Legendary Siblings

Legendary Siblings
20. Ok jin kok



Dalam bayangan Yan Lam-thian tadinya, Ok-jin-kok itu tentunya gelap gulita, seram dan menakutkan, tapi kini, sarang penjahat itu ternyata terang benderang oleh cahaya lampu.


Namun cahaya lampu itu sama sekali tidak mengurangi keadaan misterius Ok jin-kok itu, sebaliknya malah menambah kegaibannya yang sukar dilukiskan.


Lantas, bagaimanakah sesungguhnya keadaan di Ok jin-kok? Yan Lam-thian merasa denyut jantung sendiri pun bertambah keras, teka-teki akan segera terbongkar jawabannya.


Di bawah cahaya lampu terlihat sebuah tugu batu berdiri tegak di tepi jalan dengan tulisan yang bersemboyan: “Masuk dan masuklah ke lembah ini, selamanya engkau takkan jadi budak”.


Selewatnya tugu itu, jalanan mendadak menjadi datar, halus, di bawah cahaya lampu tampaknya licin laksana cermin. Namun Yan Lam-thian juga menyadari bahwa jalan yang halus licin ini juga jalan yang paling berbahaya di dunia ini. Setiap melangkah satu tindak terasa semakin dekat dengan bahaya dan kematian.


Bukan hutan bukan gunung, Ok jin-kok itu tampaknya lebih mirip sebuah kota kecil pegunungan. Deretan rumah berdiri di kedua sisi jalan, semua rumah dibangun secara indah, di balik pintu dan jendela tampak cahaya lampu sehingga suasana terasa aman tenteram.


Tapi di tengah kota pegunungan yang aman tenteram itu sebenarnya tersembunyi betapa banyak perangkap yang telah mencelakai orang, betapa banyak tangan yang berlumuran darah manusia? Semua ini sukar diterka.


Tangan Yan Lam-thian yang menarik kereta sudah berkeringat, kini ia sudah memasuki Ok-jin-kok, setiap saat mungkin diserang secara keji dan mendatangkan maut baginya.


Tiba-tiba dari depan sana ada orang datang. Seketika Yan Lam-thian waswas, ia tahu dalam sekejap ini mungkin akan terjadi pertarungan maut. Siapa duga kedua orang yang berpapasan dengan dia itu sama sekali tidak memandangnya, pakaian kedua orang itu sangat perlente, namun mereka lewat begitu saja di sebelah Yan Lam-thian.


Dilihatnya orang di jalanan semakin banyak, akan tetapi tiada seorang pun yang memperhatikan dia. Keruan Yan Lam-thian menjadi ragu, heran dan sangsi.


Sebab ia tahu pasti orang yang berlalu-lalang itu semuanya adalah penjahat yang tangannya berlumuran darah. Kalau orang-orang itu serentak melancarkan serangan padanya takkan membuatnya heran, tapi kini gerak-gerik orang-orang itu tiada sesuatu pun yang mencurigakan, inilah yang membuatnya ragu dan tak dapat meraba apa sebenarnya yang akan terjadi.


Ok-jin-kok yang dipandang sebagai lembah maut bagi setiap insan persilatan, kini baginya ternyata seperti memasuki sebuah kota yang makmur, aman dan tenteram.


Pikiran Yan Lam-thian menjadi bingung malah dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Selama hidupnya entah betapa banyak persoalan pelik dan berbahaya yang telah dihadapinya, tapi belum ada sesuatu yang membuatnya bimbang seperti sekarang.


Dalam kereta yang diseretnya itu terdengar suara tangisan bayi. Yan Lam-thian menghela napas, ia coba tenangkan diri. Dilihatnya di depan sana ada sebuah pintu yang terbuka. Dari dalam rumah itu terasa ada bau sedap makanan.


Tanpa pikir panjang Yan Lam-thian menarik keretanya ke sana. Dengan langkah lebar ia masuk ke rumah itu. Ruangan yang indah dengan beberapa meja yang indah pula, dua meja di antaranya terdapat beberapa orang sedang minum arak sambil bersenda-gurau.


Rumah ini seperti sebuah rumah makan, tapi jelas jauh lebih indah dan mewah daripada rumah makan umumnya.


Dengan membopong bayi Yan Lam-thian memilih salah sebuah meja dan duduk, dilihatnya rumah makan itu tiada sesuatu yang aneh, beberapa orang yang sedang minum arak itu berpakaian perlente dan bicara sewajarnya, sedikit pun tiada tanda-tanda bahwa mereka adalah penjahat yang pernah menghadapi jalan buntu dan terpaksa merat ke lembah terpencil ini, sungguh aneh dan mengherankan Yan Lam-thian.


Ia lupa bahwa manusia yang paling jahat, orang yang paling culas, pada lahirnya justru sukar ditemukan tanda-tanda khas itu. Kalau wajah mereka kelihatan bengis menakutkan sehingga orang yang melihatnya segera waswas akan segala kemungkinan, lalu kejahatan apa yang akan dapat mereka lakukan? Tentu akan gagal bukan? Hal ini sebenarnya sangat sederhana, namun jarang direnungkan oleh manusia dan tidak banyak yang paham.


Tiba-tiba tirai pintu tersingkap dan masuklah seorang. Orang ini pendek gemuk, mukanya berseri-seri, senyum selalu dikulum, itulah tipe seorang pemilik rumah makan yang selalu harus ramah tamah terhadap tamunya.


