
“Benar, kita jangan membuat marah Yan-tayhiap lagi, orang marah dagingnya akan kecut, ini adalah hasil penelitianku selama ini, kalian perlu tahu,” ujar Li Toa-jui.
Lalu Ha-ha-ji menuding lagi kawannya yang lain dan memperkenalkannya pada Yan Lam-thian, “Dan yang ini adalah ‘Bukan lelaki bukan perempuan’ To Kiau-kiau...”
“Kan tadi aku yang membawakan arak dan santapan bagi Yan-tayhiap,” sela suara genit tadi. “Jadi Yan-tayhiap sudah kenal diriku, tidak perlu lagi kau perkenalkan.”
Terkesiap juga hati Yan Lam-thian, pikirnya, 'Jadi gadis baju hijau tadi adalah samaran ‘si bukan lelaki bukan perempuan’ (alias banci) To Kiau-kiau. Padahal iblis ini sudah terkenal lebih dua puluh tahun yang lalu, namun menyamar gadis berusia enam belas-tujuh belas tahun ternyata juga begitu persis.'
Tangan berdarah Toh Sat, kegemaran Li Toa-jui memakan daging manusia, semua ini belum membuat terkejut pendekar besar ini, tapi kepandaian menyamar To Kiau-kiau yang dapat mengelabui siapa pun juga ini sungguh membuatnya terkesiap.
Tiba-tiba terdengar seorang berseru, “Ha-ha-ji, kenapa cerewet saja sejak tadi, memangnya kamu ingin memperkenalkan segenap penghuni lembah ini padanya? Ada lebih baik lekas kau tanya dia, habis mendapatkan keterangan selekasnya mengirim dia untuk menemani aku di akhirat.”
Suara orang itu seperti mengambang di udara dan terputus-putus, kalimat pertama kedengaran berada di sebelah kiri, kalimat berikutnya terasa di sisi kanan.
Cara bicara orang biasa betapa pun anehnya tentu juga bertenaga, cara bicara orang ini ternyata tiada tenaga sama sekali, mirip orang yang sekarat dan seperti orang bersuara dari dalam peti mati.
Tanpa terasa mengkirik juga bulu roma Yan Lam-thian, pikirnya, “Benar-benar cocok dengan julukannya sebagai ‘setengah manusia setengah setan’ Im Kiu-yu ini, bahkan cara bicaranya juga ‘tujuh bagian berbau setan.”
“Hahaha!” demikian terdengar Ha-ha-ji lagi berkata dengan tertawa, “Jadi setan saja Im-lokiu juga tidak mau kesepian. Kalau Yan-tayhiap sudah datang kemari, masakah kau khawatir takkan mendapat teman di akhirat?”
“Aku tidak sabar menunggu lagi!” sahut suara aneh tadi, suara Im Kiu-yu yang berjuluk 'setengah manusia setengah setan' itu.
Belum lenyap suara itu, tiba-tiba Yan Lam-thian merasa sebuah tangan meraba kuduknya dari belakang, tangan itu terasa lebih dingin daripada es, seketika Yan Lam-thian juga menggigil karena rabaan itu.
“Im-lokiu, singkirkan tanganmu!” bentak Li-Toa-jui.
“Sekali kena diraba tangan setanmu, mana daging itu dapat dimakan lagi?”
Im Kiu-yu terkekeh, katanya, “Kamu yang turun tangan juga boleh, cuma lekasan sedikit.”
“Nanti dulu, aku ingin menanyai dia lagi!” seru Toh Sat mendadak.
“Tanyalah, kan tiada yang merintangimu,” ujar To Kiau-kiau dengan mengikik genit.
“Yan Lam-thian,” segera Toh Sat mulai bertanya, “apakah kedatanganmu ke sini hendak mencari diriku?”
“Kamu belum sesuai bagiku,” jawab Yan Lam-thian.
Toh Sat tidak marah, dengan nada dingin ia bertanya pula, “Aku tidak sesuai bagimu, habis siapa yang sesuai?”
“Kang Khim,” jawab Yan Lam-thian singkat.
“Kang Khim?” Toh Sat mengulang nama itu. “Siapa dia? Pernahkah para kawan mendengar nama itu?”
“Haha, di Ok-jin-kok tiada terdapat Bu-beng-siau-cut (prajurit tak bernama, artinya kaum keroco) begitu!” kata Ha-ha-ji.
“Meski ******* itu tak terkenal, tapi busuknya berpuluh kali lipat daripada kalian,” ujar Yan Lam-thian dengan geregetan. “Asalkan kalian mau menyerahkan keparat itu padaku, maka aku berjanji takkan membikin susah kalian.”
“Haha bagus, bagus! Kalian dengar tidak apa yang dikatakan Yan-tayhiap, beliau takkan membikin susah kita. Ayolah kita lekas mengucapkan terima kasih banyak-banyak.”
