
Sekembalinya dari rumah sakit.
Kini Alina hanya diam dan termenung. Hal itu membuat Eron yang baru kembali ke rumahnya untuk mengambil barang yang tertinggal langsung menatap Alina dengan heran.
“Kenapa melamun?” tanya Eron mendekat ke arah Alina.
Alina yang memang sedang melamun merasa terkejut dan langsung menatap Eron dengan tatapan kesalnya.
“Kenapa tidak ke sini? kenapa tidak di mansion kamu?” tanya Eron heran.
“Alina ingin di sini Kak, lagi menunggu kedatangan Belvita,” alasan Alina.
“Terus kenapa Kakak selalu mengagetkan Alina kalau datang, tidak bisa 'kah Kakak datang dengan baik-baik?” tanya Alina yang hanya dijawab dengan gedikan bahu dari Eron.
Tatapan acuh dan tak peduli Eron ucapkan pada Alina, membuat Alina semakin kesal, Alina hanya diam dan sedikit mendengus saat melihat itu.
“Siapa suruh setiap Kakak lihat kamu sering melamun,” jawab Eron acuh.
Ada sedikit keinginan untuk Eron memukul Hero, tapi disini pernikahan itu terjadi karena adiknya sendiri.
Eron yakin jika paksaan itu terjadi bukan karena Alina egois, tetapi karena Alina adalah anak yang lahir. Ia memang sudah berusia 23 tahun, tapi sikap labil dan pemikiran polosnya itu seakan belum hilang juga.
Eron yang niatnya hanya ingin mengambil barang yang tertinggal lalu langsung ke tempat kerja, ia mendadak mengurungkan niatnya. Kekhawatiran sebagai seorang kakak membuatnya merasa harus tahu dengan masalah Sang Adik.
Eron duduk di dekat Alina, melihat itu Alina lantas menatap curiga. “Kenapa dekat-dekat Alina? sana jauh-jauh!,” usir Alina. Ia tahu jika sudah seperti ini pasti ada sesuatu yang kakaknya inginkan, seperti meminta tolong sesuatu padanya.
“Dek,” tiba-tiba Eron memanggil Alina dengan sebutan yang Alina sendiri merasa merinding karena itu.
“Kakak boleh nggak minta tolong kamu untuk kenalin langsung sama teman kamu yang namanya Belvita itu loh, yang manisnya kebangetan.”
Sebenarnya Eron tidak berani menanyakan lebih jauh tentang masalah Alina, makanya dia memilih bertanya tentang wanita yang membuatnya tertarik. Berharap dari wanita yang tak lain sahabat Alina sendiri, ia nanti akan tahu apapun masalah Alina melalui Belvita.
Terdengar berlebihan bukan?
Alina yang mendengar nada rayuan kakaknya itu, Alina semakin dibuat merinding. Ia menatap Eron seolah lelaki itu tengah dimasuki setan.
“Kakak kesurupan ya? tumben nada bicaranya lembut?”
Eron yang mendengar itu, biasanya ia langsung kesal dan tersinggung. Tapi tidak untuk sekarang, niatnya untuk meminta dikenalkan langsung pada sosok Belvita yang sangat manis itu, membuatnya rela menekan rasa kesalnya. Tentu, ini juga demi adiknya.
“Iya Kakak kesurupan, kesurupan sama teman kamu yang manis itu. Dia terlalu manis sampai buat kakak tergila-gila kayak gini,” kata Eron.
Kini saking merindingnya Alina dengan ucapan Sang Kakak, ia langsung bangkit dan berjalan menjauh.
“Jauh-jauh sana!,” usir Alina yang benar-benar membuat kesabaran Eron habis.
“Mau kenalin kakak sama teman kamu nggak? jangan buat kakak kesal ya Alina,” kesal Eron yang hanya direspon helaan nafas dari Alina.
“Oh, kirain kesurupan,” jawab Alina santai.
“Bukannya kemarin kakak sudah kenalan sama Belvita, kenapa masih minta dikenalin lagi?”
“Itu 'kan kamu yang ngenalin dia, bukan kami yang kenalan langsung. Jelas itu tidak sah,” ucap Eron yang terdengar ngotot.
“Sah sah sah, memangnya kakak pikir kalian menikah gitu?” tanya Alina yang terdengar mencebik.
“Jangan sampai ya Belvita nikah sama kakak, nggak setuju pokoknya. Alina cuman mau Belvita nikah dengan laki-laki yang jauh lebih baik dari kakak!”
Ucapan tegas Alina membuat Eron kesal bukan main, untung ia tidak marah atau tersinggung. Tapi tetap saja ia kesal, segitu nggak maunya Alina melihat temannya menikah dengan kakaknya sendiri.
“Memang Kakak sejelek apa sih?” tanya Eron dengan nada tak terima.
