
Siau hi-ji berdiri terpaku di tempatnya, Thi Sim-lan juga mendekam di tanah tanpa berani bergerak.
"Apalagi yang hendak kau katakan?" tanya Siau sian-li pula.
Sekonyong-konyong Siau hi-ji berpaling, katanya sambil terbahak-bahak, "Hahaha, bagus, bagus! Akhirnya ketahuan juga. Tapi cara bagaimana kau mengetahui penyamaran kami ini? Bolehkah kau jelaskan?"
"Waktu kubacok dengan golok, begitu keras sehingga samberan anginnya dapat didengar oleh orang tuli sekali pun," tutur Siau sian-li sambil mengejek. "Jika kau memang kakek sialan, tentu kau akan ketakutan hingga bergulingan di lantai. dan minta ampun, mana sanggup melangkah seperti tidak pernah terjadi sesuatu."
Siau hi-ji berpikir sejenak, akhirnya ia berkata dengan gegetun, "Ya, benar juga. Kiranya kau pun seorang pintar, jauh di luar dugaanku."
"Baru sekarang kau tahu, apa tidak terlambat?" ujar Siau sian-li.
"Ah, tidak perlu kau bangga, betapa pun kau juga pernah kutipu, ketika kau menyadari apa yang terjadi kan juga sudah terlambat," kata Siau hi-ji dengan tertawa. "Coba kalau aku tidak membawa beban seorang, entah sudah sejak tadi menghilang ke mana, masakah akan kutunggu kedatanganmu?"
Siau sian-li ternyata tidak marah, ia menjengek pula, "Jika betul kau mahapintar, kini seharusnya kau mencari akal lagi untuk kabur... jika kau tidak punya akal, ini menandakan kepalamu memang tidak berguna, lebih baik dipotong saja."
"Untuk apa aku mencari akal?" ujar Siau hi-ji dengan tertawa. "Apakah kau kira aku benar-benar bukan tandinganmu jika berkelahi sungguhan? Hm, kan cuma sungkan bergebrak dengan kau seperti kata pemeo, 'lelaki sejati tidak berkelahi dengan perempuan', maka aku..."
Belum habis ucapannya, tahu-tahu telapak tangan Siau sian-li sudah menyambar tiba. Gerak serangan ini biasa-biasa saja, tapi cepat dan aneh, kalau tidak menyaksikan sendiri sungguh sukar untuk dibayangkan bahwa di dunia ini ternyata ada orang menyerang secepat ini.
Padahal waktu bicara, pandangan Siau hi-ji tidak pernah meninggalkan diri si nona dan selalu waspada kalau mendadak diserang.
Namun serangan yang jelas kelihatan ini betapa pun toh sukar dihindarkan, dia hanya sempat mendongak sedikit, tapi tidak urung mukanya terasa panas pedas, pipi tetap terserempet oleh jari si nona sehingga mukanya seketika bertambah tiga jalur merah.
Sementara itu serangan kedua Siau sian-li sudah menyusul tiba pula, cepat Siau hi-ji berteriak-teriak, "Berhenti, berhenti dulu! Lelaki tidak berkelahi dengan perempuan, berhenti!"
Siau hi-ji sudah berusaha mengikuti gaya serangan lawan secara seksama, tapi tidak terlihat sesuatu bagian yang aneh, setiap serangan dengan jelas dapat diikuti dan yakin dapat mematahkannya tapi setiap kali selalu gagal, meski sudah berbagai gerakan ia gunakan untuk mengelak, namun selalu terasa konyol dan tetap tidak mampu balas menyerang satu kali pun. Jadinya dia hanya kebagian ditonjok si nona belaka.
Thi Sim-lan sampai melenggong menyaksikan Siau hi-ji dihajar Siau-sian-li, pada hakikatnya ia tidak dapat melihat jelas gerakan serangan si nona, yang tertampak hanya bayangan merah beserta kedua tangannya yang putih, benang putih yang menyelinap ke sana-sini itu laksana cambuk, dan Siau sian-li telah dihajarnya hingga melompat ke sana dan lari ke sini, ke mana pun dia lari selalu diuber oleh cambuk itu.
Thi Sim-lan juga tidak tahu di mana letak kehebatan ilmu pukulan Siau sian-li itu, cuma cepatnya memang belum pernah dilihatnya. Tangan Siau sian-li itu seolah-olah tangan siluman, kalau tidak mana bisa secepat itu.
Siau hi-ji benar-benar kewalahan, ia merasa si nona seperti mempunyai belasan tangan, yang satu terhindar, yang lain tiba pula, sampai bernapas pun tidak sempat. Akhirnya pandangan Siau hi-ji menjadi kabur, kepala menjadi pusing, mendadak ia berteriak-teriak, "Hei, berhenti, berhenti dulu! Kau sudah terkena racunku, kau..."
Dia bermaksud menggunakan akal lama, tapi Siau sian-li tidak mau terjebak lagi dan masih terus menyerang.
