Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Menjemput Sahabat Alina yang lain



Selama beberapa hari ini, Alina merasa jika Hero terus menghindari dirinya. Lelaki itu bahkan sering pulang larut malam seperti dulu, meski Hero pulang, tapi jarang sekali Alina melihat kepulangan Hero.


...*****...


Alina yang mendapat kabar jika sahabatnya Melisa akan datang, ia lalu segera izin pada Hero untuk menjemput sahabatnya itu.


“Aku mungkin akan kembali ke rumah sakit setelah makan siang,” ucap Alina yang kini sedang berada di ruangan Hero.


Alina kembali bekerja seperti biasa, ia juga mengerjakan pekerjaan layaknya asisten. Walau kebanyakan tugasnya dikerjakan oleh Hero.


“Iya, hati-hati,” singkat Hero. Ia memang sangat sedikit sekali bicara.


“Apa makanannya enak?” tanya Alina yang langsung dijawab anggukan.


Melihat itu Alina sangat senang, tidak sia-sia ternyata usahanya untuk memasak selama berjam-jam. Alina memang tipe yang lambat dalam belajar, dan Alina rasa ia lambat dalam segala hal.


Hero memakan masakan Alina dengan lahap, meski sebenarnya makanan Alina tidak seenak masakan ibunya. Tapi, demi menghargai usaha Alina, ia tetap memakan makanan itu dengan lahap.


...*****...


Di bandara.


“Padahal jika hanya aku saja yang menjemput Melisa itu tidak masalah,” ungkap Alina yang tidak tega saat melihat Belvita terlihat kesulitan saat berjalan.


“Tidak masalah, ini bukan hal yang kamu khawatir 'kan,” ujar Belvita tersenyum menenangkan.


“Aku hanya khawatir kalian akan berdebat saat aku tidak ada,” canda Belvita.


Memang benar, jika Alina kadang sering berdebat dengan Melisa. Entah mengapa Belvita merasa jika Melisa selalu membuat Alina kesal hingga terjadi perdebatan.


“Nggak lah, nggak mungkin. Sekarang aku 'kan sudah menjadi seorang istri dan sudah dewasa, jadi aku nggak mungkin berdebat lagi,” jawab Alina yang sedikit merasa malu saat dirinya ingat dulu sering berdebat dengan Melisa.


“Tapi aku kok nggak yakin ya?” ledek Belvita tapi tidak membuat Alina marah.


“Kak Bian ikut ke sini?” tanya Alina yang langsung dijawab gelengan. Sejenak Alina sempat melihat pandangan mata Belvita yang terlihat murung.


“Dia lagi sibuk kerja,” jawab Belvita jujur.


Sebenarnya Bian sempat menawarkan diri untuk mengantar Belvita, bahkan lelaki itu memaksa agar Belvita mau diantar. Tapi Belvita justru menolak itu, entah karena apa.


Tiba-tiba datang seorang wanita yang berjalan ke arah mereka berdua. Wanita itu memakai pakaian yang terlihat glamor dan mewah, terkesan sedikit berlebihan karena banyak pernah pernik.


“Belvita, ini beneran kamu?” tanya wanita glamor itu yang kini melepaskan kacamata yang dipakai olehnya.


Melihat wanita itu, awalnya Alina dan Belvita bingung tentang wanita glamor itu. Tapi pada saat wanita itu membuka kacamata miliknya, akhirnya mereka sadar jika itu adalah Melisa.


Sahabatnya yang terkenal dingin dan acuh, kini wanita itu terlihat berbeda dengan penampilan yang sedikit berlebihan.


“Lo hamil? kok bisa? hamil duluan ya Lo?” nada yang terdengar merendahkan itu Melisa ucapkan.


Alina yang memang gampang tersinggung langsung menatap Melisa dengan tatapan kesal dan tak sukanya. Kenapa bisa sahabatnya berubah drastis hanya dalam beberapa bulan, padahal belum sampai satu tahun mereka tidak bertemu.


Harus Alina akui jika Alina sering berdebat dengan Melisa karena sering kali Melisa merendahkan Belvita, dan hal itu membuat Alina tidak suka. Lagipula Alina serta Belvita, mereka berdua akan menggunakan kata Lo bukan kamu saat bicara dengan Melisa. Itu tak lain karena kebiasaan mereka, hanya dalam hari tertentu Melisa akan berkata Aku' Kamu.


