
Selepas kepergian laki-laki itu, Alina memilih untuk bangkit, ia berjalan ke arah kamar mandi. Dan ia langsung mandi karena Hero sudah menyiapkan air hangat untuknya mandi.
“Entah kenapa kebaikan ini tidak terasa mengagumkan lagi,” kata Alina yang akhirnya lebih memilih untuk mandi air dingin.
Meski Alina lebih sering menggunakan air hangat jika dibandingkan mandi air dingin. Tapi, Alina merasa jika ia tidak ingin menerima sedikitpun kenaikan dari lelaki itu, ia tidak ingin berharap jika kenyataanya usaha yang ia lakukan selama ini sia-sia.
...........
Alina lalu keluar dari kamarnya, ia menuju ke arah meja makan. Alina sangat lapar, ia tidak mampu untuk egois dan tidak mampu untuk bersikap tidak peduli pada anaknya sendiri.
“Apa kalian lapar kesayangan-kesayangan Mamah? hari ini Mamah akan makan. Sebelumnya Mamah minta maaf karena telah merepotkan kalian dengan masalah ini,” kata Alina. Ia bersyukur jika anaknya baik-baik saja dan tidak ada hal buruk yang terjadi.
Saat Alina menatap ke arah meja makan, ternyata di sana masih ada Hero. Laki-laki itu tidak berangkat pagi ke rumah sakit seperti biasanya.
“Makanlah, jangan lupa minum susu juga,” kata Hero yang menarik kursi dan mempersilahkan Alina untuk duduk disampingnya.
Alina justru memilih berjalan sedikit memutar, ia duduk di kursi yang jaraknya sedikit jauh dari Hero. Bentuk meja yang melingkar panjang, membuatnya bisa untuk menampung enam orang.
“Makanlah,” kata Hero saat Alina sudah duduk. Ia sengaja menggeser piring itu agar Alina bisa dengan mudah mengambil piringnya.
Alina justru lebih memilih susu yang harus ia minum, setelahnya Alina baru memakan nasi goreng yang Hero buatkan dengan menu sehat karena dilengkapi sayuran yang banyak.
“Jangan menatap Alina seperti itu, Alina bukan orang baik yang seperti Kakak pikirkan. Alina bisa marah, dan Alina juga bisa kecewa, jangan pikir hanya Kakak saja yang bisa memperlakukan Alina seenaknya,” ungkap Alina saat Hero terus menatapnya.
“Tidak, aku tidak berfikir seperti itu. Wajar jika kamu marah, dan aku pun tidak bisa mengelak dan hanya bisa menerima itu semua.”
Alina yang mendengar itu tidak berkata apa-apa, ia hanya diam dan memilih memakan makanan itu.
...*****...
“Maafin Mamah sayang, Mamah nggak bisa lagi bertahan sama orang yang jelas-jelas tidak pernah mencintai Mamah.” Alina mengusap perutnya itu.
Alina telah membulatkan tekad jika ia akan kabur dari Hero saat ini. Alina tidak akan peduli lagi dengan apa yang akan lelaki itu rasakan.
“Mamah telah berusaha dan mencoba untuk bisa membuat Papah kamu sayang pada Mamah. Tapi nyatanya usaha itu hanya sia-sia,” kata Alina lagi.
Alina lalu berjalan menuju pintu apartemen itu, ia melihat jika apartemen itu tidak lagi dipenuhi oleh foto-foto dari Alicia, lukisan Alicia pun tidak terlihat, bahkan di kamar, tidak ada foto ataupun lukisan Alicia.
Beruntungnya, Alina mendapat akses keluar kamar dan tidak dikunci lagi di kamar oleh Hero. Ia kini dengan bebas bisa keluar masuk kamar. Hero tidak tahu jika Alina sempat mengambil kunci apartemen tanpa lelaki itu sadari.
“Anggap saja jika ciuman itu adalah ciuman perpisahan diantara kita,” ungkap Alina saat ia ingat jika dirinya mengambil kunci itu di saat Hero tengah mengecup keningnya.
.....
Alina berjalan keluar dari apartemen itu, ia melihat jika di jalan ada sebuah taksi langsung menghentikannya.
