Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
#8 Kedatangan Hero



“Apa dokter Syela tidak sadar jika dokter Hero tidak nyaman saat dokter Syela berusaha mendekatinya?” tanya Farrel langsung.


Entah Syela yang terlalu tinggi dalam memilih standar hidup atau memang Syela benar-benar tergila-gila pada Hero. Yang jelas setiap tindakan Syela yang berusaha mendekati Hero itu terlihat sangat terang-terangan.


“Dokter Farrel tidak perlu ikut campur, lebih baik Anda urusi hidup Anda sendiri,” acuh Syela. Ia langsung pergi begitu saja.


...*****...


Hero turun dari mobilnya. Ia hendak menunggu ibunya keluar. Hero bukan bermaksud tidak sopan, ia hanya merasa tidak nyaman untuk memasuki rumah keluarga Angkasa.


Sebenarnya bukan karena Hero memiliki masalah dengan kedua orang tua Alina. Tapi entah kenapa Hero merasa jika kedua kakak dari Alina tidak pernah bisa menyukai dirinya sejak awal. Hero sendiri tidak tahu apa kesalahan yang pernah ia perbuat.


“Hallo Bun, Hero sedang menunggu di luar,” ucap Hero begitu mengangkat telepon.


“...”


“Iya Bund,” jawab Hero yang merasa tidak memiliki pilihan. Ia langsung memasuki rumah Alina begitu seorang pelayan membukakan pintu untuknya.


Sepanjang perjalan Hero hanya diam, tapi tidak bisa dipungkiri jika Hero merasa suasana rumah keluarga Angkasa tidak ada yang berubah sama sekali. Masih sama, nyaman dan asri dengan suasana yang pastinya harmonis dengan adanya Alina.


“Ayah di sini?” tanya Hero heran, jika ayahnya ada di sini kenapa ibunya tadi berkata jika dirinya sendirian dan meminta untuk dijemput.


“Dari awal ayah memang ada di sini.”


“Jadi Bunda bohongin Hero?”


“Hehehe, maaf. Nggak ada lain kali deh, bunda kesal aja kamu sangat sibuk dengan pekerjaan kamu. Walau bunda tahu itu tugas dan tanggung jawab kamu tapi setidaknya kamu pikirkan juga diri kamu, kesehatan kamu dan orang-orang sekitar kamu yang peduli sama kamu. Kalau kamu sibuk begitu terus, bunda jadi kepikiran terus, setidaknya kamu harus tahu jika ada orang yang perhatian dan peduli sama kamu,” ucap Hanny panjang lebar.


Hero hanya bisa menghela nafas. Ia menatap ke arah Alina yang hanya diam, jelas wanita itu bisa langsung mengakrabkan diri dengan keluarganya maupun keluarga Hero.


“Mana ada perempuan yang mau sama kamu, secara kamu cuek, dingin, nggak peduli sama sekitar. Jangan 'kan untuk peduli sekitar, kamu aja nggak peduli sama diri sendiri. Coba aja kalau ada yang mau sama kamu, setidaknya satu perempuan saja, dan Bunda rasa itu hanya Alina” ucap Hanny lagi, matanya tak henti-hentinya melirik ke arah Alina.


Alina yang di lirik seperti itu tidak tahu harus merespon seperti apa. Ia hanya diam, dan tidak tahu harus berkata apa.


“Ya semoga aja ya Bun, semoga perempuan dari keluarga yang baik-baik yang memiliki sikap yang baik yang mau sama Hero itu, suatu saat akan Hero hargai usahanya, jangan hanya melihat jika wanita itu egois, karena yang terliha egois belum tentu benar-benar egois,” celetuk Eron hingga ia langsung mendapat tatapan intimidasi dari ayah dan ibunya.


Jika yang mengatakan itu orang lain, sudah bisa di pastikan kehidupan orang itu akan berakhir saat itu juga. Hanya saja yang mengatakan itu Eron, anak dari sahabat baik Hanny dan Bram, dan bagi Hanny dan Bram, Eron sudah seperti anak kandungnya sehingga mereka menganggap jika ucapan Eron hanya candaan belaka.


“Iya Bunda juga berharap jika wanita yang mau sama anak bunda ini, walau sekalipun hanya satu perempuan bunda sudah merasa bersyukur, berharap dia sadar dan tidak akan ada penyesalan di kemudian hari atas sikap acuh dan datarnya ini.” Hanny tak henti-hentinya berkata, ia bahkan tak peduli dengan raut wajah anaknya Hero yang secara tidak langsung sedang ia nistakan.


“Bun pasti banyak yang suka Kak Hero, bukan hanya satu. Tapi hampir semua yang melihat Kak Hero pasti akan langsung suka dengan kak Hero, tapi mungkin karena mereka merasa segan makanya mereka minder,” ucap Alina. Ia berkata seolah membela Hero. Meski Hero sering bersikap dingin, sebagai istri Alina akan berusaha untuk selalu membela suaminya itu.


Alina juga kadang selalu merasa khawatir dengan banyaknya perempuan yang menyukai Hero.


