Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Hero yang keras kepala



Alina yang sedang duduk bahkan menatap Hero dengan tatapan tak percaya dan tak sukanya itu.


“Selain keras kepala Anda juga ternyata tak tahu diri,” sinis Eron saat Hero menghampiri Alina dengan dia yang langsung memberikan penghargaan itu.


“Saya akan menerima umpatan buruk apapun dari Anda, bagi saya Alina lebih dari segalanya,” ungkap Hero yang hanya mendapatkan respon dengusan dari Eron yang berada tidak jauh dari Alina.


Jika di tempat itu ada Abian, sudah pasti jika ia tidak akan menyukai kehadiran Hero. Sayangnya Bian dan Belvita langsung pergi saat mendengar kabar jika anak mereka tiba-tiba sakit. Kabar yang tiba-tiba itu bahkan Alina dan Eron tidak tahu akan berita itu.


“Itu beneran tuan Hero sudah menikah?”


“Nggak mungkin 'kan? ini pasti cuman mimpi! gila hari patah hati yang gue hindari tiba juga,” kata seorang penggemar berat Hero.


“Gila! tahu akan ada berita ini gue mending di rumah aja, gue pikir berita tentang pernikahan tuan Hero itu palsu,” kata seorang wanita bergaun biru.


“Ya emang kalau palsu atau kenyataan itu kenapa? toh dia nggak mungkin bakal sama kamu,” kata teman si wanita itu.


Banyaknya bisik-bisik yang terjadi membuat suasana itu menjadi ramai. Hero bahkan tidak peduli akan suara bisik-bisik yang terdengar jelas itu.


Sedangkan Alina yang sadar jika identitasnya sudah terbongkar jelas, ia memilih untuk pergi dari sana dengan meminta Eron untuk membantunya.


“Kak, kita pergi,” kata Alina langsung diangguki oleh kakaknya itu.


Eron membantu Alina untuk turun dari tempat duduk, mereka terus berjalan keluar dari tempat itu dengan di temani bisik-bisik yang semakin jelas.


Mungkin bukan hanya penggemar berat Hero yang kebanyakan wanita yang sakit hati, tapi para artis bahkan para pengusaha besar yang berniat untuk menjodohkan anaknya dengan Hero juga merasa tak menyangka dengan itu semua.


“Apa-apaan berita ini!”


“Gagal sudah berbesanan dengan keluarga Sanjaya.”


*****


Alina berjalan dengan langkah yang sedikit cepat agar bisa menghindar dari Hero yang masih mengikutinya dari belakang.


“Pelan-pelan Alina. Lagipula kalau kamu mau minta bantuan Kakak untuk menghajar Hero, Kakak akan siap untuk melakukan itu!” kata Eron yang merasa sangat kesal dengan Hero yang menurutnya tak tahu malu.


“Tidak! kita langsung pulang saja,” kata Alina yang kini sedikit memperlambat langkahnya itu, hingga mereka berdua berjarak satu meter dari Hero yang sepertinya sedang berjalan perlahan.


Langkah kaki Hero yang lebar dengan kaki panjangnya, membuatnya tak harus berlari untuk mengejar Alina.


“Bilang saja kamu masih perhatian dengan suami brengsek kamu itu!” dengus Eron yang tidak suka dengan sikap adiknya yang menurutnya terus saja bersikap lembut pada Hero.


“Alina,” kata Hero yang kini berada tepat di depan Alina. Tatapan mata Hero terlihat sendu dan merasa bersalah.


Hero tidak tahu harus melakukan apa agar Alina bisa memaafkan dirinya, padahal Hero setiap hati selalu mengunjungi rumah keluarga Angkasa demi bisa bertemu dengan Alina.


“Apa-apaan ini! kenapa kamu menghalangi jalan kami?!” sinis Eron dengan di sertai tatapan matanya yang terlihat tidak suka dengan Hero.


Hero apanya! harusnya seorang Hero identik dengan pahlawan yang berjasa menolong banyak orang di orang di dunia ini.


Tapi itu sudah terlambat! baginya sekali laki-laki itu menyakiti Alina, maka dia tidak pantas untuk bisa bersama dengan Alina.


