
Mendadak dilihatnya Yan Lam-thian mengeluarkan dua potong perak dan dilemparkan ke atas meja sambil berseru, “Pergi membelikan barang untukku.”
“Toaya ingin... ingin membeli apa?” tanya si pelayan.
“Peti mati! Dua buah peti dari kualitas yang paling bagus!”
Pelayan itu berjingkat saking kagetnya hingga hampir jatuh terjungkal, mulutnya ternganga hingga sekian lama tidak sanggup bersuara, hampir-hampir ia tidak percaya kepada telinganya sendiri.
Tiba-tiba Yan Lam-thian menggebrak meja perlahan sehingga kedua potong perak tadi mencelat, tapi dengan tepat justru mencelat ke dalam saku si pelayan.
Lalu bentaknya pula, “Peti mati, kau dengar tidak? Dua buah peti mati dari kualitas yang paling bagus”
“Ya ... ya, dengar ....” sahut si pelayan tergopoh-gopoh.
“Kalau sudah dengar, kenapa tidak lekas pergi?!” kata Yan Lam-thian.
Seperti melihat setan saja segera pelayan itu berlari pergi.
Setelah Yan Lam-thian menghabiskan araknya yang ketiga puluh dua mangkuk, si pelayan tampak kembali dengan mengangkut dua buah peti mati yang dipesan tadi.
Cekatan dan pintar juga cara kerja si pelayan, ia pun tahu bilakah harus menurut perintah orang dan ke mana harus mengerjakan tugasnya dengan baik, dalam waktu sesingkat itu dia sudah mendatangi perusahaan peti mati yang terbagus.
Dengan mata merah Yan Lam-thian mengeluarkan jenazah Kang Hong dan Hot Goat-loh dari keretanya yang diseret datang tadi, kedua sosok mayat itu dimasukkannya ke dalam peti mati.
Semuanya itu dikerjakannya dengan tangan sendiri. Maklumlah, ia tidak ingin orang lain menyentuh lagi seujung rambut saudara angkat bersama kekasihnya itu.
Habis itu, dengan tangan telanjang Yan Lam-thian mulai memantek tutup peti mati. Pada umumnya paku pemantek peti mati cukup besar, tapi sebuah demi sebuah Yan Lam-thian memantekkan paku itu ke dalam papan peti mati yang tebal itu dengan jari tangannya tanpa susah payah, mirip lidi yang dicobloskan ke dalam tahu saja.
Keruan si pelayan tambah melongo, ia menjadi bingung apakah yang dilihatnya sekarang ini manusia, malaikat atau setan?
Menghadapi peti mati yang sudah selesai dipantek itu, kembali Yan Lam-thian menghabiskan tujuh-delapan mangkuk arak. Dia tidak meneteskan air mata, tapi wajahnya tampak jauh lebih sedih daripada seorang yang menangis.
Sambil memegangi arak mangkuk terakhir, Yan Lam-thian berdiri termangu-mangu hingga
lama sekali, terpaksa si pelayan mengiringnya berdiri tanpa berani bersuara.
Akhirnya Yan Lam-thian berkata dengan perlahan, “Jite, kuingin engkau mendampingi aku agar engkau dapat menyaksikan sendiri ku binasakan musuhmu seorang demi seorang!”
***
'Jian-li-hiang', itulah tiga huruf emas yang tertatah pada sebuah papan merek di jalan raya kota Thay-goan di propinsi Soasay, cahaya sang surya pada waktu senja masih mencorong dengan gemilangnya sehingga tiga huruf emas merek dagang itu pun memantulkan sinarnya yang gemerlapan.
“Jian-li-hiang” atau harum seribu li, ini adalah benar-benar merek dagang emas, setiap penduduk propinsi Soasay kenal nama perusahaan dagang ini, bahwa bahan wewangian produksi Jian-li-hiang adalah barang tulen, murni, tiada kadar campuran sedikit pun.
Menjelang maghrib, belasan pegawai toko Jian-li-hiang sedang makan malam, orang berlalu lalang di jalan raya, itulah saatnya paling ramai bagi orang berbelanja, berjalan-jalan atau melihat-lihat.
Tentu saja pegawai toko wewangian itu kaget dan gusar pula, serentak mereka mengerubut maju. Tapi sekali pengendara kereta itu melompat turun, entah dengan cara bagaimana, tahu-tahu belasan pegawai toko itu merasa badan kaku kesemutan, lalu tak mampu bergerak lagi.
