
“Kak, Alina hanya muntah biasa. Itu bukan hal yang harus dikhawatirkan, Alina baik-baik saja,” jawab Alina sesabar mungkin.
Kadang menghadapi keluarga yang super khawatir kepada dirinya, Alina harus ekstra sabar saat akan menjelaskan. Mereka terlalu khawatir jika Alina sakit, sekalipun sakit Alina hanya sebuah demam biasa.
“Sakit ya tetap sakit, mana ada yang namanya sakit itu enak,” ucap Eron yang terdengar jika saat ini sedang mengompori. Hal itu membuat Alina langsung menatap Eron dengan tatapan kesalnya.
Padahal sebenarnya, dalam ucapan Eron tadi terdengar kekhawatiran yang hanya Eron dan Bian saja yang tahu. Sama seperti Bian, Eron juga orang yang tidak pandai menunjukkan rasa sayangnya itu.
Makanya Alina dan Eron kadang akan berdebat untuk hal-hal kecil, itu tak lain karena Eron yang posesif dan protektif tidak bisa menunjukkan rasa sayang pada Sang Adik seperti kebanyakan orang. Kadang kekhawatiran Eron itu tidak tersampaikan dengan benar, hingga Alina sering salah paham padanya.
“Nggak, nggak sakit. Alina sudah sehat, Kak Eron jangan jadi kompor ya di sini,” kesal Alina tak suka dengan ucapan kakaknya itu.
“Siapa yang jadi kompor? kakak manusia kok? siapa juga yang mau jadi mesin,” jawab Eron cuek.
“Kita ke rumah sakit,” ucap Bian tegas seolah tak ingin untuk dibantah.
...*****...
“Alina ke mana?” tanya Hanny begitu memasuki ruangan milik Hero.
Hero yang terlihat fokus pada pekerjaannya itu, ia lalu menoleh ke arah ibunya. Dengan gelengan Hero seakan menjawab jika dirinya tak tahu.
“Loh, kok bisa kamu nggak tahu. Kamu 'kan yang selama ini sering bersama dengan Alina, satu ruangan pula, dan dia juga istri kamu Eron,” kini tatapan heran dan tak suka Hanny berikan.
“Tapi Hero benar-benar tidak mengetahui jelas Alina ke mana,” jawab Hero yang langsung membuat Hanny kesal.
Dengan sedikit menghentakkan kaki, Hanny mendekat dan menatap Hero dengan ekspresi tak percaya.
“Kalian hampir bersama 2 minggu? dan kenapa kamu masih bersikap sangat dingin pada Alina Hero? kenapa?” tanya Hanny dengan tatapan tak menyangka.
“Bun, Hero nggak akan pernah bisa untuk cintai pada Alina,” jawab Hero.
Hero sudah tahu jelas jika alasan mengapa Alina tetap berada satu ruangan dengan dirinya tak lain karena ibunya ingin agar dirinya bisa mencintai Alina.
Hero tahu jika ibunya itu sengaja menempatkan Alina untuk terus berada disampingnya. Tapi, Hero tak tahu jika alasan Alina memaksa dirinya menikah salah satunya karena permintaan Hanny.
“Lalu siapa wanita yang bisa kamu sukai? seperti apa tipe wanita yang kamu sukai itu? harus seperti apa bunda sekarang? apakah bunda harus tetap diam saja saat melihat anaknya terlihat hancur seperti ini?” tanya Hanny.
Hanny benar-benar merasa sedih dengan anaknya yang semakin sibuk dengan pekerjaannya. Hero seakan tidak peduli lagi dengan dirinya sendiri.
“Tidak ada, tidak ada satupun wanita yang bisa Hero cintai lagi,” ucap Hero.
Kini tatapan putus asa ia perlihatkan untuk sekilas, lalu setelahnya raut wajah datar kembali ditunjukan.
“Lupakan wanita itu Hero, ibu benar-benar sangat sedih. Tolong kamu pikirkan juga hidup kamu, apa kamu benar-benar tega melihat ibu kamu sendiri menderita karena melihat anaknya seperti ini?” kini wajahnya sendu dan lemah Hanny tunjukan.
Hanya ada Hero yang terlihat acuh dan dingin, Hero yang terlihat hanya akan fokus pada dunianya sendiri, dunia kerjanya, hingga ia mengabaikan kesehatan dirinya sendiri.
