Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
#70 Tak menyangka



Alina yang kini sudah berada di depan sebuah rumah. Rumah yang belum pernah sama sekali Alina kunjungi. Tapi, entah kenapa, ada rasa di mana ia merasa familiar saat ia melihat dekorasi rumah itu.


“Ini 'kan rumahnya?” tanya Alina pada dirinya sendiri.


Saat memastikan jika alamat yang tertera sesuai dengan apa yang ia lihat. Alina tanap basa-basi langsung memasuki sebuah pagar yang ternyata sudah terbuka.


“Di mana bellnya itu?” tanya Alina yang ingin memencet bel tamu sebagai bentuk kesopanan. Walau sebenarnya perasaannya kini sudah tak karuan.


Alina merasa jika kini ia seperti seorang istri yang akan melabrak suaminya yang mungkin saja kini sedang berselingkuh. Meski begitu, Alina tak akan mungkin masuk begitu saja, ia takut di sangka tidak sopan. Apalagi, Alina takut jika kecurigaannya itu salah karena emosi semata.


“Kenapa nggak ada?”


Alina yang berfikir jika mungkin bellnya itu berada di depan rumah, ia lantas memilih masuk setelah mengucapkan permisi.


Seperti sebuah hal yang telah direncanakan, pintu rumah itu justru terbuka dengan lebar. Seolah jika kedatangannya adalah hal yang sudah dinantikan.


“Kak Hero?” teriak Alina yang terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini.


Apa yang Alina lihat tidak pernah Alina duga saat ini, Hero sedang ... mencium seorang wanita?


Entahlah, dari arah belakang itu yang Alina lihat saat ini. Seperti halnya Alina yang merasa terkejut, Hero yang sedang duduk lantas mendorong wanita yang ada dihadapannya dengan tergesa-gesa tanpa perasaan.


“Alina,” entah kenapa wajah Hero kini justru terlihat ketakutan. Ia bahkan langsung berlari untuk segera menghampiri Alina.


Alina yang merasa marah dan kesal, emosinya yang bercampur aduk antara sedih dan sakit hati, membuat Alina tidak peduli dengan siapa wanita itu. Alina belum melihat wajah wanita itu dengan jelas, karena ia merasa tidak ingin melihat wajah dari wanita itu.


Alina langsung bergegas melangkah secepat mungkin, ia ingin lari agar laki-laki yang telah berhasil membuat dirinya kecewa itu, tidak bisa mengejarnya.


Sayangnya, langkah kakinya terasa lambat, sangat lambat. Alina bahkan kesulitan untuk hanya sekedar berjalan, apalagi jika harus berlari. Usia kandungan Alina yang kini genap enam bulan, malah terlihat seperti berusia 8 bulan, itu tak lain karena Alina sedang hamil anak kembar.


“Sialan! brengsek!!” maki Alina.


Kata-kata yang selalu Alina hindari, sekesal apapun dan semarah apapun dia, ia tidak pernah namanya mengumpat. Dan kini, kata-kata itu justru dengan mudah keluar saat ini juga.


Hero benar-benar berhasil membuat Alina marah pada titik yang bagi Alina sudah paling tinggi. Kekecewaan itu benar-benar terasa jelas.


“Alina,” Hero berhasil menahan Alina. Ia langsung saja membalikkan posisi bada Alina agar segera menatapnya.


Wajah khawatir dan ketakutan yang belum pernah Alina lihat dari Hero. Kini untuk pertama kalinya seorang Alina melihat itu.


“Ini nggak seperti yang kamu pikirkan! apa yang terlihat jelas bukan seperti itu,” dengan tatapan meyakinkan yang seolah ingin meyakinkan Alina Hero mengatakan itu dengan tegas.


“Lalu yang sebenarnya terjadi kayak gimana? atau Kakak mau bilang kalau Alina itu matanya rusak hingga yang Alina lihat itu salah?” dengan berani Alina menatap Hero dengan tatapan sinisnya.


Tatapan yang tidak pernah Alina tunjukkan pada Hero, meski seringkali laki-laki itu mengabaikan dirinya.


“Bukan seperti itu, mata kamu nggak rusak tapi apa yang kamu lihat itu salah.”


“Kak,” rasanya Alina ingin menangis saat ini juga, tapi ia tahan hingga tangannya mengepal erat.


