Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
#11 Apakah itu dia?



Alina baru selesai mengunjungi makam seseorang. Ia kini hendak memasuki mobil, tapi tanpa sadar matanya melihat sosok seseorang yang sangat di kenal olehnya. Alina sempat berpikir jika mungkin saja yang ia lihat bukan orang yang ia kenal.


“Aku yakin itu pasti bukan dia, tapi kalaupun itu dia kenapa bisa dia ada di sini?” gumam Alina tanpa sadar.


Saat memasuki mobil, Alina hanya diam dan melamun.


“Kenapa?” tanya Eron saat ia melihat adiknya hanya diam tanpa berkata apa-apa, ia merasa khawatir jika adiknya ada masalah.


“Tidak!, Alina baik-baik saja Kak,” jawab Alina sambil tersenyum.


“Mau ke mana sekarang kita?” tanya Eron. Ia jelas tahu jika adiknya sekarang sedang berada dalam suasana yang sedih, terlihat jelas dari ekspresi wajahnya yang tidak bersahabat.


“Entah, Alina bingung,” jawab Alina yang kembali melamun. Ia ingin mengunjungi Hero, tapi Alina tidak berani. Ia takut jika Hero akan marah dengan sikapnya yang terang-terangan menunjukkan hubungan mereka.


“Hey jangan melamun begitu dong, oh ya kamu mau bekerja di rumah sakit mana sekarang?” tanya Eron yang belum tahu dimana Alina bekerja.


“Alina sudah bekerja di rumah sakit yang lain Kak, Alina tidak akan bekerja di rumah sakit Angkasa.”


“Kenapa?” tanya Eron penasaran.


Secara rumah sakit Angkasa adalah rumah sakit terbaik di negara Z, selain fasilitas yang sangat lengkap, rumah sakit Angkasa juga termasuk yang terbesar.


“Entah, Alina sepertinya hanya akan bekerja di rumah sakit Cendana,” ungkap Alina menjelaskan.


Ada sebuah kenangan tersendiri dari rumah sakit Cendana itu, yang jelas alasannya itu tidak bisa dijelaskan oleh Alina.


“Rumah sakit Cendana sekarang sudah menjadi salah satu rumah sakit terbaik, dan kakak dengar jika rumah sakit itu telah membangun banyak fasilitas yang lebih lengkap. Itu tak lain karena mendapat investasi dari seseorang, kamu tahu siapa yang telah menjadi investor terbesar di rumah sakit itu?” tanya Eron dan Alina hanya menggeleng.


“Hero, dia orang yang menjadi alasan perusahaan Sanjaya berinvestasi di rumah sakit itu,” jelas Eron.


Alina sedikit terheran-heran saat mendengar itu. Ia baru tahu akan hal itu.


“Kak Eron, Alina heran kenapa Kak Hero menjadi dokter? bukankah seharusnya ia ada di perusahaan?” tanya Alina, ia memang tahu jika Hero seorang dokter, tapi seingatnya dulu cita-cita dari seorang Hero bukanlah seorang dokter. Lagipula sebagai anak tunggal seharusnya Hero sudah berada di perusahaan.


“Iya, Hero menjadi dokter di rumah sakit Cendana, itu karena keinginannya sendiri, entah. Kakak juga tidak mengetahui jelas mengapa tidak menjadi penerus saja di perusahaan ayahnya, lalu kenapa tidak kamu tanya langsung saja alasannya pada suami kamu?” tanya Eron yang hanya dijawab kebungkaman dari Alina. Alasan kenapa Hero rela menjadi dokter di rumah sakit itu juga tidak diketahui oleh siapapun selain ibu dari Hero sendiri.


“Atau jangan-jangan kamu ingin bekerja menjadi dokter di sana karena Hero bekerja di sana?” tanya Eron yang merasa sedikit penasaran.


“Tidak Kak, Alina justru sudah bekerja di sana,” jawab Alina yang langsung Eron jawab dengan anggukan.


“Dan seperti yang Kakak katakan, bukankah seharusnya Kak Hero menjadi penerus perusahaan? itu yang Alina heran saat ini.”


“Entahlah mungkin dia bekerja ganda. Bekerja sebagai dokter sambil mengerjakan pekerjaan perusahaan. Aku juga bingung dengan pemikiran orang kaya, setidaknya 'kan mereka sudah memiliki banyak uang, tapi kenapa masih sibuk-sibuk bekerja?” dengan nada heran Eron berbicara.


Jika dikatakan keluarga angkasa kaya, itu benar. Meski tidak sebanding dengan keluarga Sanjaya, tapi keluarga angkasa termasuk ke dalam 5 besar keluarga terkaya di negara Z.