Dengan melongo mereka menyaksikan lelaki kekar pengendara kereta itu mengambil rempah-rempah wewangian seguci demi seguci dan dijejalkan ke dalam kedua peti mati yang berada di atas kereta.
Sejenak kemudian lelaki kekar itu menghalau keretanya keluar dari toko dengan cepat sambil berteriak,.“Setengah jam lagi kalian akan pulih seperti biasa, tentang harga wewangian yang kuambil ini, kelak pasti ku bayar dengan harga lipat!”
Banyak juga orang ramai menyaksikan kejadian itu, tapi setiap orang sama terpengaruh oleh sikap garang dan kereng lelaki itu sehingga tiada seorang pun berani merintanginya.
Sore hari, ladang semangka di tepi jalan mengeluarkan bau sedap semangka yang sudah waktunya dipanen. Seorang wanita petani muda tampak duduk kemalas-malasan berteduh di bawah pohon di tepi ladang semangka.
Baju wanita petani muda itu setengah tersingkap sehingga jelas kelihatan buah dadanya yang lebih bernas daripada semangka di ladang. Wanita muda itu sedang menyusui bayi dalam pangkuannya dengan air teteknya yang terlebih manis daripada air semangka.
Angin meniup silir-silir membuat wanita muda itu mengantuk. Dalam keadaan setengah tertidur itu ia seperti merasakan ada sepasang mata yang sedang mengincar dadanya yang montok itu.
Di kampung petani itu juga tidak sedikit pemuda bajul buntung, sehari-harinya dia sudah biasa dipandangi orang. Maklum biarpun wanita petani, dia masih muda, montok, wajahnya juga tidak terlalu jelek.
Tapi dia sudah punya anak, dia merasa tiada artinya soal pandang memandang itu. Akan tetapi kini ia merasakan sepasang mata itu lain daripada yang lain.
Tanpa terasa ia buka matanya, terlihatlah di samping pohon sana benar-benar ada seorang lelaki yang sedang melotot ke arah dadanya. Lelaki itu tidak tampan, pakaiannya juga tidak perlente, wajahnya bahkan kekurus-kurusan, tapi entah mengapa, tampaknya kereng dan berwibawa. Yang aneh adalah lelaki kekar itu justru memondong seorang bayi.
Walaupun merasa heran, tapi wanita petani itu tidak ambil pusing, ia menunduk kembali memandang bayinya sendiri. Mendadak terdengar bayi dalam pondongan lelaki itu menangis, suara tangisnya juga nyaring.
Perempuan muda itu belum lama menjadi ibu, hatinya sedang penuh diliputi kasih sayang seorang ibu, mendengar tangisan bayi itu, tanpa terasa ia angkat kepalanya lagi. Sekali ini dia dapat membedakan bahwa sepasang mata lelaki kekar yang mengincar dadanya itu lain daripada mata pemuda bajul umumnya, tapi penuh mengandung perasaan memohon kasihan.
Tanpa terasa perempuan petani itu tersenyum dan bertanya, “Apakah ibu anak itu tidak berada di sini?”
“Ya, tidak ada,” lelaki itu menggeleng.
Wanita petani itu berpikir sejenak, lalu berkata pula, “Tampaknya dia lapar.”
“Ya, lapar,” sahut lelaki itu sambil mengangguk.
Setelah memandang sekejap bayi dalam pangkuannya sendiri, mendadak wanita petani itu berkata dengan tertawa, “Coba berikan anakmu itu, biar kususui dia. Mendingan kemarin aku baru lalap dua ekor ayam tim, air tetekku lagi kelebihan, kukira takkan habis diminum anakku ini.”
Seketika wajah lelaki yang kereng itu mengunjuk rasa girang, cepat ia mengucapkan terima kasih dan menyodorkan bayinya.
Terlihat bulu halus bayi itu belum lagi rontok, kulitnya masih kemerah-merahan, jelas baru beberapa hari saja dilahirkan. Tapi mukanya yang berkulit lembut itu ternyata sudah ada segaris bekas luka.
Wanita petani itu berkerut kening, katanya, “Ai, kalau membawa anak perlu hati-hati sedikit. Ibu si bocah ini juga terlalu, masakah diserahkan padamu tanpa khawatir apa-apa.”
“Ibu anak ini sudah meninggal,” kata lelaki itu dengan sedih.
Wanita petani itu melengak, perlahan ia membelai wajah bayi yang halus itu, katanya dengan terharu, “Ai, sungguh kasihan, baru lahir sudah kehilangan ibu.”