Eron yang diam langsung menatap adiknya dengan tatapan tak bisa ditebak.


“Semoga Hero segera sadar jika dia memiliki istri yang sangat baik, karena hati manusia itu gampang berubah, dan suatu saat Hero pasti akan menyesal jika terus saja mengabaikan istri cantiknya itu,” ucap Eron yang langsung bangkit dan berjalan pergi meninggalkan ruang makan. Ia berani dengan terang-terangan mengatakan itu.


“Bun, jika Bunda masih ingin mengobrol lebih, lebih baik Hero menunggu di luar saja.”


Entah kenapa Hero merasa malu pada Alina, ia yakin jika dirinya kini tidak merasa gugup ataupun menyukai Alina. Karena Hero selalu yakin kalau hanya orang itu yang sangat ia cintai.


“Kenapa sih Hero, kenapa buru-buru sekali? bunda masih mau di sini. Jadi bunda harap kamu juga akan tetap di sini. Lagipula istri kamu juga ada di sini,” ucap Hanny menatap Hero dan Alina secara bergantian.


Hero mengalah, ia akhirnya duduk dan hanya diam mendengarkan obrolan antara Hanny, Bram, Setoni, dan Amina. Sama halnya seperti dirinya yang hanya diam, Alina pun sama. Ia akan sesekali menjawab jika sedang di tanya.


Triling


Triling


“Alina izin keluar sebentar, ada telepon dari seseorang,” ucap Alina yang langsung diangguki oleh semuanya.


Sejenak semua yang ada di sana menatap Hero, tapi kebungkaman itu seakan mengatakan jika ia tidak peduli akan hal itu.


Alina langsung berjalan menjauh, tapi tanpa sadar pandangan mata Hero mengikuti langkah Alina.


Ada sekelebat rasa sedih yang tiba-tiba muncul, Hanny yang menyadari itu langsung menyenggol Hero seakan berusaha menyadarkan Hero dari kesedihannya itu.


“Lagi mikirin apa? jangan terlalu banyak melamun.”


Alina yang kini sedang mengangkat telepon, ia langsung tersenyum begitu mendengar curhatan sahabatnya, Belvita.


Tak henti-hentinya Belvita menggerutu kesal karena Alina tidak menghubungi dirinya begitu telah sampai. Padahal Belvita sudah menunggu telepon dari Alina karena khawatir.


2 bulan sudah Alina berada di negara Z setelah lima tahun dinegara A. Dan Alina yang sudah seminggu menjadi istri Hero, meski begitu, ia bahkan belum mengatakan tentang hal itu pada Belvita.


“Iya maaf, Alina nggak tahu kalau Belvita akan khawatir seperti ini. Nanti, lain kali Alina akan langsung menghubungi Belvita, Alina juga bakal sering-sering menghubungi Belvita.”


“Harus itu,” jawab Belvita yang langsung membuat Alina tersenyum.


“Maaf ya, Alina lupa karena mungkin terlalu capek.”


Alina sangat bersyukur bisa memiliki sahabat sebaik Belvita, yang perhatian dan tulus padanya. Padahal Alina lebih dulu mengenal Melisa, hanya saja sahabat yang satunya itu memang cuek dan kurang peduli pada dirinya.


“Oh iya, aku juga minta maaf kalau ganggu kamu. Karena sudah memastikan bahwa kamu baik-baik saja aku tutup ya, jangan lupa istirahat,” ucap Belvita yang mengakhiri telepon.


Alina hanya tersenyum senang, ia lalu berbalik dan sedikit terkejut saat melihat ada seorang laki-laki yang berdiri dihadapannya.


“Ya ampun Kak,” ucap Alina sedikit berteriak karena terkejut.


Hero adalah laki-laki yang kini sedang berdiri di hadapan Alina. Ia hanya diam dan tidak berkata apa-apa.


Alina mengelus dadanya karena terkejut.


“Kenapa Kakak ada di sini?” tanya Alina langsung


“Ayah dan Bunda akan pulang jadi aku menunggu di luar,” jawab Hero langsung. Ia tadi pamit duluan dan meninggalkan kedua orangtuanya yang seolah ingin berpamitan tapi masih diselingi obrolan.


“Loh, Ayah sama Bunda mau pulang?” tanya Alina lagi yang langsung dijawab anggukan oleh Hero.


“Kenapa secepat itu?” tanya Alina yang sebenarnya ia masih ingin di rumah keluarganya.


Untuk pertanyaan itu Hero tidak menjawab, melihat Alina yang langsung masuk Hero hanya diam dan tetap menunggu di luar.


“Ayah sama Bunda mau pulang?” tanya Alina dan kedua orang yang ditanya itu kompak mengangguk.


“Kenapa secepat itu?” tanya Alina tepat saat Hanny dan Bram keluar.


“Nanti kapan-kapan kita akan datang ke sini lagi, atau kalau nggak kamu bisa kok berkunjung ke rumah kamu lagi,” jawab Hanny yang terdengar menghibur Alina.


Mendengar itu, Alina hanya bungkam. Alina pun akhirnya hanya mengangguk.


#####