
Betapa pun kedua gadis berbaju putih itu belum cukup sempurna kepandaian mereka, melihat serangan yang sangat lihai ini mereka tidak berani menggunakan gaya "Ih hoa ciap giok" untuk menangkisnya. Cepat mereka menggeser langkah dan berkelit ke samping.
Dalam pada itu berpuluh pedang anak murid Gobi pay juga sudah bergerak, biarpun kedua nona itu memiliki kepandaian bagus juga sukar melayani pedang yang mengamuk itu.
Mendadak Thi Sim-lan melepaskan pegangan tangan Siau hi ji, katanya, "Kau tunggu di sini dan jangan bergerak, aku akan..."
"Kau mau apa?" Siau hi ji terbelalak.
"Waktu aku kesasar di pegunungan sunyi, mereka yang menolong aku, ketika kau terancam bahaya juga berkat pertolongan mereka," tutur Thi Sim-lan.
"Sekarang mereka mengalami kesulitan, mana boleh kutinggal diam tanpa memberi bantuan?"
"Biarpun mengalami kesulitan, masakah orang 'Ih hoa kiong' memerlukan bantuan orang luar?" ucap Siau hi ji dengan tertawa.
"Betul ucapanmu!" tiba-tiba seorang menyambung perkataan Siau hi ji itu. Suaranya nyaring bening dan singkat, baru saja suara itu terdengar, tahu-tahu sesosok bayangan sudah melayang lewat di samping Siau hi ji.
Padahal keadaan terang benderang, namun Siau hiji tidak dapat melihat jelas orang itu lelaki atau perempuan dan bagaimana bentuknya.
Padahal mata Siau hi ji sangat awas, tapi kini
warna baju orang pun tak terlihat jelas. Sungguh selama hidupnya belum pernah melihat gerakan secepat itu, lebih-lebih tak pernah terpikir di dunia ini ada orang secepat dan segesit itu.
Dalam sekejap saja terdengar suara mendering beradunya pedang, lalu berpuluh pedang sama jatuh ke lantai.
Orang lain sama sekali tidak tahu cara bagaimana pedang sebanyak itu terlepas dari pegangan yang empunya, hanya anak murid Gobi pay sendiri yang tahu bagaimana terjadinya, mereka merasa sekonyong-konyong suatu arus tenaga mahabesar membetot pedangnya untuk dibenturkan kepada kawannya, karena tenaga benturan yang kuat luar biasa itu, tangan mereka terasa linu dan pedang terlepas dari cekalan.
Semuanya menjerit kaget sambil memegangi pergelangan tangan masing-masing, pikiran mereka pun sama bingung karena tidak tahu persis bagaimana bisa terjadi begitu.
Pedang Sinsik Totiang sendiri tidak sampai terlepas, tapi ia pun kaget dan cepat melompat mundur, ia coba mengawasi sekelilingnya, kecuali kedua nona baju putih tadi, mana ada bayangan orang lain?
Namun di bawah cahaya lampu yang terang, berpuluh pedang jelas berserakan di lantai.
Sinsik Totiang menengadah dan menghela napas panjang, serunya penuh penyesalan, "Sudahlah!" Mendadak pedang terus menggorok leher sendiri.
Rupanya ia menjadi putus asa, Gobi pay yang termasyhur dan malang melintang di dunia Kangouw kini ternyata tidak mampu melawan ilmu silat seorang yang tak dikenal, jelas runtuhlah nama baik Gobi pay, untuk itu ia merasa hanya dapat menembusnya dengan kematian selaku seorang pimpinan.
Tak terduga pada detik yang menentukan itulah, sebuah tangan tiba-tiba terulur dari belakangnya dan perlahan menarik tangannya, sedang tangan yang lain lantas merampas pedangnya.
Padahal pedang Sinsik Totiang ini boleh dikatakan sehidup semati dengan dia dan entah sudah mengalami betapa banyak pertempuran besar, pedang itu belum pernah berpisah dengan dia.
Tapi entah mengapa kini pedang dapat dirampas orang dengan mudah saja. Keruan Sinsik Totiang terkejut dan gusar pula.
Tertampak seorang pemuda baju putih melangkah keluar dari belakangnya, kedua tangan mendukung pedang rampasan dan memberi hormat dengan tersenyum, katanya, "Harap Totiang suka memaafkan kelancanganku, apabila para Totiang kalian tidak mulai menyerang kaum wanita, betapa pun Tecu tidak berani sembarangan turun tangan."
Di bawah cahaya lampu tertampak dengan jelas pemuda ini paling-paling baru berumur 14-15 tahun, tapi ilmu silatnya, gayanya, sama sekali tak pernah terbayang oleh tokoh-tokoh persilatan yang hadir ini.
Baju putih yang dipakai juga kain yang sederhana, tapi sikapnya yang agung berwibawa itu sungguh sukar dibandingi oleh pemuda lain atau pangeran sekalipun.