“Jelek banget pokoknya,” jawab Alina yang langsung pergi begitu saja.
...*****...
Hari ini Alina sengaja mengajak Belvita untuk makan siang di sebuah kafe dekat rumah sakit Angkasa.
Terlihat Belvita sedang memakan makanannya dengan sedikit melamun, ia sesekali tersenyum senang entah karena apa.
Alina yang melihat itu, ia langsung merasa heran. Belvita mengabaikan pertanyaannya?
“Kamu baik-baik saja 'kan?” tanya Alina lagi, ia akhirnya memegang pundak Belvita dan langsung membuat Belvita tersadar dari lamunannya itu.
“Iya apa?” tanya Belvita sedikit terkejut karena melamun.
“Kamu baik-baik saja 'kan?” tanya Alina lagi, sepertinya Belvita sedang melamun.
“Aku baik-baik saja kok,” jawab Belvita yang membalas dengan senyuman.
“Kenapa? apa ada sesuatu hal yang membuat kamu senang?” tanya Alina lagi.
Belvita hanya menunduk, wajah malu-malu dan terlihat memerah kini ia tunjukkan. Melihat itu, Alina merasa heran.
“A ..., aku sepertinya suka sama seseorang. Ini mungkin hal yang aneh, karena kami baru saja bertemu dan tiba-tiba aku sudah menyukainya,” ungkap Belvita semakin menunduk. Alina ingin menyembunyikan tentang perasaannya, tapi jika orang itu adalah Alina, ia seakan tidak bisa untuk menyembunyikan perasaannya itu.
“Kenapa tidak? cinta itu bisa datang dalam sekejap, tapi melupakan itu butuh waktu yang lama, karena pada dasarnya kita bisa mencintai orang itu tanpa kita sadari, tapi untuk melupakan orang itu? itu memang hal yang sulit dan tidak mudah,” ucap Alina dengan disertai tatapan menerawang.
Ini seperti Alina yang sedang bercerita pada seseorang, Alina memang butuh waktu hanya sekejap untuk mencintai Hero.
Tapi untuk melupakan lelaki itu, rasanya hal itu hal yang tidak mungkin. Apalagi saat Alina tahu alasan Hero menjadi dingin dan datar seperti ini. Itu tak lain karena lelaki itu seakan sudah menyerah akan kehidupannya?
Alina juga sadar, setiap Alina berusaha melupakan dan menghilangkan cintanya yang selalu bertaut pada lelaki itu, tapi justru rasa cintanya semakin dalam dan dalam.
Ini sangat sulit bagi Alina, dan sangat menyakitkan.
Kenapa bisa cinta datang begitu saja tanpa ia sadari?
Lalu kenapa sangat sulit melupakan seseorang yang kita cintai?
“Iya 'kah? jadi itu hal yang wajar kan?” tanya Belvita yang langsung diangguki oleh Alina.
Sejak putus dari pacarnya, Belvita tidak memiliki kekasih lagi. Ia kira ia tidak akan bisa menyukai seseorang lagi, tapi nyatanya pemikiran Belvita salah.
Karena kini, hatinya seolah yakin jika ia menyukai orang itu.
“Siapa yang kamu suka?” tanya Alina langsung.
“Em ..., kakak kamu,” cicit Belvita malu-malu.
Alina yang sedang meminum jusnya langsung tersedak begitu saja. “Uhkk ... uhk”
Belvita yang panik langsung memberikan Alina air putih. Setelah batuk yang Alina rasakan mereda, Alina menatap ke arah Belvita tak percaya.
“Kak Eron maksudnya?”
Belvita yang ditatap seperti itu langsung menunduk karena ditatap cukup intens oleh Alina.
“Bukan,” tolak Belvita meski pelan terdengar tegas.
“Lalu?” tanya Alina lagi
“Kakak pertama kamu, Dokter Abian,” jawab Belvita jujur.
Mendengar itu, entah mengapa Alina jadi merasa iba. Awalnya jika Belvita menyukai Eron itu adalah sebuah hal petaka, karena jika Belvita menyukai Eron, hal itu adalah hal yang menurutnya jangan sampai, sifat Eron yang sangat pemilih dan sangat menyebalkan pasti akan membuat Belvita merasa jengah dan kesal.
Tapi justru saat mendengar Belvita menyukai kakak laki-lakinya yang tak lain adalah Bian, hal itu lebih membuat Alina berfikir kembali.
Lebih baik Belvita menyukai kakak keduanya walau ia orang yang menyebalkan.
Alina ingin mengatakan jika orang yang di sukai Belvita adalah orang yang telah memiliki tunangan, tapi saat melihat betapa senang dan bersemangat seorang Belvita, Alina tak tahu harus berkata apa.