Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Dokter baru



Setelah mengetahui tentang kebenaran itu, entah mengapa tidak ada lagi kabar mengenai Hero.


Laki-laki itu kadang pulang dan kadang tidak pulang sama sekali, hal itu membuat Alina yang mendapat perlakuan berbeda merasa sedih. Ini sama saja dengan Hero yang dulu, Hero yang dingin dan acuh pada Alina.


“Tidak perlu memikirkan itu sayang, Bunda yakin jika kini mungkin Hero sedang sibuk. Jadi nggak perlu banyak pikiran ya.”


Hanny selalu saja berusaha untuk menenangkan Alina, meski sebenarnya ia juga merasa kesal dan marah akan tingkah anaknya yang akhir-akhir ini menjadi sibuk.


“Bunda, kalau gitu Alina langsung berangkat kerja ya,” pamit Alina yang langsung diangguki sebagai jawaban oleh Hero.


*****


Memasuki rumah sakit Cendana, Alina berjalan dengan langkah pastinya. Ia yang baru datang langsung di sambut oleh Santi yang berjalan mendekat ke arahnya.


“Ada dokter baru,” ungkap Santi yang langsung membuat Alina menoleh.


“Dokter baru?”


“Iya benar, dokter baru. Kalau nggak salah namanya Alisa. Dokter cantik yang sepertinya akan magang di sini.”


“Alisa?” tanya Alina yang tiba-tiba ingat akan sesuatu.


Alisa? bukankah itu nama kembaran sahabatnya. Sahabat Alina dulu, Alicia. Dan kenapa kebetulan sekali?


“Kapan dia bekerja di sini? apa kamu tahu seperti apa orangnya?” tanya Alina dan Santi mengangguk.


“Iya, sepengetahuan aku, dokter itu cantik, baik, plus ramah. Itu yang aku tahu sih,” ungkap Santi yang hanya Alina jawab anggukan.


Entah mengapa Alina jadi penasaran dengan dokter baru itu. Seperti apa Alisa itu? apakah sama dengan kembaran Alicia?


Mengingat sahabatnya yang bernama Alicia, entah mengapa hati Alina terasa sesak, ada sesuatu hal yang membuatnya sedih dan tak dapat diungkapkan.


Dan tanpa sadar, Alina mengingat kejadian dua tahun lalu.


Flashback.


Alina yang mendengar jika sahabat baiknya yang sudah bersamanya sejak SMP meninggal dunia, ia yang mendengar itu langsung merasa pusing dan tak tahu harus berkata apa.


“Lin, kamu nggak apa-apa 'kan?” tanya Belvita yang kala itu sedang bersama dengan Alina.


Mereka kini sedang mengerjakan tugas kuliahnya, banyak sekali tugas yang menumpuk yang seakan tidak ada habis-habisnya.


“Bel, sahabat aku meninggal.”


Setelah mengatakan itu, pandangan Alina menjadi kosong, tatapan menerawang jauh seakan kini ia terlihat memiliki raga tak bernyawa.


Sahabat baiknya meninggal, itu adalah sebuah kabar terburuk yang pernah Alina dengar. Entah apa yang dialami oleh sahabatnya itu hingga bisa meninggal, Alina tak tahu.


Alina mengetik ponselnya, ia hendak memesan tiket untuk kembali ke negara asalnya. Tapi belum sempat Alina memesan tiket, ponselnya sudah lebih dulu berbunyi.


“Iya kak?” tanya Alina begitu mengetahui jika yang kini sedang menelepon dirinya adalah Bian, kakak pertama.


“Alina, kakak sudah mendengar tentang kabar teman kamu, tapi kamu tidak perlu panik, biar Kakak yang akan urus masalah ini.”


Alina kadang sering merasa jika kakaknya seolah berusaha menjauhkan dirinya dari negara asalnya. Bahkan saat mendengar kabar kematian dari sahabat baiknya, Bian tetap kukuh dan meninta Alina untuk di sana.


