Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Mengalah



“Apa maksud kamu?” tanya Hero yang terlihat jika ia tidak paham dengan ucapan Alina. Ingin sekali Hero mengatakan pada Alina untuk langsung menjelaskan saja tanpa harus membuat kata-kata seperti sebuah Kode untuknya.


“Iya permintaan! Kakak menjadi dokter itu karena permintaan dari Alicia bukan?” kata Alina yang memberanikan diri menatap ke arah Hero.


Mendengar itu, Hero hanya menghela nafas pasrah. Kenapa sulit sekali untuk bisa bersama dengan istrinya seperti dulu, apa ini kesalahannya yang mengabaikan istrinya?


Harus Hero akui jika keinginannya menjadi dokter itu memang karena permintaan dari Alicia, dan itu karena rasa bersalah Hero yang tidak bisa apa-apa saat Alicia meninggal karena operasi yang gagal. Kondisi fisik Alicia yang tidak memungkinkan untuk selamat itu membuat tingkat kegagalan tinggi.


Jadi Hero menjadi dokter bedah demi bisa membantu menyelamatkan banyak nyawa yang memang bisa ia tolong.


“Kakak benar-benar tak mengerti dengan kamu, harus bagaimana lagi agar kamu mau memaafkan Kakak Alina? apa Kakak memang harus mati agar kamu mau memaafkan Kakak?” kata Hero dengan wajahnya yang terlihat sedikit sendu dibalik wajahnya yang datar.


“Kalau memang lelah dan tak sanggup menghadapi sikap keras kepala Alina, maka lepaskan saja Alina!” acuh Alina yang tidak suka saat Hero mengatakan kematian, sekesal dan sebenci apapun Alina, ia tak pernah mengharapkan sesuatu yang buruk terjadi.


“Tidak! tidak akan pernah! Kakak akan tetap berjuang untuk mendapatkan istri dan anak Kakak kembali! akan Kakak anggap jika sikap kamu adalah penebusan dosa bagi Kakak yang selama ini mengabaikan kamu,” kata Hero yakin.


“Kalau begitu jangan bertele-tele, Alina sedang bertanya, cukup katakan iya atau tidak!” tegas dan berani dari ucapan Alina itu.


“Iya,” meskipun menyakitkan Hero akan jujur pada Alina. Ia tahu jika saat ini Alina merasa terkhianati olehnya. Maka itu Hero tidak akan membohonginya lagi, sekalipun Hero memang tidak pernah berbohong apalagi mengkhianati wanita itu.


Bukankah kisah cinta Hero dan Alicia itu hanya masa lalu? dan itu terjadi sudah lama? hanya saja hal itu diketahui saat ini.


“Kakak kerja di rumah sakit Cendana juga karena terbayang dengan Alicia bukan?”


“Dulu iya, tapi sekarang tidak,” akui Hero.


Tapi entah kenapa Alina masih belum bisa untuk percaya pada Hero sepenuhnya. Ia seolah tidak mempercayai kejujuran Hero itu.


“Alina akan langsung masuk rumah,” kata Alina yang memilih untuk keluar dari mobil Hero.


Beruntungnya saat ini Hero menghentikan mobil itu tidak jauh dari rumah Alina. Jadi Alina memilih untuk jalan beberapa langkah menuju rumahnya.


“Tetap di sini, biar aku yang antar,” kata Hero langsung dijawab gelengan cepat oleh Alina.


“Sampai sini saja kak, Alina mohon jangan ganggu Alina lagi,” kata Alina yang langsung berjalan pergi memasuki rumahnya.


Hero yang mendengar itu tidak mengatakan apapun lagi, ia hanya mematung dan terdiam seolah tidak tahu harus bersikap seperti apa.


Kenapa? kenapa dirinya baru bisa menyadari perasaannya pada istrinya di saat semuanya akan berakhir?


Kenapa? kenapa Hero baru menyadari jika cintanya yang tulus pada Alicia yang merupaka wanita di masa lalunya itu hanyalah sebuah obsesinya saja?


Obsesi Hero akan perkataan dirinya yang berjanji pada Alicia untuk mencintai Alicia saja. Tapi nyata hati itu gampang berubah dan sulit di tebak.


Harus Hero akui jika dirinya dulu sangat-sangat tulus mencintai Alicia, tapi setelah kembalinya Alina, entah sejak kapan itu dirinya mulai membuka hatinya untuk Alina.


