Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Penyesalan



Hero yang baru saja selesai mandi. Ia lantas berjalan menuju ruang makan. Saat melihat meja makan, Hero kembali tertegun dan melamun.


Hero ingat, jika Alina sangat sering menunggu dirinya dimeja makan. Setiap kali Hero datang, Alina yang sudah menyiapkan makan akan menunggu Hero dengan senyuman khasnya yang terasa tulus.


Wanita itu selalu sabar dan baik, sekalipun Hero selalu membuatnya kecewa dan marah. Dan Hero rasa, ia tidak akan bisa menemukan wanita sebaik Alina di mana pun.


Krlukk


Bunyi perut Hero yang seakan meminta untuk segera diisi, menyadarkan Hero dari lamunannya itu. Dengan segera Hero memasak makanan seadanya.


Biasanya Hero akan memasak menu makan apapun yang ia inginkan. Ia sangat pandai dalam memasak, sayangnya kini ia tidak bersemangat untuk memasak, alhasil Hero hanya memasak menu seadanya.


Di suapan pertama, Hero kembali tertegun. Rasa masakan itu enak, ya karena sudah ada bumbu cepat saji yang tersedia. Mengingat itu, entah kenapa Hero langsung ingat dengan usaha Alina.


Wanita itu tidak pandai dalam memasak, bisa dikatakan jika Alina memang lambat dalam segala hal. Ia harus berusaha keras demi apa yang ia inginkan, contohnya saat Alina ingin pandai memasak, ia sering sekali mengasah kemampuannya itu dan rela menghabiskan waktunya demi pandai memasak.


“Masakan kamu memang tidak seenak masakan hotel bintang lima. Tapi ketulusan dalam masakan itu yang membuat makanan yang kamu buat terasa mahal dan tidak dijual di mana pun.” Hero ingat, setiap kali Alina diajarkan menu masak baru, orang yang pertama yang Alina minta untuk menilai masakannya itu adalah Hero.


Sekalipun masakan itu sering keasinan, atau kadang gosong. Tapi semangat wanita itu, dan ketulusannya dalam membuat masakan untuknya, tak bisa Hero lupakan begitu saja.


“Bagaimana rasanya?”


“Apakah enak kak?”


“Keasinan ya ...?”


“Ya ..., gosong. Akan Alina coba buat lagi.”


Begitulah perkataan yang Alina ucapkan saat itu, dan Hero kini bisa mengingatnya dengan jelas.


Karena tidak berselera lagi untuk makan, Hero memilih untuk pergi ke rumah ibunya. Ia ingin bertanya lagi di mana keberadaan Alina saat ini.


...*****...


“Bunda, tolong jangan terus abaikan Hero. Hero tahu Hero salah, dan Hero ingin memperbaiki itu semua, tolong bantu Hero Bunda,” kata Hero pada Hanny.


Hanny yang sibuk mengupas bawang, langsung menatap ke arah Hero dengan tatapan meledek.


“Baru sekarang merasa bersalahnya? kemana aja dulu? masih terpaut sama masa lalu ya sampai nggak sadar punya istri?” ledek Hanny.


Hanny kini layaknya ibu-ibu yang sedang menyindir anak tetangga, ia yang sebenarnya ibu kandung Hero justru memperlakukan Hero layaknya anak tetangga yang sedang ia sindir.


“Bunda,” Hero kesulitan untuk mengatakan sesuatu jika Hanny terus saja memperlakukannya seperti ini.


“Hero ingin memperbaiki ini semua, tolong bantu Hero Bunda ...,” lirih Hero berharap.


Hanny yang melihat itu menjadi tidak tega, tidak pernah Hanny lihat Hero yang seperti ini. Tidak pernah Hanny lihat ketulusan Hero yang seperti ini.


Akhirnya, Hanny luluh, ia memeluk anaknya dengan lembut dan perhatian. Layaknya seorang ibu yang ingin melindungi anaknya saat diganggu, itu yang kini Hanny lakukan.


“Bunda nggak bantu kamu, karena ini sudah menjadi keputusan Alina. Dia ingin pergi dari kamu, dan Bunda yang juga kecewa sama kamu tidak bisa melakukan apa-apa.”


“Bunda heran, apa yang kamu lakukan sampai wajah terakhir yang Bunda lihat dari Alina adalah wajah tak percaya dan juga kecewa,” kata Hanny Hero hanya diam.


...*****...


Eron berusaha untuk membujuk Bian, agar kakaknya itu mengatakan alasan mengapa ia mengirim Alina waktu itu, tapi dengan kukuhnya Bian menolak.


“Untuk apa menjelaskan itu pada Alina?”


“Kak, jika kamu menjelaskan itu Alina tidak akan salah paham lagi pada kamu. Dia sekarang sedang merasa kecewa karena sudah tahu siapa orang yang dicintai oleh Hero di masa lalu,” jelas Eron yang membuat Bian menatapnya dengan tatapan tak percaya.


“Dari mana kamu tahu jika Alina sudah mengetahui kebenaran itu? apa Alina mengatakan itu langsung?”


