Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Sebuah insiden.



Keesokan harinya.


Alina terbangun di tempat tidurnya itu. Ia melihat ke arah samping tempat tidurnya. Di sana tidak ada Hero, laki-laki itu justru tidak terlihat batang hidungnya sama sekali.


Melihat sebuah kertas di atas meja, Alina membaca isi pesan itu.


Saya kerja


Dari kalimat yang terasa dingin itu, entah mengapa Alina merasa sakit. Hatinya terasa ngilu seketika itu juga


Mengingat kata dingin itu, Alina tiba-tiba ingat dengan acara pernikahannya saat itu


Flashback


Bersatunya 2 keluarga besar.


Itulah isi koran, surat majalah, dan berita. Tapi itu bukan berita di negara Z, melainkan berita bisnis yang sifatnya rahasia dan pribadi. Jadi, berita itu masih dirahasiakan di negara Z, karena itu atas permintaan Hero.


Alasan mengapa berita pernikahan Alina dan Hero bisa sampai ke berita bisnis yang hanya diketahui orang penting dan hebat, tentu karena bersatunya keluarga Angkasa dan Sanjaya akan menjadi hal yang diwaspadai bagi beberapa pengusaha hebat, terutama jika mereka adalah saingan dari perusahaan Sanjaya.


Sanjaya


Perusahaan itu bahkan dijuluki Raja Asia' saking maju dan berkembang sangat pesatnya perusahaan itu. Tidak ada yang mengetahui jika dibalik kemajuan perusahaan itu adalah hasil jerih payah Hero, karena kebanyakan orang hanya tahu tentang Bram yang menjadi CEO di perusahaan Sanjaya.


...........


Alina kini hanya diam, wajah gugup dan gelisah ia tunjukkan saat dirinya telah selesai dihias.


Alina memakai gaun pengantin berwarna biru langit, itu sesuai dengan warna kesukaannya. Pernak-pernik sederhana tapi dengan harga nilai fantastis itu, seakan bisa membuat siapa saja yang mendengar harga gaun itu akan menjerit histeris.


“Mah, Alina takut,” adu Alina yang tak henti-hentinya menatap ke arah ibunya yang berada di sampingnya.


Amina yang melihat kegugupan Sang Anak hanya tersenyum, ia mengelus pipi Alina dengan hati-hati serta terasa sangat lembut seakan takut jika riasan itu akan luntur. Padahal meskipun Amina menyentuh wajah Alina seperti biasa, itu tak akan membuat riasan itu luntur karena memang riasan itu tahan lama.


“Jangan takut, ada Mamah di sini, Mamah akan ada dan temani kamu,” nada menenangkan Amina ucapkan hingga Alina merasa lega.


...........


Alina memasuki pelaminan, dekorasi pernikahan Alina di dominasi dengan warna putih bercampur dengan hiasan berwarna emas.


Sebagai anak perempuan satu-satunya, tentu kedua orangtuanya menyiapkan yang terbaik untuknya. Begitupun dengan Hero, kedua orang tua Hero juga menyiapkan yang terbaik untuk Alina.


Sekalipun keluarga Angkasa menentang akan pilihan Alina itu, yang tak lain memaksa agar Hero menikah dengannya. Tapi sebagai orang tua dan Kakak, mereka tidak bisa keras kepala terus menerus.


Para tamu yang hadir kini juga hanya beberapa saja, semuanya dari kalangan orang-orang penting dan hebat, pengusaha, artis, model, dan beberapa dokter yang mereka undang.


Dan meski jumlah tamu terbatas, mereka tetap memberi batasan agar tamu tidak membludak bersamaan, dan itu termasuk kesepakatan bersama. Khawatirnya, kedua pengantin akan kecapean karena terlalu lama berdiri.


“Kenapa? apa ada sesuatu hal yang tak nyaman?” tanya Hanny, ia terlihat peka jika Alina kini sedikit kesulitan karena tidak biasa memakai hells.


“Ng-nggak Bun, Alina hanya lagi berfikir ternyata banyak tamu yang datang,” alasan Alina.