Wanita dengan segala kelembutannya dan juga sikap baiknya yang sabar menunggu dirinya. Sepertinya ada kejanggalan di masa lalu yang Hero sendiri masih belum bisa memastikan itu apa.


*****


“Iya Kak, baru saja aku makan bersama dengan Raihan dan juga ibunya,” jawab Alina. Ia tidak mengatakan jika ada Hero juga dalam acara makan malam itu.


Alina hanya takut jika nanti akan semakin heboh jika kedua orangtuanya dan kakaknya tahu akan kebenaran itu.


“Oh ya sudah, padahal kami sedang menunggu kamu untuk makan malam. Tapi jika kamu memang sudah makan malam biar kamu langsung istirahat saja,” kata Belvita yang langsung ke ruang makan dan Alina memilih ke kamarnya.


Di dalam kamar.


Alina hanya termenung dan terdiam, ia merenungi sesuatu yang selalu terbayang dipikirkan.


Ternyata benar, jika Hero sangat mencintai sahabat baiknya sendiri. Tapi sejak kapan? sejak kapan semua itu terjadi? sejak kapan Hero dan Alicia memiliki sebuah hubungan.


“Alicia, aku benar-benar tidak tahu dosa dan kesalahan apa yang telah aku perbuat pada kamu di masa lalu. Hingga kamu bisa bersikap seperti ini padaku,” gumam Alina.


Setahu Alina hubungannya dengan Alicia baik-baik saja, Alicia selalu mendukung apapun yang Alina lakukan, dia juga selalu menyemangati Alina dan mengingatkan Alina jika berbuat salah.


“Bahkan alasan Kak Hero bekerja sebagai dokter itu semua karena kamu dan demi kamu Alicia,” ucap Alina dengan senyum getir diwajahnya.


Alina tanpa sadar mengusap perutnya yang sudah membuncit. Ia memberikan usapan halus dan lembut pada perutnya itu. Berharap dengan itu Alina akan sedikit lebih tenang.


“Alina,” sebuah suara terdengar dan langsung membuat Alina menoleh saat itu juga.


“Kak Eron? kenapa Kakak ada di sini?” tanya Alina.


Beruntungnya Alina saat ini tidak sedang menangis. Mungkin karena Alina merasa terlalu banyak menangis selama ini, hingga air matanya terasa mengering.


“Kamu pergi dengan Hero?” tanya Eron yang melihat ke sekelilingnya saat ini.


Seolah takut jika perkataannya akan terdengar oleh keluarga lainnya, Eron langsung mendekat dan menatap ke arah Alina dengan tatapan seriusnya.


“Tidak peduli dengan sikap Hero yang berubah sekarang! kamu tidak boleh menerima dia kembali!”


Melihat keseriusan Eron dalam mengatakan itu, Alina hanya diam. Jika dikatakan sikap Hero berubah itu memang benar. Karena akhir-akhir ini Hero selalu berusaha menjaga Alina meski dari jauh.


Seperti menunggu Alina setiap hari hanya sekedar untuk memastikan Alina baik-baik saja. Hero bahkan rela menunggu berjam-jam, karena Alina jarang ke luar rumah kecuali jika dia ingin saja.


Alina juga sudah resign dari rumah sakit Cendana dan hanya ke sana sesekali untuk mengambil barang-barang yang tertinggal.


Setiap Alina akan pergi ke suatu tempat, Hero pasti tahu, dan Alina juga tahu jika selama ini lelaki itu terus-menerus memantau dirinya dari jauh, seolah menjaganya dari kejauhan.


“Tidak akan! apapun yang terjadi Alina tidak akan menerima Hero lagi Kak, cukup sampai di sini saja.”


“Bagus, sekalipun Hero mati Kakak harap kamu tak akan menyesal,” kata Eron langsung membuat Alina melotot tak suka saking terkejutnya.


“Kenapa Kakak bicara seperti itu? kakak jangan melakukan hal yang bodoh! Alina nggak maafin Kakak jika Kakak melukai ayah dari anak-anak,” tegas Alina serius.


Eron langsung menggeleng cepat. “Meskipun aku membencinya dan ingin dia mati, tapi aku tidak sejahat itu hingga ingin membunuhnya.”