
“Di dalam pondongan orang itu, aku merasa seperti terapung di udara, gerak tubuh orang itu cepat luar biasa, hanya sekejap saja sudah jauh meninggalkan lembah ini.”
“Waktu itu kau tidak takut?”
“Harimau saja aku tidak takut, kenapa takut pada manusia?”
Ban Jun-liu bergumam, “Tapi selanjutnya kau akan tahu bahwa manusia terkadang jauh lebih menakutkan dari pada harimau.”
“Kemudian orang itu menurunkan aku ke tanah dan tanya aku ini she (marga) apa?” tutur Siau hi-ji lebih lanjut. “Kujawab tidak tahu, orang itu menjadi marah dan memaki aku, katanya aku ini sama seperti binatang, masa she sendiri tidak tahu.”
“Habis itu dia lantas memberitahukan bahwa kau she Kang, begitu?” Ban Jun-liu menegas.
“Ya, malahan dia juga memberitahukan bahwa ayahku bernama Kang Hong, dan di binasakan oleh orang ‘Ih-hoa-kiong’, dia berpesan agar aku jangan melupakan dendam kesumat ini, kalau sudah dewasa harus mencari orang Ih-hoa-kiong untuk menuntut balas.”
“Aneh juga,” ujar Ban Jun-liu. “Kedatangan Yan-pepekmu ke Ok-jin-kok ini justru ingin mencari orang yang bernama Kang Khim, tujuannya juga hendak menuntut balas bagi ayahmu.”
Siau hi-ji berkedip-kedip, katanya, “Bisa jadi Kang Khim juga salah seorang musuhku.”
“Ehm...” Ban Jun-liu tidak memberi komentar lagi.
“Lalu orang itu memberitahukan pula padaku tentang diri Yan-***** (paman Yan), ingin kutanya sebenarnya siapakah dia, tak tahunya mendadak ia menghilang pergi seperti hembusan angin.”
“Ya, kutahu... kutahu...” kata Ban Jun-liu dengan gegetun.
“Malam itu sangat gelap, aku cuma tahu dia memakai jubah hitam, kepalanya juga memakai cadar hitam, hanya kelihatan kedua matanya yang besar dan bercahaya dan juga menakutkan... sepasang bola mata itu sampai kini pun belum kulupakan.”
“Selanjutnya apakah kau masih mengenali sepasang mata itu?”
“Pasti dapat kukenali lagi,” jawab Siau hi-ji mantap.
“Sepasang mata itu bukan milik orang di Ok-jin-kok ini?”
“Bukan, pasti bukan,” jawab Siau hi-ji. “Kukenal semua mata di lembah ini, tiada mata seterang mata orang itu. Mata To Kiau-kiau juga terang, tapi kalau dibandingkan dia boleh dikatakan seperti orang buta melek.”
“Ai, orang itu mampu pergi-datang dengan bebas di Ok-jin-kok ini, malahan juga mengetahui rahasia sebanyak itu, siapakah gerangannya? Sungguh sukar ditebak,” ucap Ban Jun-liu.
“Tentunya dia seorang yang berilmu silat sangat tinggi,” kata Siau hi-ji.
“Dengan sendirinya,” ujar Ban Jun-liu. “Orang yang mampu pergi-datang sesukanya menerobos Ok-jin-kok ini, selain Yan-pepekmu sungguh aku tidak ingat masih ada berapa orang?”
“Masakah tiada orang lain lagi?” tanya Siau hi-ji.
“Kalau masih ada, maka mereka adalah kedua Kiongcu (putri) dari Ih-hoa-kiong, tapi jelas orang itu suruh kau menuntut balas pada orang Ih-hoa-kiong, mana mungkin dia adalah salah satu dari kedua Kiongcu itu?”
“Aha, ingatlah aku sekarang!” mendadak Siau hi-ji berseru sambil keplok.
“Kau ingat apa?” tanya Ban Jun-liu cepat.
“Orang itu adalah perempuan,” jawab Siau hi-ji.
“Perempuan?” tergerak hati Ban Jun-liu.
“Gerak-gerik bagaimana?” tanya si tabib.
“Umpamanya... meski dia pakai cadar, tapi terkadang secara tidak sengaja ia suka membelai rambutnya. Selain itu ketika dia memondong aku, dia tidak mau menempelkan tubuhku ke dadanya….”
