Legendary Siblings

Legendary Siblings
8. Kedai Arak



“Aku? Ya, hanya Cici dan aku. Tapi usul ini datangnya dariku, masakah akan kukatakan kepada orang lain? Apalagi Cici kan kenal watakku, kejadian yang bakal sangat menarik masakah takkan kuikuti dengan seksama?”


Kiau-goat termenung sejenak, katanya kemudian sambil mengangguk, “Ya, benar juga. Di dunia ini mungkin hanya kau yang mempunyai jalan pikiran seaneh ini. Dengan gagasanmu ini, kukira kau pun takkan membocorkan rahasia ini kepada siapa pun.”


“Gagasan ini selain aneh juga pasti sangat berguna,” ujar Lian-sing dengan tertawa.


“Yang paling lucu adalah mereka sebenarnya saudara kembar, tapi kini satu sudah terluka mukanya, kalau sudah besar kelak bentuk wajahnya pasti akan berbeda. Tatkala mana di dunia ini siapa yang menyangka bahwa kedua musuh yang tak terleraikan ini sebenarnya adalah sekandung, bahkan saudara kembar.”


Sementara itu anak yang terluka tadi sudah berhenti menangis, agaknya orok itu pun ketakutan dan ngeri oleh muslihat keji yang timbul dari dendam kesumat dua orang perempuan cantik ini.


Kedua matanya yang kecil itu terbelalak cemas seakan-akan sudah dapat membayangkan macam-macam siksa derita yang akan dialaminya pada masa mendatang nanti.


Kiau-goat memandang kedua orok itu sambil bergumam, “Belasan tahun lagi, ya mungkin harus dua puluh tahun lagi, kita harus menunggu sekian lamanya.”


“Walaupun cukup lama harus kita tunggu, tapi untuk balas dendam selain cara ini kiranya tiada jalan lain lagi. Asalkan kita berhasil melampiaskan sakit hati, apalah artinya belasan ataundua puluh tahun?”


Kiau-goat menghela napas panjang penuh menyesal, katanya, “Ya, kecuali dendam kesumat yang merasuk tulang ini, di dunia ini rasanya tiada persoalan lain yang dapat membuatku menunggu sekian lamanya.”


*****


Sebuah jalan batu yang tersapu bersih dengan beberapa rumah yang resik dan sederhana, wajah penghuni rumah-rumah itu pada umumnya tampak ramah dan baik-baik. Inilah sebuah kota kecil, sangat kecil.


Sinar sang surya memancari jalan satu-satunya di kota kecil ini, sebuah panji kain hijau lusuh tampak terpancang pada satu-satunya kedai arak dengan tulisan 'Thay-pek-ki' atau kedai Li Thay-pek (penyair termasyhur pada jaman Tang dan terkenal gemar minum arak).


Sudah biasa kedai kecil ini sepi melulu, si pelayan malahan sedang mengantuk dengan mendekap di atas meja. Memang ada juga tamunya, di meja sebelah sana duduk sendirian seorang tamu. Tapi si pelayan malas melayani tamu demikian ini.


Sudah beberapa hari tamu ini selalu datang minum arak, tapi selain minta satu poci arak murahan, nyamikan atau makanan kecil saja tidak mau keluarkan sepeser lebih, apalagi daharan yang lezat-lezat.


Maklumlah, tamu ini sesungguhnya terlalu miskin, begitu miskin sehingga sepatu rumput butut yang dipakainya itu sudah hampir bolong seluruhnya. Namun dia sama sekali tidak merasa rendah harga diri, dia duduk bersandar dinding sambil berlipat kaki dan menikmati araknya, tubuhnya yang kekar itu laksana harimau kumbang yang kemalas-malasan.


Poci arak di depannya sementara itu sudah kosong, tampaknya orang itu pun sudah mabuk, cahaya matahari yang menyorot dari luar jendela itu menyinari wajahnya yang kelihatan kepucat-pucatan dengan jenggot yang pendek, kedua alisnya yang tebal dengan tulang pipinya yang menonjol itu tampak menambah angkernya.


Dengan sebelah telapak tangannya yang kurus tapi lebar itu dia menutupi mukanya, tangan yang lain memegang sebatang pedang karatan, akhirnya dia mendengkur, tertidur.


Waktu itu baru lewat lohor, kota kecil yang sunyi itu tiba-tiba menjadi riuh oleh berdetaknya kaki kuda lari, beberapa penunggang kuda tampak datang dan berhenti di depan kedai arak itu.


Beberapa lelaki kekar dengan baju sutera serentak melompat turun dan masuk kedai arak itu sehingga kedai sekecil itu seketika seakan-akan menjadi penuh sesak.


Pinggang laki-laki paling depan bergantung pedang, sikapnya berseri-seri seperti orang baru mendapat rezeki sehingga lubang-lubang pada mukanya yang burik pun seakan-akan bercahaya.


Begitu dia melangkah masuk kedai, serentak dia bergelak tertawa dan berolok-olok, “Hahaha, kedai butut begini juga pakai nama Thay-pek-ki.”