Padahal hanya beberapa tamu yang datang, itu pun sudah dibatasi lagi agar tidak terlalu banyak dan pernikahan tetap terjaga rahasianyam


Dan karena ini acara pernikahan dirinya, Alina ingin melakukan yang terbaik di hari pernikahannya.


“Tidak apa-apa Kak, Alina masih sanggup untuk berdiri, lagipula Alina baru berdiri lima belas menit, ini terlalu berlebihan jika Alina sudah merasa lelah.”


Alina orang yang keras kepala, dan itu baru di ketahui oleh Hero hari ini. Karena tidak ingin memaksa, Hero memanggil asisten ayahnya yang kini bekerja dengan Hero sementara waktu kurang lebih 1 Minggu.


Hero terlihat berbisik, tak lama Reza pergi untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Hero.


Melihat itu Alina dan Hanny hanya diam, tapi tak lama Reza datang dengan membawa sandal berbulu lembut dan lembat


“Pakai!” perintah tegas Hero yang tidak bisa Alina bantah.


Dengan dibantu Hanny, Alina memakai sendal berbulu dan melepaskan high heels miliknya yang menurutnya sangat tak nyaman.


Meski dingin, tapi Alina kini tahu satu hal. Jika lelaki itu memiliki tingkat kepedulian yang tinggi, dan itu mungkin bukan hanya untuknya saja.


“Sayang makan dulu, mamah ingat kamu belum sempat makan tadi,” ucap Amina dengan khawatir.


Amina sengaja membawa makanan untuk anaknya, ia tidak peduli jika nanti hal itu akan menjadi berita atau mendapat cibiran dari orang-orang. Sebagai seorang ibu, yang ia khawatir 'kan adalah anaknya. Dan karena kesibukan ini, anaknya bahkan tidak makan apa-apa dari pagi.


“Kenapa bisa belum makan?” tanya Hanny yang ikut khawatir.


“Mah, nanti saja makannya, malu dilihat sama orang. Lagipula Alina masih kenyang kok,” jawab Alina yang merasa malu saat menjadi pusat perhatian.


“Kenapa harus malu? memangnya kamu mencuri? atau memangnya mamah sedang marahin kamu? nggak 'kan?”


“Mamah khawatir sama kamu, lagipula kamu kenyang makan apa? makan angin?”


Untuk pertama kalinya Alina dimarahi oleh ibunya, wanita itu marah karena saking khawatirnya ia dengan keadaan anaknya.


“Atau bila perlu mamah suapin kamu saja. Maafin mamah, tadi banyak hal yang harus mamah urus, Papah kamu juga sedang sibuk dengan hal lain, tapi karena mamah benar-benar khawatir dan ingat jika kamu belum makan mamah langsung ke sini,” ujar Amina yang hendak menyuapi Alina.


“Mah, Alina makan sendiri aja,” jawab Alina yang memang tidak suka jika harus menjadi pusat perhatian.


“Biat Hero yang suapi kamu,” putus Hanny yang langsung di setujui oleh Amina.


Flashback end.


...*****...


Mengingat itu Alina rasanya ingin menangis, ia tahu Hero menolaknya. Dan ia tahu jika ia yang memaksa lelaki itu menikah dengannya.


Tapi Alina bahkan masih merasa kaget dan tak menyangka jika akan sesakit ini.


“Bukankah ini keputusan kamu? dan bukankah ini juga keinginan kamu? jadi mengapa kamu merasa sedih seakan kamu merasa tersakiti?” sinis Alina pada dirinya sendiri.


“Kamu bahkan telah menduga jika hal ini akan terjadi, tapi mengapa kamu masih merasa kaget dan tak menyangka?” sinis Alina lagi terus saja meledek pada dirinya sendiri.


“Oh ayolah Alina, bukankah kamu benar-benar mencintai Kak Hero? dan cinta itu memang membutuhkan sebuah perjuangan bukan?”


“Kamu ingat tujuan kamu memaksanya apa? bukankah kamu ingin membuat Kak Hero bangkit dan memiliki semangat hidup lagi?”


“Jadi ayo semangat! jangan karena selembar kertas itu kamu merasa tersinggung!”


Alina terus saja berkata-kata seakan mengumpulkan kembali tekadnya yang hilang.