“Ai, keterangan ini mengapa tidak kau ceritakan sejak dahulu?”
Muka Siau hi-ji menjadi merah, jawabnya dengan tertawa, “Dahulu aku sama sekali tidak... tidak pernah memperhatikan perbedaan antara lelaki dan perempuan.”
Ban Jun-liu melengak, tapi ia lantas berkata dengan menyengir, “Ya, betul juga, dahulu kau hanya seorang anak kecil, dalam pandangan anak kecil manusia itu hanya ada perbedaan antara orang tua dan anak kecil tanpa ada perbedaan antara lelaki dan perempuan.”
“Apalagi dalam hidupku juga belum pernah melihat bagaimana bentuk potongan perempuan yang sebenarnya, di Ok-jin-kok ini pada hakikatnya hanya terdapat setengah potong perempuan,” kata Siau hi ji.
Ban Jun-liu bergumam pula, “Dahulu kukira orang itu mungkin adalah Lam thian-tayhiap, Loh Tiong-tat yang paling suka ikut campur urusan ***** bengek itu.
Tapi kau bilang dia seorang perempuan, maka dugaanku itu menjadi meleset.”
“Di dunia Kangouw, masih adakah perempuan lain yang berilmu silat tinggi kecuali kedua Kiongcu dari Ih-hoa-kiong, apakah paman Ban tahu?”
“Jarang ada, selain Kiau goat dan Lian sing Kiongcu dari Ih-hoa-kiong, sungguh aku tidak ingat lagi perempuan mana yang mampu pergi-datang dengan bebas di Ok-jin-kok.”
“Tapi harus ada seorang yang mampu berbuat begitu,” kata Siau hi-ji. “Pertama, orang itu kenal ayahku dan juga kenal paman Yan. Kedua, orang ini tahu dengan jelas sebab-musabab kematian ayahku.”
“Kukira begitulah,” tukas Ban Jun-liu.
“Dan ketiga orang ini tidak hanya mengetahui seluk-beluk dendam kesumat keluargaku, bahkan sangat menaruh perhatian. Keempat, ilmu silat orang ini sangat tinggi. Kelima, orang tentu juga tidak suka pada Ih-hoa-kiong. Keenam, mata orang ini besar lagi terang, sama sekali berbeda daripada mata orang umumnya...”
“Sungguh tidak nyana anak semuda dirimu sudah sedemikian cermat cara memecahkan persoalan,” ujar Ban Jun-liu dengan kagum.
“Berdasar keenam ciri tersebut, aku pasti dapat menemukan dia,” kata Siau hi-ji dengan mantap.
“Ya, semoga demikian hendaknya,” tukas Ban Jun-liu.
“Tapi untuk menemukan dia, pertama aku harus... harus keluar dari Ok-jin-kok ini,” kata Siau hi-ji pula. “Dan bilakah aku baru dapat pergi dari sini? apakah mereka mau melepaskan kepergianku?”
“Ya, hal ini sukar untuk dikatakan,” ujar Ban Jun-liu. “Semoga...”
Pada saat itulah tiba-tiba di luar ada orang berseru, “Tabib Ban, apakah Siau hi-ji berada di sini?”
Cepat Ban Jun-liu mendesis kepada Siau hi-ji, “Itu dia To Kiau-kiau mencarimu, lekas keluar!”
Dan setelah meninggalkan klinik itu, sikap kedua lantas berubah lagi, Ban Jun-liu kembali kepada sikap “tabib sakti” yang dingin dan tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, sedangkan Siau hi-ji kembali pada si anak binal yang jail itu.
Tertampak To Kiau-kiau sedang bersandar di pintu, katanya dengan tertawa genit, ketika Siau hi-ji muncul bersama Ban Jun-liu, “He, kalian sedang berbuat apa di situ?”
“Kami sedang berunding cara mengerjaimu,” ucap Siau hi-ji dengan wajah membadut.
“Ai, setan cilik,” omel To Kiau-kiau dengan tertawa. “Jika kalian lagi berunding tentang cara mengganggu orang, seharusnya kalian berusaha membuat semacam obat paling busuk untuk membikin kapok si Li Toa-jui, masakah aku yang menjadi sasaran gangguanmu?”
“Paman Li teramat mudah terjebak, tiada artinya mengganggu dia lagi” ucap Siau hi-ji sambil tertawa.