
Hanny yang baru pulang dari rumah sakit, ia langsung menyediakan segala makanan lezat yang menurut resep dokter itu sangat sehat.
Segala jenis makanan dan hidangan Hanny persiapkan untuk Alina, beberapa kali Hanny bertanya pada Alina tentang makanan apa yang wanita itu sukai. Tapi Alina hanya menjawab dengan gelengan dan senyuman.
“Bunda, Alina baru makan 15 menit yang lalu, dan bukankah Bunda tahu itu? jadi man mungkin Alina sanggup dan bisa makan makanan sebanyak ini.”
Terdengar nada keluhan dalam ucapan Alina itu, wanita yang sudah seperti ibunya, kini memperlakukan dirinya dengan amat sangat baik.
Walaupun saat dulu Hanny juga memperlakukan Alina dengan baik, tapi Hanny kini memperlakukan Alina dengan lebih baik lagi.
“Jangan seperti itu sayang, kamu perlu makan dan anak kamu juga perlu asupan gizi. Ayo makan!”
Alina yang mendengar itu hanya menghela nafas, ia akhirnya mengangguk walau sebenarnya ia masih berada dalam tahap tak berselera makan.
Bagaimana Alina bisa berselera makan, sedangkan ia saja sedang memikirkan tentang Hero. Bagaimana laki-laki itu akan menanggapi tentang kehamilannya. Dan apakah Hero akan merasa senang dengan dirinya yang sedang hamil saat ini, itu pertanyaan yang masih berkecamuk dalam benak Alina.
“Jangan banyak berfikir sayang, Bunda yakin Hero pasti akan senang dengan kabar kehamilan itu. Kamu tidak perlu banyak berfikir apapun!”
Seolah memiliki ikatan batin yang kuat, Hanny berkata akan hal itu, ia sangat tidak ingin jika menantu yang telah ia anggap memiliki banyak pikiran.
“Kamu harus pikirin anak kamu juga ya sayang, jadi kalau misalkan ada sesuatu masalah, jangan di Pendem, kamu bisa cerita sama Bunda apapun itu.”
Alina hanya mengangguk dan tidak berkata apa-apa lagi. Sedangkan Hanny langsung keluar dari ruang makan, ia menuju sofa ruang tamu dan berniat menelepon anaknya.
Anak kesayangan yang setiap hari selalu membut Hanny kesal dengan sikap acuh dan datarnya, tapi di saat yang sama, Hanny juga sadar jika ia sangat sayang pada anaknya itu.
“Iya Bunda?” perkataan seperti biasa yang selalu datar serta acuh itu, ingin sekali membuat Hanny marah karena kesal.
Andai waktu bisa diulang, apa Hanny boleh meminta agar Hero tidak kenal dengan wanita yang pada akhirnya akan membuatnya sakit seperti ini.
“Pulang, Bunda kangen.”
()
Padahal tujuan Hanny meminta agar Hero segera pulang, itu tak lain karena ia ingin memberi tahu segera kabar bahagia ini, walau sebenarnya ia juga merasa rindu pada anaknya.
“Bunda, Hero masih sibuk bekerja.”
“Oh Hero ayolah, Bunda sendirian di sini. Apa kamu tega membiarkan Bunda sendirian saat ini?” tanya Hanny.
Seperti biasa, jurus rahasia saat Hero menolak untuk datang, Hanny akan berkata jika dirinya kini sedang sendirian.
“Hero tidak akan tertipu lagi dengan alasan seperti itu.”
“Ya ampun, anak ini!” kesal Hanny yang sepertinya merasa kehabisan kata-kata.
“Terserah kamu mau pulang atau nggak, itu urusan kamu.” Entah mengapa Hanny merasa kesal dan mendengus.
Padahal semakin cepat Hero tahu akan kebenaran ini, itu akan semakin baik. Hanny berharap dengan kabar ini, hubungan antara Alina dan Hero menjadi semakin baik.
*****
“Sudah selesai makannya?” tanya Hanny saat kembali ke ruang makan. Ia melihat Alina yang sedang memakan makanannya cukup lahap.
