Legendary Siblings

Legendary Siblings
21. Terkena Perangkap



Maklumlah sekali pun Yan Lam-thian adalah lelaki berdarah panas, tapi kecerdikannya tidak di bawah orang lain, kalau tidak masakah kawanan Penjahat itu dapat diakali hingga kelabakan.


Kini setelah dia pikir dan timbang lagi, ia merasa lebih baik makan daripada tidak, maka ia lantas angkat sumpit dan berkata, “Baiklah, mari makan!”


Tanpa sungkan-sungkan lagi ia terus makan dan minum. Beberapa macam santapan itu memang punya cita rasa yang lezat dan sukar dicari bandingannya. Dalam waktu singkat daharan itu sudah disikat bersih oleh Yan Lam-thian.


Apalagi kalau mengingat sebentar lagi harus banyak mengeluarkan tenaga, jika perut kenyang tentu akan lebih kuat, maka dia makan dengan lebih cepat.


“Nah, bagaimana kepandaian masak Thian-sip-sing itu?” tanya si gemuk dengan bergelak tertawa.


“Lezat!” sahut Yan Lam-thian sambil mengusap mulutnya dengan lengan baju.


“Sebentar lagi tajin untuk kawan kecil itu tentu juga akan dibawa kemari,” ujar si gemuk pula.


“Ya, makin cepat makin baik,” kata Yan Lam-thian.


“Haha, setelah kawan kecil ini minum tajin, maka Yan-tayhiap juga boleh mulai turun tangan,” demikian ucap si gemuk tiba-tiba.


Keruan air muka Yan Lam-thian berubah seketika, katanya, “Apa... apa yang kau katakan?”


Kembali si gemuk tertawa terbahak-bahak, katanya, “Nama Yan-tayhiap termasyhur di seluruh jagat, tampangmu juga lain daripada yang lain, sekali pun aku Ha-ha-ji bermata buta juga dapat mengenal Yan-tayhiap. Haha, tadi aku pura-pura salah sangka engkau sebagai Suma Yan, tujuanku adalah untuk mengelabui Yan-tayhiap, kalau tidak masakah engkau sudi dahar makanan yang dibuat oleh Thian-sip-sing dengan campuran obat biusnya yang khas itu. Hahaha...”


“B*ngsat keparat!” bentak Yan Lam-thian murka, sebelah kakinya terus mendepak, kontan meja dengan mangkuk piring di atasnya mencelat dan berantakan.


Si pendek itu memang betul 'Si Budha Tertawa' Ha-ha-ji alias 'Siau-li-cong-to' atau di balik tertawanya tersembunyi pisau. Julukannya ini melukiskan hatinya yang berbisa, tapi lahirnya suka tertawa, setiap ucapan pasti disertai tertawa ngakak, makanya dia bernama Ha-ha-ji atau si tukang Ha-ha.


Ketika meja didepak Yan Lam-thian, dengan gesit ia sudah melompat ke samping, lalu berolok-olok dengan tertawa, “Sebaiknya Yan-tayhiap jangan banyak mengeluarkan tenaga, kalau tidak, obat bius di dalam tubuhmu tentu akan bekerja terlebih cepat dan ... Haha ... Haha... ".


Yan Lam-thian merasa badannya tiada sesuatu tanda yang mencurigakan, ia pikir mungkin orang sengaja menggertak dan menakut-nakuti.


Tapi ketika diam-diam ia coba mengerahkan tenaga dalamnya, benar saja, terasa sukar dikeluarkan. Keruan ia cemas dan gusar pula, segera ia menubruk maju terus menghantam. Tapi Ha-ha-ji tetap berdiri tegak di tempatnya dengan tertawa tanpa bergerak dan tidak menyerang.


Ternyata sebelum pukulan Yan Lam-thian itu dilontarkan, lebih dulu tubuhnya sudah jatuh terjungkal. Anggota badannya terasa lemas lunglai, tenaga saktinya yang beribu-ribu kati itu entah hilang ke mana?


Lamat-lamat didengarnya suara tertawa senang Ha-ha-ji serta suara tangis anak bayi... suara tertawa dan menangis itu terasa semakin menjauh dan akhirnya, segalanya tak terdengar lagi.


Entah berselang berapa lama, Yan Lam-thian merasa ada lampu sedang memancarkan sinarnya di depan wajahnya. Perlahan ia membuka mata, terasa lampu itu seperti berputar-putar di depan matanya, ia ingin mendekap matanya tapi kaki dan tangan sedikit pun tak dapat bergerak. Kepalanya terasa sakit seakan-akan mau pecah, tenggorokan juga panas seperti terbakar.


Sekuatnya ia mengertak gigi dan mendelik untuk memandang lentera itu. Mana ada lampu yang berputar? Segera ia dapat melihat jelas wajah tertawa di belakang lentera itu.


