Legendary Siblings

Legendary Siblings
73. 9 Buyung Bersaudara II



"Itulah dia!" ucap Siau-hi-ji sambil keplok dan tertawa.


"Kenapa?" tanya si nona.


"Bahwasanya setelah menikah, Jicimu meninggalkan senjata andalannya di rumah, dengan sendirinya disebabkan dia tidak ingin membikin malu dan rasa tidak enak bagi sang suami lantaran ilmu silatnya lebih tinggi. Dari sini dapat diketahui ilmu silat suaminya pasti di bawahnya, sebab itu pula dapat diketahui hati Jicimu sangat bajik dan suka memikirkan kepentingan orang lain."


Buyung Kiu memandangi anak muda itu sejenak tanpa menanggapi, lalu ia menuju ke kamar ketiga.


Daun jendela kamar ini ternyata ditempel dengan kertas hitam yang tebal, dengan sendirinya keadaan di dalam kamar menjadi gelap, namun cukup indah pajangan di dalam kamar, di samping meja rias ada meja catur, di atas rak buku juga penuh tertaruh gulungan lukisan, di dinding tergantung sebuah lukisan indah, tentu inilah buah tangan penghuninya sendiri.


Setelah memandang sekeliling kamar itu, dengan tertawa Siau hi-ji memberi komentar pula, "Kakakmu yang ketiga ini tentunya seorang seniman, hanya saja tabiatnya agak terlalu angkuh dan suka menyendiri, dan juga rada pendiam serta mudah tersinggung. Ya, pada umumnya seniman seniwati dari jaman dahulu hingga sekarang memang rata-rata juga bersifat demikian."


"Dia memang tidak suka pada sinar matahari, yang paling disukai adalah suara hujan," tutur Buyung Kiu. "Lukisan yang dihasilkannya di waktu hujan sungguh sedikit pun tidak berbau kehidupan manusia di dunia fana ini. Jika dia memetik kecapi, suaranya terdengar seperti datang dari langit terbawa air hujan. Cuma sayang... sayang, sudah lama tak kudengar lagi suara kecapinya."


"Dan bagaimana dengan Samcihumu?"


"Dia adalah tokoh berbakat tinggi di dunia persilatan, bukan saja serba mahir mengenai seni lukis, seni tulis, seni catur dan seni musik, bahkan ketika berumur dua puluh sembilan beliau sudah menjadi ketua perserikatan jago-jago silat di daerah Kwitang dan Kwisay."


"Wah, yang lelaki gagah pintar dan yang perempuan cantik molek, sungguh amat mengagumkan," ucap Siau hi-ji dengan tertawa.


Begitulah Siau hi-ji ikut Buyung Kiu memeriksa setiap kamar itu, habis memeriksa kamar kedelapan, sikap Buyung Kiu-moay sudah lebih ramah, bahkan kerlingan matanya juga tampak lembut. Dia merasa si 'setan cilik' sesungguhnya tidak begitu menjengkelkan dan menjemukan, bicara punya bicara, akhirnya mereka sampai di kamar kesembilan.


Warna kamar ini serba hijau pupus, hijau muda, isi kamar sangat mewah dan sangat permai, setiap benda di dalam kamar ini adalah mestika yang jarang terlihat di dunia luar.


Buyung Kiu tidak bicara, ia hanya menatap Siau hi-ji seakan-akan hendak bertanya, "Apakah kau tahu kamar inilah kamarku? Dapatkah kau mengatakan bagaimana pribadiku ini?"


Siau hi-ji seperti tahu kehendak orang, ia pandang sekeliling kamar itu sekian lama, mendadak ia bergelak tertawa dan berkata, "Hahaha, penghuni kamar ini sama sekali berbeda daripada penghuni kamar bagian depan tadi."


"Berbeda bagaimana?" tanya Buyung Kiu-moay dengan sikap dingin seakan-akan tidak mempedulikan apa yang hendak diucapkan Siau hi-ji.


Dengan tertawa Siau hi-ji lantas berkata, "Kamar ini berwarna hijau, ini menandakan bahwa penghuninya suka memuaskan diri sendiri dan anggap dirinya lain daripada yang lain, benda ***** bengek di sini menandakan sifatnya yang kekanak-kanakan. Suka pada kemewahan, kampungan..."


Belum habis komentarnya, air muka Buyung Kiu sudah berubah pucat, kehijau-hijauan, tanpa bersuara ia terus lari keluar dan tidak sudi lagi memandang barang sekejap pada si setan cilik ini.


"Hahahaha!" Siau hi-ji terbahak-bahak geli. "Jika kusalah omong, kenapa kau mesti marah? Bila betul ucapanku, lebih-lebih kau tidak boleh marah."


