
Alina mengubah keputusannya, ia awalnya ingin pergi ke rumah keluarganya. Tapi, Alina tidak ingin membuat keluarganya sedih dan merasa sakit hati lebih jauh lagi.
Ini kesalahan Alina, ia dengan keras kepala tetap ingin menikahi lelaki itu, ia dengan keras kepala tetap berniat untuk mendapatkan hati lelaki itu, meskipun ia tahu jika laki-laki itu telah mencintai orang lain.
“Mah, Alina harap Mamah tidak akan pernah membenci Alina.”
Alina semalam sudah melakukan pemesanan tiket untuk pergi ke luar negeri. Dan Alina yang kini berada di bandara, ia hanya diam menunggu sampai jadwal penerbangannya.
Tapi, belum sempat nama Alina dipanggil di jadwal penerbangan selanjutnya, justru ia melihat seseorang yang tengah menghampirinya.
“Pulang!” kata laki-laki itu dengan tegasnya.
“Alina nggak mau!”
“Pulang Alina!” tegas laki-laki itu lagi.
“Alina nggak mau tetap di sini! Alina benci Kakak! Kakak pasti tahu 'kan siapa cinta pertama Kak Hero? tapi kenapa Kakak tidak kasih tahu Alina?” kesal Alina.
“Pulang Alina! kamu ingin buat berita terbaru tentang keluarga kita?” Abian Angkasa, kakak pertama dari Alina. Ia adalah sosok yang sangat menarik perhatian publik, karena Abian adalah calon pemimpin untuk selanjutnya di rumah sakit Angkasa.
Sedangkan Alina, ia bagai anak emas yang selalu disembunyikan oleh keluarganya. Publik tidak mengetahui jika Alina juga adalah anggota dari keluarga Angkasa.
“Kak, Alina benci sama Kakak! kenapa Kakak nggak bilang tentang kenyataan itu?! kenapa Kakak nggak jujur kalau orang yang Kak Hero cintai itu adalah sahabat baik Alina sendiri?”
Alina tidak peduli jika kini dirinya menjadi perhatian orang-orang yang ada di bandara. Yang ingin Alina ketahui adalah, kenapa Kakaknya tidak jujur padanya, Alina yakin ada alasan kenapa Kakaknya mengirim dirinya ke luar negeri waktu itu.
“Pulang! atau Kakak seret langsung kamu untuk pulang!” kejam Abian atau biasa disebut Bian.
“Kak-”
“Pulang!” tegas Abian kini tidak ingin dibantah lagi.
Akhirnya, Alina pulang dengan terus saja mendiami kakaknya itu. Alina kecewa kenapa kakaknya yang tahu akan kenyataan itu juga menyembunyikan kebenaran itu darinya, terbukti dari keterdiaman Bian yang tidak ada bantahan atau bentuk pengelakan.
*****
“Alina,” Amina langsung memeluk anaknya itu, ia yang selama berhari-hari khawatir dengan keadaan anaknya, kini saat tahu jika anaknya sudah ketemu rasa khawatir itu seakan lenyap.
“Kamu nggak apa-apa 'kan? apa ada luka? apa ada yang sakit?” tanya Amina ibu Alina dengan tatapan khawatirnya.
“Alina lelah Mah, Alina ingin tidur. Jangan ganggu Alina ya,” ungkap Alina dengan senyum lemahnya.
“Oh iya, tidurlah sayang. Jangan sampai kamu dan anak kamu kenapa-napa.”
Setelahnya Alina diantar oleh Amina menuju kamarnya, dan tak lama Amina keluar menatap Bian dengan mata yang bertanya-tanya.
“Ada apa? apa yang telah terjadi pada adik kamu?” tanya Amina.
Bian hanya diam, tangannya terkepal kuat. Tapi ia tetap terlihat tenang. Jangan sampai amarahnya menyakiti ibunya sendiri. Bian marah karena sepertinya lelaki bernama Hero itu kembali menyakiti adiknya.
“Kesempatan kamu telah habis,” batin Bian yang kini berjanji untuk menjauhkan Hero dari adiknya.
“Bian, kenapa hanya diam? ayo jawab!” tanya Amina.
“Alina tidak apa-apa Mah, tidak ada yang perlu untuk dikhawatirkan. Biarkan masalah ini Bian yang akan urus,” kata Bian bangkit dan langsung pergi.
