Legendary Siblings

Legendary Siblings
52. Sawi Putih



"Terima kasih, minta maaf, kentut, bau..." belum habis Siau hi-ji berseloroh, tiba-tiba Thi Sim-lam benar-benar mengentut, keruan Siau hi-ji geli setengah mati dan tertawa terpingkal-pingkal.


Muka Thi Sim-lam bertambah merah hingga mirip kepiting rebus, saking malunya sungguh ia ingin menyusup ke dalam bumi apabila ada lubang.


"Apa salahnya orang kentut?" ujar Siau hi-ji sambil berbangkit. "Selagi ketakutan setiap orang bisa terkencing-kencing dan terberak-berak, kentut kan kejadian biasa, mengapa kau jadi seperti anak perempuan, sedikit-sedikit muka berubah merah"


"Aku... aku...." Thi Sim-lam gelagapan.


"Jangankan kau ketakutan, bahkan aku pun rada takut," ujar Siau hi-ji. "Nona cilik itu sungguh lihai, nona secantik itu ternyata begitu keji caranya, sungguh mimpi pun sukar dibayangkan."


"Mungkin cuma beberapa orang saja yang tidak takut padanya di dunia Kangouw ini," ujar Thi Sim-lam.


"Aku percaya," kata Siau hi-ji. "Orang yang tidak gentar pada langit dan tidak takut pada bumi seperti diriku ini juga jeri padanya, siapa pula yang tidak takut padanya... Eh, apakah kau tahu siapa namanya?"


"Dia she Thio, orang menjuluki dia Siau sian-li Thio Cing," tutur Thi Sim-lam.


"Siau sian-li Thio Cing?" Siau hi-ji mengulang nama itu. "He, pernah kudengar nama ini..."


Segera teringat olehnya sebelum meninggalkan Ok-jin-kok tempo hari, di lembah sarang penjahat itu telah datang seorang pelarian yang mengaku bernama "Sat hou-thayswe" Pah Siok-tong. Orang inilah pernah menyebut nona cantik yang ditakutinya itu bernama Siau sian-li Thio Cing. Waktu itu tak pernah terpikir oleh Siau hi-ji bahwa nona yang berjuluk "bidadari cilik" dan ditakuti orang Kangouw itu ternyata benar-benar seorang nona cilik yang cantik bagai bidadari.


Terbayang oleh Siau hi-ji pakaian Thio Cing dengan kudanya yang sama merahnya, nona belia itu telah berkelana di dunia Kangouw dan disegani setiap orang, sungguh luar biasa...


Tanpa terasa Siau hi-ji terkesima membayangkan wajah Siau sian-li Thio Cing.


Selang sejenak perlahan Thi Sim-lam berkata, "Kau mampu menyelamatkan diriku dari tangannya, sungguh kejadian yang tidak mudah, tapi dia pasti juga... sangat benci padamu, selanjutnya engkau harus hati-hati."


"Aku tidak takut," jawab Siau hi-ji tertawa. "Sebab, pada hakikatnya dia tidak melihat diriku,apalagi... apalagi seumpama berkelahi sungguhan aku pun belum tentu kalah."


"Kukira engkau bukan tandingannya," ujar Thi Sim-lam. "Entah ajaran siapa, ilmu silatnya sungguh luar biasa lihainya. Baru lebih setahun dia muncul di dunia Kangouw, tapi sedikitnya berpuluh tokoh Bu lim (dunia persilatan) telah terjungkal di tangannya."


"Ah, tokoh kodian begitu terhitung apa?" kata Siau hi-ji dengan tertawa.


"Tapi ada juga satu-dua di antaranya benar-benar memiliki kepandaian sejati, misalnya..."


Tiba-tiba Siau hi-ji memotong, "Sudahlah, peduli urusan itu, sekarang coba perlihatkan barangmu itu kepadaku."


Tergetar tubuh Thi Sim-lam, jawabnya, "Ba.. barang apa maksudmu?"


"Yaitu barang yang diperebutkan mereka secara mati-matian itu, begitu pula kau lebih suka terbunuh dari pada menyerahkan barang yang diminta, tentunya kau sendiri tahu barang apa itu?"


"Aku... aku tidak tahu," jawab Thi Sim-lam.


Siau-hi-ji tarik baju orang dan berteriak, "Sudah kuselamatkan jiwamu, tapi memperlihatkan barangmu padaku saja tidak sudi. Hm, di mana letak hati nuranimu? Apalagi aku hanya ingin melihat saja, takkan kurampas barangmu."