“Bagus, Yan-tayhiap sudah siuman,” terdengar Ha-ha-ji berseru dengan tertawanya yang khas. “Di sini ada beberapa kawan yang sedang menunggu dan ingin menyaksikan betapa gagahnya si Pedang Sakti Nomor Satu di Dunia.”


Terdengar Ha-ha-ji berkata pula dengan tertawa, “Apakah Yan-tayhiap kenal beberapa kawan ini? Haha, biarlah kuperkenalkan mereka padamu, Nah, inilah ‘Hiat-jiu’ Toh Sat.”


Lalu terdengar seorang membuka suara dengan nada dingin, “Dua puluh tahun yang lalu pernah kuberjumpa satu kali dengan Yan-tayhiap, cuma sayang waktu itu Cayhe ada urusan penting sehingga tidak sempat belajar kenal dengan kungfu sakti Yan-tayhiap.”


Yang bicara ini berperawakan tinggi kurus, memakai jubah panjang putih mulus, kedua tangan tersembunyi di dalam lengan bajunya yang panjang dan longgar. Wajahnya tampak pucat pasi, begitu pucat sehingga mirip es batu yang tembus cahaya.


Dengan menahan rasa sakit kepalanya, Yan Lam-thian bergelak tertawa keras dan menjawab, “Ya, dua puluh tahun yang lalu, jika tidak mengingat kamu habis dilukai oleh ‘Lam-thian-tayhiap’ (pendekar di langit selatan) Loh Tiong-to dan aku merasa tidak sudi melabrak seorang yang sudah terluka, kalau tidak, masakah kamu mampu hidup sampai sekarang?”


Air muka Toh Sat sama sekali tidak berubah, dengan dingin ia menjawab, “Nyatanya Cayhe masih hidup sampai sekarang, bahkan akan terus hidup, sebaliknya Yan-tayhiap sendiri selekasnya akan mati.”


“Namun sebelum ajal Yan-tayhiap masih sanggup tertawa, hal ini rada-rada mirip dengan aku si Ha-ha-ji ini,” seru Ha-ha-ji dengan mengakak. “Dan kawan yang ini adalah ‘Put-sip-jin-thau’ Li Toa-jui, apakah Yan-tayhiap pernah kenal atau mendengar namanya?”


Suara seorang yang lantang segera menanggapi lebih dulu, “Sudah lama kudengar Yan-tayhiap memiliki otot kawat tulang besi, kukira dagingnya pasti sama enak dengan dendeng sapi, nanti harus kukunyah dan kutelan dengan pelan-pelan agar dapat menikmati rasanya yang sejati.”


“Haha, dasar, setiap membuka mulut Li Toa-jui tidak pernah lupa pada kegemarannya,” kata Haha ji. “Kuperkenalkan Yan-tayhiap padamu, sepantasnya kau bicara secara ramah-tamah, mengapa sekali pentang mulut lantas menyatakan ingin makan dagingnya?”


“Kukatakan daging Yan-tayhiap pasti lezat, ini kan juga ucapan sanjung pujiku. Kalian yang hanya suka makan daging b*bi mana tahu artinya?” ujar Li Toa-jui dengan tertawa.


“Bicara makanan, b*bi adalah binatang kotor dan busuk, memang tidak sebersih daging manusia,” kata Ha-ha-ji dengan tertawa. “Aku menjadi tertarik pada propagandamu dan ingin mencicipi daging Yan-tayhiap ini bagaimana rasanya. Haha, tapi kukuatir daging Yan-tayhiap ini terlalu kasar, jangan-jangan nanti... Hahaha....”


“Kamu bukan ahli makan, maka tidak paham,” sela Li Toa-jui. “Daging yang seratnya kasar ada rasa kasar tersendiri, daging halus juga ada rasa halus tersendiri pula. Daging Hwesio (biksu) ada rasa daging Hwesio, daging Nikoh (biksuni) juga ada rasa daging Nikoh, satu dan lain tidak sama, masing-masing mempunyai keunggulannya sendiri-sendiri.”


“Apakah daging Hwesio juga pernah kau makan?” tiba-tiba sebuah suara genit bertanya.


“Hah, tidak cuma pernah, bahkan sering,” sahut Li Toa-jui. “Yang paling terkenal adalah Thi-koh Hwesio dari Ngo-tay-san, hampir tiga hari suntuk kumakan dia... Daging orang terkenal rasanya memang lebih lezat dan sedap.”


“Sudah berapa orang yang kau makan seluruhnya?” tanya suara merdu tadi dengan tertawa genit.


“Wah, sukar dihitung,” jawab Li Toa-jui.


“Daging siapa yang paling lezat?” tanya pula suara genit itu.


“Kalau bicara halusnya dan lezatnya harus diakui daging biniku dahulu itu,” tutur Li Toa-jui. “Dagingnya yang putih halus itu, wah, kalau terkenang sekarang sungguh air liurku bisa menetes.”


“Haha, sudahlah, sudahlah, jangan bicara tentang daging manusia lagi,” seru Ha-ha-ji. “Coba lihat, betapa gusarnya Yan-tayhiap...”


.