Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
#30 Alina adalah Permatanya keluarga Angkasa



Alina pulang ke mansion miliknya.


Mansion yang ditempati Alina 2 Minggu yang lalu, tapi selama dua Minggu itu. Alina hanya datang ke mansion itu selama beberapa kali.


Alina hanya menginap beberapa hari di sana, kadang ia lebih sering menginap dirumah keluarga Angkasa jika dibandingkan dengan mansion mountain King.


Mansion yang bahkan termasuk ke dalam tempat sejarah. Mansion itu dulunya sebuah istana, istana yang sudah usang dan tidak terawat.


Bram membeli mansion itu di acara lelang dengan harga fantastis karena nilai sejarahnya. Mungkin karena sebuah keadaan dan tidak ada yang bisa merawatnya, makanya mansion itu dijual di acara lelang.


Setelah 3 tahun mansion itu diperbaiki dan sedikit dirubah, kini mansion Mountain King di tinggali oleh Alina.


Itu Hadiah pernikahan dari Bram.


“Apa kamu melihat Kak Hero?” tanya Alina pada seorang pelayan yang bekerja disana.


“Tuan Hero tidak pernah kembali sejak 2 hari yang lalu, nyonya Muda,” jawab pelayan itu dan hanya Alina jawab dengan Anggukan.


“Baiklah,” ungkap Alina yang hanya mengangguk.


Alina yang biasanya tidak pernah sendirian dan kesepian, ia kini merasa kesepian.


Alina tidak menyesal mencintai atau memaksa Hero untuk menikah dengannya, karena keinginannya untuk bisa membuat Hero bangkit itu masih ada.


Tapi bagaimana caranya? dan itu yang Alina pikirkan Akhir-akhir ini.


...*****...


Keesokan harinya.


Di sebuah ruang keluarga. Alina kini bersama dengan keluarganya. Ada Belvita juga yang ikut bergabung, sayangnya Belvita tipe anak yang rajin dan pandai memasak, Oleh karena itu kini Belvita sedang bersama dengan Amina di dapur. Karena Belvita memilih untuk membantu Amina memasak.


“Tuh Alina, harusnya 'kan kamu kayak Belvita. Pintar masak, pintar bersih-bersih rumah, tadi aja dia sampai bantu-bantu pelayan untuk mengepel loh,” ujar Eron terdengar membandingkan Alina.


Alina yang mendengar itu hanya mendengus kesal, ia tidak berkata apa-apa.


Bukan Alina yang tidak mau memasak ataupun bersih-bersih, setiap Alina ingin melakukan itu, ayah dan kakaknya langsung melarangnya. Bahkan saat Alina Baru saja memegang alat pel, sudah terdengar banyak ucapan yang masuk ditelinga Alina, semuanya tak lain adalah ceramahan dan omelan.


“Alina bisa masak, Alina sering belajar masak walau tidak seahli Belvita,” jawab Alina. Ia ingat saat di luar negeri sering meminta diajarkan memasak oleh Belvita, walau tidak setiap hari. Dan terakhir kali Alina memasak adalah seminggu yang lalu, yaitu saat ia membuat nasi goreng untuk keluarganya.


Nasi goreng yang Alina kirim juga untuk Hero. Entah Hero memakan nasi goreng buatan Alina atau tidak, yang jelas Alina sudah memasak semampu yang ia bisa.


Dan mungkin karena Alina agak lambat dalam hal belajar apapun itu, makanya ia memerlukan waktu sedikit lebih lama untuk bisa mahir.


“Kapan?” pertanyaan Eron terdengar meledek, karena nadanya terdengar seolah merasa tidak percaya dengan apa yang Alina katakan.


“Saat diluar negeri,” jawab Alina langsung.


“Sering? seberapa sering itu?” tanya Eron lagi.


Sebenarnya Eron khawatir saat mendengar Alina pernah belajar memasak, ia berfikir seberapa sering adiknya memasak? apakah adiknya terluka?


Seandainya Eron tahu jika nasi goreng yang waktu itu ia makan adalah nasi goreng buatan Sang Adik, mungkin ia akan marah-marah dan melarang Alina untuk memasak.


“Nggak, cuman sekali doang. Karena Alina malas belajar masak,” bohong Alina. Padahal ia sering minta diajarkan memasak, dan kini ia juga sedang kursus memasak secara diam-diam.


Tapi hingga detik ini, Alina hanya bisa memasak air, telur goreng, nasi goreng, dan pasta atau mie instan. Selebihnya nilai masakannya minus semua.


“Jangan belajar memasak, kalau ingin sesuatu kamu bisa bilang langsung pada kami,” ucap Bian, seperti biasa nada tegas selalu keluar. Seakan ia tidak terima jika harus dibantah.


“Iya kak,” jawab Alina langsung.


Tak lama Amina dan Belvita datang membawa makanan yang sengaja akan mereka makan di ruang keluarga. Lebih tepatnya itu hanya camilan yang dibuat oleh mereka berdua, karena keluarga Angkasa baru saja memakan makan malam mereka.


“Alina,” panggil Setoni yang langsung menjadi pusat perhatian.


“Iya Pah?” tanya Alina langsung. Ia menatap Setoni dengan pandangannya yang menatap Setoni secara langsung.


“Papah dengar kamu akan mengundurkan diri dari pekerjaan kamu sebagai dokter magang di rumah sakit Cendana? apa itu benar?” tanya Setoni.


Alina langsung mengangguk, ia bisa menebak jika Setoni akan mengetahui hal itu. Karena meski Alina tidak bekerja di rumah sakit keluarganya.