Amina yang melihat merasa heran, tidak pernah Amina lihat wajah anaknya semarah itu, tapi Amina sadar jika anaknya tidak ingin melampiaskan amarahnya padanya hingga lebih memilih menenangkan diri.
Bukan hanya Hanny saja yang panik saat mendengar Alina keluar tanpa Hero, tapi seluruh keluarga Alina juga panik dan kelimpungan. Bahkan mereka sampai kurang tidur karena mencari Alina dan juga harus melakukan tanggung jawabnya sebagai dokter.
“Papah, Alina sudah ditemukan.”
...*****...
Hero yang melihat jika Alina sudah tidak ada di apartemennya. Ia seperti orang yang kebingungan, mencari-cari Alina kemana-mana.
“Kamu dimana Alina ...,” kata Hero yang merasa takut jika Alina kenapa-napa.
Hero akhirnya memutuskan untuk ke mansion milik ibunya setelah hampir seharian keliling kota tapi tak kunjung menemukan Alina.
“Bunda, apakah Alina ke sini?” tanya Hero pada ibunya yang kini sedang memasak.
Hanny yang melihat kedatangan anaknya hanya abai, ia lebih memilih untuk fokus pada apa yang sedang ia kerjakan saat ini.
“Bunda, Hero bertanya, apa Alina ke sini?” tanya Hero lagi saat sadar jika dirinya kini sedang diabaikan oleh ibunya sendiri.
“Apa peduli kamu dengan Alina? toh saat dia ada juga kamu nggak peduli! kenapa sekarang pas sudah hilang kamu cari-cari?” sinis Hanny pada anaknya. Hanny merasa kesal dan marah, ia juga kecewa pada anaknya, entah apa yang terjadi selama hampir dua hari Alina yang tidak ada kabar.
“Dua hari ini Alina bersama kamu bukan?” tanya Hanny yang hanya dijawab kebungkaman.
“Jawab! Bunda sedang bertanya pada kamu!”
“Iya, Alina bersama denga Hero Bunda.”
“Kenapa tidak kamu kabarin langsung pada Bunda jika Alina sedang bersama kamu? apa kamu tidak peduli dengan kekhawatiran kami? ”
“Hero berniat untuk memberitahu Bunda sore ini,” jawab Hero.
“Jadi Bunda, apa Alina ada di sini?”
“Nggak ada, dia sudah pergi!”
“Bunda? maksudnya apa? Alina pergi kemana? kenapa bisa Bunda biarkan Alina pergi ditengah kondisinya yang sedang hamil besar?” tanya Hero dengan wajah khawatirnya.
“Sekarang baru tahu yang namanya takut kehilangan? kemarin-kemarin kemana aja? Bunda juga malah lebih setuju jika Alina pergi, itu demi kebaikan dirinya dan juga kandungannya.”
“Bunda-”
“Bunda nggak tahu apa yang terjadi diantara kalian, Bunda juga nggak tahu apa yang telah kamu lakukan hingga Alina bisa sesedih dan sekecewa itu.”
“Bunda-”
“Jika kamu tidak bisa mencintai Alina, lepaskan saa Alina! dia juga manusia, punya hati dan perasaan. Jangan karena dia mencintai kamu, dengan seenaknya kamu bisa berbuat seperti itu pada Alina.”
“Sampai kapanpun Hero tidak akan pernah melepaskan Alina! Alina adalah istri Hero, dia ibu dari anak-anak Hero!” sadar jika tidak akan mendapatkan informasi apapun dari ibunya, Hero memilih untuk mencari kembali Alina.
Hingga hari sudah sangat larut, Hero masih terus saja mencari Alina ke berbagai tempat yang berbeda.
“Alina kamu kemana? ku mohon kembalilah ...,” lirih Hero. Berkali-kali Hero menjambak rambutnya karena menyesal, kini ia telah berfikir selama seharian lebih.
Rasa sayangnya pada Alina bukan hanya sebatas rasa sayang Kakak pada Adiknya, tapi Hero kini sudah benar-benar mencintai Alina. Hero rasa, ia sudah benar-benar yakin dengan perasaannya itu.
Awalnya, Hero pulang untuk jujur akan perasaannya itu pada Alina, tapi sayangnya wanita itu sudah pergi, dan Hero tidak tahu keman wanita itu pergi.