Legendary Siblings

Legendary Siblings
60. Menyamar



"Barang itu? Bukankah kau bilang barang itu tidak berada padamu?"


"Aku berdusta padamu," jawab Sim lan, air matanya tampak berlinang-linang.


"Nah, kenapa kau berdusta? Akibatnya jadi membikin susah dirimu sendiri," ujar Siau hi-ji sambil menghela napas gegetun. "Kubuang sepatu itu sembarang tempat, aku pun lupa entah di mana tempatnya."


Serentak Thi Sim-lan menjatuhkan diri ke atas tempat tidur dan tak dapat bergerak, hanya mulutnya saja bergumam, "Bagus, bagus sekali... kini segalanya telah tamat!"


"Barang itu kan cuma sehelai kertas bekas saja, juga tiada artinya, kenapa kau mesti kelabakan dan cemas begitu, kalau kau jatuh sakit lagi bisa runyam lagi."


Belum habis ucapannya, mendadak Thi Sim-lan melompat bangun dan menegas dengan melotot, "Dari... dari mana kau tahu barang itu cuma sehelai kertas saja?"


"Jika yang kau maksud adalah kertas itu, maka sudah kukeluarkan dari sepatu itu, kertasnya sudah kurobek, bahkan berbau, bau ikan asin."


Serentak Thi Sim-lan menubruk tubuh Siau hi-ji dan memukuli dada anak muda itu sembari tertawa dan berteriak, "Kau ini memang brengsek, kau sengaja... sengaja membuat kelabakan diriku."


"Habis kau yang berdusta lebih dulu padaku..." jawab Siau hi-ji dengan tertawa.


"Sebenarnya sudah kuduga barang itu pasti kau simpan di dalam sepatumu. Kau sungguh cerdik."


"Kau lebih cerdik, segala urusan tidak mungkin mengelabuimu," ujar Sim-lan. "Tadi... tadi kau benar-benar membuatku kaget."


"Tapi barang itu akhirnya terjatuh di tanganku, kau tidak khawatir?" tanya Siau hi-ji.


"Sudah berada di tanganmu, apa yang harus kukhawatirkan?" ucap Thi Sim-lan sambil menunduk.


"Kau percaya padaku, tidak takut kubawa lari?"


"Tidak, tidak takut."


"Baik, aku pun takkan mengembalikannya padamu."


"Ya, biar kuberikan saja padamu," kata Sim-lan dengan suara lembut.


"Tapi... tapi kau pernah bilang mati pun barang itu takkan kau berikan kepada orang lain?" tanya Siau hi-ji dengan mata terbelalak.


"Kau... kau berbeda dengan orang lain."


Entah mengapa, tiba-tiba Siau hi-ji merasa bahagia, sekujur badan terasa bagai terbang dan seperti jatuh ke tengah gundukan kapas bergula atau arumanis.


Tapi segera ia memperingatkan dirinya sendiri, 'Awas, Kang Hi, arumanis itu berbisa!'


Segera timbul pula keinginannya untuk mengenyahkan Thi Sim-lan, cuma bagaimana caranya belum diketahuinya.


"Tadi kau ke mana?" tanya Thi Sim-lan kemudian dengan halus.


"Ke luar... Malahan aku memergoki seseorang. Kau kenal orang ini... celakanya aku pun kenal dia."


"Hah, Siau... Siau-sian-li maksudmu?" Thi Sim- lan berjingkat.


"Ya, memang benar dia."


"Dia berada di mana sekarang?"


"Bila kau membuka jendela, mungkin dapat kau melihatnya."


"Sekali pun dia berada di sini juga aku tetap bersendau gurau."


"Ai, kau ini... Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Sim-lan dengan khawatir.


"Sekarang jalan satu-satunya yang paling selamat ialah angkat kaki, kita..."


Belum habis ucapannya, tiba-tiba terdengar suara orang membentak bengis di bagian depan sana, "Suruh buka pintu harus cepat kau buka, apa yang hendak kulakukan bukanlah urusanmu!"


Menyusul lantas terdengar suara "blang" yang keras, agaknya daun pintu telah didobrak.


"Sial*n, hendak kabur pun tidak keburu lagi!" kata Siau hi-ji dengan gegetun.


