
“Jangan ngaco! kamu ini benar-benar bersifat buruk ya! hey!! bagaimanapun yang kamu bicarakan itu adalah Kakak kamu sendiri! apakah pantas jika seorang adik justru menjelek-jelekkan kakaknya sendiri?”
“Kak Alina, aku tidak berbohong, jika memang Kakak tidak percaya, Kakak bisa mencari tahu itu dengan jelas pada siapapun, tapi ingat! Kakak harus menerima jika nanti akan ada kekecewaan yang muncul,” kata Alisa.
“Terserah kamu, kalau begitu aku pulang,” kata Alina yang langsung bangkit. Alina berjalan dengan sedikit kesusahan, ditambah dengan apa yang Alisa katakan padanya membuat emosi Alina terguncang hebat.
Alina kini hanya ingin memastikan jika dugaan dan tebakan Alisa itu salah. Mana mungkin jika sahabat baiknya yang telah meninggal mengkhianati dirinya, Alina berharap ini hanya omong kosong dari Alisa saja.
“Alina,” kata Raihan saat ia melihat Alina sedang berjalan sendirian.
“Hey ada apa? you okey? kenapa hanya diam saja? apa ada masalah?” tanya Raihan melihat jika ada keringat yang cukup banyak membanjiri dahi Alina.
“Apa kamu manusia? tentu aku berkeringat saat berjalan, lihat saja di depanku ada apa? jangan mengatakan hal yang aneh, kenapa masih perlu bertanya pada sesuatu hal yang pasti?”
Sontak ucapan Alina itu, membuat Raihan tersadar, jika Alina berkeringat karena ia berjalan dengan membawa bayinya diperut, cuaca panas membuat wanita cantik itu sedikit kewalahan.
“Kenapa sendiri? apakah suami kamu itu tidak bisa untuk menemani kamu?” kata Raihan menatap Alina.
“Aku hanya berjalan-jalan sendiri sambil olahraga, dan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Kak Hero,” jelas Alina.
“Masih saja melindungi suami kamu itu,” kata Raihan disertai nada tak sukanya. Alina terlalu baik bagi Hero menurut Raihan. Kenapa bisa laki-laki tak punya hati itu memiliki istri secantik dan sebaik Alina, ini tak adil bagi Raihan.
“Hey, kamu salahpaham terus, ini memang aku sengaja berjalan-jalan, lagipula Kak Hero sedang bekerja hari ini, jadi wajar 'kan jika sibuk.”
“Sudahlah ayo masuk, kenapa bisa jalan-jalan sampai sejauh ini,” kata Raihan dan tak lama Alina pun ikut masuk.
Sepanjang perjalanan ada beberapa percakapan yang mereka bicarakan, topik yang biasa mereka bahas, dan saat tak ada topik, mereka pun sama-sama diam.
“Alina,” panggil Hero yang ternyata ada di depan rumah.
“Kak Hero?” kata Alina sedikit terkejut dengan Hero yang kini sedang berada di depan rumah besar itu.
“Kenapa tidak meminta aku untuk menjemput kamu?” tanya Hero dengan ekspresi wajah tak sukanya saat ia melihat jika orang yang mengantar istrinya itu adalah Raihan.
Dulu Hero menatap Raihan biasa saja, tapi saat ini, Hero menatap Raihan dengan tatapan tak sukanya sejak laki-laki itu seolah berniat mengambil istrinya.
“Kak, Kakak sibuk 'kan? jadi Alina pergi bareng Raihan, ini karena beberapa alasan saja.”
“Tapi kamu bisa menghubungi aku 'kan? kenapa tidak kamu coba saja untuk menghubungiku?” tanya Hero yang entah mengapa menatap Alina dengan tatapan posesif miliknya.
“Buat apa? Kakak ingin buat Alina terus menunggu Kakak hingga malam seperti waktu itu? tapi Alina nggak seperti dulu lagi Kak, tubuh Alina kini tidak sanggup untuk terus berdiri,” kata Alina membuat laki-laki dihadapannya itu bungkam.
Hero kehabisan kata-kata saat Alina mengingatkan ia pada kejadian dimana ia lupa untuk menjemput Alina waktu itu. Kejadian dimana laki-laki itu terlalu fokus pada dunianya sendiri.
“Alina, maaf.”