"Lepas... lepaskan, akan kukatakan padamu," pinta Thi Sim-lam.


"Baik, memangnya kau berani mungkir janji lagi," kata Siau hi-ji.


"Cuma rahasia ini tidak boleh kau katakan lagi kepada orang lain."


"Katakan kepada siapa?" sahut Siau hi-ji. "Tol*l, kau inilah orang yang paling kusukai. Orang lain mengganggumu, dengan mati-matian kutolong dirimu, masakah akan kukatakan kepada orang lain segala?"


Sampai lama Siau hi-ji memandang Thi Sim-lam dengan terbelalak, habis itu mendadak ia tertawa.


"Apa yang kau tertawakan?" tanya Thi Sim-lam.


"Haha, kau anggap diriku ini anak kecil? Kau ingin membohongi aku?"


"Sumpah, aku tidak bohong padamu."


"Apabila barang itu tidak ada padamu, untuk apa mereka menguber dirimu dan mengapa kau berusaha kabur ketakutan?"


"Sebab barang itu sudah diambil oleh seorang yang paling akrab denganku, aku khawatir dia dicelakai orang lain, maka aku sengaja berlagak masih menyimpan barang itu agar orang lain menjadikan diriku sebagai sasaran dan dapatlah mengamankan dia."


"O, jadi kau memakai tipu 'Kim sian toa kak' (tonggeret emas ngelungsung kulit) dan 'Tiau-hou-li-san' (memancing harimau meninggalkan gunung)," kata Siau hi-ji dengan rada melenggong.


"Ya, begitulah," sahut Thi Sim-lam.


"Sungguh tidak nyana engkau adalah orang yang suka berkorban bagi orang lain," ujar Siau hi-ji dengan gegetun.


"Meski aku bukan orang baik yang suka berkorban bagi orang lain, namun orang itu adalah kakakku sendiri," tutur Thi Sim-lam.


"O, kiranya begitu, sesungguhnya barang apakah itu, tentunya dapat kau beritahukan padaku."


Thi Sim-lam menunduk, katanya kemudian, "Yaitu sebuah peta yang menyangkut suatu partai harta karun."


"Hahaha, kiranya barang begituan," ujar Siau hi-ji dengan tertawa "Tahu barang begitu, melihat saja aku tidak sudi. Jika aku suka pada benda mestika, pada hakikatnya dapat kuperoleh, buat apa mesti mencarinya dengan susah payah?"


Dia berbangkit dan memeriksa keadaan gubuk itu, dilihatnya di belakang rumah ada bekas tungku, ia mengernyitkan dahi dan berkata pula, "Rumah apakah ini, terletak di tempat terpencil begini?"


"Kita sudah lari cukup jauh, mungkin sudah dekat kota, bisa jadi tempat ini dahulu digunakan pos pengintai prajurit," ujar Thi Sim-lam.


Siau hi-ji melongok ke pintu belakang, katanya kemudian dengan tertawa, "Di sini malah ada sumur."


"Ya, di lemari bobrok ini juga ada beberapa buah mangkuk rusak," kata Thi Sim-lam. "Biar kutimbakan air untuk minum."


Siau hi-ji berkedip-kedip katanya, "Kau takkan lari kan?"


"Untuk apa aku lari?" jawab Thi Sim-lam.


"Ya, kutahu engkau takkan lari," kata Siau hi-ji.


Thi Sim-lam memang tidak perlu lari. Sejenak kemudian dia masuk kembali dengan membawa sebuah ember kayu.


Sikapnya yang angkuh kini sudah lenyap, mendadak ia berubah sangat ramah dan serba lembut, ya menimba air, ya cuci mangkuk, pekerjaan yang biasa ditangani anak perempuan itu telah dikerjakannya dengan baik.


Siau hi-ji terus memandangi tingkah laku orang dan merasa tertarik. Tiba-tiba terdengar suara derapan kuda lari, kedua orang sama terkejut dan pucat.


Syukur, dengan segera Siau hi-ji dapat melihat yang datang itu kiranya adalah seekor kuda putih tanpa penunggang. Rupanya kuda putih yang dibeli Siau hi-ji itu juga mengikuti perjalanan mereka ke sini.


Kejut dan girang Siau hi-ji, segera ia melompat keluar untuk memapak kuda putih itu, katanya sambil membelai bulu suri kuda itu, "O, kudaku sayang, rupanya kau pun tidak mau ketinggalan, besok akan kuberi makan sawi putih. Eya, kau juga diberi nama, biarlah aku namai kau Sawi Putih".