
Alina yang berniat untuk melakukan cek kandungan, ia tiba-tiba melihat di depan rumahnya Hero dengan ekspresi laki-laki itu yang seolah sedang menunggunya.
“Kenapa Kakak ada di sini?” tanya Alina yang melihat ke kanan dan ke kiri. Jujur saja meskipun Alina sudah berusaha bersikap acuh dan tidak peduli pada Hero, tetap saja Alina merasa khawatir jika keluarganya tahu Hero datang.
Bisa saja jika kedua kakaknya tahu Hero datang, mungkin Hero akan habis di pukul oleh mereka.
“Aku senang kamu khawatir padaku,” kata Hero seolah sedang menebak jika Alina merasa khawatir dan takut jika dirinya akan kena amuk dari kedua kakak Alina.
Alina yang mendengar itu hanya menatap sinis dan acuh. “Aku tidak bermaksud peduli pada Kakak, tapi karena bagaimanapun Kakak masih suami dan ayah bagi anak-anak, mana mungkin aku hanya diam saja saat Kakak dipukuli,” kata Alina yang terlihat lucu nan menggemaskan di mata Hero dengan ekspresinya yang seperti itu.
“Masih suami? bukankah itu terdengar jika kita akan berpisah? tapi Kakak rasa kita tidak akan pernah bosa berpisah sampai kapanpun,” kata Hero dengan tegas dan yakin.
“Terserah, Alina tidak ingin berdebat,” kata Alina yang berniat masuk ke dalam mobilnya itu. Alina tahu jika ia tidak akan pernah mungkin memang berdebat dengan Hero, bagaimanapun Hero adalah laki-laki yang pandai dalam berdebat.
“Biar Kakak yang antar kamu ke rumah sakit.”
*****
Di dalam mobil.
Suasananya itu masih dalam keadaan hening tanpa ada suara, Alina yang sibuk dengan pemikirannya dan juga Hero yang hanya fokus menyetir.
“Apa anak kita menyusahkan kamu?” tanya Hero yang langsung membuat Alina menoleh dan menatap ke arah Hero dengan tatapan mata yang seakan tidak percaya dengan apa yang Hero katakan.
“Menyusahkan? tidak ada yang namanya merepotkan bagi seorang ibu, karena mereka akan merasa senang sekalipun direpotkan oleh anaknya,” ungkap Alina yang langsung mengucapkan kata itu dengan acuh dan juga sinis.
Apa maksudnya perkataan Hero itu? Alina bahkan tak pernah merasa direpotkan oleh anaknya ini. Ia senang saat anaknya berdetak di kandungannya, apalagi saat nanti anaknya lahir, Alina tidak bisa membayangkan betapa bahagianya ia nanti.
“Bukan seperti itu. Aku hanya penasaran apa kamu masih mengalami ngidam? jika iya kamu tidak perlu sungkan untuk meminta sesuatu padaku,” kata Hero langsung menjelaskan.
“Sejak kapan Kakak peduli dengan masalah ngidam?” jika membahas masalah ngidam, Alina akan teringat saat permintaannya tidak dikabulkan oleh Heri saat itu.
“Lebih baik jangan membahas masalah itu, itu hanya akan membuat aku merasa kesal,” ungkap Alina yang langsung berbicara dengan nada suara yang terdengar acuh dan tidak peduli.
Hero yang paham akan kekesalan Alina langsung menggeleng dan menatap sendu. Hero langsung menghentikan kendaraannya itu dan menatap pada Alina dengan ekspresi matanya yang terlihat dalam.
“Maaf, untuk masalah itu aku minta maaf. Aku tahu kesalahanku yang waktu itu tidak termaafkan, aku paham jika kamu marah dan membenci itu, dan jika kamu ingin marah padaku marah saja akan aku terima itu semua,” ungkap Hero.