“Memangnya kalian merasa geli?” tanya Yan Lam-thian dengan geram.
To Kiau-kiau terkikik-kikik, katanya, “Saat ini kamu terikat oleh tiga belas utas tali, empat Hiat-tomu ditotok pula oleh Toh-lotoa, mestinya kamu harus minta ampun pada kami, tapi kamu malah bilang takkan membikin susah kami, masakah di dunia ini ada kejadian yang lebih menggelikan daripada ini?”
“Hm, “ Yan Lam-thian hanya menjengek.
“Baiklah, biar kukatakan juga padamu bahwa di Ok jin-kok ini benar-benar tiada terdapat orang bernama Kang Khim,” kata Kiau-kiau. “Pasti kamu telah dikibuli orang, agaknya orang itu sengaja mendorongmu untuk mengantarkan nyawa ke sini.”
“Hahaha! Dan ternyata kau percaya begitu saja pada perkataan orang itu,” seru Ha-ha-ji dengan tertawa. “Haha, sungguh lucu, sudah tua bangka Yan Lam-thian ternyata dapat ditipu seperti anak kecil saja.”
“B*ngsat!” sekonyong-konyong Yan Lam-thian membentak, suaranya keras laksana guntur menggelegar dan memekak telinga.
“Celaka!” seru To Kiau-kiau kaget. “Tenaga orang ini tampak kuat, jangan-jangan ilmu Tiam-hiat Toh-lotoa telah dibobolnya secara diam-diam tadi.”
“Hehe, terkaanmu memang tidak salah!” bentak Yan Lam-thian sambil tertawa. Mendadak ia melompat bangun, sekali kedua tangannya terpentang, serentak tiga belas tali kulit yang meringkus badannya itu putus semua.
“Wah, celaka, mayat hidup lagi!” seru Im Kiu-yu.
Belum lenyap ucapannya, tahu-tahu orangnya sudah berada belasan meter jauhnya. Orang she Im ini suka membanggakan Ginkangnya nomor satu, ternyata cara larinya memang cepat luar biasa, tentu saja yang konyol adalah kawan-kawannya.
Terdengarlah suara “brak”, sebuah meja ditumbuk roboh oleh Ha-ha-ji, orangnya berguling-guling beberapa kali dan mendadak menghilang. Kiranya telah menyusup ke dalam liang di bawah tanah.
“Ai, perempuan baik-baik takkan berkelahi dengan lelaki,” seru To Kiau-kiau. “Awas, aku akan buka baju!”
Benar saja, mendadak ia menanggalkan pakaiannya terus dilemparkan ke arah Yan Lam-thian. Ketika Yan Lam-thian menyampuk jatuh baju itu, ternyata si banci juga sudah menghilang.
Li Toa-jui tidak sempat kabur, terpaksa ia berdiri di situ, katanya dengan tertawa, “Bagus, Yan Lam-thian, biar orang she Li yang coba-coba mengukur kepandaianmu.”
Sembari bicara, mendadak ia menyelinap ke belakang Toh Sat dan berkata pula, “Namun apa pun juga kepandaian Toh-lotoa lebih hebat daripadaku, adik tak berani bersaing dengan sang kakak. Silakan maju dulu, Toh-lotoa!”
Padahal meski Yan Lam-thian sudah berdiri, namun tenaga murninya belum terhimpun, kalau saja beberapa orang itu mengerubutnya sekaligus, betapa pun dia sukar terhindar dari maut.
Tapi Yan Lam-thian memperhitungkan dengan tepat jiwa licik orang-orang ini, berani pada yang lemah, takut pada yang kuat. Mementingkan diri sendiri dan lebih suka merugikan orang lain. Jika mereka disuruh bagi rezeki tentu akan maju sekaligus, sebaliknya jika mereka disuruh mengadu jiwa, jangan harap!
Begitulah maka Im Kiu-yu, To Kiau-kiau, Ha-ha-ji, Li Toa-jui, dalam sekejap saja sama menghilang, hanya tertinggal Toh Sat yang masih berdiri mematung di situ.
Sementara itu tenaga murni Yan Lam-thian sudah terkumpul, sorot matanya memancar tajam, cuma ia belum segera turun tangan, dengan suara bengis ia membentak, “Kenapa kamu tidak lari seperti kawan-kawanmu?”
“Menghadapi lawan, selamanya orang she Toh tak pernah lari!” jawab Toh Sat tegas.
“Jadi kau berani bergebrak dengan aku?” tanya Yan Lam-thian.
“Benar!” belum lenyap suara Toh Sat, serentak ia melompat maju, di tengah berkibarnya pakaian putih laksana gumpalan salju terseling dua buah tangan merah berdarah.
Tui-hun-hiat-jiu, tangan berdarah pemburu sukma, ilmu pukulan berbisa andalan Toh Sat.
.