“Sesuatu hal yang telah pergi, tidak akan pernah kembali. Jangan sakiti diri kamu dengan terus saja mengingat hal yang membuat kamu sakit, sudah cukup. Kamu juga berhak untuk bahagia. Kamu berhak untuk hidup lebih baik, karena dia yang kamu cintai juga akan merasa sedih saat melihat keadaan kamu saat ini,” ucap Hanny dengan nada lembut dan lemahnya.
Hero yang mendengar itu hanya diam, ia seolah sedang membiarkan ibunya berkata sepuasnya pada dirinya.
Hero kini juga hanya bisa berharap untuk bisa kembali seperti dulu, ia justru lebih sedih dan merasa sangat berdosa karena membuat malaikat' baik hatinya menderita.
“Bun, Hero akan coba untuk bangkit, semoga Hero bisa,” ucap Hero yang langsung memeluk ibunya.
Baru pertama kalinya Hero melihat langsung kesedihan Sang Ibu atas perubahan sikapnya, dan untuk pertama kalinya ia merasa dirinya sangat jahat dan brengsek.
Hanny yang mendengar itu langsung mengangguk, tak bisa dielak jika air mata diwajahnya terlihat bercucuran.
“Dok, ada seorang pasien yang membutuhkan tindakan darurat,” ucap seorang perawat. Karena panik ia tidak bisa berfikir dan langsung masuk begitu saja.
Melihat adegan dimana Hero sedang memeluk wanita yang semua orang tahu jika itu ibunya, perawat itu langsung menunduk karena sadar jika dirinya datang di waktu yang kurang tepat. Apalagi saat ibu dari Hero itu terlihat menangis, perawat itu yakin jika mereka berdua sedang membahas sesuatu hal yang penting.
“Dok, saya minta maaf. Saya benar-benar minta maaf, saya tidak mendengar apapun,” ucap perawat itu lagi.
Jika biasanya Hero akan bersikap tegas, tapi melihat perawat itu yang kentara sangat khawatir.
Maka untuk saat ini Hero memaafkan itu. Ia akan mentolerir atas sikap tak sopan perawat itu, lagipula alasan perawat itu bersikap bersikap tidak sopan mungkin karena ia panik. Sepertinya perawat itu seorang yang baru masuk kerja, jadi ia belum terlalu pandai mengontrol emosi dan kekhawatirannya itu.
Akhirnya Hero pamit dan meninggalkan Hanny yang sudah berhenti menangis.
Melihat kepergian Hero, Hanny hanya tersenyum saat ingat dengan janji anaknya yang akan bangkit lagi.
“Bunda pasti akan dukung kamu sayang, dan Bunda pasti akan bantu kamu untuk mendapatkan orang yang tepat. Orang yang jelas-jelas sayang dan tulus sama kamu,” ucap Hanny menatap ke arah pintu yang kini terbuka. Pintu yang jelas-jelas sudah tidak ada lagi Hero di sana.
Menatap ke arah tempat Alina, Hanny tersenyum lagi. “Hanya Alina, hanya dia yang bunda tahu sangat tulus sama kamu. Andai kamu tahu jika wanita yang kamu cintai dulu, adalah wanita yang tidak lebih dari orang yang egois. Seorang yang bahkan rela mengambil apa yang sahabatnya sukai, dan mungkin saja jika kamu tahu, kamu tak akan percaya,” ucap Hanny.
Hanny sebenarnya ingin sekali mengatakan pada Hero tentang wanita yang ia cintai itu, tapi rasanya akan percuma. Hero telah jatuh pada pesonanya wanita itu, hingga akhirnya takdir memisahkan mereka.
Haruskah Hanny senang jika kini wanita itu telah pergi untuk selama-lamanya?
Jawabannya tidak!
Karena jika akan jadi seperti ini, Hanny lebih memilih Hero untuk tetap bersama dengan wanita itu, meskipun wanita itu seorang yang egois dan pengkhianat pada temannya sendiri.
Yang paling penting bagi Hanny, wanita itu tidak akan berkhianat dari Hero, karena jelas wanita itu juga sama cintanya dengan Hero.
Dan kini, Hanny akan membuat Hero bisa mencintai Alina