“Perubahan itu hal yang wajar menurut gua, lagipula untuk apa bertahan jika tetap terlihat memalukan,” ujar Melisa.


Melisa seakan berkata ia berubah karena tidak ingin terlihat rendahan atau diremehkan oleh Alina dan Belvita. Padahal nyatanya Alina dan Belvita tidak pernah meremehkan Melisa sama sekali.


“Sudah sudah, jangan terus berdebat. Ayo kita makan terlebih dahulu, kalian pasti lapar.”


Bagi Alina Melisa itu jauh lebih sayang pada Belvita dibandingkan dengan dirinya. Tapi faktanya, Melisa lebih bersikap baik pada Belvita yang memang memiliki kesabaran ekstra.


...*****...


Di restoran.


Mereka yang baru saja memesan makanannya itu, mendadak terhenti saat hendak memakan makanan yang mereka pesan karena ucapan Melisa.


“Makan aja ya, gua sekarang ini orang kaya. Kalian sebagai orang miskin bisa gua traktir selama satu bulan, bahkan kalau perlu gua biayai hidup kalian,” songong Melisa yang terlihat lebay menurut orang yang melihat perilakunya itu.


“Kaya banget sekarang ya Lo, buktinya bisa traktir kita makan,” acuh Alina.


Sebenarnya ia masih ingin terus menyindir Melisa dan berdebat dengannya. Tapi karena ingat akan janjinya dengan Belvita,dan ia juga merasa sangat tidak nyaman dengan pandangan orang yang memperhatikan mereka. Maka Alina memilih diam dan tidak berkata apa-apa.


“Kenapa hanya diam? ngaku kalau nih ceritanya,” ejek Melisa yang sifatnya benar-benar berbeda jauh hanya dalam beberapa bulan.


Melisa dan Alina memang kadang sering berdebat untuk hal kecil, tapi sikap Melisa ini terlihat parah dan aneh.


“Gue lapar dan butuh tenaga,” jawab Alina acuh.


Akhirnya mereka bertiga berusaha untuk makan dalam keadaan hening. Sayangnya keheningan itu tak bisa bertahan lama. Karena dengan santainya Melisa bersuara dengan nada merendahkan.


“Lo beneran hamil di luar nikah? kok bisa sih? terlalu bergaul bebas sih Lo. Jadi kayak gitu deh, Lo hamil di luar nikah. Dan pasti orang yang buat loh hamil nggak mau tanggung jawab, kasihan.”


Alina yang mendengar itu langsung menatap Melisa sengit.


“Kita nggak sampai satu tahun loh nggak bertemu, tapi anehnya Lo berubah jauh hanya dalam waktu beberapa bulan? aneh banget Lo,” ungkap Alina yang berusaha menahan kekesalannya itu.


“Sudah sudah, nggak perlu berdebat. Kita lanjut makan aja ya,” Belvita yang terdengar menengahi.


“Bel, Lo belum jawab pertanyaan gue, Lo beneran hamil di luar nikah 'kan? terus ayah dari anak yang Lo kandung tahu 'kan kalau sekarang Lo lagi hamil? mereka tanggung jawab 'kan?” tanya Melisa yang tanpa peduli berkata dengan suara tinggi.


Hingga banyak orang menatap ke arah mereka. Alina yang mendengar itu bahkan kesal bukan main.


“Maksud kamu apa dengan perkataan mereka'? kamu seolah berkata jika Belvita hamil oleh beberapa pria?”


“Bukan gitu loh Lin, tapi gue khawatir aja. Lo ingat 'kan dulu saat kuliah Belvita itu bekerja sebagai pelayan di bar. Bisa aja 'kan dia juga bekerja lebih demi uang tambahan,” kata Melisa tanpa peduli jika yang kini ia bicarakan adalah sahabatnya sendiri.


“Jelas Belvita dulu bekerja sebagai pelayan karena demi tambahan biaya hidupnya. Lagipula sekarang Belvita seorang dokter, dan penghasilan dia jauh lebih cukup untuk menghidupi dua orang sekaligus. Jadi untuk apa dia masih bekerja di Bar itu lagi,” dengus Alina.


Alina merasa kekesalannya bertambah, ternyata benar apa yang Belvita katakan dulu. Melisa itu akan berubah sejalan dengan statusnya yang berubah. Entah apa yang terjadi hingga status Melisa kini berubah.