Legendary Siblings

Legendary Siblings
80. Hidangan Gratis



Berpikir sampai di sini, dengan mendongkol Siau-hi-ji lantas mencaci maki pula, "Sungguh budak setan lebih busuk daripada kentut, bahkan lebih jahat daripada ular berbisa. Sungguh terpuji kalian telah membakar rumahnya, siapa yang pertama kali membakarnya, aku harus mentraktir dia minum dua cawan besar."


Dengan tertawa si sapi menanggapi, "Meski yang membakar bukan kami, tapi kita juga boleh..."


"Benar, kita boleh minum barang beberapa cawan. Ah, beberapa ratus cawan juga boleh," seru Siau hi-ji dengan tertawa. "Marilah kita berangkat, sembari berjalan sambil minum, akan kubawa kalian menemui Li Toa-jui, jika terlihat anak dara yang menarik dalam perjalanan, kita dapat pula... hahaha, dapat apa tentunya kau sudah tahu sendiri bukan?"


"Haah, bagus, bagus!" sambut si sapi sambil berkeplok gembira.


"Dan kau bagaimana, bandot tua?" tanya Siau hi-ji.


"Untuk ini, aku... Cayhe..." si kambing terbata-bata.


"Tidak soal bila kau tidak mau ikut," ujar Siau hi-ji.


"Nanti kalau bertemu dengan kakak Toa-jui akan kukatakan bahwa kau ada urusan lain dan tidak ingin menemuinya."


"Siapa bilang aku tidak mau ikut pergi? Sapi, kaukah yang bilang begitu?" teriak si kambing.


Lalu ia dorong si sapi dan menambahkan, "Ayolah berangkat, tunggu apalagi?"


***


Begitulah mereka bertiga lantas berangkat bersama, sambil berjalan sembari minum arak.


Tiba-tiba Siau hi-ji menemukan dirinya sendiri dalam hal minum arak ternyata juga berbakat, seakan-akan tak pernah mabuk biarpun minum betapa pun banyak.


Terkadang ia pun heran, ke mana larinya arak yang masuk perutnya itu? Padahal ia sudah teliti perutnya sendiri yang berukuran tidak lebih besar daripada perut orang lain.


Si kambing dan si sapi ternyata tunduk munduk-munduk kepada segala kehendak Siau hi-ji, makan, minum, tidur, sama sekali anak muda itu tidak perlu pusing kepala, semuanya disediakan dan diatur oleh kedua orang itu dengan baik dan lengkap.


Mau berhenti atau mau terus berangkat, si kambing dan si sapi juga menurut saja, bahkan sama sekali tidak pernah tanya ke mana anak muda itu hendak pergi.


Bahwa dua gembong dari Cap-ji-she-shio yang terkenal buas itu mau tunduk kepada seorang anak kecil seperti Siau hi-ji sungguh sama sekali sukar dibayangkan orang.


Dengan sendirinya sepanjang jalan mereka pun sering bertemu dengan tokoh-tokoh Kangouw, kebanyakan memberi hormat dari kejauhan lalu menyingkir pergi dengan cepat, ada juga yang tidak kenal mereka, tapi demi nampak bentuk si kambing dan si sapi yang aneh itu, lekas saja sama menghindar dan tiada yang berani mencari perkara kepada mereka.


Namun sesudah melintasi Kiam bun koan (gerbang tembok besar di ujung barat), tiba-tiba Siau hi-ji merasakan adanya perubahan, ada sebagian orang cepat menyingkir pergi jika kepergok mereka, tapi ada sebagian pula yang diam-diam mengintil di belakang mereka.


Kemana mereka pergi, ke situ pula orang-orang itu mengikut. Sikap setiap orang sangat menghormat, tidak bicara juga tiada tanda-tanda hendak menyatroni mereka.


Siau hi-ji coba mengawasi si kambing dan si sapi, air muka mereka juga tenang-tenang saja tanpa berubah, seakan-akan tidak pernah melihat sesuatu yang ganjil, maka Siau hi-ji juga tidak mau bicara.


Petangnya mereka sampai di Kiam-kok, mereka mendapatkan sebuah hotel dan bermalam di situ.


"Arak keras berlauk-pauk ayam cabai, walau pasti mandi keringat, namun makin dimakan makin nafsu," ucap Siau hi-ji.


"Cocok, arak keras berlauk-pauk ayam cabai, sungguh nikmat," teriak si sapi sambil tertawa.


Sudah biasa, asalkan Siau hi-ji buka mulut, maka si kambing dan si sapi segera menyiapkan apa yang dikehendaki anak muda itu.


Tapi aneh, sekarang meski kedua orang itu sudah bersorak menyatakan setuju, tapi mereka diam saja tanpa bergerak.


Setelah menunggu sejenak, Siau hi-ji berkata pula, "Kalau cocok, mengapa tidak lekas kalian sediakan."