“Kasihan Kak Hero, kalau kayak gitu terus-terusan pasti dia sangat lelah,” tiba-tiba Alina berkata seperti itu, hingga mendapat tatapan aneh dari Sang Kakak.


“Sejak kapan kamu sangat peduli dengan orang lain?” tanya Eron seakan lupa jika adiknya kini adalah istri Hero


“Kak Hero bukan orang lain loh Kak, dia sudah seperti keluarga kita, dan Kak Hero kini adalah suami Alina,” jawab Alina dengan nada tak sukanya.


“Kak, Alina ingin beli es krim,” ucap Alina tiba-tiba dengan nada manja miliknya.


Eron hanya diam untuk sejenak, tapi meski begitu ia mengangguk dan langsung berjalan menuju sebuah kedai es krim.


“Kak, Alina mau es krim coklat sama vanilla,” pinta Alina yang menunggu di sebuah meja. Ia tersenyum berharap kakaknya tidak merasa marah ataupun kesal pada dirinya.


“Dasar bocah! tapi kamu dilarang untuk menambah porsi es krim, tidak peduli seberapa memaksanya kamu kakak tidak akan pernah mau menambah porsi es krim,” jawab Eron. Tapi meski begitu Eron masuk ke dalam dan langsung memesan es krim sesuai dengan keinginan Alina.


Melihat Eron masuk, Alina hanya diam dan menunggu. Tapi tanpa diduga seseorang datang menghampiri Alina, orang itu duduk tepat di samping Alina.


“Kamu tahu dimana Bian?” tanya perempuan itu yang tak lain adalah Farah.


Alina hanya diam dan menatap Farah dengan seksama, ia ingat setelah pertengkaran itu kakaknya yang tidak pernah sakit kecuali saat kecil tiba-tiba sakit panas dan demam. Itu membuat seisi rumah khawatir, memang keluarganya adalah keluarga dokter semua, tapi tidak ada yang merupakan dokter umum dikeluarganya, dan meski begitu ibunya yang telah berpengalaman mampu merawat kakaknya dengan baik.


“Untuk apa Kakak ke sini?” tanya Alina dengan tatapan kesal yang tidak bisa disembunyikan.


“Dek, Kakak masih bertanya baik-baik ya sama kamu, jadi tolong jawab pertanyaan Kakak sebelum Kakak benar-benar marah sama kamu!”


“Kakak berani?”


“Kenapa nggak?”


“Ternyata sifat Kakak kayak gini ya, kenapa nggak coba buat deketin juga keluarganya?”


“Nggak, untuk apa. Aku di sini cuman mau ketemu sama Bian, jadi kamu tahu 'kan dimana Bian sekarang?” tanya Farah langsung.


“Untuk apa kamu datang ke sini?” Eron yang datang dengan membawa es cup ditangannya langsung menaruh itu dan menyembunyikan Alina dibelakang tubuhnya.


Farah ini tipe perempuan gila menurut Eron, mungkin saking tergila-gilanya pada Bian sampai Farah jadi seperti ini.


“Kamu tahu 'kan dimana Bian sekarang?” tanya Farah langsung.


Harus Farah akui, tiga hari tanpa kabar dari Bian membuat dirinya kelimpungan, ia benar-benar merasa kehilangan sosok Bian. Walau Bian tidak pernah menunjukkan perhatiannya di depan umum seperti pasangan lain, tapi Farah selalu mendapat perhatian kecil dari Bian.


Seperti halnya menanyakan kabar, atau hanya sekedar mengingatkan makan, itu yang selama ini selalu Farah dapatkan dari Bian.


Memang sangat tidak mudah untuk mendapatkan Bian, Farah bahkan sampai berkorban dan berusaha keras, ia juga tidak peduli dengan harga dirinya.


Jika orang yang Farah perjuangan 'kan bukanlah Bian, mungkin saja Farah sudah dimanfaatkan. Dan Bian bukan orang yang seperti itu, ia justru rela berusaha untuk mencintai Farah karena terketuk dengan segala kegigihan Farah.


Hanya saja ..., tanpa diduga setelah mereka resmi jadian Farah benar-benar semakin tak terkendali dan seolah benar-benar tergila-gila dengan Bian.


“Kami nggak tahu, sekalipun kami tahu untuk apa kami mengatakan itu pada kamu!” sinis Eron, ia menatap Farah dengan tatapan tak sukanya.


“Suatu saat aku akan menjadi Kakak ipar kamu, jadi sebaiknya kamu bersikap sedikit sopan padaku,” ucap Farah yang langsung mendapat decihan sinis dari Eron.


“Najis, percaya diri sekali Anda,” sinis Eron dengan tatapan tak sukanya


#####