
Sepertinya Hero benar-benar berniat memperbaiki hubungannya dengan Alina. Terbukti dari sikap dan perilaku laki-laki itu yang setiap hari mengunjungi rumah Alina setiap dirinya selesai melakukan tugas.
Sebagai seorang dokter yang sangat dihormati dan berpengaruh, kehadiran Hero bahkan sangat penting dan diperlukan.
Sekalipun Hero ingin datang ke rumah Alina dan rela menunggu dari pagi hingga malam hanya demi bisa melihat Alina walau hanya sekilas, tapi kesibukannya membuatnya semakin sulit bertemu dengan Alina.
“Untuk apa kamu datang ke sini lagi? masih belum puas kamu di hajar oleh Kak Bian? padahal tiap hari loh kamu akan dihajar, apa itu tidak sakit?”
Kata-kata Eron pada Hero jelas adalah sebuah sindiran dan kata-kata sinis dengan nada yang tak suka. Walau begitu, dalam kata-kata itu terdapat sebuah kejujuran dan rasa penasaran dari Eron.
Bian adalah seorang ahli dalam tinju dan karate, ia bahkan sudah pernah memenangkan juara turnamen tingkat nasional. Jelas pukulannya itu bukanlah pukulan yang main-main, itu pukulan yang menyakitkan.
Tapi seolah tak memiliki rasa sakit, Hero hanya diam seolah menerima pukulan Bian selama seminggu berturut-turut.
“Jika itu orang lain, aku yakin mereka akan masuk rumah sakit dan di rawat selama beberapa hari, tapi sepertinya kamu berbeda!” komentar Eron.
Sebenarnya Eron beberapa kali memukul Hero meski pada akhirnya justru tangannya yang merasa sakit. Ia tahu jika Hero adalah laki-laki yang sangat berbakat dan penuh akan prestasi.
“Mau seberbakat apapun kamu, aku tidak akan peduli. Kamu tahu, bagiku adikku itu lebih berharga bahkan jika itu hanya dengan dijodohkan dengan kamu!”
Tidak peduli sehebat apapun Hero, bagi seorang kakak seperti Bian dan Eron, mereka akan tetap menganggap jika Alina terlalu berharga untuk bersama dengan lelaki itu.
“Pergilah! aku malas berurusan dengan kamu,” kata Eron dengan acuhnya.
“Kita bahkan seumuran, meski begitu saya menghargai Anda sebagai Kakak ipar saya,” kata Hero yang selalu menahan amarahnya setiap berhadapan dengan Eron.
Hero dan Eron memang seumuran, dan mereka berdua sama-sama pintar, tapi mungkin karena kepintarnya Hero, Eron yang sangat pintar saja tidak akan bisa dibandingkan dengan dirinya.
“Hahaha, iya kita seumuran. Maka itu saat melihat berapa sempurna dan dipujanya kamu oleh dosen dan yang lainnya, itu terasa sangat menyebalkan!”
“Kak! kenapa malah mengobrol?!”
Alina yang berfikir jika kakaknya malah mengajak mengobrol Hero, ia dengan raut kesal langsung menghampiri kedua orang itu.
“Kenapa Anda masih ada di sini?” sinis Alina.
Sejak pertemuannya dengan Hero di kedai, sudah seminggu berlalu. Dan selama itu Alina selalu saja bersikap acuh dan sinis pada Hero.
Meskipun begitu, laki-laki yang sudah di usir olehnya beberapa kali itu, ia justru semakin gencar dan tak pernah menyerah mendekati Alina.
“Masih belum puas menjadi samsak kemarahan Kakak saya?” sinis Alina dengan tatapan tak sukanya.
Sekalipun Alina merasa muak dan tak suka dengan Hero, tapi tidak bisa dielak jika Alina tidak tega saat melihat Hero yang setiap hari hanya diam meskipun dipukul oleh Bian terus-menerus.