“Alina masuk dulu kalau gitu, kamu pulanglah Raihan.”
...*****...
Setelah memasuki mansion itu, Alina langsung berbalik saat Hero ternyata terus mengikutinya dari tadi.
“Kak?” tatapan Alina diarahkan pada laki-laki yang jelas jauh lebih tinggi darinya. Hingga Alina harus mendongkak ke atas saking tingginya lelaki itu bagi Alina.
“Jika Alina bertanya sesuatu pada Kakak? apa Kakak akan menjawab pertanyaan Alina?” tanya Alina.
“Jika bisa aku jawab, maka akan aku jawab,” kata Hero langsung.
“Apapun itu 'kan? Alina bisa bertanya pada Kakak apapun itu?” tatapan Alina kini diarahkan langsung pada laki-laki itu.
“Iya, tanyakan saja,” jawab Hero.
“Kalau begitu, siapa orang yang Kakak cintai di masa lalu? siapa orang yang telah berhasil membuat Kakak jadi laki-laki yang seperti ini?” pertanyaan Alina itu, adalah pertanyaan yang tidak pernah Hero duga sama sekali, hingga Hero yang belum menyiapkan jawaban yang Alina inginkan, ia hanya bungkam.
“Tuh 'kan, Kakak justru hanya diam. Bukannya Kakak bilang pada Alina jika Alina boleh bertanya pada Kakak apapun itu? kenapa hanya diam?” tatapan yang terlihat sangat penasaran kini muncul di wajah Alina.
“Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu?” kata Hero yang ingin mengalihkan topik.
“Hanya penasaran saja, aneh rasanya jika Alina yang sudah bersama Kakak selama ini, tapi masih belum mengetahui siapa yang Kakak cintai dulu.”
Bukan hanya merasa aneh dengan ketidaktahuan dirinya pada sosok yang dicintai laki-laki itu, tapi dirinya merasa aneh juga, karena ia tak menyangka bertahan selama ini. Apa memang sesayang itu ia terhadap Hero?
“Alina, ini topik yang sangat sensitif. Lebih baik kita lupakan saja topik yang tidak perlu,” kata Hero lalu berjalan pergi menuju kamarnya.
“Tapi ini sangat penting bagi Alina yang seperti orang bodoh Kak,” kata Alina yang hanya bisa diam dengan tatapan yang sedikit menerawang jauh.
“Kakak berangkat,” usapan yang terasa hangat itu mulai terasa di pucuk kepala Alina.
Melihat laki-laki itu benar-benar pergi dan tidak ingin menjawab apa yang ia tanyakan, Alina hanya bisa diam dan tidak berkata-kata.
“Walaupum Kakak tidak ingin membahas itu dengan Alina, tapi Alina akan tetap mencari kebenaran ini sampai rasa penasaran Alina tuntas,” janji Alina pada dirinya sendiri.
...*****...
Kini, Alina hanya diam saat Hanny terlihat antusias menyiapkan makanan untuknya. Berbeda sekali jika dibandingkan dengan suasana hati Alina saat ini.
“Kenapa sayang? kok dari tadi murung terus sih?” tanya Hanny saat ia melihat jika Alina hanya diam dan tak berkata apa-apa.
Biasanya, seburuk apapun suasana hati Alina, ia akan tetap tersenyum. Seolah pandai menangani suasana hatinya sendiri.
“Bun,” tatapan Alina akhirnya ia berikan pada Hanny. “Boleh Alina bertanya?” tanya Alina yang seolah menunggu persetujuan dari Hanny.
“Iya, silahkan tanyakan saja, pasti akan Bunda usahakan untuk jawab apa yang kamu tanyakan,” jawab Hanny dengan disertai senyuman khasnya.
“Siapa orang yang Kak Hero cintai?”
Sama seperti Hero yang diam mematung saat Alina bertanya akan orang yang ia cintai di masa lalu, Hanny pun sama, ia hanya diam seolah bingung untuk menjawab.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu sayang? apa ada yang mengganggu?” tanya Hanny menatap Alina.
“Alina hanya ingin tahu Bun, tolong jawab apa yang Alina tanyakan Bunda,” pinta Alina dengan penuh berharap.
#####
Maaf baru bisa up ya, padahal malam tuh mau up, tapi jaringan tidak mau bersahabat.