Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Fakta yang menyakitkan



Hero yang mengetahui jika Alina nekat pergi ke suatu tempat, ia langsung keluar dari ruangannya. Hero akan langsung mencari di mana keberadaan Alina.


“Dokter Hero, Anda akan ke mana?” tanya Syela yang merupakan orang yang menyukai Hero.


“Saya akan keluar, saya harus menemukan istri saya,” kata Hero yang membuat Syela terkejut.


Istri? sejak kapan lelaki itu menikah? kenapa Syela tak tahu akan hal itu? dan kenapa tiba-tiba laki-laki itu mengatakan sudah menikah?


Bunyi retakan dihatinya yang seolah hancur karena patah hati, membuat Syela hanya diam tak mampu untuk sekedar berkata-kata.


...*****...


Hero berusaha untuk mencari Alina kemanapun, ia bahkan sampai mengelilingi kota. Tapi hari yang sudah hampir sore, membuat Hero kelimpungan dan takut jika Alina kenapa-napa.


“Kak, Alina ingin pergi ke apartemen Kakak, sudah lama Alina tidak berkunjung ke sana,” kata Alina yang Hero ingat saat itu, dan hal itu berhasil menyadarkan Hero jika wanita itu sedang ada di apartemennya.


“Alina,” kata Hero yang entah mengapa matanya penuh dengan emosi yang tak tertebak. Antara takut, kesal dan khawatir.


...*****...


Hanny yang mengetahui jika Alina tidak bersama dengan anaknya. Dengan segera Hanny menelepon suaminya untuk ikut dengannya mencari menantunya.


“Ayah, Alina menghilang. Ayah cepat pulang, kita cari Alina secepatnya,” Kat Hanny khawatir.


“Bunda, kenapa bisa Alina hilang? apa Bunda tidak menjaganya?” Bram tidak bermaksud menyalahkan istrinya itu, ia hanya khawatir dan terlalu syok dengan kenyataan itu.


“Maafin Bunda ayah, ini karena keteledoran Bunda. Sampai saat ini Bunda tidak tahu di mana keberadaan Alina.”


“Bunda jangan panik, ayah akan pulang. Kita cari Alina segera,” putus Bram yang akan meninggalkan pekerjaan yang sangat penting dan menumpuk itu.


...******...


Sementara itu, Alina yang hanya diam dengan tatapan tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Tempat yang dulunya hanya sebuah apartemen itu, kini justru terlihat layaknya pameran lukisan.


Banyak sekali foto-foto dan lukisan seorang wanita yang Alina kenal baik orang itu. Wanita itu adalah orang yang tidak pernah Alina duga sama sekali.


“Alicia,” tatapan tak percaya terlihat dari wajah Alina. Ia mengingat jelas wajah sahabatnya yang telah lama meninggal. Sekalipun sahabatnya memiliki kembaran, tapi Alina telah mengenal sahabatnya yang telah lama meninggal itu dengan sangat baik.


“Kenapa banyak sekali foto kamu di sini?” tanya Alina dengan disertai tatapan tak percayanya itu.


Ada apa ini? kenapa foto dan lukisan sahabatnya itu terpasang hampir di seluruh dinding apartemen.


Mencerna dan memikirkan apa yang ia lihat dengan sangat dalam, akhirnya Alina mengambil sebuah kesimpulan.


“Apakah orang yang Kak Hero cintai itu adalah Kamu?” tanya Alina dengan tatapan tak percaya.


“Tidak mungkin 'kan? kamu sejak dulu tahu dengan jelas kalau aku sudah menyukai Kak Hero sejak kami masih kecil,” wajah sendu dengan disertai tetesan air mata itu akhirnya tidak bisa Alina cegah.


Alina merasa terkhianati, oleh sahabatnya sendiri. Sahabat yang ia percaya tidak akan menyakitinya.


“Alina,” tanpa menoleh pun Alina tahu jika orang yang memanggilnya kini adalah suaminya. Laki-laki yang ia cintai itu.


“Kak, apa maksudnya ini?” tanya Alina tanpa berniat untuk menatap Hero sama sekali.


Dirasa jika sudah beberapa menit berlalu, dan Hero juga tak kunjung menjawab pertanyaan itu. Alina langsung menoleh.


“Maksudnya apa ini Kak?! jangan hanya diam! Alina sedang bicara! tolong jawab pertanyaan Alina ...,” mohon Alina dengan tatapan tak percayanya yang masih terlihat diwajahnya itu.


“Alina, ini-”


“Jadi orang yang Kak Hero cintai adalah sahabat Alina sendiri? wanita yang menjadi sahabat baik Alina?” tanya Alina yang lagi hanya dijawab kebungkaman.