“Kak,” Hero menyebut Eron dengan panggilan yang sama dengan Alina untuk Eron. Meskipun sebenarnya Hero dan Eron hampir seumuran.


“Kakak apanya! jangan panggil aku dengan sebutan menggelikan seperti ini!” acuh Eron dengan tatapan matanya yang terlihat tidak suka.


“Sepertinya memang tidak akan bisa terus menghindar sebelum Alina memutuskan dengan jelas,” ungkap Alina yang menatap ke arah Hero.


“Apa maksud kamu Alina?” tanya Eron menatap ke arah Alina sekilas.


“Biarkan Alina bicara sebentar dengannya Kak,” kata Alina yang langsung mendapatkan tatapan tak rela dari Eron. Terlihat jelas Eron tidak setuju dengan apa yang Alina katakan.


“Tidak! Kakak nggak setuju dengan apa yang kamu ucapkan itu! kenapa kamu harus menemui dia? jelas laki-laki itu tidak pantas untuk mendapatkan sebuah kesempatan dari kamu,” kata Eron yang kini terlihat menatap adiknya kesal.


Alina yang tahu jika Eron sedang mengkhawatirkan dirinya, ia hanya tersenyum dan sedikit menggeleng seakan mengatakan jika apa yang kakaknya pikirkan tidak benar.


Alina rasa ia tidak pernah berniat untuk memberikan Hero yang namanya kesempatan kedua, karena Alina sudah memantapkan hatinya dengan keinginannya untuk berpisah dari Hero.


Tapi apakah keinginan Alina bisa terjadi atau tidak? yang jelas Alina sedikit ragu dengan hal itu. Alina tidak sedang bimbang dengan Hero yang kini meminta maaf darinya, tapi Alina bimbang dengan sikap Hero yang sepertinya akan mencegah perpisahan itu terjadi.


“Terserah,” kata Eron yang kesal dengan adiknya yang lebih memilih untuk berbicara dengan Hero daripada mendengarkan larangannya.


*****


Dan kini di sebuah taman, Alina dan Hero tengah menghadap satu sama lain. Alina menatap ke arah Hero dengan tatapan matanya yang terlihat sedikit tidak peduli.


Tidak ada lagi tatapan penuh perhatian dari Alina yang biasanya akan Hero lihat saat menatap wajah mungil itu.


Tidak ada lagi tatapan penuh ketulusan akan cinta dari Alina yang kini sangat Hero rindukan. Kemana tatapan itu pergi? kemana Alina yang dulu? kemana Alina yang selalu menatap Hero dengan penuh ketulusan?


Rasanya itu sudah tidak ada


Mengetahui jika penyesalannya saat ini harus disertai dengan perjuangan demi bisa mendapatkan hati istri mungilnya itu, Hero sedikit merasa hampa saat sadar jika Alina mungkin tidak akan menatapnya lagi sama seperti dulu.


“Apa memang tidak ada hal yang ingin dikatakan?” tanya Alina dengan tatapan matanya yang terlihat sangat acuh.


Alina takut jika dirinya akan lemah, ia adalah wanita yang paling tidak bisa menerima jika ada orang yang menatapnya dengan tatapan sendu seperti Hero saat ini.


Meskipun tidak bisa dimungkiri untuk Alina langsung menghilangkan rasa cintanya pada laki-laki yang ada dihadapannya ini.


Karena nyatanya itu sangat sulit, bayangkan saja Alina sudah mencintai Hero lebih dari sepuluh tahun, dan ia pendam perasaan itu seorang diri.


Kadang Alina ingin berfikir, kenapa Hero bisa lebih mencintai sahabatnya Alicia dibandingkan dirinya? padahal Alina lebih dulu mengenal Hero.


Dan melalui Alinalah Hero dan Alicia saling mengenal.


“Bodoh! cinta itu 'kan datang tanpa bisa di tebak dan di duga sama sekali. Kamu jangan konyol Alina, mungkin saja Alicia memang jauh lebih baik dari diri kamu,” kata Alina di dalam hati seolah ia sedang merutuki dirinya sendiri.