Sedapatnya Yan Lam-thian bersabar dan duduk di tempatnya. Tapi si gemuk berwajah bulat itu lantas mendekatinya serta menegur dengan memberi salam, “Selamat datang Saudara!”


Si gemuk berkata pula dengan tertawa, “Tiga tahun yang lalu sudah tersiar berita bahwa Hengtay (saudara) mengikat permusuhan dengan Joan-tiong-pat-gi, sejak itu kami sudah berharap-harap akan kedatanganmu ke sini. Siapa duga Saudara tidak segera muncul sehingga kami lama menunggu sampai sekarang.”


“O,” Yan Lam-thian bersuara singkat pula. Diam-diam baru ia tahu bahwa orang-orang ini telah salah menyangkanya sebagai 'Joan-jong-kiam' Suma Yan sebagaimana para Tosu Kun-lun-pay serta Joan-tiong-sam-gi itu menyangkanya. Namun sedapatnya ia tetap tenang saja tanpa mengunjuk sesuatu.


Ketika si gemuk bermuka bulat itu menggapai, segera datang seorang dengan langkah gemulai, seorang gadis berbaju hijau, cantik dan genit. Matanya jeli dan giginya putih bak biji mentimun. Dengan lirikan yang genit gadis cantik itu mengucapkan salam hormat juga kepada Yan Lam-thian dan dijawab dengan dengusan singkat pula.


Melihat sikap Yan Lam-thian yang kaku dan acuh itu, si gemuk berkata dengan tertawa, “Rupanya baru tiba dari tempat jauh, Suma-siansing tiada hasrat bercengkerama denganmu. Lekas mengambilkan arak saja bagi Suma-siansing, lalu membuatkan tajin kental bagi kawan kecil kita ini.”


“Sungguh anak yang mungil dan manis,” kata gadis itu dengan tertawa genit sambil melirik sekejap kepada Yan Lam-thian, lalu melangkah pergi dengan gaya yang menggiurkan.


Sorot mata Yan Lam-thian menatap si gemuk berwajah bulat itu, diam-diam ia pikir, 'Mungkin orang inilah ‘Siau-li-cong-to’, si Budha tertawa kecil, Ha-ha-ji. Kalau melihat wajahnya yang selalu tertawa, terhadap anak kecil juga begini simpatik, lalu siapa yang menyangka bahwa di dalam semalam saja dia telah membunuh seluruh anggota keluarga gurunya. Soalnya cuma lantaran Siausumoay-nya memaki dia dengan istilah ‘b*bi’ saja.'


Tengah termenung, si gadis genit tadi sudah kembali dengan langkahnya yang meliak-liuk dan membawa satu nampan daharan dan arak. Terendus bau arak yang harum, warna masakannya juga sangat menarik dan membuat orang meneteskan air liur.


“Suma-siansing datang dari jauh, tentu sudah lapar,” kata si gemuk dengan tertawa. “Silakan dahar saja, habis itu baru kita bicara lagi.”


Kembali Yan Lam-thian cuma mendengus saja, tapi tidak menyentuh daharan yang disuguhkan itu.


“Umumnya menyangka kami yang berada di sini pasti hidup susah dan menderita,” kata pula si pendek gemuk dengan tertawa, “mereka tidak tahu bahwa dengan berkumpulnya kaum cerdik pandai sebanyak ini di sini mana bisa kami menderita. Seumpama arak dan masakan ini, sekali pun raja juga sukar menikmatinya, supaya terbukti, silakan Suma-siansing mencicipinya.”


“O,” lagi-lagi Yan Lam-thian bersuara singkat saja.


“Siapakah gerangan koki yang memasak daharan ini, ku yakin sama sekali takkan pernah terpikir oleh Suma-siansing,” ujar si buntak dengan tertawa.


“Siapa?” tanya Yan Lam-thian.


“Pernahkah Saudara dengar di dalam Kay-pang dahulu ada seorang tokohnya yang berjuluk ‘Thian-sip-sing’ (si tukang gegares)? Hanya di dalam setengah jam saja dia telah meracun mati tujuh tertua dari Pang mereka...” sampai di sini, mendadak “brak”, si buntak menggebrak meja, lalu menyambung dengan bergelak, “Sungguh seorang ksatria sejati, seorang tokoh besar. Nah, yang membuat daharan ini adalah dia.”


Diam-diam Yan Lam-thian terkejut, tapi tetap berlagak acuh-tak-acuh dan menanggapi dengan suara, “O!” begitu saja.


Mendadak si gemuk buntak itu tertawa pula dan berseru, “Suma-siansing benar-benar adalah tokoh pilihan kaum kita, sebelum persoalan menjadi jelas, sama sekali engkau tidak sudi makan. Padahal sebelum kedatangan Suma-heng ini sebenarnya kami sudah pandang dirimu sebagai saudara sekaum...” sampai di sini, segera ia angkat sumpit, setiap macam daharan dicicipinya dulu satu kali. Lalu menambahkan dengan tertawa, “Nah, apakah sekarang Suma-heng masih sangsi?”


'Jika mereka telah salah sangka diriku sebagai Suma Yan, inilah kesempatan baik bagiku untuk menyelidiki jejak ******* Kang Khim itu,' demikian pikir Yan Lam-thian.


'Kalau sekarang aku berkeras tidak mau makan, tentu akan menimbulkan curiga mereka. Apalagi mereka sudah mengira aku ini Suma Yan, rasanya mereka takkan mencelakai aku dengan racun.'