Tanpa menoleh Buyung Kiu terus melangkah pergi, Siau hi-ji ikut di belakangnya. Setelah membelok dua-tiga kali, tiba-tiba mereka sampai di suatu jalan berbatu, pada ujung jalan sana ada sebuah pintu tembaga hijau.


Dengan sendirinya Siau hi-ji tidak tahu keadaan di balik pintu sana, tapi dari daun pintunya dapat dirasakannya semacam keajaiban yang sukar diuraikan.


Dilihatnya Buyung Kiu-moay mengeluarkan sebuah anak kunci warna kuning emas terus dimasukkan ke lubang itu, setelah diputar sekali dua kali, daun pintu yang berat itu lantas terpentang tanpa suara.


Serentak serangkum hawa dingin mendampar keluar dari dalam.


Segera Siau hi-ji dapat merasakan kamar ini hampir mirip dengan rumah Ban Jun-liu di Ok-jin-kok itu, sekeliling ruangan juga penuh tertimbun aneka macam obat-obatan. Cuma rumah Ban Jun-liu itu dibangun dengan bata, sedang dinding sekeliling rumah ini terbuat dari balok batu hijau yang besar dan kuat.


Setelah Buyung Kiu dan Siau hi-ji masuk ke rumah itu, segera si nona mengunci kembali pintu tembaga tadi.


Wajah si nona yang memang pucat kini tambah menghijau.


"Hah, kiranya Kiukohnio kita juga seorang tabib wanita, sungguh boleh dikatakan serba pintar dan serba bisa," demikian Siau hi-ji berucap dengan tertawa. "Eh, engkau membawaku ke sini, apakah hendak mengobati lagi penyakitku?"


"Benar," jawab Buyung Kiu-moay.


"Racunku sudah ditawarkan, masakah masih sakit?" ujar Siau hi-ji.


"Tubuhmu berlebihan sesuatu barang, jika barang itu dipotong tentu kau akan bertambah sehat," kata Buyung Kiu-moay.


"O, barang apakah maksudmu?"


"Lidahmu!" dengus si nona.


Siau hi-ji melelet lidah dan cepat menyingkir ke pojok sana. Dengan tertawa ia berkata, "Ucapanku dapat membuat kau marah, terasa suatu kehormatan juga bagiku."


Buyung Kiu hanya mendengus saja terus berpaling ke sana, katanya, "Obat-obatan yang berada di sini adalah benda-benda mestika yang sukar dicari, kau dilarang sembarangan menjamahnya."


"Kau kira aku akan menjamahnya atau tidak?"


"Jika kau ingin menjamahnya juga masa bodoh," ujar si nona dengan tersenyum hambar.


"Hanya ingin kuperingatkan bahwa di antara obat-obatan ini meski banyak terdapat obat mujarab yang dapat menambah tenaga dan membikin panjang umur, tapi juga tidak sedikit obat-obatan beracun yang dapat membikin busuk isi perutmu, kalau kau keracunan terang tiada orang yang dapat menolong kau."


"Wah, apa betul?" Siau hi-ji sengaja melelet lidah pula. "Ai, dasar nyaliku kecil, kau sengaja menakut-nakutiku pula, bisa mati kaku aku."


"Asalkan kau tidak sembarangan bergerak pasti tiada seorang yang mengganggu seujung rambutmu," kata si nona.


"Ditemani kau, dengan sendirinya tiada seorang pun yang mampu mengganggu diriku," ucap Siau hi-ji dengan tertawa.


"Sekarang adalah waktu latihan kungfuku, aku harus pergi," kata si nona.


"Engkau... akan ke mana, aku tetap ikut," kata Siau hi-ji.


Buyung Kiu menjadi cemas, bentaknya bengis, "Jika kau mengikuti aku lagi, sebelum orang mencelakaimu mungkin akan kubinasakan dirimu lebih dulu."


Siau hi-ji menghela napas, katanya, "Ai, anak perempuan secantik kau, sekali tersenyum saja cukup membuat orang semaput, untuk apalagi berlatih Kungfu segala... setelah berhasil meyakinkan Kungfumu, mungkin kau sudah telanjur tua."


Buyung Kiu-moay tidak menggubrisnya lagi, ia terus menuju ke suatu pintu tembaga yang lain, ia mengeluarkan anak kunci emas pula dan membuka pintu itu, lalu menoleh dan memperingatkan Siau hi-ji, "Jika kau berani sembarangan melangkah masuk pintu ini, maka jangan harap kau dapat keluar dengan hidup!"


"Pintunya kau kunci, cara bagaimana aku dapat masuk ke situ?" ujar Siau hi-ji dengan tertawa.