
Alina yang kini berada di apartemen Hero hanya diam. Berkali-kali Alina mencoba untuk dikeluarkan dari kamar itu, tapi laki-laki yang bernama Hero itu tetap pada keputusannya yang tidak ingin Alina pergi.
“Kak, jangan egois! Alina juga butuh ketenangan. Biarkan Alina tenang!” teriak Alina yang memukul pintu kamarnya dengan lemah.
Hari ini adalah hari yang menguras emosi Alina, ia bahkan sudah lelah fisik dan juga hatinya.
“Kak! Alina baru tahu jika ternyata laki-laki yang Alina cintai itu tidak lebih dari seorang laki-laki yang egois dan keras kepala! Keluarin Alina Kak! jangan sampai Alina merasa lebih kecewa dari ini!”
Hero yang berada di luar kamar, ia berada tepat di depan pintu. Hero hanya diam, ia tidak bisa marah ataupun mengelak ucapan Alina yang menganggap dirinya egois. Karena itu memang kenyataannya, ia tidak lebih dari laki-laki yang egois saat ini.
Hero tidak ingin Alina pergi, karena Hero merasa jika sekali wanita itu pergi dari hadapannya. Ia tidak akan bisa melihat wanita itu lagi.
Walaupun Hero belum yakin sepenuhnya akan apa yang ia rasakan itu, tapi rasanya ia tidak akan pernah membiarkan Alina pergi darinya.
“Kak! Alina benci Kakak! Alina benci Kakak karena tega mengurung Alina seperti ini! Alina benci Kakak karena membohongi Alina! kenapa? kenapa tidak ada yang mengatakan pada Alina jika ternyata orang yang Kakak cintai itu adalah sahabat Alina sendiri? salah Alina apa?! kenapa kalian semua membohongi Alina?! Alina benci! Semuanya Alina benci!” teriak Alina yang marah. Ia meluapkan segala emosinya dan kekecewaan yang ada dalam dirinya itu.
Alina yakin jika kenyataan itu juga sudah diketahui oleh Hanny dan mungkin juga kedua kakaknya. Tapi kenapa mereka tidak jujur pada Alina? kenapa Alina harus di buat layaknya orang bodoh seperti ini?
Merasa lelah dan benar-benar tidak ada tenaga lagi untuk meluapkan kemarahannya itu. Alina menyerah, ia memilih untuk berbaring di atas kasur dengan posisi yang menyenderkan kepalanya itu.
“Kenapa kamu tega melakukan ini pada aku Alicia? apa kamu sangat membenciku? apa kamu benar-benar tidak menganggap aku sebagai sahabat kamu?” Alina sontak menatap foto ukuran besar yang ada di kamar itu.
Itu foto Alicia yang tengah tersenyum cerah, dan lebih menyakitkan lagi, Alicia tidak sendirian. Ada laki-laki yang sedang bersamanya, Hero.
Alina ingat, jika itu pasti foto yang diambil bertepatan dengan hari kelulusannya saat SMA dulu, ia waktu itu langsung ke bandara karena harus langsung berangkat ke luar negeri, jadi saat itu Alina tidak memiliki waktu untuk bisa berfoto dengan Alicia dan Hero.
“Apa alasan Kak Hero sering datang ke sekolah kita dulu adalah karena ingin menemui kamu bukan aku? lalu, apa bunga yang waktu itu sempat Kak Hero bawa bukan untukku? tapi untuk kamu!”
“hiks ..., kenapa?” pertanyaan itu yang ingin sekali Alina tanyakan pada sahabatnya itu, sayangnya wanita itu telah meninggal dunia.
Alina yang lelah terus menangis, ia perlahan tertidur karena kelelahan. Belum lama mata itu terpejam, tiba-tiba terasa sebuah usapan lembut disertai sebuah kecupan diperutnya dan juga rambutnya.
Alina tidak tahu siapa itu, ia ingin membuka matanya, tapi matanya terlalu lelah dan sangat sembab, hingga Alina tidak memiliki tenaga hanya untuk membuka mata sejenak saja.
...........
Di suara tempat.
Taman.
Terlihat dua orang siswi SMA yang sedang berjalan dengan riang. Salah satu wanita itu terlihat penuh semangat dengan gayanya yang terlihat sedikit tomboi, dan yang satunya lagi terlihat anggun dan berwibawa.
