
Tempat tinggal Toh Sat terletak di ujung Ok-jin-kok, di belakang rumahnya adalah bukit tandus. Padahal rumahnya itu juga tiada ubahnya seperti bukit tandus, kosong blong, tiada terdapat sesuatu perlengkapan atau pajangan apa-apa, boleh dikatakan rumah yang paling jelek dan paling sederhana di seluruh Ok-jin-kok.
Setiap kali Siau Hi ji pindah dari rumah To Kiau-kiau ke rumah Toh Sat tentu terasa tidak enak, apalagi di rumah paman Toh itu sedang menunggu pula binatang yang mungkin akan mencaploknya. Namun tidak datang pun tidak boleh bagi Siau hi ji.
Hari itu Siau hi ji menuju ke rumah Toh Sat pula. Paman Toh itu duduk kaku di pojok rumah dengan jubahnya yang putih itu, dilihat dalam rumah yang gelap dan lembab itu terasa mirip seonggokan salju saja layaknya.
Asalkan datang Siau hi ji selalu melihat paman Toh itu duduk dalam posisi begitu, selamanya tak pernah berubah. Setiap kali Siau hi ji mendekati juga tidak berani membuka suara.
Dengan pandangan dingin Toh Sat menatap Siau hi ji hingga sekian lamanya, kemudian bertanya tiba-tiba, “Kabarnya kau mempunyai sebuah peti kecil.”
“Ya,” sahut Siau hi ji sambil menunduk.
“Konon banyak pula isi petimu itu?”
“Ehm!”
“Apa saja isinya, coba sebutkan!”
Siau hi ji tidak berani menengadah, katanya dengan tergagap-gagap, “Ada... ada satu bungkus obat bau busuk, sepotong tongkat yang bisa mulur mengkeret dan dapat menyemburkan paku sangat banyak, ada pula sepotong obat yang dapat mencairkan tulang dan daging manusia sehingga menjadi air, lalu ada juga....”
“Barang-barang itu apakah pemberian To Kiau-kiau dan Li Toa-jui?” sela Toh Sat dengan ketus.
“Emh!” kembali Siau hi ji menjawab singkat.
“Konon mereka berdua setelah beberapa kali tertipu olehmu. Dengan barang pemberian To Kiau-kiau kau gunakan untuk mengganggu Li Toa-jui dan barang pemberian Li Toa-jui kau gunakan untuk menggoda To Kiau-kiau, begitu bukan?”
“Ehm!”
“Kau tidak takut mereka marah dan membunuhmu?”
“Sebenarnya takut, tapi... tapi kemudian kudapati semakin aku berbuat busuk, semakin hebat menggoda mereka, maka mereka pun bertambah senang. Lebih-lebih bibi To, terkadang dia seperti sengaja membiarkan dirinya diganggu olehku.”
Kembali Toh Sat menatapnya sekian lama, habis itu mendadak ia berbangkit dan berkata, “Ikut padaku!”
Sebelum dekat dengan rumah yang menakutkan itu, dari jauh Siau hi ji sudah mendengar suara raungan keras dan membuat berdiri bulu romanya. “Seekor harimau besar?” tanpa terasa ia berseru.
“Hm!” Toh Sat hanya mendengus saja, lalu dia membuka pintu rumah itu sedikit dan membentak, “Masuk, lekas!”
Terpaksa Siau hi ji melolos belatinya dan melangkah masuk, pintu segera ditutup kembali oleh Toh Sat.
Dia berdiri berpangku tangan di situ. Dia memang mempunyai semacam keahlian, yakni sanggup berdiri tegap hingga lima-enam jam lamanya tanpa bergerak.
Tapi sekali ini lain dari pada biasanya, tidak lama setelah Siau hi ji masuk, suara raungan harimau lantas lenyap.
Selang sejenak pula, terdengar Siau hi ji memanggil perlahan, “Paman Toh, buka pintu!”
“Begitu cepat?” tanya Toh Sat heran.
“Ini kan kepandaian ajaran paman Toh,” kata Siau hi ji.
Sungguh mimpi pun Toh Sat tidak pernah menduga bahwa yang keluar itu bukannya Siau hi ji melainkan harimau buas itu. Keruan ia terkejut sehingga rada terlambat mengelak, pundaknya kena dicakar oleh kuku harimau hingga terluka dan mengucurkan darah.