Lelaki di belakangnya bermuka bulat dengan perut buncit, juga membawa pedang, potongannya lebih mirip saudagar dari pada jago silat.


Dengan tertawa ia menanggapi ucapan kawannya tadi, “Lui-lotoa, engkau salah. Meski syair Li Thay-pek bernilai tinggi, tapi dia tetap rudin dan cocok bertempat tinggal di kedai buruk begini.”


Lalu ia berteriak-teriak memanggil pelayan, “Hai, pelayan, bawakan arak dan daharan paling lezat, cepat!”


Setelah menenggak arak, senda-gurau beberapa orang itu semakin riuh seakan-akan anggap dunia ini mereka punya dan menyepelekan orang lain.


Keruan lelaki kekar yang mengantuk di pojok sana berkerut kening, mendadak ia duduk menegak sambil mengulet kemalas-malasan dan bergumam, “Wah, bau busuk, dari mana datangnya bau busuk ini....” sekonyong-konyong ia pun menggebrak meja dan berteriak, “Pelayan, tambahkan araknya!” Suaranya yang menggelegar itu membikin beberapa orang yang baru datang itu berjingkat kaget.


“Sabar dulu, Congpiauthau sudah hampir tiba, buat apa kita mencari gara-gara.”


Lui-lotoa mendengus dan duduk kembali, setelah menenggak araknya, lalu berkata pula, “He, Sun-losam, apakah betul tempat ini yang dimaksud oleh Congpiauthau, kau tidak salah dengar?”


“Tanggung tidak salah, “jawab Sun-losam, si kurus kecil tadi.


“Kan Ci-jiko sendiri juga dengar.”


Si lelaki muka bulat menukas, “Ya, benar, memang tempat ini yang dimaksudkan. Konon beliau ingin menemui seorang ksatria besar, maka kita disuruh membawa kadonya menunggu di sini.”


“Apakah kau tahu siapa yang hendak ditemui Congpiauthau kita?” tanya Lui-lotoa.


“Sudah tentu kutahu,“ ujar orang yang disebut Ci-jiko tadi, lalu dengan suara tertahan ia menyebut nama seseorang.


“Hah! Jadi dia yang dimaksudkan? Masakah beliau sudi datang ke tempat kecil ini?”


“Jika beliau tidak sudi datang, buat apa Congpiauthau datang ke sini.”


Sikap beberapa orang itu lantas prihatin demi mengetahui siapa yang hendak ditemui pemimpin mereka, walaupun masih tetap berkelakar, tapi suaranya tidak berani lagi keras.


Lalu mereka pun bicara mengenai ksatria besar yang dimaksudkan itu, konon pedang sakti ksatria besar itu dapat memotong besi seperti merajang sayur, di malam hari bercahaya seperti sinar lampu.


“Memang, kalau saja tiada pedang sehebat itu mana mungkin hanya sekejap saja kepala kawanan Setan Im-san itu terpenggal seluruhnya?”


“Ya, bukan saja ilmu pedangnya maha sakti, bahkan Ginkangnya juga mahahebat. Nah, bayangkan, betapa tingginya tembok benteng kota Pakkhia, dengan sekali loncat beliau sanggup melintasinya.”


“Masakah benar?” si Lui-lotoa melelet-lelet lidah.


“Mengapa tidak benar?” ujar Ci-loji. “Konon petangnya dia habis minum di kota Pakkhia, tapi sebelum fajar dia sudah berada di Im-san, kawanan Setan Im-san baru melihat berkelebatnya sinar pedang dan kepala mereka pun terpenggal satu persatu... He, konon sinar pedangnya terlihat hingga ratusan li jauhnya, sungguh luar biasa!”


Lelaki miskin yang duduk di pojok sana juga sedang menggosok-gosok pedangnya yang karatan itu, lalu menenggak araknya, mendadak ia bergelak tertawa dan berseru, “Hahaha! Di dunia ini mana ada orang macam begitu! Mana ada lagi pedang begitu?”


Kembali si Lui-lotoa naik pitam, ia menggebrak meja dan berteriak, “Siapa itu yang bicara? Lekas kemari jika ingin kutonjok kepalamu?”


Lelaki rudin itu seperti tidak memperhatikan ancaman Lui-lotoa, ia masih menggosok pedangnya yang karatan dan menenggak araknya seakan-akan ucapan tadi bukan keluar dari mulutnya.


Lui-lotoa tidak tahan lagi, segera ia hendak memburu ke sana, tapi lagi-lagi ia dicegah Ci-loji.


Ia mengedipi Lui-lotoa agar duduk kembali, lalu ia sendiri mendekati lelaki rudin itu dan menyapa, “He, kawan, tampaknya kau pun berlatih pedang, makanya merasa penasaran ketika mendengar kelihaian ilmu pedang orang lain. Tapi apakah engkau tahu siapakah gerangan tokoh yang kami bicarakan itu?”


Dengan kemalas-malasan lelaki rudin itu menengadah, tanyanya sambil menyeringai, “Siapa?”


.


.


.


.