“Iya, Alina mengatakan itu langsung. Jadi tidak ada gunanya kita tetap menyembunyikan kebenaran itu.”


Bian yang mendengar itu hanya diam, ia lalu menatap ke arah jendela kamarnya dengan tatapan menerawang jauh.


Flashback


Saat itu, Bian yang baru berumur sepuluh tahun, ia melihat jika ibunya sedang dimarahi oleh neneknya. Nenek yang begitu menyayanginya dan mencintainya, selama ini, Bian mengenal neneknya itu dengan sangat baik.


“Kamu ini gimana sih, sampai sekarang juga masih belum hamil juga. Padahal kalian tidak melakukan program KB, jadi kenapa tidak hamil juga? tanya mertua dari Amina.


“Mah, sejak melahirkan Eron, Amina di vonis tidak bisa hamil lagi oleh dokter. Karena saat itu, Amina hampir keguguran dan menyebabkan rahim Amina sedikit bermasalah,” jelas Amina.


Padahal Amina sudah melahirkan dua cucu untuk wanita itu, tapi saat tahu jika anak keduanya yang dilahirkan oleh Amina adalah laki-laki, mertuanya marah dan menyalakan Amina karena mertuanya sangat menginginkan cucu perempuan.


“Kamu harus ingat Amina! saya hanya punya satu anak saja, dan itu suami kamu. Jika sampai dia tidak bisa memiliki anak perempuan dari kamu, maka itu saya akan meminta dia menceraikan kamu! kalaupun anak saya tidak ingin menceraikan kamu! saya akan tetap memintanya menikahi wanita lain!” tegas mertuanya.


Bian yang kebetulan sedang bermain dengan adiknya itu, ia yang mendengar itu turut merasa sedih dan ikut kecewa dengan neneknya sendiri. Apa salahnya dengan cucu perempuan? bukankah neneknya juga tidak punya anak perempuan? jadi kenapa harus memaksa ibunya untuk memiliki anak perempuan?


Beberapa tahun berlalu, di saat Amina sudah tidak kuat melihat suami dan mertuanya terus saja berdebat karena dirinya, Amina memutuskan untuk mengizinkan suami yang ia cintai untuk menikah lagi. Tentu Setoni yang merupakan suaminya itu menilai hal itu dengan tegas, hingga akhirnya mereka sering bertengger.


Ditengah keluarganya yang kacau balau, Bian yang melihat itu sedih dan merasa hancur. “Jika memang Tuhan baik, tolong berikan Bian adik perempuan, karena Bian akan memperlakukan adik itu dengan sangat baik, apapun yang dia nanti minta, akan Bian lakukan, asalkan dia mau lahir ke dunia ini.”


Setelah perkataan itu, doa Abian terkabulkan. Amina hamil, dan tak lama melahirkan anak perempuan sesuai yang mertuanya inginkan.


Sebenarnya Bian tahu jika keinginan neneknya itu hanya alasan saja, karena sejak Setoni dan Amina sedang menjalin hubungan, neneknya itu tidak menyukai ibunya. Sekalipun, wanita yang menjadi neneknya selalu memperlakukan Abian dengan baik, sebagai anak Abian tetap tidak terima saat tahu ibunya diperlakukan seperti tidak diharapkan.


“Selamat datang di dunia ini Alina, kamu adalah anugerah yang Tuhan berikan pada keluarga ini. Sebagai Kakak, aku sangat menanti kehadiran kamu, aku janji, akan memperlakukan kamu dan menyayangi kamu dengan baik, bahkan jika kamu minta aku melakukan ini, akan aku lakukan. Tapi, tolong izinkan aku untuk menjaga kamu dengan caraku sendiri,” kata Abian yang sudah remaja, ia kini menjadi sosok dingin dan datar seolah tak tersentuh.


Tapi rasa sayangnya pada adiknya itu nyata, ia bahkan sudah sangat sayang pada adiknya saat adiknya masih dalam kandungan.


“Kak, kasihan sekali orang itu, dia sakit jantung. Katanya, umurnya tak lama lagi, padahal dia bisa operasi tapi tidak ada biaya, Alina harap Kakak mau menjadi dokter jantung yang baik hati, bisa tolong banyak orang,” kata Alina yang kala itu masih umur 4 tahun, tapi ia sangat pintar berbicara. Meskipun jika dalam belajar ia memang sangat lambat.


Sejak saat itu, Bian memutuskan untuk menjadi dokter spesialis jantung. Padahal keinginannya itu, ia ingin menjadi seorang pengusaha.


Tapi, dari keinginan Alina Bian jadi sadar, jika sosoknya kini terasa luar biasa karena menyelamatkan banyak orang, ia juga membantu beberapa pengidap jantung untuk melakukan operasi gratis bagi yang kurang mampu.


Dan bagi Bian, Alina terlalu istimewa, anak baik kebanggaan keluarga. Bian merasa, apa yang Alina lakukan selalu menjadi hal yang terbaik.


#####


Masih flashback.


Di bab selanjutnya akan langsung dijelaskan alasan Bian mengirim Alina ke luar negeri.