
Belvita awalnya setuju, ia tetap tinggal dengan Amina sesuai permintaan dari wanita itu. Tapi beberapa hari setelahnya, Belvita meminta dengan sangat untuk diizinkan pindah. Hal itu membuat Amina tidak tega dan akhirnya menyetujui.
“Terima kasih Tante, maaf kalau selama ini Belvita banyak merepotkan Tante,” ucap Belvita dengan nada sungkannya.
Flashback end.
Alina yang mendengar cerita dari ibunya itu, ia terlihat hanya diam. Ada sesuatu hal yang jelas-jelas membuat Alina merasa curiga, kenapa Belvita bisa sangat ingin untuk pergi dari rumah?
Lalu mengapa Belvita juga tidak mengabari dirinya? dan dimana Belvita sekarang tinggal?
Merasa memiliki banyak pertanyaan, Alina bahkan merasa jika ia tidak pantas untuk disebut sebagai sahabat.
“Mah, Belvita pindah kemana?” tanya Alina yang tentu membuat Amina terkejut.
“Belvita tidak mengatakan tentang kepindahannya ke kamu?” tanya Amina yang langsung dijawab dengan gelengan.
“Alina nggak tahu sama sekali Mah,” tunduk Alina, ia merasa sadar akan kesalahannya yang tidak tahu tentang dimana serta bagaimana keadaan Belvita saat ini.
“Belvita juga tidak mengatakan tentang dimana dia tinggal pada mamah , dan mamah pikir kamu tahu tentang dia,” ungkap Amina. Ia tidak bermaksud menyalahkan Alina tentang ketidaktahuannya itu.
“Alina merasa Alina gagal jadi sahabat Belvita. Pantas saja Melisa sangat tidak suka pada Alina. Ia bahkan tidak ikut datang ke sini seperti Belvita,” ungkap Alina yang menunduk semakin dalam.
Alina ingat, meski Melisa sahabat yang ia kenal lebih dulu, dan Alina juga sangat menyayangi Melisa, sahabatnya itu, tapi entah Melisa juga menganggap ia sahabat atau tidak.
Melisa sering sekali merespon perkataan Alina dengan nada yang terdengar berdebat jika mereka bertiga sedang mengobrol, bahkan Alina sadar jika Melisa jauh lebih sayang pada Belvita dibandingkan rasa sayang Melisa kepada dirinya.
“Hey, kenapa berbicaranya seperti itu?”
Sebagai seorang ibu, Amina merasa sedih jika ada orang yang tega memperlakukan anaknya dengan buruk. Ia bahkan sangat melindungi dan menjaga Alina, lantas apa hak dari mereka yang bersikap buruk pada Anaknya?
“Jika memang Melisa tidak memperlakukan kamu dengan baik, dan jika memang Melisa tidak seperti kamu yang menganggapnya sebagai sahabat kamu, mengapa masih kamu dekati. Jauhi saja orang yang seperti itu, mereka itu hanya akan menjadi penyakit untuk kita,” ucap Amina terdengar menasehati.
Alasan utama Amina bisa sampai seperti ini dan hanya memiliki satu sahabat yang tidak lain itu adalah Hanny. Itu disebabkan oleh Amina yang juga pernah dikhianati oleh sahabatnya.
“Tidak bisa Mah, Alina benar-benar sayang dan tulus pada Melisa. Alina sudah menganggap Melisa itu seperti saudara Alina sendiri,” ucap Alina yang memang sangat peduli kepada kedua sahabatnya itu.
“Jika itu keputusan kamu, Mamah tidak akan pernah memaksa. Tapi kamu harus ingat satu hal, sahabat itu tidak dilihat dari seberapa lama kamu kenal dia. Karena sahabat itu dilihat dari seberapa sayang dan seberapa akrab kalian, serta seberapa jauh kalian saling mengenal. Itu sahabat, dan yang terpenting sahabat itu adalah sosok yang akan terus menguatkan dan ada di kala kita susah, dan bukan seseorang yang menjauh serta tidak peduli pada kita,” jelas Amina panjang lebar.
Alina yang mendengar itu, ia hanya mengangguk patuh dan tidak berkomentar apa-apa.
