Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
#18 Pesan dari Hanny



Beberapa hari setelah obrolan itu.


Hero terlihat sangat canggung setiap kali bertemu dengan Alina. Gimana tidak? masa kecilnya yang menurutnya sangat memalukan dan selalu berusaha ia tutupi dari siapapun kini telah diketahui oleh seorang Alina.


Bukankah hal itu sangat memalukan bagi Hero? walau memang Alina itu istrinya, tapi tetap saja Hero merasa malu.


“Dok, apa ada hal yang harus saya kerjakan hari ini?” tanya Alina.


Setiap kali ia akan bertanya terlebih dahulu tentang tugasnya, bukan karena dia tidak peka atau kurang cekatan, hanya saja Hero tipe orang yang tidak suka melihat tugasnya dikerjakan oleh orang lain kecuali jika itu atas perintah darinya langsung. Dan hal itu sudah sangat Alina pahami, hingga ia selalu mengingat akan hal itu.


“Kamu bisa mengerjakan tugas yang telah saya taruh di meja kamu,” ucap Hero yang langsung dijawab oleh Alina dengan anggukan patuh.


Alina dan Hero hanya diam, mereka terlihat fokus mengerjakan tugas mereka masing-masing.


"Sayang lagi apa?" pesan dari Hanny yang muncul di layar ponsel Alina.


"Bunda kesepian, kamu ada waktu? Bunda ingin jalan-jalan bareng sama kamu," pesan dari Hanny kembali muncul.


Alina awalnya hanya ingin mengabaikan pesan itu, tapi ia juga tidak enak hati jika harus membiarkan Hanny menunggu jawaban darinya.


Sebelum mengambil ponselnya yang ada di atas meja, Alina menatap ke arah Hero. Ternyata laki-laki itu masih saja terlihat sangat sibuk dengan pekerjaan dirinya.


“Bund, Alina kini sedang kerja. Tapi kapan-kapan Alina akan menghubungi Bunda jika memang Alina memiliki waktu luang,” pesan itu terkirim dan langsung dibaca oleh Hanny.


“Ok, semangattt 💗” pesan berbentuk hati Alina dapat dari Hanny. Hingga ia tanpa sadar tersenyum karena hal itu.


“Dapat pesan dari pacar kamu 'kah? sampai senyum selebar itu,” tiba-tiba Hero berkata demikian hingga Alina gelagapan karena ketahuan menjawab pesan.


Pacar? mana ada seorang suami bertanya pada istrinya tentang seorang pacar?


“Bukan dok,” jawab Alina langsung.


Apakah Alina memang harus mengatakan pada Hero jika ini pesan dari ibu Anda? atau Alina hanya harus diam?


Tapi tatapan Hero yang terlihat tidak peduli dan fokus pada pekerjaannya itu. Membuat Alina memilih untuk tidak menjelaskan, ia pun hanya diam dan kembali fokus mengerjakan tugasnya.


.....


Siang hari.


Alina kini berada di kantin yang masih di lingkungan sekitar rumah sakit. Ia tidak sendirian di sana, karena Santi kini menemani dirinya makan siang.


“Jadi wanita yang kemarin berbicara dengan kamu itu adalah ibu dari dokter Hero?” tanya Santi tak percaya, ia pikir jika wanita yang berbicara dengan Alina saat itu adalah ibu dari Alina.


Secara kedekatan mereka berdua benar-benar terlihat dekat dan sangat akrab, hal itu pasti akan membuat orang-orang berfikir jika mereka adalah anak dan ibu.


“Iya, Bunda memang orang yang sangat baik. Dia sangat mudah berbaur dengan siapa saja, kebetulan Bunda dan Mamahku telah bersahabat sangat lama, jadi kami sangat akrab,” jelas Alina berusaha untuk menyembunyikan kebenaran jika ia adalah istri Hero.


Santi hanya mengangguk yakin, ia tidak menyangka jika Alina bisa kenal dengan orang sehebat mereka berdua, karena keluarga Sanjaya memang sangat di hormati dan di segani di negara Z. Jadi sangat susah sekali untuk orang-orang bisa dekat dengan keluarga besar dan berpengaruh itu.


“Apakah kamu memiliki hubungan dengan dokter Hero?” tanya Santi tiba-tiba. Hal itu tanpa sadar membuat Alina tersedak.


Dalam sekejap saja minuman itu terlihat langsung tandas begitu saja, Alina lalu menatap Santi dengan tatapan yang sedikit dalam.


“Tidak, kami tidak memiliki hubungan apapun,” ucap Alina dengan tatapan kosongnya.


