Legendary Siblings

Legendary Siblings
88. Didalam Gua



Tio Coan-hay menyengir, jawabnya, "Sudah lama tak berjumpa, tampaknya engkau masih tetap cantik."


"Terima kasih," kata si Swat hoa-to dengan tersenyum manis. "Sungguh tak terduga kita akan bertemu di sini. Rasanya sudah sebelas tahun... ah, malah sudah hampir dua belas tahun kau tidak mencari diriku, memangnya kau hanya berpikir tentang nama dan harta saja dan tidak memikirkan urusan lain?"


Tio Coan-hay berdehem-dehem beberapa kali, jawabnya dengan kikuk, "O, aku... aku..."


"Hahaha, bagus, bagus!" si baju hitam alias pedang naga sakti Pang Thian-ih mendadak mengejek, "Kiranya kekasih lama bertemu kembali. Tapi biarpun Liu Giok-ju ditambah lagi seorang Tio Coan-hay juga aku Pang Thian-ih tidak gentar."


Merasa sudah mendapatkan bala bantuan, Swat hoa-to Liu Giok-ju hanya mendengus saja dan tidak pedulikan olok-olok Pang Thian-ih itu, dia mengerling ke arah Siau hi-ji yang berdiri di sisi Tio Coan-hay dan berkata, "He, apakah kau membawa muridmu? Mengapa bentuknya seaneh ini?"


"Bu... bukan," jawab Tio Coan-hay dengan tergagap, "Inilah Giok... Giok-locianpwe."


Seketika mata Liu Giok-ju melotot heran. "Giok-locianpwe?" ia menegas.


"Ya," kata Tio Coan-hay. "Kim leng sam-kiam, Hwe pian-hok, Niau thau-eng dan Pek coa sin-kun yang menggeletak di sini semuanya binasa di tangan Giok-locianpwe ini."


Keterangan ini bukan saja membikin Liu Giok-ju terkejut, bahkan Pang Thian-ih juga kaget, serentak mereka menyurut mundur dua-tiga tindak, mereka mengamat-amati Siau hi-ji dengan ragu-ragu sambil menggenggam erat senjata masing-masing.


Diam-diam perut Siau hi-ji hampir meledak saking gelinya, tapi lahirnya dia tenang-tenang saja.


Bahkan dia sengaja menegur, "Apakah nona Liu juga memiliki peta harta karun?"


"Ehm," Liu Giok-ju mengangguk.


Sorot mata Siau hi-ji beralih ke arah Pang Thian-ih dan bertanya pula, "Dan kau?"


"Kalau tiada peta wasiat, cara bagaimana dapat kutemukan tempat ini," jawab Pang Thian-ih dengan dingin.


Gemerlap sinar mata Siau hi-ji, katanya pula, "Sampai saat ini, peta harta karun sudah muncul enam helai. Sungguh lucu, satu harta karun enam peta, benar-benar aneh."


Mendadak Pang Thian-ih angkat pedangnya dan berteriak, "Tak peduli berapa orang yang datang kemari, kalau sudah mati semua, sisa orang terakhir, dialah majikan harta karun ini."


"Hm, jika kau ingin m*mpus saat ini juga pasti tiada yang keberatan," kata Siau hi-ji acuh. "Tapi apakah kau tidak mati penasaran apabila tempat penyimpanan harta karun itu belum pernah kau lihat barang sekejap saja?"


Pang Thian-ih melengak, tanpa terasa pedangnya diturunkan kembali.


"Ucapan Giok-locianpwe memang benar," kata Tio Coan-hay. "Apa pun juga kita harus melihat buktinya dulu, kalau sudah jelas ditemukan harta karunnya barulah kita saling labrak mati-matian."


"Ehm, mendingan pandangan Congpiauthau kita ini," ucap Siau hi-ji dengan tertawa.


Lalu ia mendahului melangkah ke dalam gua, tapi baru saja beberapa langkah, tiba-tiba ia menoleh dan berkata kepada Tio Coan-hay, "Eh, tolong periksakan apakah di dalam baju Pekcoa sin-kun itu terdapat barang apa-apa."


Benar juga, dari saku baju Pekcoa sin-kun ditemukan tiga buah kotak kecil buatan kayu cendana.


Bentuk tiga kotak itu serupa, cuma masing-masing ditempeli secarik kertas kecil, yang satu tertulis 'Bi-hun' (bius), yang kedua 'Kay-tok' (penawar racun) dan yang ketiga jelas tertulis 'Coaliang' (makanan ular).


Sungguh girang Siau hi-ji tak terkatakan setelah menerima kotak-kotak itu, hampir saja ia berjingkrak kegirangan.


Ia tahu dengan kotak makanan ular itu pasti dapat memancing pergi semua ular yang bersarang di tubuhnya itu.


Tapi setelah ia pikir, ia ambil keputusan untuk sementara takkan mengutik-ngutik kawanan ular itu, maka kotak itu hanya di masukkannya ke dalam baju saja.