“Sayang,” Hanny langsung memeluk Alina dengan erat saat ia melihat menantunya itu akhirnya pulang.
“Kamu kemana saja sayang?” tanya Hanny khawatir.
Alina yang mendengar itu hanya diam, ia lalu menatap Hanny dengan tatapan dalamnya. “Apa Kak Hero tidak mengatakan tentang keberadaan Alina?” tanya Alina langsung.
“Hero? anak nakal itu? dia tidak mengatakan apa-apa. Bunda bahkan tidak mendapatkan kabar darinya sama sekali. Apa yang Hero lakukan pada kamu sayang?”
“Bunda, Alina tahu siapa orang yang Kak Hero cintai,” kata Alina yang langsung membuat Hanny bungkam dan tidak bisa berkata-kata.
“Sayang? kamu ...?” Hanny sedikit tertegun saat Alina mengatakan jika dia telah mengetahui siapa laki-laki yang Hero cintai.
“Kenapa Bunda tidak jujur sejak awal? kenapa tidak ada yang mengatakan pada Alina jika orang itu adalah sahabat baik Alina sendiri?” lagi-lagi Hanny hanya diam dan tak mampu untuk berkata-kata, ia seolah merasa bersalah, tapi ia juga tak memiliki pilihan lain, karena ia merasa hanya dengan menyembunyikan kebenaran itu, Alina akan baik-baik saja.
“Bunda, Alina sedih ..., tapi dibandingkan dengan rasa sedih itu, Alina merasa kecewa ..., kenapa Bunda juga harus ikut menyembunyikan kebenaran ini? apa Alina tidak berhak untuk tahu?”
“Maaf, maaf sayang.”
“Alina ke sini cuman untuk mengambil barang-barang Alina. Tolong jangan benci Alina karena keputusan Alina sudah bulat, Alina ingin menjauh dari Kak hero.” Setelahnya Alina langsung berjalan menuju kamarnya, ia memilih beberapa baju miliknya yang akan ia bawa, sedangkan Hanny hanya diam melihat itu.
Hanny merasa bersalah, ia tahu jika Alina pasti juga merasa kecewa padanya. Belum pernah Hanny lihat wajah kecewa Alina saat menatapnya.
“Maafkan Alina Bunda,” kata Hanny.
Melihat Alina pergi dengan kesusahan sambil membawa koper di tangannya. Hanny yang melihat itu berniat untuk membantu membawa koper itu.
“Jika itu sudah keputusan kamu, Bunda tidak bisa mencegahnya. Tolong jangan benci Bunda,” ungkap Hanny berharap.
“Alina tidak akan bisa benci Bunda, bagaimanapun Bunda adalah wanita penting yang ada di hidup Alina.”
Sebelum Alina memasuki taksinya, Hanny memeluk menantu kesayangannya itu. Hanny tahu, jika Alina sudah memutuskan untuk menyerah mengejar Hero, laki-laki yang sangat ia cintai tapi juga sangat keras kepala dalam mencintai wanita di masa lalunya.
“Maaf,” kata Hanny lagi.
“Setelah Alina tenang, Alina akan menghubungi Bunda lagi. Maaf karena Alina mungkin telah mengecewakan Bunda.” Gelengan dari Hanny menandakan jika ia tak pernah merasa kecewa pada Alina sama sekali.
“Kamu adalah menantu terbaik yang pernah Bunda miliki, dan mungkin tidak akan bisa Bunda miliki menantu terbaik Bunda selain kamu.”
“Alina pergi, tetap bahagia dan jangan salahkan siapapun di sini. Mungkin Alina juga salah di sini, karena Alina dengan keras kepala ingin membuat laki-laki yang telah mati rasa bisa mencintai Alina.”
“Jangan mengatakan itu sayang, Bunda juga salah, Bunda telah membuat kamu seperti ini. Pernikahan yang terjadi itu juga karena permintaan dari Bunda.”
Setelah Alina pergi dengan taksinya, Hanny menelepon seseorang. Bukan Hero, tapi orang lain yang hanya ia yang tahu siapa orang itu.