
Diam-diam hati Kang Hong tergetar, tapi sikapnya tetap tenang, katanya dengan suara berat, “Cuma sayang perjalananku ini tergesa-gesa sehingga tidak membawa suatu benda berharga apa pun yang dapat menarik minat para ahli seperti kalian ini.”
“Hehehe!” si jengger terkekeh-kekeh.
“Kabarnya mendadak Kang-kongcu telah menjual seluruh harta benda dan meringkaskannya menjadi sekantong mutiara mestika dan batu manikam...hehe, rasanya Kang-kongcu juga tahu kami 'Cap-ji-she-shio' biasanya tidak pernah pulang dengan tangan hampa, maka demi persahabatan, sudilah Kang-kongcu menghadiahkan kami sekantong ratna mutu manikam itu.”
“Haha, bagus, bagus!” Kang Hong juga tertawa. “Ternyata kalian tahu sejelas itu. Ya, aku pun tahu Cap-ji-she-shio biasanya tidak suka sembarangan turun tangan, dan sekali turun tangan tidak pernah pulang dengan tangan hampa, akan tetapi ....”
“Akan tetapi apa?” tukas si jengger merah. “Kau menolak?”
“Hehe, aku sih tidak menolak, hanya ….” belum habis Kang Hong menjengek, tahu-tahu bayangan berkelebat, ia sudah menubruk maju.
Jengger ayam itu pun tidak kalah gesitnya, dalam sekejap itu tangannya sudah memegang semacam senjata berbentuk aneh, mirip paruh ayam dan serupa ganco.
Secepat kilat ia menyerang, hanya sekejap saja ia melancarkan tujuh-delapan kali serangan dengan gaya yang aneh seperti ayam jantan mematuk dan menyerang dengan jalu atau taji, semuanya mengincar Hiat-to (titik urat darah) mematikan di tubuh Kang Hong.
Rada repot juga Kang Hong, mendadak ia loncat keatas sehingga serangan maut itu dapat dielakkan.
Tapi pada saat itu empat pasang “taji” ayam sudah menanti pula di bawah. Nyata, sekali jengger ayam bergerak, serentak keempat orang berbaju warna-warni yang merupakan ekor ayam juga menubruk maju, empat pasang taji ayam juga merupakan senjata yang jarang terlihat di dunia Kangouw, sekali paruh ayam mematuk, serentak taji ayam juga menyerang, kerja sama mereka sangat rapat sehingga mirip seorang dengan bertangan banyak.
Memangnya Kang Hong sudah kewalahan, apalagi menghadapi serangan yang aneh ini, belum lagi si baju kuning yang merupakan dada mentok ayam itu masih mengawasi di samping dan sedang menunggu peluang untuk ikut menyerang.
“Hehehe!” Hek-bian-kun, si b*bi hitam, terkekeh-kekeh. “Ayolah saudara-saudara, tambah gas sedikit, supaya lebih kencang. Kita bukan perempuan, tidak perlu mendambakan kasih sayang anak cakap ini, Eh, permisi sebentar saudara-saudara, biar kutengok dulu si cantik di dalam kereta itu.”
“Berhenti!” bentak Kang Hong dengan murka.
Maksudnya ingin mencegah, akan tetapi tak berdaya sebab ia direpotkan oleh berbagai macam senjata aneh lawan-lawannya.
Sementara itu Hek-bian-kun telah melangkah ke sana dengan gedebak-gedebuk dan segera hendak menarik pintu kereta.
Pada saat itulah mendadak jendela kereta terbuka sedikit dan terjulurlah sebuah tangan yang putih halus, di antara jari jemari yang putih mulus tanpa cacat itu terjepit setangkai bunga Bwe (sakura).
Bukan bunga Bwe sembarang bunga Bwe tapi bunga Bwe hitam.
Sungguh aneh bin ajaib ada bunga Bwe mekar di musim panas, apalagi bunga Bwe warna hitam.
Tangan yang putih, bunga Bwe yang hitam, sungguh perbedaan yang mencolok dan keindahan yang gaib dan sukar dilukiskan.
Berbareng dengan terulurnya tangan dengan bunga Bwe hitam itu, terdengar pula ucapan dengan nada yang manis, “Coba kalian lihat, apakah ini?”
