Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Siapa itu?



Malam harinya.


Entah mengapa Alina yang biasanya tidak pernah merasakan yang namanya ngidam, kini ia merasa ingin jika Hero membelikan sesuatu untuknya segera.


Tanpa berfikir panjang, Alina langsung menelepon Hero. Butuh beberapa menit sampai Hero menerima teleponnya itu, mungkin karena terlalu sibuk jadi Alina hanya bisa memaklumi hal itu.


“Kak,” panggil Alina saat Hero mengangkat telepon.


“Kak Hero sedang berada di kamar mandi.”


Bukan suara Hero yang menjawab, tapi suara seorang wanita yang Alina rasa ia kenal dengan suara itu.


“Alisa?” tanya Alina memastikan.


“Iya Kak, ini Alisa. Ada apa menelepon Kak Hero larut malam?” tanya Alisa yang terdengar seperti ia adalah orang yang sangat dekat dengan Hero.


Hingga nada suaranya terdengar seolah siapa saja yang dekat dengan Hero harus Alisa ketahui dengan jelas.


“Apa Kak Hero tidak ada di sana? kenapa kamu yang mengangkat?” tanya Alina langsung. Seandainya Alina bisa menjelaskan tentang statusnya itu, ia pasti sudah menjelaskan itu dari awal. Tapi sayangnya Hero tidak mengizinkan itu.


Masih belum ada persetujuan langsung dari Hero, hingga Alina tidak berani bertanya apakah ia bisa mengungkapkan identitasnya itu.


“Tadi 'kan Alisa sudah bilang kalau Kak Hero nggak ada di sini. Dia sedang di kamar mandi, apa Kakak tidak mendengar itu dengan jelas?” nada suara yang Alina rasa kurang bersahabat mulai terdengar.


“Maaf, mungkin aku hanya kurang fokus. Kalau begitu aku matikan teleponnya lebih dulu.”


“Tunggu Kak, ada apa? kenapa menelepon Kak Hero?”


“Tidak ada apa-apa, mungkin hanya salah sambung saja.”


“Kak-”


Sayangnya sambungan telepon langsung diputus secara sepihak. “Dasar! apa-apaan ini main matiin aja!” kesal Alisa dengan wajah yang terlihat menggerutu. Ia merasa penasaran kenapa Alina menelepon laki-laki yang sudah ia sukai sejak lama.


****


Alina yang kini hanya diam, ia terlihat sedikit melamun, pikirannya seakan melayang pada orang yang sudah mengangkat teleponnya itu.


Jadi selama ini Hero di rumah sakit tidak sendiri? ia bersama dengan Alisa? mengapa laki-laki itu tidak mengatakan itu langsung pada dirinya.


Meski tidak mengantuk, tapi Alina berusaha untuk memejamkan matanya itu. Hatinya terasa sakit saat pemikiran buruk muncul tanpa ia cegah.


Apa yang Hero lakukan bersama dengan Alisa? apa mereka berdua ada hubungan? tapi Alina rasa jika laki-laki yang bernama Hero tidak akan melakukan itu. Alina tahu jika Hero sangat mencintai wanita di masa lalunya. Wanita yang Alina sendiri tidak tahu siapa dia.


“Sayang,” panggilan lembut dari luar kamarnya langsung mengalihkan perhatian Alina.


“Iya Bunda, ada apa?”


“Bunda bawakan martabak kesukaan kamu, apa kamu mau? atau Bunda mengganggu kamu yang sedang istirahat ya?”


Alina yang mendengar nama makanan kesukaannya itu disebut, dengan segera ia bangkit dan membuka pintu, martabak manis dengan toping coklat dan keju, itu makanan yang paling Alina sukai.


“Terima kasih Bunda,” ucap Alina yang merasa terharu.


Hanny seolah memiliki ikatan batin dengannya, bahkan meski Alina tidak mengatakan apa-apa. Wanita itu tahu jika dirinya sedang ngidam ingin martabak. Walaupun pada awalnya ia ingin orang yang memberikannya itu ada Hero.