Wajah Thi Sim-lan menjadi pucat, katanya dengan suara gemetar, "Tampaknya Siau sian-li membawa pembantu dan mulai memeriksa setiap kamar. Mungkin dia sudah mendengar bahwa kita berada di sekitar sini. Tapi sebelum jejak kita ditemukan, mungkin masih keburu jika kita lari melalui jendela."


Segera ia tarik tangan Siau hi-ji dan mengajaknya melompat keluar jendela.


Tapi Siau hi-ji menggeleng, katanya, "Tidak bisa jadi, kalau sekarang kita lari melalui jendela, maka mereka pasti dapat menebak bahwa kita inilah orang yang mereka cari, dan kalau Siau sian-li mengejar, betapa pun kita tak mampu kabur lagi."


"Habis bagaimana baiknya?" tanya Thi Sim-lan khawatir.


"Jangan takut, aku ada akal," ujar Siau hi-ji dengan tersenyum.


Dalam pada itu dari jauh berkumandang pula suara jeritan perempuan, "Keluar, lekas keluar... kalian kawanan bangs*t, kenapa tanpa ketuk pintu terus menerobos masuk...."


"Haha, mungkin perempuan itu sedang mandi," ucap Siau hi-ji dengan tertawa, tampaknya sedikit pun dia tidak gelisah, seraya tertawa ia terus mengeluarkan sebuah kantong kain bersulam, warna sulaman itu sudah luntur, suatu tanda kantong itu sudah cukup tua.


"Apa itu?" tanya Sim-lan.


"Ini benda wasiat... kucuri dari seorang she(marga)To," tutur Siau hi-ji.


Sambil bicara ia sudah mengeluarkan isi kantong yang terdiri dari satu tumpuk barang tipis dan lunak, agak plikat, mirip kulit lumpia.


Mata Thi Sim-lan terbelalak, tiba-tiba ia tanya, "Apakah ini yang disebut kedok kulit manusia?"


"Haha, tampaknya kau juga ahli barang?" Siau hi-ji berseloroh. Lalu ia ambil dua helai dari tumpukan barang tipis tadi, katanya pula, "Lekas tanggalkan baju-luarmu, sembunyilah di bawah kolong ranjang, lalu pakailah mantelku ini setelah dibalik... sekarang julurkan mukamu ke sini."


Ketika Thi Sim-lan merasa mukanya nyes dingin dan merinding, waktu membuka mata, tahu-tahu wajah Siau hi-ji sudah berubah tua bedanya cuma tidak berjenggot.


"He, kau telah berubah menjadi kakek-kakek," mau tak mau Thi Sim-lan tertawa geli.


"Dan kau pun berubah menjadi nenek, kakek memang harus berjodohkan nenek," ujar Siau hi-ji.


Sementara itu suara orang-orang di luar sudah semakin mendekat. Namun Siau hi-ji tetap tenang-tenang saja. Lebih dulu ia mengeluarkan secomot kumis dan ditempel di atas bibir sendiri, lalu mengeluarkan pula sebotol kecil bubuk perak dan ditaburkan pada rambutnya sendiri dan rambut Thi Sim-lan, segera rambut kedua orang menjadi ubanan tampaknya.


Habis itu Siau hi-ji mengeluarkan pula beberapa pensil yang berukuran tidak sama, entah tinta apa yang dipakai, segera ia menggores-gores wajah si nona.


Dalam pada itu suara orang-orang di luar sudah makin dekat, tampaknya sudah hampir berada di depan pintu kamar mereka.


Kaki dan tangan Thi Sim-lan sudah dingin seperti es, badan juga gemetar. Namun tangan Siau hi-ji tetap bekerja dengan tenang, bahkan ia sempat mendesis, "Jangan takut, kepandaianku menyamar ini biarpun belum sempurna, tapi untuk mengelabui mereka rasanya jauh daripada cukup."


Kini tindakan orang-orang di luar sudah sampai di depan kamar mereka. Secepat kilat Siau hi-ji meringkasi barangnya, sambil menggandeng Thi Sim-lan ia berkata pula dengan suara tertahan, "Mari berangkat, melalui pintu depan".


"Pin ... pintu depan?" The Sim-lan menegas dengan kaget, saking takutnya suara pun parau.