"Tidak kalian sediakan, memangnya aku yang harus menyediakan?" kata Siau hi-ji.


"Masa kami berani membikin repot engkau," ujar si kambing.


"Habis kalau kita tidak mengambilnya sendiri dan juga tidak pesan pelayan, apakah arak dan ayam goreng itu akan jatuh dari langit atau tumbuh dari bawah bumi?" kata Siau hi-ji.


"Sabar sebentar, lihat saja nanti," ucap si sapi dengan tertawa.


Siau hi-ji tidak berkata pula, ia mondar-mandir di dalam ruangan, sejenak kemudian terdengar pintu diketuk, cepat ia membuka pintu, ternyata tiada bayangan seorang pun, tapi di lantai terdapat sebuah baki besar berisi satu porsi kari ayam, satu porsi daging rebus, satu porsi jerohan babi, satu mangkuk besar kuah ayam, ada pula satu poci arak.


Mata Siau hi-ji berkedip-kedip, katanya kemudian, "He, kiranya kalian ini mahir ilmu gaib menyuruh setan mengantar barang."


"Ini bukan ilmu gaib suruh setan mengantar barang, tapi suruh anak cucu mengantar santapan," ujar si sapi dengan tertawa.


"O," Siau hi-ji bersuara singkat.


"Apakah engkau sudah melihat orang-orang yang mengintil di belakang kita sepanjang jalan itu?" tanya si kambing.


"Haha, kukira kalian tidak tahu ada pengikut sebanyak itu," jawab Siau hi-ji dengan tertawa.


"Masakah kami tidak tahu," kata si sapi. "Justru bocah-bocah itulah anak cucu yang taat dan berbakti kepada kami."


"Kiranya mereka itu adalah anak murid kalian," kata Siau hi-ji.


"Anak murid kentut anjing, bahkan kenal saja tidak," ucap si sapi.


"Aneh, kalau tidak kenal, mengapa mereka mengintil di belakang kalian?" tanya Siau hi-ji.


Dengan tertawa si sapi menutur, "Setiap orang Kangouw tahu bila Cap-ji-she-shio berada dalam perjalanan, maka di sana pasti ada jual-beli besar, sedangkan kawanan anak cucu itu tidak berani jual-beli sendiri, mereka selalu mengintil saja di belakang kami, soalnya Cap-ji-she-shio biasanya cuma mengambil benda mestika, emas perak tidak disukai, maka anak cucu yang mengintil di belakang itu sedikit banyak akan kebagian rezeki sampingan."


"Ya, makanya ke mana perginya Cap-ji-she-shio kami, ke situ pula kami selalu disambut dengan hormat," sambung si kambing. "Dan kalau ada keperluan apa-apa, segera mereka menyiapkan bagi kami, bila terjadi sesuatu, tanpa kami mencari tahu mereka pun akan memberi laporan."


"Haha, pantas Cap-ji-she-shio jarang bergerak keluar, tapi kalau sudah bergerak sekali tembak tentu kena, rupanya kalian mempunyai pengikut anak cucu sebanyak itu yang sama sekali tidak diketahui orang luar," kata Siau hi-ji dengan kagum.


"Akan tetapi sekali ini mereka telah tertipu," kata pula si sapi, "Bahkan mereka telah banyak berkorban secara sia-sia, seperti menimpuk anjing dengan daging, umpan hilang hasil nihil, jangankan untung, modal saja takkan kembali."


"Tapi semua itu mereka lakukan secara sukarela, kami pun menikmatinya tanpa sungkan-sungkan, kan bukan salah kita," sambung si kambing dengan bergelak.


Perjalanan mereka selanjutnya sudah tentu terlebih senang, tak peduli apa kehendak mereka, asalkan mereka bicara rada keras, hanya sebentar saja segera diantarkan orang.


Setelah melintasi Kiam-bun-koan, Siau hi-ji tidak mengarah ke timur lagi, tapi malah berbelok ke barat daya, dengan melalui kota-kota Liongcoan, Baysan, tampaknya seperti hendak menuju ke Gobi yang terletak di wilayah Sujwan.


Pemandangan alam daerah Sujwan memang indah permai dan berbeda jauh dengan suasana di daerah terpencil di luar tembok besar sana.


Siau-hi-ji sangat gembira, apalagi makanan dan minuman Sujwan sangat mencocoki seleranya sehingga membuatnya tidak habis memuji.


Sampai di Gobi, sedikit si sapi dan si kambing lengah, tahu-tahu Siau hi-ji telah mengeluyur pergi sendirian, sampai tengah malam buta barulah dia pulang ke tempat pondokan.


Si sapi dan si kambing juga tidak menegurnya ke mana perginya anak muda itu, Siau hi-ji sendiri juga tidak bicara.


Esoknya ia pun tidak menyatakan berangkat, tapi petangnya ia mengeluyur pergi pula.