“Iya Pah, Alina ingin mengundurkan diri. Tapi masih menunggu keputusan dari pihak mereka, soalnya Alina 'kan mengundurkan diri secara mendadak, Alina hanya ingin bekerja di rumah sakit keluarga kita bareng Belvita” jelas Alina berbohong dan hanya diangguki oleh Setoni.


“Jika itu memang sudah menjadi keputusan kamu, Papah tidak akan ikut campur apalagi berkomentar banyak,” jawab Setoni yang langsung diangguki oleh Alina.


...*****...


“Tolong pak, saya harap Anda beralasan apa saja agar dokter magang yang bernama Alina itu tetap bekerja di rumah sakit Cendana,” ucap Hanny yang kini sedang berbicara dengan pemilik rumah sakit.


Bambang, nama pemilik rumah sakit itu. Lelaki yang hampir berkepala enam lebih, dengan penampilan yang terlihat tambun dan memakai kacamata itu terlihat berfikir.


“Apakah orang yang bernama Alina itu sangat penting untuk Anda nyonya?” tanya Bambang, ia sangat hormat pada Hanny yang notabenya kini sebagai investor terbesar di rumah sakit Cendana.


Karena, segala kemajuan berupa teknologi dan fasilitas hampir semuanya keluarga Sanjaya yang memberikan itu. Bahkan, Bambang sempat heran mengapa Hero membantu rumah sakit miliknya hingga bisa semaju ini.


“Ya, dia Sangat penting bagi saya dan anak saya,” jawab Hanny langsung.


“Apakah mereka akan menikah?” tanya Bambang lagi, awalnya ia ingin menjodohkan Hero dengan dokter yang bernama Syela, dokter itu merupakan anak keduanya.


“Tidak, mereka sudah menikah, dan pernikahan itu terpaksa dirahasiakan karena demi kepentingan bersama. Jadi saya harap Anda tidak akan berbicara mengenai kebenaran ini pada siapapun” jawab Hanny langsung.


Seandainya bukan Alina yang melarang, mungkin Hanny akan mengatakan kebenaran itu didepan umum. Tidak peduli dengan anaknya nanti yang akan marah padanya.


“Baiklah nyonya, saya akan menuruti permintaan Anda, saya akan melakukan yang saya bisa asal Anda tetap berinvestasi di rumah sakit kami, tolong jangan putus bantuan yang Anda berikan untuk rumah sakit kami,” pinta Bambang, raut wajahnya terlihat jika ia merendah pada Hanny karena tidak ingin kehilangan investor seperti keluarga Sanjaya.


...*****...


Alina memasuki ruangan Hero. Ia pikir ia akan bisa keluar dari tugasnya itu begitu saja, makanya alasan Alina datang ke sini karena ia hendak mengambil barang-barangnya untuk dibawa pulang.


“Alina,” panggil seorang laki-laki.


Alina yang mengetahui jika orang yang memanggil dirinya adalah Bambang, orang yang tak lain adalah pemilik rumah sakit Cendana.


“Iya profesor,” jawab Alina. Ia sangat menghormati laki-laki tambun yang telah memiliki gelar seorang profesor.


Sebenarnya jika Hero mau, ia bisa mendapatkan gelar seorang profesor di usia mudanya. Sebagai orang yang menyelesaikan studi tercepat hingga S3, itu bukan hal yang sulit bagi Hero.


Sayangnya, tujuan Hero itu menjadi dokter, dan ia tidak peduli dengan gelar sebagai profesor.


Entah, Hero seolah sangat keras kepala ingin menjadi dokter, bahkan ayahnya yang akan menyerahkan perusahaan padanya saja ia tolak. Hanya saja sebagai sebuah tanggung jawab, Hero tetap menjalankan kewajibannya itu.


“Untuk sementara kamu tidak diizinkan untuk berhenti dari pekerjaan kamu ini,” ucap Bambang tiba-tiba.


“Kenapa?” tanya Alina heran.


“Kita memerlukan banyak dokter, sekalipun itu hanya dokter magang, kita tetap memerlukan itu,” tegas Bambang yang terkesan tidak ingin dibantah.


“Baiklah, kalau begitu untuk sementara waktu saya akan tetap bekerja di rumah sakit ini hingga saya tidak diperlukan lagi,” jawab Alina pasrah.


Maksud dari perkataan Alina adalah, ia berharap akan ada banyak dokter yang bekerja di sini, hingga dirinya yang dokter magang bisa mengundurkan diri dari tempat ini secepatnya.


“Lihatlah, Cia. Bahkan untuk pergi dari sini saja aku sangat sulit, apakah ini tandanya kamu tidak ingin aku untuk pergi dari rumah sakit ini?” batin Alina yang hanya bisa menghela nafas.


...*****...


Beberapa hari kemudian


Alina datang memasuki rumahnya, bukan mansion miliknya. Alina kini ingin mengatakan pada kedua orangtuanya kalau besok dirinya harus ke luar kota karena memiliki sebuah tugas


Dan mungkin selama dua minggu lebih Alina tidak akan pulang.


“Mah, Pah, Alina pulang.”


Alina langsung memeluk ibunya begitu Amina yang sudah pulang lebih dulu menyambut kedatangan dirinya.


“Papah sudah datang 'kan Mah?” tanya Alina dan langsung dijawab anggukan oleh Amina.


“Ada apa? kenapa cari Papah?” tanya Amina menatap anaknya.


“Nanti Mamah juga tahu, ya sudah Alina masuk dulu, Alina bersih-bersih dulu kalau begitu,” ucap Alina yang langsung dijawab anggukan