
Di dalam mobil.
Entah kemana perginya Eron tadi, ia yang mendadak memiliki urusan lain langsung pergi setelah berpamitan dengan Hanny dan Alina.
Dan kini, Alina dan Hero sedang berada di mobil yang sama, mereka berdua sedang menuju ke rumah angkasa.
Hero tahu jika dirinya mungkin akan di usir oleh keluarga Angkasa nantinya, tapi ia tidak peduli meskipun nanti akan di usir.
Yang Hero lakukan saat ini adalah agar dirinya bisa kembali dekat dengan Alina, meskipun akan ada yang namanya penolakan dari keluarga Alina, Hero rasa itu hal yang wajar terjadi.
Hero akan terima kemarahan keluarga Alina padanya, ia tidak akan marah ataupun membenci keluarga Alina, karena Hero sadar ia pantas untuk mendapatkan itu semua.
“Lebih baik berhenti di sini saja,” kata Alina pada Hero.
Hero yang awalnya sedang fokus menyetir, ia langsung menoleh seketika itu juga. “Rumah keluarga Angkasa masih jauh dari sini, apa kamu tetap ingin berhenti di sini?” tanya Hero langsung dijawab anggukan kepala oleh Alina.
Tapi justru anggukan itu hanya diabaikan oleh Alina. Karena Hero tetap fokus untuk menyetir mobil tanpa mendengarkan apa yang Alina minta.
“Kak berhenti!” tekan Alina saat sadar jika Hero sedang mengabaikan permintaannya.
“Aku akan tetap mengantar kamu pulang, tidak peduli kamu suka atau tidak. Laki-laki macam apa aku kalau sampai mengabaikan keselamatan istrinya dan malah meninggalkan istrinya di sini,” kata Hero acuh dan tetap fokus menyetir.
“Lagipula biasanya Kakak juga nggak peduli dengan keadaan Alina, kenapa tiba-tiba sekarang baru peduli? padahal Kakak tahu jika kita akan berpisah setelah anak ini lahir,” kata Alina dengan sedikit bergumam.
Meskipun begitu Hero masih bisa mendengar apa yang sedang Alina katakan saat ini, hingga Hero tanpa sadar langsung mengerem mobilnya.
Srett
Krieet ...
Hampir saja perut Alina terpentuk ke depan, tapi untungnya Alina memakai pengaman dan Hero juga secara refleks melindungi perut Alina.
“Kak!” kini suara Alina terdengar di tekan tapi juga terdengar pelan. Ia seolah sedang berusaha agar tidak meluapkan rasa kesalnya itu.
“Maaf,” kata Hero pelan.
Tatapan Hero tidak lepas dari Alina yang kini menatap ke arahnya dengan wajah yang kesal dan terlihat marah. Berbeda dengan Alina yang menatap Hero kesal, justru Hero menatap Alina lembut dan sedikit sendu.
“Maaf, maaf, dan maaf. Mungkin seribu kali aku mengucapkan maaf tidak akan bisa mengurangi kesalahanku pada kamu. Tapi Kakak mohon Alina, Kakak ingin memperbaiki hubungan kita,” pinta Hero dengan tatapan berharap.
Alina yang melihat tatapan sendu Hero langsung saja menatap ke arah lain. Hero seolah tahu kelemahan Alina yang tidak bisa melihat orang lain memohon padanya.
Alina mudah untuk merasa tidak enak hati, ia sering sekali mengalah pada orang lain, tidak terhitung berapa kali Alina dibohongi dan dimanfaatkan oleh orang yang ia anggap sebagai teman.
Maka itu, kedua kakaknya sangat protektif dan menjaga Alina agar tidak terus dimanfaatkan. Alina itu baik, ia bahkan sangat baik, saking baiknya kedua kakaknya akan menganggap Alina itu bodoh.
Karena meskipun tahu dimanfaatkan Alina tetap akan memaafkan dan tidak peduli dengan dirinya yang sedang dimanfaatkan.
Hero yang berada tepat di depan Alina dapat mendengar itu, Hero tahu jika Alina sering dimanfaatkan oleh orang lain.