“Jadi Kakak nggak perlu jelasin apa-apa pada Alina, ini hidup Kakak! kakak bebas untuk ngelakuin apa aja yang Kakak mau!”


Setelahnya Alina kembali berjalan, ia ingin segera sampai menuju mobilnya.


Rasanya percuma saat Alina memikirkan Hero selama dua hari ini, laki-laki itu ternyata sedang bersama dengan orang lain.


Aneh memang jika Alina kini justru membebaskan laki-laki itu. Mungkin itu tidak lain karena Alina benar-benar sudah berada di level kekecewaan tertinggi, rasa sakit yang tak tertahan, membuat Alina merasa jika untuk mendengarkan penjelasan laki-laki itu saja ia tak sanggup.


“Kita pulang bersama,” kata Hero yang merasa takut jika Alina akan kenapa-napa dengan keadaan seperti ini. Hero bahkan tidak menyangka jika Alina datang sendirian ke sini dengan menyetir mobilnya, padahal jelas wanita itu tidak terlalu mahir dalam menyetir.


...*****...


Karena tidak memiliki pilihan, pada akhirnya Alina diantar oleh Hero untuk pulang. Tapi setelahnya, Alina masuk dan memilih untuk mengabaikan Hero begitu saja.


“Ada apa ini Hero?” tanya Hanny saat melihat jika Hero terlihat gelisah di depan kamar Alina yang terkunci rapat.


“Bund,” tatapan gelisah yang sudah lama tidak terlihat. Kini terlihat kembali.


Kapan terakhir kali Hanny melihat tatapan gelisah dan khawatir dari Hero? sepertinya itu sudah lama tidak Hanny lihat setelah sekian lama, saking lama hal itu, Hanny tidak bisa menghitung waktunya.


“Kamu buat masalah lagi?”


Hero ini sudah seperti langganan dalam membuat Alina kesal dan marah, waktu itu Hero pernah janji jika ia akan menemani Alina pergi untuk jalan-jalan di hari libur, tapi sempat tertunda karena kesibukan laki-laki itu. Dan Alina pada akhirnya tetap saja akan memaafkan kesalahan dari laki-laki itu.


“Bund, Alina salah lihat. Tadi itu kejadiannya tidak terlihat seperti yang Alina duga, tolong bantu Hero untuk menjelaskan masalah itu pada Alina.”


Tatapan Hero terlihat memelas saat menatap ke arah ibunya. Ia kini merasa takut dan gelisah entah karena apa.


“Kenapa Bunda harus bantu kamu? apa bunda yang telah buat Alina marah? bukan 'kan?!” sikap acuhnya Hanny semakin membuat Hero frustasi.


“Jadi apa yang kamu lakukan pada Alina? kenapa kalian bisa bertengkar? bunda belum pernah lihat Alina semarah ini? apa yang kamu lakukan hingga wanita sebaik Alina bisa marah?” Hanny merasa yakin jika kesalahan yang Hero buat bukanlah kesalahan kecil, itu terlihat dari raut wajah Alina yang tidak marah seperti dulu yang hanya kesal biasa.


“Bund, Alina hanya salah lihat. Yang ia lihat tadi tidak seperti yang ia pikirkan, tolong bantu Hero Bund,” pinta Hero terdengar berharap.


“Bagaimana bisa Bunda bantu kalian untuk baikan jika Bunda saja tidak tahu apa masalahnya itu? kamu sungguh aneh!”


“Ini karena Hero bertemu dengan Alisa, Hero waktu itu hanya murni merawat Alisa yang sedang sakit Bun,” jelas Hero yang justru malah membuat Hanny marah.


“Kamu masih berhubungan dengan mereka hingga saat ini? ya ampun Hero ..., Bunda benar-benar lelah mengingatkan kamu! Padahal sudah Bunda ingatkan berkali-kali untuk tidak berhubungan lagi dengan mereka! Lupakan Alicia karena dia telah meninggal lama!” marah Hanny.


“Bund-”


“Dan sekarang kamu justru berhubungan dengan kembarannya itu? apa memang kamu belum bisa melupakan wanita yang meninggal itu juga?!!”


Tatapan lelah dari Hanny terlihat, hingga Hero tidak berani untuk berkata-kata. Apalagi wajah marah Hanny terlihat jelas, wanita itu juga terlihat kecewa pada Hero.