Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
#38 Pernikahan Bian dan Belvita



Kali ini Alina yang merasa sangat marah, ia lantas segera datang ke rumahnya. Di sana, ia melihat jika ibu dan ayahnya tengah mengobrol.


“Kakak mana?” tanya Alina dengan ekspresi marahnya.


“Kakak kamu ya ini? jangan ngaco kamu Alina, tega sekali kamu tidak menganggap Kakak sebagai kakak,” ucap Eron.


Perkataan itu sontak saja mendapatkan tatapan tajam dari Alina.


“Alina lagi serius Kak Eron!, jangan buat Alina tambah kesal!. Alina tanya Kak Bian mana?” tanya Alina lagi, kini ia langsung memperjelas orang yang ia cari.


“Salah kamu kenapa nggak bilang langsung siapa yang kamu cari, dipikir kamu cuman punya satu Kakak 'kah?” acuh Eron terdengar sedikit menggerutu.


Alina malas meladeni kakaknya, karena kini Alina sedang berada di suasana hati yang di mana, Alina kini tidak sedang ingin bercanda.


“Mah, apa Mamah melihat Kak Bian?” tanya Alina langsung pada ibunya.


“Mamah nggak tahu sayang, tadi Mamah dengar kalau dia mau keluar sebentar, mungkin sedang makan siang bareng dengan kekasihnya,” jawab Amina.


Sebenarnya Amina tidak terlalu menyukai Farah, tapi karena wanita itu adalah pilihan dari anaknya, Amina hanya bisa menerima hal itu. Karena Amina hanya ingin yang terbaik untuk anaknya.


“Bisa-bisanya ya dia masih bisa bertemu dengan kekasihnya!, setelah menghancurkan masa depan anak orang,” kesal Alina. Ia kentara sekali marah dan merasa kecewa dengan sosok laki-laki yang sangat Alina kagumi dan hormati.


Lelaki yang bagi Alina adalah lelaki yang sangat bertanggung jawab dan penuh dengan kewibawaan. Kini Alina menatap laki-laki itu, kakaknya sendiri dengan tatapan meremehkan dan tak menyangka.


“Kenapa?” tanya seseorang dengan nada datarnya, orang itu tak lain adalah Bian.


Alina yang mendengar itu langsung berbalik, ia lalu menatap kakaknya dengan tatapan tajam disertai dengan tatapan tak percaya.


“Nikahi Belvita Kak,” ucap Alina yang langsung membuat seisi rumah kaget dan juga bingung disaat bersamaan.


...*****...


Seluruh keluarga Alina yang mendengar itu hanya diam, mereka terlihat terkejut dengan apa yang Alina katakan. Tidak ada seorang pun yang mampu untuk berkata-kata.


Flashback


Saat itu.


Alina yang memang tidak ingin memaksa Belvita untuk bercerita padanya. Ia hendak pergi karena ingin Belvita memiliki ketenangannya sendiri.


“Jangan pergi, kamu di sini saja,” tahan Belvita yang tahu jika Alina hendak pergi.


Mendengar hal itu, Alina langsung duduk tepat di samping Belvita yang kini hanya diam, Alina lalu mengambil beberapa buah dan mengupasnya lalu ia berikan pada Belvita.


Belvita memang sangat menyukai yang namanya buah-buahan, ia langsung tersenyum dengan raut wajah yang kentara sangat senang.


“Jika kamu memang belum siap bercerita, nggak usah cerita, santai aja.”


Belvita yang mendengar kata-kata Alina hanya menggeleng. “Kamu tahu 'kan Alina bagaimana kehidupan aku?”


Terdengar Belvita memulai pembicaraannya itu, dan Alina hanya merespon dengan anggukan karena tak tahu harus berkata apa.


Jujur Alina merasa salut pada Belvita, dan ia rasa jika dirinya berada di posisi Belvita. Alina merasa ia tidak akan pernah sanggup.


“Jujur karena masa lalu aku itu, aku jadi sadar dan berfikir mungkin aku memang tidak di takdirkan untuk bisa bahagia,” ucap Belvita yang langsung dijawab gelengan cepat dari Alina.


“Nggak, kamu salah. Justru kamu itu orang yang sangat pantas untuk bisa bahagia. Dan semua orang itu pantas bahagia, cuman cara bahagia dan cara mendapatkan kebahagiaan seseorang itu beda-beda, karena semakin sulit kebahagiaan itu di dapat, maka semakin besar pula kita menghargai kebahagiaan itu,” ucap Alina.


Seakan Alina kini sedang memberikan motivasi pada Belvita untuk terus yakin jika dirinya juga pantas bahagia.


Bahkan, Alina yang merasa ingin menyerah untuk bisa mendapatkan hati Hero. Tapi kini, ia telah membulatkan tekad untuk berusaha mendapatkan hati lelaki itu.


Alina bahkan sering sekali mengirim bekal pada Hero, walau lelaki itu masih saja bersikap datar dan dingin padanya. Tapi sepertinya tidak sedatar dulu


“Tapi, aku rasa aku memang nggak pantas bahagia. Ingat betul aku saat Mamah aku sendiri tidak pernah berharap kebahagiaan untuk aku,” wajah sendu Belvita kembali muncul. Hal itu membuat Alina merasa ikut sedih dan tak nyaman.