Thi Sim-lan menjadi cemas, namun apa daya, tubuh sendiri terasa lemah lunglai dan tidak sanggup membantu.
Siau hi-ji sudah mandi berkeringat, kembali ia berteriak, "He, kau tidak percaya akan racunku? Tahukah kau betapa lihainya racunku ini?"
"Hm, di bawah tanganku boleh dikatakan di dunia ini tiada seorang pun yang sempat menggunakan racun pula, apalagi kau setan cilik ini, memangnya kau ingin menipu aku lagi?! Huh, jangan mimpi!" demikian jengek Siau sian-li.
"Aku tidak bohong," teriak Siau hi-ji pula. "Aku..."
"Plok," mendadak ia kena digampar dengan keras sehingga tubuhnya mencelat jatuh ke sana hingga terguling-guling.
Tak terduga, cepat sekali Siau hi-ji sudah melompat bangun pula, setelah mengusap darah yang merembes dari mulut, dengan tertawa ia berkata, "Jangan khawatir, ia takkan memukul mati diriku. Asalkan dia tak dapat memukul mati aku, maka aku pasti dapat merobohkan dia."
"Hm, bagus, aku justru ingin tahu betapa kerasnya tulangmu?!" jengek Siau sian-li. Sembari bicara ia terus menerjang maju pula dan sekaligus melancarkan beberapa kali pukulan.
Sungguh, gaya pukulan Siau sian-li itu tiada sesuatu yang istimewa dan juga tidak tergolong keji, soalnya cuma teramat cepat, begitu cepat sehingga lawan tidak diberi kesempatan sama sekali. Dan kalau lawan tidak sempat balas menyerang, lalu cara bagaimana dapat mengalahkan dia?
Siau hi-ji menggereget, ia menjadi nekat, ia pikir apa pun juga harus balas menghantam dua-tiga kali. Ia incar suatu kesempatan baik dan segera memukul dengan mati-matian.
Tak tahunya baru saja dia melancarkan pukulan, sementara itu tangan Siau sian-li sudah menutup peluang yang diincar Siau hi-ji, jadi anak muda itu baru sempat memukul setengah jalan, tahu-tahu perut sendiri sudah kena digenjot lawan malah.
Tidak ringan pukulan ini sehingga Siau hi-ji terhuyung-huyung mundur dan akhirnya jatuh terjengkang, dan tampaknya tidak sanggup bangkit lagi.
"Jangan berkelahi lagi, berikan saja barang itu!" seru Thi Sim-lan dengan nada memohon.
Tak terduga, setelah berjumpalitan di tanah mendadak Siau hi-ji melompat bangun pula. Mukanya tampak matang biru, tapi dia tetap melakukan perlawanan.
"Kecuali dapat mematikan aku, kalau tidak, tetap kulawan," demikian ucapannya sambil menyeringai.
"Kau kira aku tidak dapat membinasakan kau?!" bentak Siau sian-li dengan gusar. Habis berkata, kembali beberapa kali pukulan dilontarkan pula.
Sekali ini Siau hi-ji tidak berpikir lagi akan balas memukul, dia hanya berharap dapat bertahan saja, ia mainkan kedua kepalan dengan cepat sehingga pertahanannya sangat ketat.
Siapa duga, serangan Siau sian-li justru dapat menembus garis pertahanan Siau hi-ji itu, pukulan demi pukulan masih terus susul menyusul dan akhirnya pertahanan Siau hi-ji menjadi bobol.
"Celaka!" jerit Thi Sim-lan khawatir.
Benar saja, di tengah pekik nyaring nona itu, tahu-tahu Siau hi-ji sudah terpukul mencelat pula dan terguling-guling di sana.
"Sudahlah kumohon, kau... kau bukan tandingannya, dia teramat cepat!" ucap Sim-lan dengan gemetar.
Tapi Siau-hi-ji sudah berdiri kembali, biarpun meringis kesakitan, dia masih siap tempur, katanya, "Justru dia terlalu cepat, makanya tidak mampu memukul mati aku... pukulannya teramat cepat, kekuatannya menjadi tidak keras, masakah kau tidak paham teori ini?!"
Air muka Siau sian-li berubah juga, sungguh tak terkira olehnya bahwa si setan cilik ini sedemikian bandel dan masih mampu berdiri pula, padahal ia tahu pukulan sendiri sebenarnya cukup keras.
Kalau orang lain, setelah mengalami tiga kali pukulan tadi, andaikan tidak m*mpus sedikitnya juga sekarat, tapi setan cilik ini bukan saja mampu berdiri kembali, bahkan melakukan serangan balasan lebih dulu.
Siau sian-li menjadi geregetan akhirnya, katanya, "Baik, tulangmu memang keras, aku justru ingin tahu sampai di mana kerasnya!"
Begitulah serangan Siau sian-li bertambah gencar dan cepat, sebaliknya perlawanan Siau hi-ji semakin lamban.
Berulang-ulang anak muda itu "knock out", tapi begitu roboh segera ia merangkak bangun, begitu menggeletak cepat ia bangkit pula.