Legendary Siblings

Legendary Siblings
14. Lelaki Sejati?



“Hm, kalau kawan-kawanmu itu sudah m*mpus, untuk apa kau hidup sendirian? Serahkan nyawamu!” baru habis ucapannya segera pula Yan Lam-thian menubruk maju dan jari tangannya yang keras laksana baja mencengkeram dada lawan.


Kim-goan-sing, si binatang kera emas itu ternyata tidak mengelak dan juga tidak melawan sama sekali.


Ketika cengkeraman Yan Lam-thian diperkeras, seketika jari-jarinya menancap ke dalam daging Kim-goan-sing.


Tapi Kim-goan-sing masih tetap berdiri tanpa merintih sedikit pun.


“Hm, tak nyana tubuhmu meski kecil ternyata juga seorang laki-laki,” kata Yan Lam-thian.


“Jika dalam keadaan biasa dapatlah ku ampuni jiwamu, tapi sekarang... Hm, apa yang akan kau katakan lagi?”


Mendadak Kim-goan-sing menengadah dan tertawa seperti orang gila, lalu berkata, “Walaupun tubuhmu gede, tapi kau pun belum terhitung seorang lelaki sejati.”


Dalam keadaan demikian, andaikan Kim-goan-sing mencaci maki Yan Lam-thian dengan kata-kata kotor dan rendah apa pun juga dapat dimengerti, namun dia justru menista bahwa Yan Lam-thian bukan seorang lelaki sejati, betapa pun makian ini membuat pendekar besar itu melengak.


“Hm, selama hidupku ini, setiap tindakanku rasanya dapat ku pertanggungjawabkan kepada dunia dan akhirat, sudah tentu banyak juga orang yang mencaci maki diriku, tapi antara baik dan jahat memang tidak mungkin berdiri bersama, maka makian apa pun yang kau lontarkan padaku tidak menjadi soal bagiku. Namun apa yang kau katakan sekarang perlu juga diketahui apa dasarnya, coba jelaskan.”


“Kalau tidak dapat membedakan antara benar dan salah, tidak tahu memisahkan antara budi dan benci, apakah orang demikian dapat dianggap sebagai lelaki sejati?”


“Hm, memangnya aku...”


Belum sempat Yan Lam-thian melampiaskan suaranya yang murka itu, dengan suara keras Kim-goan-sing lantas memotongnya, “Jika engkau adalah manusia yang tahu membedakan antara yang benar dan salah, maka engkau tidak layak membunuh diriku?”


“Mengapa tidak layak membunuhmu?” tanya Yan Lam-thian penasaran.


“Coba jelaskan dulu, sebab apa kau ingin membunuhku?” balas Kim-goan-sing bertanya.


Dengan suara bengis Yan Lam-thian berteriak, “Kang-jiteku telah...”


“Itulah dia,” kembali Kim-goan-sing memotong ucapannya, “kalau engkau membunuh diriku lantaran persoalan lain, maka aku takkan bicara apa-apa. Tapi kalau kau bunuh diriku karena urusan Kang Hong, maka itu berarti engkau tidak tahu antara budi dan benci dan tidak dapat membedakan yang salah dan yang benar.”


“Memangnya gerombolan Cap-ji-she-shio kalian menyangkal tidak pernah menewaskan Kang-jiteku?” bentak Yan Lam-thian dengan murka.


“Tidak. Pihak Cap-ji-she-shio adalah gerombolan bandit, bahwa bandit kerjanya merampok dan membunuh memang bukan rahasia lagi, maka apa yang terjadi bukanlah sesuatu dendam kesumat yang luar biasa. Yang lebih penting adalah peranan lain, yaitu orang yang menghubungi pihak Cap-ji-she-shio agar mengerjai Kang Hong, dia itulah sasaran sesungguhnya bagimu untuk menuntut balas. Dan apakah kau tahu siapa gerangan dia itu? Bukankah lucu, engkau tidak mencari musuh yang sesungguhnya, tapi malah mencari kami. Sekalipun engkau dapat membunuh habis seluruh anggota Cap-ji-she-shio juga tidak berarti engkau telah berhasil menuntut balas bagi kematian Kang Hong.”


Cara bicara Kim-goan-sing yang lancar, tegas serta berani itu membuat Yan Lam-thian yang murka itu jadi melenggong juga.


Tiba-tiba terkilas suatu pikiran dalam benaknya, bentaknya mendadak, “Mungkinkah orang yang menghubungi Cap-ji-she-shio kalian adalah si binatang kecil Kang Khim? Ya, tentang perjalanan Kang-jite hanya binatang kecil itu saja yang diberitahu dan dia pula yang disuruh menyampaikan beritanya padaku.”


