Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
#23 Bukankah Alina sangat cantik?



Alina yang telah selesai berganti baju, ia terlihat sedang mengenakan gaun yang dipilih oleh Hanny. Akhirnya Alin keluar dengan ekspresi yang kentara terlihat gugup.


Ini pertama kalinya seorang Alina yang tidak suka memakai gaun ataupun pakaian yang menurutnya feminim, dan kini gadis yang bernama Alina itu memakai sebuah gaun.


What?


Apakah ini serius?


“Cantik sekali sayang,” puji Hanny yang menatap Alina dengan tatapan intensnya. Ia bahkan tidak berkedip saat menatap ke arah Alina.


Melihat tatapan Hanny yang menatapnya dengan tatapan kagum dan memuji, hal itu membuat Alina justru merasa semakin gugup. Ia malu dan tak nyaman jika harus ditatap seintens ini.


“Ma-makasih Bunda,” jawab Alina sedikit malu-malu.


Jika di sini ada kakaknya Eron, lelaki itu pasti akan meledek Alina. Karena setiap kali Alina diminta untuk memakai gaun, ada saja alasan yang Alina buat. Bahkan saat keluarga Angkasa memiliki acara penting, Alina sering tidak ikut dan selalu bersembunyi.


Alasan sering beralasan jika kuliahnya tidak bisa diganggu.


“Ka-kalau gitu Alina ganti baju dulu ya Bun.”


Alina hendak berbalik untuk mengganti baju dengan pakaiannya tadi, tapi lengannya tiba-tiba ditahan oleh Hanny. Gelengan Hanny berikan seakan melarang Alina untuk berganti pakaian.


“Kamu pakai itu saja sayang, itu sangat bagus di tubuh kamu,” kata Hanny terdengar meminta. Hingga Alina pun tak enak hati untuk menolaknya.


Akhirnya Alina mengangguk yang langsung dijawab dengan senyum senang dari Hanny.


“Kamu pasti lapar sayang, kita makan dulu,” ajak Hanny, ia lalu langsung menggandeng Alina untuk masuk ke sebuah restoran.


...........


Restoran makan yang mereka kunjungi terlihat cukup ramai, sesekali Alina akan menunduk saat para laki-laki menatapnya dengan tatapan tak berkedip.


“Bund, kenapa mereka pada lihat ke arah Alina? apa ada sesuatu hal yang salah dengan Alina?” tanya Alina yang menghentikan sejenak langkahnya.


Hanny secara tak langsung juga ikut berhenti, ia tersenyum dan menggeleng.


“Kamu sangat cantik sayang, makanya mereka semua lihat ke arah kamu,” jelas Hanny.


Alina hanya menatap tak percaya, ia menunjuk ke arah dirinya sendiri seolah memastikan. “Secantik itu Alina sampai orang-orang menatap Alina terus-menerus?” tanya Alina polos dan hanya dibalas dengan senyuman dan tatapan gemas dari Hanny.


...........


Setelah memesan makanan.


Hanny dan Alina hanya diam, Alina kini sibuk untuk berusaha menghilangkan pikiran negatif dan perasaan tak nyaman. Sedangkan Hanny tidak henti-hentinya untuk menghubungi seseorang yang Alina sendiri tidak tahu siapa orang itu.


“Bund,” panggil Alina.


Hanny yang menatap ponselnya langsung menoleh dan tersenyum. “Kenapa sayang?” tanya Hanny lembut.


“Alina boleh ke kamar mandi?”


“Ada apa? apa ada sesuatu hal yang membuat kamu tak nyaman?”


“Hehehe, iya Bund. Alina hanya ingin memastikan jika penampilan Alina baik-baik saja,” jelas Alina. Ia hanya ingin memastikan jika penampilan dirinya sekarang itu baik-baik saja, kadang Alina merasa jika penampilan dirinya kini terlihat aneh dan membuatnya tak nyaman dengan pandangan orang-orang padanya.


Bayangkan saja, biasanya Alina selalu memakai kaos putih polos, di balut dengan jaket panjang dan celana panjang. Ia juga selalu kemana-mana dengan memakai topi dan masker, bahkan saat jalan ia selalu menunduk dan fokus pada ponselnya. Seakan ia berada di dunia yang berbeda dan tidak terlalu merasa jika ia sedang diperhatikan orang lain.