Serentak muka Hek-bian-kun berkerut-kerut mengejang, tangannya yang hendak menarik daun pintu kereta itu pun mendadak tak bergerak lagi.
Senjata paruh ayam dan taji ayam juga berhenti di tengah udara. Keenam bandit yang terkenal ganas itu mendadak seperti kena sihir, semuanya melongo kaku tak berani bergerak.
“Siu-giok-kok, Ih-hoa-kiong!” hanya kedua kalimat ini tercetus dari mulut Hek-bian-kun dengan tergegap-gegap.
“Eh, tajam juga pandanganmu,” ujar orang di dalam kereta.
“Cayhe... hamba....” gigi Hek-bian-kun gemertuk sehingga tak sanggup melanjutkan ucapannya.
“Kalian ingin m*mpus atau tidak?” tanya orang di dalam kereta dengan suara halus.
Dengan gemetar Hek-bian-kun menjawab, “Hamba... hamba tidak...”
“Kalau tidak ingin m*mpus, kenapa tidak lekas pergi!”
Baru habis ucapan ini, tanpa pamit lagi si merah, si kuning, si belorok dan si hitam, semuanya kabur secepat terbang.
Langkah Hek-bian-kun sekarang tidak lamban lagi, napasnya juga tidak kempas-kempis, meski gemuk luar biasa tubuhnya, tapi kecepatan langkahnya kini melebihi siapa pun.
Kalau tidak menyaksikan sendiri tentu tiada yang percaya orang segemuk itu mempunyai gerak langkah sedemikian cepat dan gesit.
Kang Hong lantas mendekati jendela kereta dan bertanya dengan nada khawatir, “Engkau tidak... tidak apa-apa bukan?”
“Ah tidak, aku hanya memberi salam saja kepada mereka,” ujar perempuan di dalam kereta dengan tertawa.
Kang Hong menghela napas lega, katanya pula, “Sungguh tak terduga engkau telah membawa setangkai Hek-giok-bwe-hoa (bunga Bwe kemala hitam) dari istana sana, tidak nyana bandit yang jahat seperti Cap-ji-she-shio juga begitu takut pada mereka.”
“Ya, dari itu dapatlah kau bayangkan betapa lihainya mereka,” kata orang dalam kereta “Maka lekas kita berangkat saja, kalau ….”
Tiba-tiba terdengar angin berkesiur, orang-orang yang kabur tadi kini sudah datang kembali, bahkan datangnya terlebih cepat daripada perginya tadi.
“Apakah kalian tidak takut mati?” gertak Kang Hong, tapi dalam hati, sebenarnya sangat khawatir.
“Hehehe, jika yang berada di dalam kereta benar-benar orang dari Ih-hoa-kiong, mustahil tadi kami dapat kabur dengan hidup!” kata Hek-bian-kun,
“Memangnya pernah kau dengar bahwa Ih-hoa-kiongcu suka mengampuni jiwa orang?” Tiba-tiba orang di dalam kereta menukas, “Sudah kuampuni kalian, mengapa kalian malah….”
“Barang tiruan, ayolah keluar sini!” bentak Hek-bian-kun, mendadak ia melompat maju, sekali hantam, pintu kereta ditonjoknya hingga ambrol.
Yang duduk dalam kereta memang seorang perempuan, perempuan muda dengan rambut kusut dan wajah pucat seperti orang sakit, walaupun demikian sama sekali tidak mengurangi cantiknya yang mempesona.
Sebenarnya sepasang mata perempuan ini juga tidak begitu jeli, hidungnya juga tidak terlalu mancung, mulutnya juga tidak sangat mungil, namun gabungan dari mata hidung mulut dengan raut mukanya itu sedemikian serasinya sehingga setiap orang yang memandangnya pasti ingin memandang untuk seterusnya, terutama sorot matanya yang penuh mengandung perasaan, pengertian dan kecerdasan yang sukar diukur.
Di luar dari semua itu, ternyata perut perempuan itu membuncit besar, kiranya sedang hamil tua.
Melihat itu, melengak juga Hek-bian-kun, tapi segera ia tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Hahaha, Kiranya seorang perempuan bunting, berani lagi mengaku orang Ih-hoa-kiong ....”
Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong perempuan bunting itu melayang keluar, belum lagi Hek-bian-kun menyadari apa yang terjadi, tahu-tahu ia sudah kena ditempeleng beberapa kali.
Setelah melayang kembali ke tempat duduknya, perempuan muda itu bertanya dengan tersenyum, “Memangnya kenapa kalau perempuan bunting?”
“Hm, main sergap, terhitung apa?” teriak Hek-bian-kun dengan geram dan penasaran, segera ia menghantam pula.
Meski tubuhnya gemuk seperti gajah bengkak, tapi pukulannya ini sungguh cepat, keras lagi ganas.
Namun perempuan muda itu tetap mengulum senyum, tangannya yang halus itu menyampuk perlahan, entah dengan cara bagaimana, tahu-tahu pukulan Hek-bian-kun itu tertolak kembali dan “blang”, dengan tepat menghantam pada pundak sendiri.
Dengan jelas Hek-bian-kun melihat kepalan sendiri menghantam pundak sendiri, tapi ia justru tidak mampu mengerem dan juga tidak dapat menghindar.
Betapa hebat tenaga Hek-bian-kun dapat dibayangkan ketika sekali tonjok menghancurkan pintu kereta tadi, maka pukulan yang mengenai pundak sendiri ini membuatnya mengerang kesakitan dan jatuh terkapar.
Kawan-kawannya, yaitu si jengger dan si ekor ayam sebenarnya juga sudah bersiap-siap ingin menerjang maju, tapi mereka jadi melongo menyaksikan kawan gemuk mereka itu terjungkal dan karena itu mereka pun tidak berani bergerak lagi.
“Nah, apakah kalian kenal gerak tangan yang kugunakan ini?” tanya perempuan muda itu dengan tertawa sambil mengerling lawan-lawannya.
Dengan suara gemetar Hek-bian-kun berseru, “Ih-hoa-ciap-giok (mencangkok bunga menyambung kemala), setan malaikat sukar menandinginya ....”
“Jika sudah tahu, tentunya sekarang kalian percaya aku ini bukan barang tiruan,” ucap perempuan muda itu.
“Ya, hamba ... hamba pantas mam ... m*mpus ... sungguh pantas m*mpus” segera Hek-bian-kun menampar muka sendiri hingga belasan kali, mukanya yang hitam mirip moncong b*bi seketika bertambah bengkak.
“Ai, betapa pun aku harus berbuat bajik demi anakku,” kata perempuan muda itu dengan menghela napas. “Baiklah, kalian ... kalian boleh pergi.”
Tanpa disuruh untuk kedua kalinya, lari Hek-bian-kun dan begundalnya itu sekali ini terlebih cepat daripada tadi, hanya sekejap saja bayangan mereka pun sudah menghilang.
Tapi di tengah remang-remang cuaca itu bagai setan iblis saja sesosok bayangan orang juga berkelebat di kejauhan, mengejar ke arah rombongan Hek-bian-kun.
Melihat musuh sudah menghilang, legalah hati Kang Hong, ia berpaling dan dengan gegetun berkata, “Untung kau turun tangan dan membuat jera mereka, kalau tidak ....” mendadak ia melihat air muka perempuan itu berubah, seperti menahan rasa sakit, tubuh gemetar dan dahi penuh keringat dingin.
Cepat ia bertanya dengan khawatir, “Hei, kenapakah engkau?”
“Pe ... perutku sakit, agaknya jabang bayi dalam perut bergerak, mungkin ... mungkin akan ....”
Kang Hong menjadi kelabakan. “Wah, bagaimana baiknya ini?” katanya dengan gelisah.
“Lekas bawa keretamu ke tepi jalan, lekas ... lekas!” desis si perempuan dengan suara serak.
Dengan tergopoh-gopoh Kang Hong menghalau keretanya ke tengah semak rumput di tepi jalan, kuda meringkik, Kang Hong tiada hentinya mengusap keringat, akhirnya ia pun menyusup ke dalam kereta.
Sejenak kemudian, pintu kereta yang sudah hancur itu tertutup oleh kain baju. Terdengar suara keluhan terputus-putus di dalam kereta.
“Kakak Hong, sungguh aku takut ... takut sekali.”
“Tidak perlu takut, tabahkan hatimu ... sebentar lagi semuanya akan beres.”
.
.