Air muka Kim-goan-sing tampak rada berubah, jawabnya, “Ya, memang tepat terkaanmu. Tampaknya tidak cuma badanmu saja yang gede, tapi otakmu juga berkembang dengan baik. Kang Hong memang telah dijual oleh kacung kepercayaannya, dijual dengan harga tiga ribu tail perak, hanya tiga ribu tail perak.”


“Binatang, b*0ngsat keparat!” teriak Yan Lam-thian dengan suara serak dan beringas.


“Dan apakah kau tahu binatang itu berada di mana?” kata Kim-goan-sing pula dengan menyeringai.


“Sim Gin-hong,” cepat Yan Lam-thian berpaling kepada Congpiauthau itu, “apakah kau melihat kemana perginya binatang kecil itu?”


Mendadak Yan Lam-thian angkat tubuh Kim-goan-sing yang kecil itu dan berteriak dengan suara parau, “Kau tahu ke mana perginya, bukan? Katakan, lekas!”


“Tahu, sudah tentu kutahu ke mana perginya, kalau tidak tentu aku takkan membicarakan soal ini,” jawab Kim-goan-sing tenang-tenang tanpa gentar.


“Kemana dia? Lekas katakan!” bentak Yan Lam-thian pula.


Walaupun tubuh Kim-goan-sing diangkat ke atas, tapi sikapnya bahkan lebih tenang daripada berdiri di tanah, ia tersenyum saja dan menjawab, “Umpama tidak kukatakan, bagaimana pendapatmu?”


“Jika kau tidak mau bicara, sungguh aku kagum padamu,” ujar Yan Lam-thian sambil menatap tajam wajah orang.


Jika dia menyatakan akan membunuh, menyembelih, mencincangnya apabila Kim-goan-sing tidak mengaku, maka jelas Kim-goan-sing tak gentar sedikit pun, sebab si binatang kera itu yakin sebelum Yan Lam-thian mengetahui di mana beradanya Kang Khim tidak mungkin membunuhnya.


Tapi karena ucapan Yan Lam-thian juga luar biasa itu, mau tak mau Kim-goan-sing menjadi bergidik sendiri.


“Dan bagaimana jika kukatakan?” tanya Kim-goan-sing kemudian.


“Kalau kau mau mengaku terus terang, segera kucolok kedua biji matamu,” jawab Yan Lam-thian.


Hampir saja Sim Gin-hong menjerit heran, pikirnya, 'Pendekar besar ini mengapa tidak bijaksana begini. Kalau orang mengaku dia malah membutakan matanya. Jika demikian jelas Kim-goan-sing tak mau bicara.'


Di luar dugaan, tiba-tiba Kim-goan-sing menghela napas panjang, katanya, “Meski kehilangan mata, mendingan masih bisa hidup.”


“Nah, katakan!” desak Yan Lam-thian.


“Tapi biarpun ku katakan juga belum tentu kau berani ke sana.”


Yan Lam-thian menjadi gusar, teriaknya, “Di dunia ini tiada tempat yang tak berani didatangi orang she Yan!”


Kedua mata Kim-goan-sing meram-melek, wajahnya senyum-tak-senyum seperti orang mengejek, katanya kemudian dengan perlahan, “Kang Khim itu bukan orang t*lol, dia cukup kenal Cap-ji-she-shio bukanlah orang-orang yang mudah diajak berkomplot, ia pun tahu membunuh orang bagi kawanan Cap-ji-she-shio tiada ubahnya seperti memites seekor semut saja. Dan setelah dia terima tiga ribu tahil perak dari Cap-ji-she-shio, hah, masakah dia tidak takut kepalanya bakal berpisah dengan tubuhnya?”


“Coba lanjutkan,” kata Yan Lam-thian.


“Dia begitu berani, soalnya dia sudah mempunyai tempat tujuan untuk sembunyi, tiga ribu tahil perak itu justru akan digunakan sebagai sangu hidup, sedangkan tempat yang ditujunya itu, biarpun ke duabelas orang kawanan Cap-ji-she-shio berkumpul sekaligus juga tidak berani mendekat ke sana.”


“Hahaha!” Yan Lam-thian bergelak tertawa, “Apa kau maksudkan Ih-hoa-kiong? Haha, orang she Yan ini justru hendak ke sana.”


“Di dunia ini kan bukan cuma Ih-hoa-kiong saja yang disegani orang persilatan?”


“Habis mana lagi selain Ih-hoa-kiong?” bentak Yan Lam-thian.


“Ok-jin-kok di Kun-lun-san” jawab kim-goan-sing tegas.


Begitu mendengar nama tempat itu, serentak air muka Sim Gin-hong berubah pucat dan badan gemetar, serunya, “Yan-tayhiap, engkau... engkau jangan ke sana!”.


.