Legendary Siblings

Legendary Siblings
97. Jurang



"Ya, pasti!!"


"Tapi kalau kau yang kubunuh, bagaimana?"


"Kau takkan mampu membunuhku."


"Kau berani bertempur terang-terangan denganku?"


"Justru aku harus mencabut nyawamu dengan cara jujur dan terang-terangan."


"Baik, kau mundur dulu beberapa tindak, biar kubangun!" kata Siau hi-ji.


Hoa Bu-koat benar-benar bangkit dan mundur hampir belasan tindak.


Perlahan-lahan Siau hi-ji merangkak bangun sambil bergumam, "Kau ini sungguh teramat jujur, tapi aku tidak tahu apakah kejujuranmu ini tulen atau cuma pura-pura saja, bisa jadi kau terlalu yakin akan kesanggupanmu terhadap segala urusan, makanya kau bersikap seenaknya saja."


Sembari berkata mendadak ia lolos belati yang gagangnya bertatahkan batu permata dan tergantung di ujung pembaringan itu terus melompat turun.


Hoa Bu-koat tetap memandangi dia dengan hambar saja, sedikit pun tidak menunjuk perubahan sikap.


Hanya gayanya yang adem ayem dan tenang ini sudah cukup membikin malu tokoh terkemuka dunia persilatan yang paling tenang sekalipun.


Mendadak Siau hi-ji bergelak tertawa, katanya, "Kau ingin kematianku, hal itu tidak sulit, tapi kau ingin membunuhku dengan tanganmu sendiri, hahaha, kukira selama hidupmu ini jangan kau harap."


"Memangnya kenapa? Apa aku tidak mampu?" tanya Hoa Bu-koat acuh.


"Kenapa? Haha, kalau begini?" ujar Siau hi-ji sambil mengacungkan ujung belati ke hulu hati sendiri.


Baru sekarang air muka Hoa Bu-koat tampak sedikit berubah, tanyanya, "Apa artinya ini?"


Siau hi-ji memberi muka badut padanya, katanya dengan tertawa, "Asalkan kau melangkah sedikit kemari, segera pisau ini kutikamkan dan selama hidupmu jangan harap lagi akan dapat membunuhku dengan tanganmu sendiri, sebab akulah yang membunuh diriku dengan tanganku sendiri."


Seketika Hoa Bu-koat terkesima tak dapat bicara lagi. Sungguh tak terpikir olehnya akan langkah kejutan Siau hi-ji ini.


Kalau bicara ilmu silat, sudah tentu Hoa Bu-koat jauh lebih tinggi, tapi bicara mengenai kecerdikan dan tindak mendadak menghadapi perubahan persoalan, betapa pun dia tak dapat menandingi Siau hi-ji yang aneh dan cerdas serta banyak tipu akalnya ini.


Sudah tentu semua itu lantaran lingkungan hidup kedua anak muda itu sama sekali berbeda,


'Ih hoa-kiong' yang diagungkan itu tentu mengutamakan tindak tanduk secara terang-terangan dan ksatria jelas tak dapat menandingi anak didik kawanan penjahat yang berkumpul di Ok jin-kok itu.


Begitulah mimpi pun Hoa Bu-koat tak mengira Siau hi-ji akan mempergunakan akal bulus begitu.


Dengan tertawa Siau hi-ji lantas berkata, "Nah, kau masih ingin membunuhku dengan tanganmu sendiri, maka sekarang kau harus bersabar dulu, janganlah mendekatiku, jangan bergerak..." sambil bicara ia tatap Hoa Bu-koat seraya mundur ke belakang setindak demi setindak.


Seketika Hoa Bu-koat merasa mati langkah dan tidak tahu cara bagaimana harus menghadapi tindakan Siau hi-ji ini, terpaksa ia diam saja di tempat dan menyaksikan Siau-hi-ji mundur keluar pintu.


Siau hi-ji tidak berani bertindak gegabah dan lengah, meski sudah mundur sampai di luar pintu, tetap tanpa berkedip ia mengawasi Hoa Bu-koat.


Di luar masih berselimutkan kabut pagi, bunga pegunungan yang tak diketahui namanya tampak bergaya indah di tengah kabut, meski sang surya sudah mulai memancarkan sinarnya, tapi belum dapat menembus kabut pegunungan Gobi yang tebal itu.


Setindak demi setindak Siau hi-ji masih terus mundur ke belakang dan menelusuri jalan kecil yang diapit oleh tetumbuhan bunga pegunungan.


Ia masih terus mengawasi Hoa Bu-koat, khawatir kalau-kalau pemuda itu mengejarnya, karena itu ia tidak berani berpaling ke belakang.