“Tidak Alina, kamu tidak bisa ke sana, kamu ingat jika nanti kamu harus menghadapi banyak tugas dan sebentar lagi akan sidang, kamu ingin gagal dan mengulang lagi kuliah kamu? ingat Alina, kamu hampir gagal lulus, jika mungkin kamu tidak berusaha lebih keras dari orang lain, kemungkinan kamu akan gagal. Pikirkan lagi masalah ini baik-baik!”


Perkataan panjang lebar Bian itu, Alina dibuat bungkam dan tak bisa berkata apa-apa.


Alina memang memiliki otak yang kurang pandai jika dibandingkan kebanyakan, maka itu usahanya dan kerja kerasnya yang membuat ia bertahan hingga saat ini.


“Apa kamu ingin mengecewakan Mamah dan Papah? dan apa kamu ingin Mamah menangis seperti dulu?” tanya Bian lagi.


Alina yang mendengar itu tentu ingat, jika neneknya memaksa ibunya agar dirinya berkuliah kedokteran. Apapun kesalahan yang nantinya Alina lakukan, bisa saja ibunya yang akan menanggung amarah Sang nenek.


“Kak, apa Kakak tahu Alicia sakit apa? kenapa dia bisa meninggal?” tanya Alina pada akhirnya.


Sebagai seorang sahabat, Alina merasa gagal. Ia gagal dalam memahami sahabatnya sendiri. Padahal harusnya Alina selalu berada di samping sahabatnya itu.


“Sahabat macam apa Alina ini ya Kak, kenapa bisa sebagai sahabat Alina justru nggak tahu tentang keadaan sahabat Alina sendiri, hahaha, apakah Alina pantas untuk disebut sebagai sahabat.”


“Alina, kamu tidak perlu banyak berfikir. Dua hari ke depan kamu baru bisa pulang, akan Kakak urus ini semua. Sesuai permintaan kamu,” kata Bian.


Perkataan terakhir Bian seakan menegaskan jika Bian melakukan semua itu demi Alina, ia yang tahu jika Alicia adalah sahabat baik Alina, tapi respon Bian pada sahabat Alina itu biasa saja.


Alina berfikir jika mungkin itu karena seperti itulah Bian, jadi Alina tidak bisa terlalu mempermasalahkan sikap Bian itu.


Flashback end.


Entah mengapa, Alina kini berada di ruangan Hero. Tepat ditengah-tengah ruangan yang sedang tertutup. Harusnya Alina berada di ruangannya, ia harusnya kini sedang bekerja. Tapi justru kini ia berada di depan ruangan Hero.


Ckrek.


Tanpa sadar tangan Alina membuka itu secara refleks, hingga ia bisa melihat jika di ruangan itu bukan hanya ada Hero, tapi seorang wanita yang kini sedang berdiri membelakangi Alina.


Wanita itu terlihat gugup, ia seolah sedang merapikan rambutnya. Dan pandangan Alina kini jatuh pada Hero, wanita yang ada dihadapannya kini sedikit membetulkan jasnya yang berantakan.


Melihat itu, ada rasa curiga dalam diri Alina.


“Kak,” panggi Alina yang langsung saja mendapat tatapan dari Hero.


Bukan hanya Hero yang menatap Alina, tapi wanita yang tadi bersama dengan Hero juga menatap Alina. Dan orang itu ternyata adalah ...


Alicia


Ah bukan, itu Alisa. Jelas sekali itu Alisa, Alina hampir saja dibuat bingung karena kemiripan Alisa dan Alicia, mengapa kemiripan itu semakin jelas?


Padahal dulu Alina ingat jika Alisa tidak begitu mirip dengan Alicia, karena meski mereka kembar, ada beberapa perbedaan. Tapi kini, kenapa tampilan Alisa seperti Alicia dulu?


“Alisa?” tatapan tak menyangka Alina perlihatkan.


Apakah memang benar jika yang kini berada di hadapannya itu Alisa? kembaran Alicia. Tapi mengapa Alisa ada di sini? dia sekarang menjadi dokter?