“Kamu jangan mengingat itu ya, dan jika memang kamu tidak ingin membahas tentang masalah ini, aku akan siap menunggu kapan kamu ingin bercerita. Jadi jangan dipaksakan jika kamu memang nggak bisa bercerita untuk hari ini,” ucap Alina dengan kalimat yang terdengar lembut.


Flashback end.


Hari ini.


Sudah tiga hari berlalu setelah Alina mengatakan agar Sang Kakak menikahi sahabatnya.


Kini di depan Alina, dengan menggunakan kedua matanya, Alina telah memastikan jika kakaknya sudah menjadi suami dari sahabatnya.


Tatapan Alina tak henti-hentinya menatap ke arah kedua mempelai itu. Ada rasa terpaksa yang terlihat samar di wajah kakaknya. Kenapa Alina katakan itu samar? karena mungkin hanya Alina dan keluarga Angkasa saja yang sadar akan ekspresi Bian itu.


“Aku harap kalian akan bahagia,” ucap Alina tulus. Ia lalu maju menaiki pelaminan.


Alina memeluk Belvita cukup lama, ia berbisik kata-kata yang membuat Belvita tenang. Dan setelah itu, Alina berjalan menuju kakaknya yang sedang berdiri. Alina terlihat hanya diam beberapa saat sambil menatap kakaknya itu.


“Kak, tolong bahagia 'kan Belvita, dia wanita baik yang berhak untuk menerima semua kebaikan yang ada di dunia ini,” kata Alina yang hanya direspon dengan keterdiaman dari Bian.


“Jangan jadikan kejadian ini sebagai bencana, tapi tolong ambil pelajarannya saja. Anggap saja jika memang jodoh Kakak bukan Kak Farah, tapi Belvita.”


Lagi-lagi Bian hanya diam dan tak merespon. Tiba-tiba ditengah keterdiaman mereka berdua, Alina ingat dengan kata-kata kakak keduanya Eron, ia waktu itu mengatakan jika Bian akan menuruti apapun yang Alina katakan, asalkan itu hal yang bisa Bian lakukan dan tidak menentang moral.


“Jika Alina mengatakan kalau Alina tidak menyukai Kak Farah karena sikap dan sifatnya, apa Kakak akan menjauhi Kak Farah dan melupakannya?” tanya Alina.


Bian yang diam langsung menatap Alina dengan tatapan dalamnya.


“Apa itu memang keinginan kamu?” tanya Bian yang sungguh pertanyaannya tidak pernah Alina duga.


“Ya, Alina tidak menyukai sifat kak Farah. Dan Alina rasa Kak Farah tidak akan pernah merubah sikapnya itu sampai kapanpun, kecuali dia yang mau mengubahnya sendiri. Tapi Alina lihat jika tidak ada kemauan dari Kak Farah untuk merubah sikapnya itu.”


Bian hanya diam, ia tidak mengatakan apapun. Melihat Bian yang hanya diam, Alina memilih untuk menepi karena melihat banyak tamu yang hadir.


Meski pernikahan itu sangat mendadak, tapi masih terlihat wajar dan layak, karena Alina sendiri beserta ibunya yang berusaha untuk membuat pernikahan itu sebagus mungkin.


“Gue kayaknya harus ucapkan dua kali selamat ke Lo deh Kak,” ucap Eron yang kini menghampiri kedua mempelai itu.


“Pertama, selamat karena lo sudah bikin gue patah hati sebelum gue berjuang mendapatkan seorang Belvita. Lalu yang kedua, selamat untuk pernikahan kalian,” jujur Eron disertai ucapan tulusnya.


Meski Eron awalnya ingin mendekati Belvita demi bisa memata-matai Sang Adik, tapi tak dapat dielak jika ia juga memiliki sebuah perasaan khusus untuk Belvita.


Harus Eron akui, jika niatnya untuk melamar Belvita dan serius pada Belvita itu memang nyata. Ia memang benar serius pada Belvita.


Tapi sayangnya takdir berkata lain, seakan menandakan jika jodohnya bukan Belvita.


“Kak, Alina harap kalian bahagia,” ungkap Alina yang kini sedang menatap dari jarak yang cukup jauh.


...*****...


Hero yang biasanya tidak terlihat karena kesibukan dirinya. Ia hadir bersama Alina hingga menjadi perhatian publik. Tadi Hero sempat ke kamar mandi, jadi Alina tadi sempat ke atas pelaminan duluan.


Tadi saat baru datang Alina dan Hero sudah menjadi pusat perhatian karena kebersamaan mereka.


Saking terkenalnya Hero, orang-orang yang tidak tahu tentang pernikahan Alina dan Hero sontak saja penasaran.


“Kak,” panggil Alina.


“Iya?” tatapan yang selalu datar dan acuh Hero perlihatkan.


“Kita sedang menjadi pusat perhatian publik,” ucap Alina terkesan memberitahu.


“Lalu?” tanya Hero.


“Apa itu bukan masalah buat Kakak?” tanya Alina.


Alina sedikit heran mengapa Hero mengajak dirinya untuk ikut menghadiri pernikahan kakak pertamanya, tapi Alina merasa itu sebagai sebuah kemajuan.


Meski acuh dan datar, Hero sekarang tidak sedingin dulu. Bahkan Alina kadang sering meminta Hero untuk menyempatkan waktu untuknya, walau tidak selalu lelaki itu turuti karena kesibukannya.