...*****...
Beberapa hari kemudian.
Alina terus saja berusaha mencari Belvita, ia terus saja mencari dimana dan dengan siapa Belvita tinggal. Alina bahkan tak henti-hentinya menanyai pada beberapa orang sambil membawa foto Belvita layaknya Belvita hilang.
“Kamu dimana sih Bel, sebenci itu ya kamu sama aku sampai pergi tiba-tiba?” tanya Alina yang seolah ia sedang berbicara pada Belvita.
Akhirnya Alina pergi ke rumahnya, besok ia akan mencari Belvita lagi. Karena hari ini sudah sangat malam, Alina juga tidak mungkin membuat ibunya khawatir.
...*****...
Alina yang diminta untuk pulang ke mansion oleh Hanny, ia langsung pulang ke sana. Saat sampai ia melihat jika Hero dan Hanny sedang menunggu kedatangannya.
“Sayang,” panggil Hanny yang terlihat senang saat melihat kedatangannya.
“Bunda, ada apa?”
“Duduk dulu sayang, ada yang sesuatu hal yang ingin Bunda bicarakan sama kamu,” ucap Hanny yang langsung Alina jawab dengan anggukan.
“Bagaimana keadaan kamu? Bunda dengan kamu mengalami ruam hingga Mamah kamu meminta sama Bunda untuk mengizinkan kamu menginap beberapa hari. Dan ini sudah 2 hari kita hampir nggak ketemu. Maaf karena sibuk Bunda jadi jarang ketemu sama kamu,” ungkap Hanny panjang lebar.
“Alina ngerti dan Alina bisa memaklumi itu, lagipula luka Alina sekarang sudah sembuh, hanya ruam biasa saja, jadi Bunda tidak perlu khawatir.”
“Sayang, Bunda ingin kamu dan Hero tinggal bersama di mansion ini. Bunda tahu kamu tidak ingin merasa kesepian, dan bunda yakin juga jika orang tua kamu tidak akan membiarkan kamu merasa kesepian. Oleh karena itu bunda meminta Hero-, jeda Hanny yang terlihat menatap ke arah anaknya itu.
“Agar dia tinggal di mansion. Tidak peduli sesuai apapun dia, dia tetap harus berada di mansion. Dan Hero harus tinggal di mansion tanpa penolakan!” tegas Hanny terkesan mengambil keputusan.
“Jarak rumah sakit dari apartemen yang Hero tempati itu dekat. Sedangkan jarak rumah sakit Cendana dan mansion itu sangat jauh.”
“Tidak jauh Hero, kamu bisa melewati jalan yang lain. Bukankah masih ada jalan alternatif lain yang bisa kamu lalui?”
Pertanyaan Hanny seakan tidak mampu Hero jawab, karena apa yang Hanny katakan benar.
Jalan menuju mansion ada dua, dan dari salah satu jalan itu akan membuat jarak rumah sakit menuju mansion lebih dekat.
“Jadi jangan terus beralasan. Ingat Hero, kalian sudah menikah, tidak peduli Alina memaksa kamu atau tidak. Karena kenyataannya kalian memang sudah menikah. Jadi jalani pernikahan ini dengan baik,” tegas Hanny lagi.
Kedua orang yang ada hanya diam, tapi Hero yang akan selalu mengelak, ia hendak angkat suara.
“Jangan terus membantah Hero, ini hidup kamu, dan kamu hidup bukan mati,” ucap Hanny yang membuat Alina dan Hero hanya diam seakan tidak bisa mengatakan apa-apa.
...*****...
Sesuai yang diperintahkan.
Hero dan Alina tinggal di mansion yang sama, hanya kamar mereka saja yang berbeda.
Padahal mereka tinggal di tempat yang sama, Hero dan Alina juga bekerja di tempat yang sama. Tapi lelaki itu tidak pernah mengajak Alina untuk berangkat bersama.
Itu tak lain karena Hero selalu berangkat satu jam lebih awal dari jadwalnya. Sekalipun jadwalnya itu selalu sangat pagi.
“Padahal kita tinggal bersama, tapi tetap saja kita sangat jarang bertemu,” gumam Alina.