bungkam, ia tidak mengatakan apa-apa.


...*****...


Sesampainya di mansion, terlihat jika Alina dan Hero saling pandang dengan tatapan yang terlihat merasa canggung.


Mereka berdua bahkan hanya diam saat mendengar penjelasan Hanny yang mengatakan jika mereka akan tidur di kamar yang sama.


Bagaimana respon Alina dan Hero tentu saja mereka merasa canggung, meski hal ini sudah bisa mereka berdua tebak. Tapi selama hampir 2 bulan mereka menikah, Alina dan Hero tidak pernah yang namanya tidur bersama.


Hero sibuk dengan pekerjaannya, hingga Alina yang merasa telah memberikan banyak waktu untuk Hero. Akhirnya Alina memilih berperan aktif mengejar lelaki itu.


Di kamar.


Alina hanya diam, ia sedikit ragu untuk mendekat ke arah Hero yang kini sedang bersandar di kepala ranjang. Laki-laki itu terlihat hanya fokus menatap laptopnya tanpa menatap ke arah dirinya sama sekali.


“Kak, kenapa belum tidur?” tanya Alina saat ia hendak berbaring di samping Hero.


“Kamu tidur saja lebih dulu, atau bila perlu aku akan keluar agar kamu tidak merasa terganggu,” ungkap Hero.


Alina yang mendengar itu hanya tersenyum, hingga Hero yang melihatnya merasa heran. Apakah ada dari perkataannya yang terkesan lucu? Hero rasa itu tidak ada.


Padahal Alina tersenyum, kini cara Hero berbicara dengan dirinya tidak menggunakan kata Saya' tapi aku'. Bukankah itu bukan panggilan formal lagi?


“Tidak apa-apa Kak, tidur saja. Alina lebih senang kalau ada yang temani Alina di sini,“ ungkap Alina yang mulai berbaring.


Satu menit dua menit Alina hanya diam, tapi begitu menit berganti jam dan Hero masih saja fokus pada pekerjaannya.


Alina yang melihat jika jam sudah menunjukkan waktu pukul sebelas malam, ia ingin mengingatkan Hero.


“Kak, tidur.”


“Besok masih bisa lanjut kok, lebih baik Kakak tidur aja dulu, besok 'kan bisa lanjut lagi.”


Merasa terabaikan, dengan berani Alina langsung mengambil laptop Hero dan menaruhnya di meja yang berada di samping ranjang.


“Tidur Kak, besok masih bisa lanjut kerja.”


“Kalau nggak Alina akan gangguin Kakak sampai Kakak benar-benar tidur,” ancam Alina Hero hanya diam dan hendak mengambil laptopnya lagi, tapi sayangnya tangganya itu langsung Alina cekal agar Hero tidak bisa mengambil laptopnya.


“Alina akan meminta tiga syarat ke Kakak jika memang Kakak menginginkan gantungan kunci yang Alina beli waktu itu,” ungkap Alina.


/Lagi-lagi Hero hanya diam.


“Pertama Alina ingin agar Kakak tidur tepat waktu dan minimal 8 jam sehari.”


“Tidak bisa. Itu syarat yang tidak bisa aku lakukan,” ucap Hero yang langsung menolak itu.


“Kalau begitu Alina ingin Kakak setidaknya tidur 7 jam dalam sehari.”


“5 jam, tapi aku tidak bisa janji.”


Hero akhirnya mengambil kesimpulan.


“Yang kedua, Alina ingin kita ngedate dan jalan-jalan bareng, selama 1 bulan ke depan. Bukan setiap hari, paling tidak seminggu sekali.”


Untuk hal itu, Hero tidak bisa menolak.


“Boleh Alina tahu apa yang terjadi pada Kakak setelah Kakak menolak perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tua kita?” tanya Alina tiba-tiba.


Hero bahkan menatap Alina dengan tatapan heran, ia tidak mengatakan apa-apa dan membayangkan apa yang terjadi padanya saat itu.


Flashback


Bukkk


Bukkk


Bukkk


Hero hanya diam saat tak henti-hentinya Bram yang terlihat amat sangat marah memukul dirinya dengan membabi buta.


Tidak ada bentuk pengelakan atau hanya sekedar menghindar yang Hero lakukan, karena Hero hanya diam dengan patuh menerima kemarahan dari Sang Ayah.


“Puas kamu? puas sudah membuat hubungan baik antara keluarga Angkasa dan keluarga Sanjaya berakhir begitu saja?” marah Bram yang tak henti-hentinya memukul Hero.


Hero yang kini hanya diam dengan wajah babak belur, ia tidak menjawab. Bagaimana ia bisa berbicara jika tubuh dan wajahnya babak belur, hingga terdapat banyak bercak merah keunguan yang terlihat karena pukulan Bram.