Di tengah seruannya segera ia bermaksud memburu keluar.


Tapi Siau hi-ji lantas membentaknya, "Jangan bergerak! Berani kau keluar pintu, segera ku..."


Terpaksa Hoa Bu-koat menahan langkahnya di ambang pintu, ia menjadi gugup hingga keringat dingin membasahi jidatnya, ia berseru pula, "Lekas berhenti, kau tidak boleh mundur lagi, di... di belakangmu..."


Baru saja kata-kata "di belakangmu" terucapkan, sebelah kaki Siau hi-ji yang melangkah mundur sudah menginjak tempat kosong, disertai suara jeritan ngeri, seketika anak muda itu terjerumus ke bawah.


Di belakang Siau hi-ji ternyata sebuah jurang yang sangat curam dan tertutup oleh kabut tebal sehingga dalamnya tak terkirakan.


Hoa Bu-koat menyaksikan Siau hi-ji terjerumus ke bawah dan tidak sempat memburu maju untuk meraihnya.


Suara jeritan Siau hi-ji yang melengking tajam dan singkat itu menimbulkan gema suara dari sekeliling lembah pegunungan secara susul-menyusul seakan-akan jagat ini penuh suara jeritan kaget Siau hi-ji.


Hoa Bu-koat menjadi lemas lunglai dan bersandar di pintu, dengan linglung ia pandang kabut tebal di depan sana, butiran keringat berketes-ketes dari dahinya.


Sementara itu Thi Sim-lan telah memburu keluar dengan langkah sempoyongan, beberapa nona berbaju putih mengikut di belakangnya.


Setiba di depan Hoa Bu-koat, dengan cemas Sim-lan bertanya, "Siapa itu menjerit? Apakah dia?... apakah dia?.."


Hoa Bu-koat hanya mengangguk tanpa menjawab.


"Dia... dia di mana?" tanya Sim-lan..


Bu-koat hanya menghela napas sambil menggeleng.


Melihat air muka anak muda itu, Sim-lan mundur dua langkah, katanya pula dengan suara gemetar, "Apakah kau telah... telah membunuhnya?" Mendadak ia menubruk maju, ia hujani tubuh Hoa Bu-koat dengan kepalannya.


Namun Hoa Bu-koat tetap diam saja, tidak menangkis juga tidak menghindar.


Kepalan Thi Sim-lan menghantam tubuhnya dengan kuat, tapi dia seperti tidak merasakannya.


Para nona baju putih menjadi gusar dan khawatir, mereka membentak dan hendak menghajar Thi Sim-lan, Hoa Bu-koat malah mencegah mereka, katanya dengan gegetun kepada Thi Sim-lan, "Aku tidak membunuh dia... dia sendiri yang tergelincir ke dalam jurang."


Tergetar tubuh Thi Sim-lan, ia mundur dengan terhuyung-huyung, katanya, "Kau... kau benar-benar tidak... tidak membunuh dia?"


"Selama hidupku belum pernah berdusta sepatah kata pun," sahut Hoa Bu-koat.


"Jika begitu mengapa kau tidak membalas pukulanku?" seru Thi Sim-lan dengan serak.


Hoa Bu-koat memandangnya dengan sorot mata yang halus, katanya dengan gegetun, "Kutahu perasaanmu saat ini sangat berduka, biarpun kau melukai aku juga dapat kupahami, sama sekali aku tidak menyalahkanmu."


Thi Sim-lan berdiri melenggong, entah bagaimana rasa hatinya sukar untuk dilukiskan. Hoa Bu-koat ini sedemikian bajik dan baik hati, sedemikian halus budinya, sedangkan Siau hi-ji, ya busuk ya kasar, tapi justru Siau hi-ji terlebih mendalam bersarang di lubuk hatinya, lebih membuatnya kesengsem dan berat untuk berpisah, membuatnya selalu terkenang dan sukar dilupakan.


Sorot mata Hoa Bu-koat tampak semakin lembut, katanya pula, "Nona Thi, lebih baik engkau pergi istirahat saja, engkau..."


"Ya, aku harus istirahat, harus pergi..." Mendadak Thi Sim-lan lari ke tepi jurang sambil berteriak dengan suara serak, "Siau hi-ji, tunggulah, kudampingimu untuk istirahat bersama..."


Tapi sebelum ia tiba di tepi jurang, Hoa Bu-koat sudah menyusul dan menarik tangannya, sekuatnya Sim-lan meronta, tapi tak dapat melepaskan diri biarpun segenap tenaga sudah dikeluarkannya.