“Alina,” wanita yang terlihat anggun itu memanggil nama temannya.
“Iya, kenapa Alicia?” tanya Alina. Ia kini baru saja memasuki SMA, masih ada sedikit perasaan dimana jiwanya masih anak SMP.
“Jangan kekanak-kanakan, cobalah terlihat anggun dan berwibawa. Aku yakin jika akan ada banyak sekali pria tampan yang akan menyukaimu,” kata Alicia sahabat baik Alina.
Alina tersenyum dan menggeleng. “Bukankah sudah aku katakan jika aku hanya mencintai Kak Hero, jadi untuk apa terlihat cantik di mata orang lain jika hati kita akan tetap tertuju pada orang yang kita cintai,” kata Alina yang tanoa ragu jujur pada sahabat baiknya tentang perasaannya itu.
“Tidak Alicia, kita memiliki pesonanya sendiri. Jadi, aku akan tetap menjadi orang yang seperti aku inginkan.”
“Jika suatu saat kamu tahu jika orang yang kamu cintai justru mencintai orang lain, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Alicia tiba-tiba.
“Aku akan sedih, tapi juga ikut bahagia. Tapi, jika dia menderita, aku akan merasa lebih menderita.”
“Kamu sangat baik Alina,” ungkap Alicia, ia lalu meraih tangan Alina dan menatapnya dalam.
“Kita sahabat bukan?” tanya Alicia yang langsung dijawab anggukan oleh Alina.
“Tentu, kita sahabat. Bahkan kamu sudah seperti saudaraku sendiri.”
“Jika aku meminjam sesuatu dari kamu, apa kamu akan mengizinkannya?” tanya Alicia menatap Alina.
“Jangan 'kan untuk meminjamkannya, aku bisa memberikan itu langsung jika kamu suka. Tapi, aku harap kamu tak pernah mengkhianati aku,” kata Alina yang sangat sayang pada sahabatnya itu.
“Tidak Alina, aku hanya akan meminjamnya saja, meminjamnya hingga aku merasa sudah tidak menginginkannya lagi, setelah itu aku akan memberikannya lagi pada kamu.”
...........
“Alina,” sebuah suara masuk ke Indra pendengaran Alina.
Alina yang sedang tidur mau tak mau bangun dari tidurnya. Ia melihat jika orang yang membangunkan tidurnya adalah laki-laki yang sangat ia benci.
“Apa kamu lapar?” tanya laki-laki itu.
“Apa peduli Kakak pada Alina?” dengan nada kurang bersahabat, Alina mengatakan itu.
Hero tidak marah, ia bahkan tidak bersikap acuh hanya karena ucapan Alina yang tidak ia sukai. “Kakak sudah buatkan kamu nasi goreng, kamu cobalah untuk makan walau hanya sedikit,” kata Hero lebih lembut lagi.
“Alina tidak lapar Kak! Alina ngantuk, jangan ganggu Alina!” kesal Alina menepis tangan Hero yang seolah ingin membantunya untuk duduk.
“Makan sedikit saja, Kakak sudah buatkan kamu menu makan khusus,” seolah sedang membujuk, Hero masih saja mengatakan kata-kata yang terdengar lembut.
“Alina tidak lapar! Alina ngantuk! jangan ganggu Alina!” kesal Alina yang langsung berbaring membelakangi Hero.
“Alina, tolong kamu pikirkan anak yang ada dalam kandungan kamu juga. Kamu tidak sendiri,” kata Hero yang langsung membuat Alina menatap ke arahnya.
“Jadi Kakak peduli pada Alina cuman karena Alina sedang hamil? Kakak pasti tidak akan pernah peduli pada Alina jika Alina sedang tidak hamil,” kata Alina dibalas gelengan.
“Tidak, bukan-”
“Alina ngantuk, kalau mau pergi kerja, kerja aja sana! jangan urus Alina!” usir Alina yang hanya mendapat helaan nafas panjang dari Hero.
“Aku akan datang lagi dan mengecek apakah kamu sudah makan atau belum.” Setelahnya Hero keluar, ia meninggalkan Alina yang sedang marah padanya.
Lebih tepatnya, Alina seperti muak dan tidak ingin bertemu dengan dirinya.