Alina berjalan menuju ke arah toilet wanita, sepanjang perjalanan banyak pasang mata yang menatap dirinya. Entah itu pandang apa, Alina tidak terlalu peduli. Yang jelas Alina hanya menunduk hingga dirinya sampai di toilet wanita.


...........


Mengunci pintu.


Alina melihat penampilan dirinya di cermin. Biasanya ia yang selalu terlihat tomboi, kini entah kenapa saat Alina menatap penampilan dirinya di cermin, ia justru terlihat manis. Seolah orang yang ada di cermin itu bukan dirinya.


“Ini beneran aku 'kan? kenapa bisa berbeda sekali?” tanya Alina menatap cermin dihadapannya.


Karena merasa terlalu feminim saat rambutnya tergerai, Alina pun memilih menguncir kuda sedikit lebih tinggi dan merapikan poni di depannya.


“Kalau kayak gini 'kan sedikit lebih baik,” ucap Alina tersenyum karena merasa puas dengan penampilan dirinya saat ini.


Akhirnya setelah di rasa cukup, Alina keluar dari toilet. Seperti biasa, tatapan orang-orang itu justru masih saja menatap ke arahnya. Padahal Alina merasa jika dirinya kini tidak terlalu mencolok sama sekali.


Begitu sampai di meja tempat ia dan Hanny makan, Alina sedikit tertegun saat orang yang tidak pernah Alina duga sama sekali kini datang.


“Kak Hero?” ucap Alina tanpa sadar.


Bukankah seharusnya lelaki itu ada di rumah sakit?


Meski Alina adalah asisten Hero, tapi karena di hari ini lelaki itu tidak ingin diganggu, maka Alina diberikan waktu libur.


Sama halnya dengan Alina, Hero sama terkejut dengan adanya Alina di sana. Bahkan Hero sampai mematung saat melihat penampilan Alina yang terlihat berbeda dan tidak sama seperti biasanya.


“Ekhm,” deheman Hanny langsung menyadarkan Hero dari lamunannya itu.


“Bukankah Alina sangat cantik, Hero?” tanya Hanny yang terdengar nada jahil dalam ucapannya itu.


Hero yang mendengar itu hanya menatap ibunya, ekspresi datar dan terkesan acuh kini Hero perlihatkan. Seakan mengatakan jika ia tidak terpengaruh dengan godaan dari Sang ibu.


“Duduklah Hero, kita makan bersama,” terdengar nada perintah dari ucapan Hanny.


Hero yang mendengar itu langsung duduk. Dan Alina yang melihat itu ikut duduk, ia kembali untuk duduk di tempatnya.


“Bukankah Bunda bilang jika Bunda sendirian? tapi mengapa ada Alina di sini?” tanya Hero yang direspon dengan tatapan cuek Hanny.


Hanny hanya fokus pada makanannya dan memakan itu dengan santai. Sengaja Hanny membohongi Hero, karena jika tidak begitu Hero tidak akan pernah mau datang ke sini.


Hanny tahu jika Hero tidak pernah bisa melihat ibunya kesepian apalagi kesusahan. Maka dengan beralasan jika ia kini hanya sendirian di butik, Hero pasti akan datang. Walau memang pada dasarnya Hero terlihat acuh dan tak peduli, tapi itu hanya tampilannya saja.


“Bunda hanya ingin agar kamu bisa meluangkan waktu kamu sedikit saja untuk bunda,” jawab Hanny. Ia kini memang terlihat egois tanpa peduli jika anaknya sibuk, tapi bagi Hanny ia kini sedang menyelamatkan Sang anak dari hal yang akan membuat otak panas, yang tak lain adalah bekerja tanpa henti.


Karena jika tidak dengan cara ini, Hanny yakin jika Hero akan tetap fokus pada pekerjaannya.


“Dengan cara berbohong?” tanya Hero menatap ke arah ibunya yang terlihat santai.


“Iya, kalau tidak begitu kamu mana mau datang ke sini, ke tempat bunda berada. Iya 'kan?”


Tebakan itu terlalu tepat, hingga Hero bahkan tidak bisa mengelak ataupun menjawab ucapan Hanny.


#####