“Belum Bunda, Kak Hero kayaknya sibuk, mungkin masih banyak kerjaan yang harus dia urus.”


“Jangan terus melindungi suami kamu, ingat sayang, Bunda ini ibunya, Bunda tahu Hero dengan jelas. Jika kamu ada masalah, katakan saja pada Bunda. Jangan pernah merasa sungkan karena kita bukan orang asing.”


******


Alina yang hanya diam dengan ditemani oleh Belvita yang membawa anaknya.


Belvita tentu heran saat melihat Alina dari tadi hanya diam dan melamun. Apa yang sedang Alina pikirkan? hingga sahabatnya itu hanya diam dari tadi?


Mungkin itu pemikiran Belvita dari tadi.


“Alina, kenapa? apa ada masalah?” tanya Belvita yang melihat Alina hanya diam.


Alina langsung menoleh, ia menjawab dengan gelengan kepala. Alina lalu tersenyum, ia menatap ke arah keponakannya yang tak lain adalah anak Rio


“Rio hebat ya, dia sudah sebesar ini dan setampan ini. Auty jadi pengen peluk dan gendong kamu.”


Saat Alina hendak mengulurkan tangan, tentu Belvita langsung menolaknya. “Jangan lakukan itu Alina, kamu harus ingat jika kamu sedang hamil saat ini, memang kamu ingin jika nanti kandungan kamu ketindih sama anakku ini.”


“Yah ..., padahal aunty pengen banget peluk Dede Rio yang gemes ini, tapi ternyata mamah Belvita sangat tidak menyukai itu. Mamah Belvita galak ternyata,” kata Alina yang menirukan suara anak kecil.


“Ini juga demi kebaikan kamu Alina, aku tentu saja merasa khawatir sama kamu dan kandungan kamu.”


Perkataan Belvita hanya Alina abaikan, ia malah lebih memilih untuk asyik bermain dengan Rio yang umurnya kurang dari satu tahun.


“Ya ampun, keponakan aunty tampan banget sih, jadi pengen peluk,” gemas Alina yang terus mencium keponakannya itu.


“Lin, siapa itu?” tunjuk Belvita pada seorang perempuan dan laki-laki yang baru saja lewat.


“Siapa Kak?” tanya Alina yang melihat ke arah kanan dan kiri, tapi tidak ada apapun yang ia lihat.


“Tadi aku rasa itu ...,” Belvita terlihat bingung antara ia harus mengatakan apa yang ia lihat atau lebih baik dia diam saja.


“Apaan sih Bel? jangan bikin orang penasaran dong. Ayo katakan aja!” kata Alina dengan tatapan yang terlihat meyakinkan.


“Tidak! tidak ada apa-apa, sepertinya aku tadi cuman salah lihat. Mungkin karena lagi nggak fokus jadi bisa salah lihat gitu deh,” kata Belvita dengan nada acuhnya itu. Tapi ketidakpedulian Belvita yang seolah disengaja itu terlihat mencurigakan di mata Alina.


“Beneran cuman salah lihat aja? atau itu memang benar-benar orang yang kamu kenal? atau justru itu orang yang aku kenal?” tatapan mengintimidasi dari Alina sempat membuat Belvita tak nyaman.


Tapi meski begitu, Belvita adalah orang yang pandai dalam melihat situasi. Ia juga pandai untuk terlihat biasa-biasa saja.


“Nggak ada, sudahlah, kamu ini terlalu penasaran. Ingat ya Lin, kamu tuh lagi hamil, jangan terlalu banyak pikiran. Bukan hanya kamu yang akan sedih, tapi anak kamu juga pasti bakal ikutan sedih jika ibunya merasa sedih. Jadi, sudah ya, jangan banyak berfikir.”


Kata-kata panjang lebar dari Belvita hanya dijawab dengan kembungan pipi dari Alina. Ia hanya bisa mendengus dan sedikit menggerutu. “Siapa suruh kamu buat orang penasaran!” kesal Alina.


“Iya-iya maaf.”


*****


Maaf baru bisa up