Tercium bau anyirnya darah, harimau lapar itu tambah buas, sekali tubruk tidak kena sasaran, segera ia memotong balik, perubahan gerak serangannya itu sungguh lebih cepat dan lebih ganas daripada jago silat kelas wahid.
Seketika ruangan itu penuh bayangan loreng harimau dan bau amis. Namun Toh Sat bukan jagoan pinggiran, biarpun kaget tidak menjadi bingung.
Mendadak ia melompat dan mencemplak ke punggung harimau, di tengah seribu kerepotannya itu ia tidak lupa berseru, “Apakah kau terluka, Siau hi ji?”
Menurut logika, kalau harimau itu masih hidup, maka yang mati tentunya Siau hi ji.
Tak tahunya segera terdengar suara tertawa ngikik anak itu dan jawabnya, “Tidak, Siau hi ji tidak terluka, Siau hi ji berada di sini.”
Waktu Toh Sat menoleh, dilihatnya di ambang pintu sana duduk seorang anak kecil berkuncir sedang memandangnya dengan tertawa. Bahkan anak itu lagi menggerogoti sebuah apel.
Busyet!
Seketika Toh Sat tidak tahu dirinya ini kaget, gusar atau senang. Sedikit meleng, mendadak harimau itu berjingkrak dan melompat sehingga Toh Sat terlempar jatuh ke bawah.
“Awas, paman Toh!” seru Siau hi ji perlahan.
Sementara itu harimau loreng sudah membalik terus menubruk pula ke arah Toh Sat. Tubrukan ini sangat cepat lagi jitu, betapa pun Toh Sat sukar lolos dari cakar harimau itu.
Siapa tahu mendadak tubuh Toh Sat menyurut terus menerobos keluar dari bawah perut harimau, tangan kirinya berbareng terangkat ke atas.
Maka terdengarlah raungan seram harimau itu, isi perutnya tumpah berantakan, darah berhamburan bagai hujan. Harimau itu masih terjang sini dan tumbuk sana, lalu mendadak roboh dan tak bergerak lagi.
Dinding sekeliling berlepotan darah, waktu Toh Sat bangkit kembali, tubuh bagian kirinya juga sudah mandi darah.
Kiranya setelah tangan kirinya dipatahkan oleh Yan Lam-thian sebatas pergelangan tangan, sebagai gantinya Toh Sat telah memasang tangannya yang buntung itu dengan sebuah kaitan baja yang berujung tajam. Dengan kaitan tajam itulah tadi dia merobek perut harimau.
Menyaksikan pertarungan dahsyat tadi, buah apel yang dipegang Siau hi ji sampai terjatuh, ia raba-raba dada sendiri dan melelet lidah, katanya, “Wah hebat benar, sungguh menakutkan.”
Toh Sat berdiri tegak di situ sambil menatap tajam pada anak itu, tiada tanda-tanda marah atau dongkol, ia hanya berkata, dengan ketus, “Turun!”
Siau hi ji lantas berosot turun, katanya dengan tertawa, “Harimau lihai, tapi paman Toh terlebih lihai.”
“Suruh kau membunuh harimau, mengapa tidak kau lakukan?” tanya Toh Sat, sebagian mukanya berlepotan darah, sebagian lainnya pucat pasi seperti mayat, di tengah suasana yang masih bau amis dan berserakan itu, bentuknya menjadi seram tampaknya.
Tapi Siau hi ji seperti tidak takut sama sekali, sambil berkedip-kedip ia menjawab, “Paman Toh selalu suruh Siau hi ji bunuh harimau, tapi Siau hi ji justru ingin melihat kepandaian paman Toh membunuh macan.”
“Kau ingin bikin celaka padaku?” tanya Toh Sat.
“Mana kuberani membikin celaka paman Toh,” jawab Siau hi ji dengan tertawa. “Paman yang membawa harimau itu ke sini, mana mungkin paman tidak mampu membunuhnya? Hal ini sudah lama kupahami.”
Toh Sat menatap anak itu dengan dingin, sampai lama sekali tetap tidak bicara. Ya, pada hakikatnya ia tidak dapat membuka suara lagi.