Lemas, itu yang kini Alina rasakan. Ia tanpa sadar terduduk pelan, berat sekali rasanya Alina harus membawa tubuhnya sendiri, di tambah lagi ia tidak hanya sendirian, ada malaikat kecil yang tumbuh di rahimnya.


Melihat itu, Hero segera menghampiri Alina. Tapi sayangnya Alina langsung mengangkat tangannya seolah ia tidak ingin disentuh oleh Hero.


“Jangan sentuh Alina Kak!” marah Alina yang merasa jika dirinya telah dibohongi oleh semuanya. Bahkan, Alina merasa kecewa pada Hanny yang secara tak langsung menyembunyikan kenyataan ini.


“Kak, apa Kakak pernah sekali saja mencintai Alina? sedikit saja ..., Alina rasa itu tak masalah. Apa ada sedikit rasa cinta Kakak untuk Alina?” tanya Alina menatap Hero.


Kebungkaman Hero yang bagi Alina terasa kejam itu, membuat Alina tersenyum hambar dengan senyuman mengejek pada dirinya sendiri.


“Sudah Alina duga, sampai kapanpun Alina tidak akan pernah menjadi orang yang Kakak cintai,” kata Alina seakan menjadikan kebungkaman Hero sebagai sebuah jawaban yang pasti.


“Alina-”


“Kak, Alina ingin pulang. Ke rumah Mamah dan Papah Alina. Alina sudah menyerah dengan apa yang Alina inginkan dulu,” ungkap Alina yang merasa sedikit kesulitan untuk bangkit hingga Hero berkali-kali berniat untuk membantunya.


Sayangnya Alina terus menolak itu, ia bahkan lebih memilih untuk memegang kursi agar bisa bangkit.


“Alina, tolong jangan bersikap gegabah. Kamu saat ini tidak sendirian, ada kedua anak kita yang merupakan tanggungjawab aku,” kata Hero dengan lembut.


Alina yang mendengar kata Anak kita itu, ia langsung saja menatap Hero dengan senyum hambarnya. “Anak kita? anak yang tidak Kakak inginkan maksudnya? jika Kakak keberatan dengan anak ini, biarkan Alina saja yang merawatnya. Alina menginginkannya!”


Saat Alina hendak melangkah melewati Hero, dengan segera Hero menahannya. Ia memegang tangan Alina seolah menahan wanita itu untuk tidak pergi.


“Jangan keluar!” tegas Hero yang kini bagai sebuah ancaman ditelinga Alina.


“Jangan kayak gini Kak, jika Kakak nggak bisa terima Alina. Kenapa harus terus menahan Alina?” dengan keras kepalanya Alina berniat untuk membuka pintu apartemen.


Tapi sebelum itu, Hero langsung mengambil kunci apartemen dan menguncinya. Seolah ia tidak ingin jika Alina pergi.


“Tolong beri Kakak waktu, beri waktu untuk Kakak memahami apa yang Kakak rasakan adalah rasa cinta atau hanya rasa sayang seorang Kakak pada adiknya.”


Hero akhirnya mengungkapkan kebingungannya itu, ia bingung dengan perasaannya saat ini. Terlalu besar rasa cinta Hero pada wanita yang bernama Alicia itu, hingga Hero bahkan tidak pernah berfikir bahagia saat melihat orang yang ia cintai itu meninggal.


“Sampai kapan?” pertanyaan Alina hanya dijawab kebungkaman dari laki-laki itu.


“Alina capek! Alina muak! Alina lelah! lepasin aja Alina, bisa 'kan?” tatapan Alina yang seakan dengan tegas ingin pergi dari hadapan Hero, atau lebih tepatnya Alina ingin pergi dari hidup lelaki itu.


Dengan segera Hero menggeleng kepala, ia lalu membopong tubuh Alina yang sedang hamil. Beruntungnya Alina memiliki tubuh yang mungil, hingga meskipun sedang hamil Hero tidak merasa kesulitan saat mengangkat tubuhnya.


“Kak! lepasin Alina!” teriak Alina yang berkali-kali terus memukul laki-laki itu. Tapi Hero tidak menghiraukan teriakan Alina.


Dengan lembut dan hati-hati Hero membaringkan Alina dikasur yang ada di apartemennya itu.


“Tidurlah,” kata Hero yang langsung ditatap marah oleh Alina.


“Alina nggak mau tidur di sini! Kakak gila! bagaimana bisa Alina tidur dengan kamar yang penuh dengan foto sahabat Alina sendiri!” pukulan itu berhasil mendarat di dada Hero, tapi laki-laki itu hanya diam dan tak marah sedikit pun.


“Besok akan Kakak buang foto-foto ini bila perlu!”


“Alina nggak peduli! Alina mau pulang!” kukuh Alina.


#####


Sebenarnya author udh simpan lumayan banyak bab, cuman gitu, baru bisa up sekarang.


Maaf ya🤧🤧


Makasih buat yang udah nunggu