“Jika dengan dipukul itu bisa membuat kamu lebih memperhatikan aku, aku bahkan tidak peduli jika menjadi samsak untuk Kakak kamu,” ungkap Hero langsung menatap Alina dengan tatapan dalamnya.
“Jangan becanda! saya tak suka dengan apa yang Anda katakan ini! apa Anda berpikir saya setega itu sampai membiarkan Ayah dari anak saya dipukul seperti itu? sekalipun itu oleh Kakak saya sendiri!”
“Keras kepala!” komentar Eron.
“Sebagai Kakak yang pengertian aku akan membiarkan kalian berbicara untuk saat ini! tapi aku tidak akan bisa jamin jika Kak Bian tahu dia akan diam saja sepertiku saat ini!” kata Eron pergi begitu saja.
“Pulanglah! saya benar-benar tidak ingin bertemu dengan Anda!” tegas Alina dengan nada yang tak sukanya itu.
Hero yang keras kepala hanya diam, ia lalu tersenyum hambar dengan perasaan bersalah yang melingkupi hatinya saat ini. “Aku akan pulang jika kamu mau ikut pulang denganku,” kata Hero menatap dalam Alina.
“Alina nggak mau ke rumah itu lagi!” kata Alina yang kini sedikit menghela nafas panjang karena sikap Hero yang keras kepala.
“Kenapa? apa memang suasana rumahnya membuat kamu tak nyaman?” tanya Hero tanpa sadar mendekat ke arah Alina.
“Bukan!”
Untuk sejenak Alina hanya diam, ia menatap yakin ke arah Hero yang hanya diam dengan tatapan tak lepas dari wajahnya.
“Alina ingin kita bercerai Kak!”
“Kamu sedang hamil, bagaiamana bisa kita bercerai?!”
Tatapan lemah Hero kini terlihat mengeras dan datar, tangannya bahkan mengepal kuat seolah dengan menahan amarah.
“Setelah anak ini lahir, Alina ingin kita bercerai. Tidak ada hal yang perlu Alina pertahankan lagi, semuanya sudah selesai!”
Saat Alina hendak berbalik, Hero langsung menahan tangan Alina dan memeluk wanita itu dengan cara merangkul kedua pundaknya dengan erat.
“Tidak ada kata cerai!” tegas Hero.
Setelahnya Hero melepaskan pelukan itu dan pergi begitu saja. Melihat itu, Alina hanya bisa menghela nafas pasrah.
“Sepertinya akan sulit mengurus perceraian ini!”
******
Seperti yang Alina duga, Hero bahkan mengungumkan pernikahannya dengan Alina. Dan itu tepat saat acara peresmian serah jabatan.
“Ayah, Hero akan menerima tanggung jawab ini dan berhenti dari pekerjaan Hero sebagai dokter. Tapi apa yang Hero minta pada Ayah, Hero harap kalian tidak akan ikut campur dalam hubungan Hero dan Alina lagi untuk ke depannya. Biarkan Hero memperbaiki semua kesalahan Hero di masa lalu,” kata Hero yang hanya bisa dijawab dengan helaan nafas saja.
“Itu tergantung pada Alina Hero, Ayah bahkan tidak bisa membantu kamu lagi. Kamu tahu bukan jika kini hubungan ayah dengan ayah Alina sedikit renggang.”
Sebagai seorang ayah dan sesama lelaki, Bram tahu jika anaknya Hero benar-benar telah mencintai Alina.
Meskipun waktunya sedikit terlambat, atau mungkin itu memang sudah terlambat. Tapi Bram yang tahu jika ia tak bisa melarang Hero untuk berhenti mengejar Alina, maka itu Bram hanya membiarkan anaknya mengambil keputusannya sendiri.
“Bun, maafkan Hero,” kata Hero yang melihat ibunya hanya diam dan tak mengatakan apapun.
“Jangan membahas masalah itu di sini, ini masih dalam suasana penting di ulangtahun perusahaan. Dan kamu juga baru menjadi CEO secara resmi di perusahaan, jadi berhentilah,” kata Hanny acuh.