Rupanya tiba-tiba ia temukan suatu resep mujarab untuk menggertak orang, yaitu dengan menggunakan ular-ular hijau itu.


Pada saat ini, detik ini, dia memang perlu main gertak pada beberapa orang itu.


Gua itu ternyata sangat dalam, bahkan berlekuk-lekuk dengan hawa dingin menyeramkan.


Siau hi-ji berjalan paling depan diikuti Tio Coan-hay yang mengangkat obor, Liu Giok-ju sengaja membiarkan Pang Thian-ih berjalan di depan. Tapi orang she Pang itu tak gentar, dengan pedang terhunus ia terus mengintil di belakang Tio Coan hay.


Tidak lama, tiba-tiba gua itu meluas, suasana menjadi terang dengan cahaya beraneka warna, banyak batu-batu berwarna aneh memenuhi dinding gua.


Di situ tertancap dua obor besar dan di bawah cahaya obor terlihat ada lima orang, yang tiga berdiri dan dua lagi duduk bersila berhadapan, empat tangan mereka saling menempel, kiranya sedang mengadu tenaga dalam.


Kedua orang yang bertanding itu seorang adalah Hwesio berjubah dan yang lain seorang tua kurus kering.


Rupanya kedua orang sudah cukup lama mengadu tenaga, biji mata keduanya tampak melotot dan butiran keringat memenuhi dahi masing-masing.


Ketiga orang yang berdiri di samping pun tampak prihatin dan tegang. Meski Siau hi-ji berempat sudah mendekati mereka, tapi ketiga orang itu seperti tidak ambil pusing.


Waktu Siau hi-ji menoleh, dilihatnya air muka Tio Coan-hay, Liu Giok-ju dan Pang Thian-ih sama berubah pucat, agaknya mereka kenal kelima orang ini, bahkan pasti merasa ngeri kepada mereka.


Tampaknya baik ilmu silat maupun nama kelima orang itu pasti jauh di atas Tio Coan-hay bertiga.


"Aneh, mengapa kelima makhluk aneh ini pun datang ke sini?" demikian Tio Coan-hay bergumam sendiri.


"Seorang kalau dijuluki makhluk aneh, rasanya pasti cukup terkenal," ujar Siau hi-ji.


"Bukan cuma terkenal, bahkan disegani," tukas Tio Coan-hay. "Pernahkah Cianpwe mendengar Eng jiau-kang keluarga Ong di daerah Hwaylam? Ilmu cakar elang sakti mereka ini sudah sangat terkenal di dunia Kangouw sejak 70 tahun yang lampau."


"Ya, pernah kudengar," kata Siau hi-ji.


"Orang tua kurus kecil itulah tokoh utama Eng jiau-bun sekarang," tutur pula Tio Coan-hay. "Namanya Ong It-jiau berjuluk 'Sijin-ji keh' (memandang orang seperti ayam)."


"Sijin-jikeh? Sungguh aneh, terhitung nama apakah ini?" kata Siau hi-ji.


"Dia sendiri yang memilih nama begitu," kata Tio Coan-hay dengan menyengir. "Artinya, tidak peduli siapa pun juga dalam pandangannya tidak lebih hanya seperti anak ayam belaka. Elang menyambar anak ayam biasanya kan cuma sekali cengkeram saja?"


"Hm, aneh sekali namanya, besar amat nadanya..." jengek Siau hi-ji. Waktu ia berpaling ke arah Hwesio jubah kuning, dilihatnya tubuh paderi itu sangat kekar, sama-sama duduk, tapi satu kepala lebih tinggi daripada si kakek yang bernama Ong It-jiau alias Sijin-jikeh.


Kini keempat tangan kedua orang itu saling menempel sehingga Ong It-jiau sendiri mirip anak ayam di bawah cakar si elang.


Siau hi-ji menjadi geli, ia coba tanya Tio Coan-hay dengan perlahan, "Menurut kau siapa di antara kedua orang ini yang lebih mirip anak ayam?"


Tio Coan-hay merasa geli juga, tapi tidak berani tertawa sehingga lebih tepat dikatakan menyengir.


Dia berdehem untuk menutupi rasa kikuknya itu, lalu berkata, "Paderi jubah kuning ini adalah Ui-keh Taysu (pendeta agung ayam kuning) dari Keh bing-si di Ngo tay-san."


Siau hi-ji bergelak tertawa saking gelinya, katanya, "Yang mirip anak ayam justru menganggap dirinya elang, yang menyerupai elang justru bernama ayam. Tampaknya kedua orang ini memang dilahirkan untuk menjadi musuh satu sama lain. Entah mereka..."


"Tutup mulut?" mendadak seorang membentak.


Suaranya tidak terlalu keras, tapi terasa memekak telinga.


Kiranya yang membentak adalah salah seorang kakek berbaju biru yang berdiri di samping itu, dia membentak tanpa menoleh, perhatiannya terarah kepada Ong It-jiau dan Ui-keh Taysu yang sedang mengadu tenaga dalam.


"Orang macam apa pula bocah ini?" ucap Siau hi-ji dengan lagak jagoan.