Hero tahu Alina adalah orang yang lembut dan baik hati, tapi dibalik itu semua, Hero juga tahu jika Alina adalah orang yang keras kepala. Dia akan keras kepala pada sesuatu yang ia inginkan dan yang ia putuskan.
“Aku tidak bermaksud membuat kamu lemah Alina, karena aku tahu meskipun aku memohon seperti ini, tapi jika keputusan kamu sudah bulat aku tidak akan bisa melakukan apapun. Tapi aku mohon, pikirkan kedua anak kita,” kata Hero bagai sebuah alarm bagi Alina hingga Alina termenung.
Alina berfikir lebih dalam.
Salahkaj dirinya ingin bercerai dari Hero? salahkah ia ingin berpisah dari laki-laki yang berkali-kali menyakiti dirinya? Hero yang ia kagumi dan cintai ternyata tak lebih dari seorang pembohong dan pengkhianat!
Ya! bagi Alina Hero kini tidak lebih dari seorang pengkhianat! kenapa? kenapa kedua orang yang ia percayai justru mengkhianatinya? kenapa sahabat baiknya justru menusuk dibelakang? kenapa Hero dengan Alicia bisa berhubungan dibelakangnya?
Pertanyaan itu yang tidak bisa Alina ungkapkan. Sakit, itu pasti, apalagi orang yang harusnya ia tanyai telah meninggal.
Apa memang Alina selalu ditakdirkan untuk dibohongi dan dikhianati? tidak terhitung berapa jumlah orang yang telah mengkhianati Alina, teman-teman yang ia sayang kebanyakan membenci Alina karena mereka merasa iri dengan kehidupan Alina yang memiliki dua orang kakak yang sangat menyayanginya.
“Jangan terlalu dipikirkan, aku hanya ingin kamu fokus menjaga kedua anak kita,” kata Hero yang kini sedang menatap ke arah Alina.
Alina yang sedang melamun langsung menoleh, ia melihat sekeliling saat mobil telah berhenti, rupanya dirinya telah sampai di rumahnya.
“Bolehkah aku sering-sering datang untuk melihat keadaan kalian?” tanya Hero yang hanya dijawab kebungkaman.
Jujur saja jika saat ini Alina sebenarnya tidak siap untuk sering bertemu dengan Hero. Di satu sisi Alina sedang berusaha untuk melupakan laki-laki itu, tapi di sisi lain Alina juga tidak bisa bersikap egois.
Melihat keterdiaman Alina, Hero hanya mengangguk tanda paham dan mengerti dengan keadaan Alina saat ini.
“Boleh aku menyentuh dia sebentar? hanya ingin berpamitan sebentar saja,” kata Hero yang kini langsung diangguki.
Hero dengan perlahan mengulurkan tangannya, ia menyentuh perut itu secara lembut dan perlahan. Sedikit tendangan Hero rasakan seakan ia mendapat sambutan hangat dari kedua anaknya.
Hero yang merasakan itu merasa takjub, ia bahkan tak sadar dengan ekspresi wajahnya yang tersenyum tidak jelas.
“Kemana saja aku selama ini sampai baru merasakan ini. Maafkan Papah ya Nak, mungkin sampai kapanpun Papah tak akan pernah pantas mendapatkan maaf dari kalian berdua. Tapi percayalah, Papah sangat sayang pada kalian,” gumam Hero “ dan ibu kalian,” lanjut Hero yang hanya ia ungkapkan dalam hatinya.
Hero menoleh pada Alina, berbeda dengan dirinya yang menyambut antusias pergerakan kedua anaknya, justru Hero melihat Alina sedikit meringis ngilu.
“Apa itu menyakitkan?” tanya Hero khawatir.
Alina yang mendapatkan pertanyaan itu hanya menggeleng. Ia lalu mendorong Hero agar sedikit menjauh darinya.
“Sepertinya Mamah sudah menungguku,” kata Alina yang entah mengapa merasa tak nyaman jika terlalu dekat dengan Hero.
Tatapan laki-laki itu seakan bisa membuat Alina lemah, dan Alina tahu jika ia tidak bisa lemah hanya dengan tatapan itu.