Hanny duduk tepat di samping Alina, ia lalu menatap Alina dengan tatapan yang sedikit dalam. Tatapan yang tak terbaca, hingga Alina yang terus menerus di tatap kadang merasa tak nyaman.
“Ada yang salah dengan Alina Bunda?” tanay Alina.
Gelengan langsung Hanny berikan.
“Bunda sangat senang punya menantu kayak kamu, benar-benar sangat senang.” Ucapan Hanny seakan membuat Alina malu, ia menunduk karena salah tingkah dengan pujian mertuanya itu.
“Dari dulu bukankah kamu tahu jika Bunda sangat sayang pada kamu Alina? Bunda bahkan selalu berharap jika yang menjadi istri Hero itu kamu, dan ternyata memang benar itu kamu.”
Hanny mengelup pipi Alina yang terasa lembut di tangannya, ia merasa jika Alina sudah seperti anaknya sendiri. Untuk mengungkapkan rasa senangnya karena bisa memiliki Alina sebagai menantu, Hanny tidak tahu harus mengatakan apa.
“Alina juga sangat senang bisa memiliki mertua sebaik Bunda, bagi Alina Bunda sudah seperti ibu kandung Alina. Bunda baik, bunda lembut, dan Bunda sangat pengertian. Sebelumnya terimakasih banyak atas perhatian Bunda untuk Alina, dan maaf jika Alina bukan menantu yang baik seperti kebanyakan.”
“Kata siapa? kamu adalah menantu yang paling baik diantara yang terbaik. Dan Bunda tahu bagaimana kamu dengan jelas. Sebelumnya juga Bunda minta maaf karena sempat memohon dan memaksa kamu untuk menikah dengan Hero. Bunda saat itu benar-benar tak tahu dan merasa frustasi dengan Hero.”
Tatapan frustasi dan sedih Hanny perlihatkan hingga membuat Alina yang melihat itu tak tega. Alina langsung menggenggam tangan Hanny dan tersenyum.
“Ini juga keputusan Alina, jadi Bunda tidak perlu untuk merasa bersalah.”
Senyum teduh dari Alina membuat Hanny ikut tersenyum.
“Oh iya sayang, apa kamu berbuat mengatakan tentang masalah kehamilan kamu ini pada Hero?” tanya Hanny mengalihkan topik.
Alina hanya diam, ia sedikit berfikir dan terlihat bingung. Apa Alina memang harus jujur pada Hero tentang kehamilannya saat ini? tapi apakah Alina siap dengan apapun respon Hero nantinya.
Alina pikir kejadian saat itu tidak akan membuatnya hamil. Aneh memang, padahal waktu itu dengan berani Alina menerima permintaan Hanny yang memintanya untuk memakan lingerie, dan di situ Alina berharap agar bisa hamil.
Tapi kini saat sudah hamil, mengapa justru ia takut dan seolah enggan untuk mengatakan itu langsung.
“Biar nanti Alina pikirkan Bunda.”
“Bunda harap kamu segera mengatakan tentang hal ini, karena cepat atau lambat Hero pasti akan mengetahui hal ini. Lagipula ini anaknya Hero, jadi dia harusnya senang dan tidak marah ataupun merasa tidak terima.”
“Jangan takut untuk jujur sayang.”
*****
Malam harinya.
Alina yang kini sedang mengikuti Hero dari arah belakang menuju kamar mereka. Ia hanya diam, padahal Alina berniat untuk membawakan tas kerja milik lelaki itu, tapi sayangnya Hero menolak.
“Kalau begitu Alina akan bawa makan malam untuk Kakak, Alina yakin Kakak lapar.” Karen tahu jika Hero tidak mandi dengan air hangat dan lebih suka air dingin atau air biasa, jadi tugas Alina kini hanya menyiapkan makan.
Alina keluar dan membiarkan Hero untuk mandi, saat Alina kembali lagi. Ia melihat Hero sedang memegang sesuatu, sesuatu yang Alina hendak sembunyikan tapi justru sudah diketaui lebih dulu.
“Alina kamu hamil?” tanya Hero kentara dengan tatapan tak percayanya.
Alina yang mendengar itu tiba-tiba menunduk dalam, ia tidak berani melihat respon Hero saat ini. “Iya,” cicit pelan Alina.