Bram sangat marah dan tidak terima dengan anaknya yang dengan tegas memutuskan hal itu begitu saja. Ia merasa tidak terima akan keputusan anaknya itu yang menurutnya hanya sepihak.


“Untuk apa pernikahan ini terjadi jika hanya akan menjadi sebuah penyakit, bukankah pernikahan itu harus didasari sebuah keinginan dari kedua belah pihak?” mati-matian Hero berbicara dengan wajah serta suara yang terlihat baik-baik saja.


Kedua tangan Hero terlihat menopang tubuhnya agar bisa duduk dengan tegak. Meski tahu jika hal ini telah membuat ayahnya marah dan kecewa, tapi Hero tetap pada keputusannya ini.


Memang Hero berjanji untuk bangkit dan memiliki semangat hidup, tapi jika itu harus dengan sebuah perjodohan Hero rasa ia tidak bisa. Apalagi yang dijodohkan dengannya adalah Alina yang ia anggap adiknya sendiri.


“Lalu mau sampai kapan kamu terliha seperti orang yang putus asa? mau sampai kapan kami hanya diam dan melihat anak kami yang kini terlihat seperti mayat hidup?” tanya Bram marah.


Mungkin penampilan Hero masih terlihat biasa, tidak ada yang berubah. Laki-laki itu justru semakin hari semakin tampan. Hanya saja, batin dan semangat hidup laki-laki itu telah hilang.


Tidak ada semangat dalam wajah laki-laki itu, yang ada hanya rasa sedih dan putus asa yang ia sembunyikan di balik kesibukannya.


“Hero akan bangkit, tapi Hero rasa untuk menikah Hero tidak siap. Dan kini Hero menyadari jika untuk menikah Hero mungkin tidak akan siap sampai kapan pun itu,” jawab Hero yang semakin membuat Bram marah dan kesal.


Bram hendak memukul Hero, tapi sebelum itu Hanny yang dari tadi hanya diam langsung memeluk suaminya. Ia terisak dan menangis dengan cukup kencang.


Ibu mana yang tidak sedih melihat anaknya terluka? apalagi itu terjadi karena suaminya yang memukul anaknya hingga terluka.


“Sudah sudah, tolong jangan pukul Hero lagi. Kamu harus ingat jika dia anak kita, anak satu-satunya yang kita miliki ...,” lirih Hanny.


“Lalu apakah anak itu juga tidak pernah berfikir, betapa sedih dan terlukanya kita melihat dia yang tidak peduli lagi pada kesehatannya?”


Meski Bram berkata dengan tegas, tapi apa yang Bram katakan itu benar. Ia sangat sedih melihat anaknya yang seakan tidak memiliki semangat hidup karena kepergian orang yang ia cintai.


Tapi, bukankah Hero juga egois? karena di sini bukan hanya Hero yang sedih. Kedua orang tua Hero juga merasa sedih dengan keadaan anaknya yang kini terlihat sangat putus asa.


“Kita hanya diam, bukan berarti kita tidak peduli. Tapi kita diam karena kita pikir dia akan sadar dan kembali peduli pada kesehatannya lagi. Tapi apa? bukankah hingga sekarang justru Hero masih sama, bahkan lebih parah karena hanya mementingkan pekerjaannya!”


Bram mengungkapkan apa yang membuat ia sedih dan kecewa dengan Hero.


Hero adalah anak yang baik, penurut, ramah, ceria serta sangat berbakti. Berkat kepintaran dan kecerdikan dirinya perusahaan keluarga Sanjaya yang telah berdiri selama puluhan tahun tetap bisa bangkit. Bahkan kini menjadi lebih maju dan berkembang lagi.


Tapi apa gunanya semua itu jika yang menjadi harta berharga keluarga Sanjaya saja tidak memiliki keinginan untuk bisa bertahan hidup?


“Hero, mulai sekarang, ayah tidak akan pernah peduli dengan kamu lagi. Terserah kamu mau seperti apa, itu urusan yang kamu pilih!” tegas Bram yang pergi begitu saja.


Hanny yang melihat itu, ia memilih menghampiri anaknya. Hanny membantu Hero untuk duduk, meski seringkali Hero menolak dan berkata jika ia baik-baik saja.


“Jangan seperti ini sayang. Kamu harus ingat dengan kesehatan kamu. Bukan hanya wanita itu saja yang kamu pikirkan!. Apa kamu tidak sedih melihat Bunda dan Ayah yang merasa sedih karena kamu yang seperti ini?” tanya Hanny yang hanya dijawab dengan sebuah kebungkaman dari Hero.


Hero sedih, tapi kematian dari wanita itu yang memang sudah lama, masih belum bisa Hero lupakan.


Flashback end


“Kak,” panggil Alina yang berhasil menyadarkan Hero dari lamunannya itu.


“Kenapa hanya diam?” tanya Alina yang hanya di jawab dengan sebuah kebungkaman.