Sebegitu jauh anak itu baru bicara beberapa patah kata saja, tapi gayanya, santunnya, sampai Swat hoa-to Liu Giok-ju yang sudah banyak berpengalaman juga terpesona dan mabuk kepayang. Seketika suasana menjadi sunyi, semua orang terkesima.
Sinsik Totiang seolah-olah terpengaruh juga oleh gaya memikat anak muda itu sehingga mau tak mau harus bersikap ramah pula walaupun dia sangat murka.
"Benar, tecu Hoa Bu-koat, datang dari Ih hoa-kiong," jawab pemuda baju putih. "Orang Ih hoa-kiong sudah lama tak berkecimpung di dunia Kangouw sehingga sudah lupa pada adat istiadat, apabila ada sesuatu kesalahan, diharap para sahabat sudi memaafkan."
Cara bicaranya sedemikian sopan, begitu rendah hati, sikapnya itu mirip seorang majikan yang pada dasarnya memang ramah tamah sedang bicara kepada kaum hambanya, meski sikap pihak majikan begitu memang pembawaan, tapi bagi kaum hambanya terasa tidak tenteram di hati.
Walaupun wajahnya senantiasa tersenyum simpul dan bersikap ramah, tapi orang lain tetap mengagungkan dia.
Padahal Sinsik Totiang, Uikeh Taysu, Ong It-jiau, Khu Jing-po dan lain-lain hampir semuanya adalah tokoh dari suatu aliran tersendiri, kedudukan cukup terhormat, tapi entah mengapa di hadapan anak muda ini terasa serba salah dan kikuk, ingin bicara, tapi sukar keluar dari mulut.
Dengan suara nyaring Ho loh lantas berseru, "Nah, Kongcu kami sudah datang, sekarang peti mati ini boleh dibuka tidak?"
Air muka Sinsik Toating berubah pula. Tapi sebelum menjawab, tiba-tiba si anak muda yang bernama Hoa Bu-koat itu menyela, "Kukira tentang harta karun ini pasti omong kosong belaka, Cayhe berharap hadirin jangan mau tertipu oleh muslihat keji orang jahat, marilah kita berkawan saja daripada menjadi lawan, urusan ini mulai sekarang jangan kita ungkit-ungkit lagi."
"Omitohud! Pikiran Kongcu yang mulia sungguh harus dipuji," ucap Uikeh Taysu.
"Benar," seru Ong It-jiau, "bila ada yang ingin saling labrak lagi sehingga dijadikan buah tertawaan jahanam yang mengatur tipu muslihat ini, maka dia itu pasti orang tolol."
Serentak Khu Jing-po, Pang Thian-ih dan lain-lain juga menyatakan setuju dan ingin mohon diri.
Sinsik Totiang memberi hormat kepada Hoa Bu-koat dan mengucapkan terima kasih.
Suasana pertempuran yang tadinya tegang itu hanya berdasarkan beberapa patah-kata Bu-koat Kongcu tadi segera berubah menjadi aman tenteram dan damai.
Kerlingan genit Liu Giok-ju sejak tadi terus melengket pada diri Hoa Bu-koat, Thi Sim-lan juga memandangi anak muda itu dan tanpa terasa tersembul juga senyuman kagum.
"Hmk!" mendadak Siau hi ji mendengus, lalu berlari keluar lorong bawah tanah itu.
Thi Sim-lan melenggong, setelah ragu-ragu sejenak, akhirnya ia pun ikut berlari keluar.
Sementara itu terdengar Tio Coan-hay sedang berseru, "Giok tayhiap, Giok locianpwe..."
Ho loh juga berseru, "He, nona itu, mengapa engkau juga pergi?"
Sinsik Totiang memanggil juga, "Eh, Siausicu itu, tadi banyak menerima petunjukmu, sudilah engkau mampir ke tempat kami."
Pada hakikatnya Siau hi ji tidak pedulikan seruan mereka, tanpa menoleh langsung ia lari keluar gua. Di luar gua masih ada kabut tipis, tapi rembulan sedang memancarkan cahayanya yang indah.
Siau hi ji hanya memandang ke depan saja dan berjalan terus tanpa berhenti diikuti Thi Sim-lan.
Kira-kira seminuman teh, akhirnya anak muda itu menemukan sepotong batu besar dan duduklah dia di situ.
Thi Sim-lan menghela napas panjang, katanya, "Urusan harta karun ternyata berakhir begini, sungguh tak pernah terpikir olehku."
"Memangnya apa yang pernah kau pikir?" tanya Siau hi ji dengan ketus.
Thi Sim-lan melengak, ia menunduk, katanya pula dengan perasaan sedih, "Aku banyak mengalami siksa derita lantaran peta harta karun yang ternyata tidak bernilai sepeser pun, bahkan jiwaku hampir melayang. Kalau kupikir sekarang sungguh sangat penasaran."
"Adalah pantas penderitaanmu itu," kata Siau hi ji.