“Alina bukan orang yang seperti itu, dan jikapun Alina marah itu tidak penting, karena itu kejadian yang telah berlalu, jadi apa untungnya Alina marah,” acuh Alina.
Hero sebenarnya hendak berbicara lagi, tapi saat ia melihat jika tatapan Alina terlihat malas dan tak ingin membahas mengenai hal itu, ia lantas langsung berbalik dan melajukan kembali kendaraannya itu.
*****
“Suaminya Bu?” tanya seorang suster yang menatap ke arah Hero dengan tatapan sedikit malu-malu.
Bukankah Hero memang sangat terkenal di negara ini? tapi ternyata meskipun sangat terkenal seperti ini, masih ada yang belum mengenalnya.
“Tentu, jika bukan mana mungkin saya bisa hamil sendiri,” kata Alina yang tanpa sadar merasa kesal.
Tatapan suster itu terlihat malu-malu seolah ia sedang tersipu dengan paras Hero yang sangat tampan itu.
Alina yang melihat itu merasa sangat kesal, ia tahu jika Hero memang tampan, tapi tolong jangan perlihatkan tatapan tertarik seperti itu.
Alina merasa kesal dan entah kenapa ia bisa sekesal ini, bukankah dirinya yang paling kukuh untuk berpisah dari Hero?
“Oh iya maaf Bu, saya tidak tahu,” ucap suster itu dengan sopan.
Ingin sekali Alina mempermasalahkan panggilan itu, panggilan ibu itu terlihat berlebihan untuknya. Tapi mengingat wanita tadi berbicara dengan sopan dan hormat padanya, Alina mengurungkan niatnya untuk mempermasalahkan masalah itu.
“Baik akan saya antar ke poli kandungan kalau begitu,” kata suster itu sopan dan langsung memandu Alina dan juga Hero.
Saat ini Alina berada di rumah sakit biasa, bukan rumah sakit milik keluarganya ataupun rumah sakit Cendana tempat ia bekerja, tapi meskipun begitu, rumah sakit ini juga tidak kalah baik dari rumah sakit yang lainnya.
“Apa ada keluhan ibu?” tanya dokter pada Alina.
Entah kenapa saat disebut ibu' oleh dokter, Alina tidak marah dan sensitif seperti tadi. Apa ini efek cemburu hingga Alina menjadi sangat sensitif?
“Tidak ada, hanya saja saat malam hari saya sering buang air kecil, dan semakin hari saya semakin sering buang air kecil dokter,” jelas Alina langsung diangguki oleh dokter itu sambil tersenyum.
“Itu hal yang masih dalam batas wajar yang terpenting tidak berlebihan 'kan Bu?” kata dokter itu langsung di jawab anggukan.
“Iya, tidak membuat saya terlalu kesulitan juga. Kadang ibu saya akan berada di kamar yang sama dengan saya, karena dia tahu akhir-akhir ini saya sering buang air kecil,” kata Alina menjelaskan.
“Baik, setelah konsultasi selesai, apa benar ibu ingin mengetahui jenis kelamin anak ibu?” tanya dokter itu, karena tak lama suster yang akan membantu dokter itu datang.
Alina yang mendapatkan pertanyaan itu langsung mengangguk. Ia ikut kemana dokter itu menuntun dirinya, dan Alina dibaringkan dengan posisi yang terlentang. Di tempat yang sama Hero juga tidak sekalipun meninggalkan Alina, ia masih setia dan dengan antusias dan penasaran mendengarkan apa yang sedang dokter itu katakan.
“Apa sudah bisa terlihat? ternyata salah satu calon bayi kalian adalah laki-laki. Oke kita lihat calon bayi yang satunya, ternyata mereka-”
“Perempuan,” kata si suster yang mendampingi tanpa sadar.
Alina dan Hero yang mendengar itu, mereka merasa senang. Hati mereka seolah dipenuhi kupu-kupu yang berterbangan hingga terasa menggelitik perut.