Mungkin di sini hanya dirinya yang memiliki perasaan pada Hero, karena di sini Alina sadar jika dirinya sedang mengalami nasib cinta yang dimana cintanya bertepuk sebelah tangan.


Sangat menyakitkan bukan?


Lalu Alina harus mengalahkan siapa? wanita seperti apa yang Hero sukai? harus seperti apa Alina agar Hero bisa menyukai dan menyayangi dirinya?


“Ah sepertinya aku membahas sesuatu hal yang tidak harus aku bahas, maaf.”


Sinta sadar jika pertanyaan yang ia tanyakan adalah hal yang sangat sensitif bagi Alina, maka itu ia merasa tidak enak jika harus menanyakan hal itu lebih jauh.


“Bukan salah kamu kok, mungkin aku hanya sedang banyak pikiran dan dalam suasana hati yang kurang baik saja,” jawab Alina langsung.


*****


Sepulang dari rumah sakit Alina langsung memasuki kamarnya untuk segera membersihkan tubuhnya.


Setengah jam kemudian, ia selesai mandi dan langsung memakai pakaiannya. Alina memakai krim wajah lalu menyemprotkan parfum di bajunya. Seperti biasa, Alina selalu tampil bersih dan wangi, sekalipun ia sedang berada di rumah.


“Kak, Mamah dan Papah belum pulang?” tanya Alina pada Eron.


Seperti biasa, dokter kecantikan itu selalu sangat menjaga kesehatannya. Entah itu wajah atau bahkan seluruh anggota tubuhnya.


“Belum, sepertinya sebentar lagi,” jawab Eron yang sedang memejamkan mata karena sedang memakai masker wajah.


“Heran sih, laki-laki kok suka sekali perawatan kayak gini. Harusnya 'kan yang di bidang ini perempuan, karena kebanyakan kecantikan itu selalu berhubungan dengan perempuan. Curiga jangan-jangan Kakak itu campuran antara laki-laki dan perempuan,” ledek Alina tapi seolah tak digubris oleh Eron.


“Sejak kapan dokter kecantikan itu hanya boleh perempuan? ingat ya, meski Kakak sangat menjaga kesehatan kulit kakak, bukan berarti Kakak manusia campuran,” jawab Eron yang sebenarnya merasa kesal akan hal itu.


Alasan Eron sangat menjaga kesehatan wajah dan tubuhnya agar tetap bugar tak lain karena laki-laki ia pernah ditolak oleh perempuan yang pernah menjadi primadona di sekolahnya. Lebih parah lagi ia pernah dipermalukan oleh Sang primadona, hal itulah yang membuat seorang Eron yang awalnya sangat cuek pada penampilan kini menjadi sangat menjaga penampilan.


“Ya ampun ..., masih belum move on nih ceritanya dari kak, Sheira?” tanya Alina disertai nada ledekannya.


“Kalau sama perasaannya sih sudah lupa, tapi sama ucapannya nggak akan pernah lupa,” jawab Eron langsung.


“Kok Kakak kayak perempuan sih, pake nggak bisa lupa segala. 'Kan perempuan itu wajar kalau selalu ingat tentang hal yang membuatnya sakit hati, kan mereka itu selalu menggunakan perasaannya,” ucap Alina sedikit disertai cibiran pada kakaknya. Bukan Alina namanya jika tidak berdebat dengan kakak keduanya yang sudah menjadi rival dalam hal berdebat.


“Jangan salah ya, laki-laki juga kayak gitu. Mereka tidak akan pernah lupa dengan kata-kata yang buat mereka sakit hati, karena kami lebih emosional dari wanita. Makannya kebanyakan laki-laki gampang marah dan sampai ada yang berbuat kasar, itu karena tidak bisa mengendalikan amarahnya. Harusnya kamu bersyukur punya kakak yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung ini. Coba kalau kakak tipe yang pendedam, mungkin Sheira kini sedang tidak berada dalam status dan keadaan baik-baik saja,” jawab Eron panjang lebar.


Dengan status keluarganya, Eron sebenarnya bisa menghancurkan Sheira, entah itu karirnya atau hidupnya. Untungnya, dia bukan orang yang gelap mata dan sangat penyabar.


“Alina jangan sering menginap di sini, sebagai seorang istri, kamu seharusnya berada di samping suami kamu, apapun itu keadaannyan,” ucap Eron yang mendapat kebungkaman dari Alina.


Mungkin Eron memang awalnya tidak setuju dengan keputusan Alina itu, tapi karena itu keputusan adiknya, Eron tidak bisa berkomentar banyak selain memberi saran dan motivasi untuk adiknya.


#####