Legendary Siblings

Legendary Siblings
5. Cinta sejati apa cinta mati?



“Ya, takut ... takut, takut sekali.”


“Kalau takut, kenapa tidak minta ampun?”


Tanpa disuruh lagi segera si jengger menyembah dan memohon dengan setengah menangis, “Ya, ampun Kiongcu ....”


Lian-sing mengerling hina, katanya kemudian dengan tertawa, “Jika jiwa kalian ingin kuampuni, sederhana juga caranya, asal saja kalian masing-masing memukul aku satu kali.”


“Mana hamba berani,” cepat si jengger menjawab.


“Ya, betapa pun hamba tidak berani,” Hek-bian-kun menambahkan.


“Jadi kalian tidak ingin hidup?” tanya sang Putri dengan mendelik.


Pertanyaan demikian selama ini biasanya diajukan oleh Hek-bian-kun dan Su-sin-khek kepada orang lain, dan bila perlu tanpa mendapat jawaban senjata mereka pun lantas menyambar dan habis perkara. Tapi sekarang justru pertanyaan ini diajukan kepada mereka sendiri. Keruan mereka menyengir serba susah.


Tapi apa daya, mau tak mau mereka terpaksa menjawab, “Ya, hamba ingin hidup.”


“Kalau ingin hidup, nah, lekas pukul seperti kataku tadi!”


Hek-bian-kun saling pandang sekejap dengan Su-sin-khek, akhirnya mereka terpaksa melangkah maju.


“Nah, memangnya kenapa mesti takut, pukul saja sesuka kalian, makin keras makin baik dan pasti takkan kubalas,” demikian Lian-sing Kiongcu tertawa. “Tetapi, kalau pukulan kalian terlalu ringan ... hm, awas!”


Sungguh aneh bin heran, untuk mengampuni jiwa orang justru orang-orang itu disuruh memukulnya. Walaupun ragu-ragu, diam-diam si jengger membatin apa salahnya jika dia benar-benar menghantam sekuatnya, kalau sekali gitik dengan paruh ayamnya berhasil membinasakan orang, kan untung malah. Andaikan tidak berhasil juga tidak menjadi soal, bukankah sang putri sendiri yang menyuruhnya menyerang?


Sudah tentu Hek-bian-kun juga timbul pikiran yang sama, ia pikir betapa pun kepandaianmu, asal kau tidak menangkis dan membalas, sekali jotos tubuhmu pasti dapat kubikin peyot.


Begitulah dua orang satu pikiran, serentak mereka mengiyakan perintah Lian-sing Kiongcu, akan tetapi lagaknya masih pura-pura sungkan.


“Ayolah, tunggu apalagi?” omel Lian-sing Kiongcu dengan tertawa.


Mendadak Hek-bian-kun menubruk maju, kedua kepalan menghantam sekaligus dengan keras, ditambah lagi bobot tubuhnya yang beratus-ratus kati itu, tentu saja daya pukulannya bukan alang kepalang dahsyatnya. Akan tetapi di antara pukulan dahsyat itu justru membawa gerakan yang lincah dan gesit serta yang sukar diraba, pada detik terakhir barulah jelas arah yang menjadi sasarannya, yaitu hulu hati Lian-sing Kiongcu.


Pukulan ini merupakan intisari ilmu silat yang diyakinkan Hek-bian-kun, jurus ini bernama “Sin-tu-hoa-jio” atau si b*bi sakti sekuat gajah, dengan jurus pukulannya ini entah betapa banyak tokoh kalangan Kangouw telah dirobohkannya.


Dalam pada itu Su-sin-khek, si jengger ayam, secepat terbang juga melayang maju, senjata paruh ayamnya gemerlap mencocok berbagai Hiat-to di bagian dada Lian-sing Kiongcu.


Dengan sendirinya serangan si jengger ini pun merupakan jurus maut yang jarang digunakannya. Jurus ini bernama 'Sih-keh-thi-sing' atau ayam berkokok di waktu subuh.


Konon dengan jurus ini saja pernah sekaligus dia membinasakan delapan piausu (jago pengawal) dari perusahaan pengawal 'Wi-bu-piaukiok'.


“Eh, boleh juga!” Lian-sing Kiongcu berseloroh.


Di tengah suara tertawa yang merdu, sekali telapak tangan kanannya meraih perlahan bagai kupu-kupu menyelinap di antara hujan gerimis, lalu sekali lagi melingkar balik, tahu-tahu si jengger ayam merasa serangannya yang lihai kehilangan sasaran secara membingungkan, tangan sendiri seperti tidak mau menurut perintah.


Maksudnya ingin menyerang ke kanan, tapi justru menyambar ke kiri, ingin dihentikan, justru tetap menyelonong ke depan. Tanpa ampun lagi, terdengarlah suara “crat-cret” dua kali disusul pula dengan dua kali jeritan ngeri.


Lian-sing Kiongcu masih tetap berdiri di tempatnya dengan tertawa tanpa bergerak, sebaliknya Hek-bian-kun sudah terjungkal, sedangkan Su-sin-khek alias si jengger ayam mencelat jauh ke semak-semak rumput sana, merintih sebentar, lalu tak bersuara lagi.


Pada dada Hek-bian-kun tampak menancap paruh baja si jengger ayam, dengan meringis menahan sakit ia cabut paruh baja itu, darah seketika menyembur bagai air mancur, dengan suara gemetar ia berkata “Kau... kau...”


“Aku kan tidak melukai kalian,” ujar Lian-sing Kiongcu sambil tertawa. “Kalian sendiri yang saling hantam. Ai, apa sih gunanya?”


Mata Hek-bian-kun melotot gusar menatap sang putri, bibirnya bergerak seperti ingin bicara sesuatu, tapi sepatah kata pun tak sempat terucap dan untuk selamanya takkan terucap lagi.


Lian-sing-Kiongcu bergumam sendiri, “Jika kalian tidak berpikir ingin membinasakan aku dan cara menyerang kalian agak ringan, tentu jiwa kalian takkan melayang, betapa pun aku sudah memberi kesempatan hidup kepada kalian bukan? Salah kalian sendiri!”.


Di sebelah sana Kang Hong dan istrinya sama sekali tidak menghiraukan apa yang terjadi di sebelah sini. Mereka sedang meronta ingin masuk ke dalam kereta untuk memondong jabang bayi yang sedang menangis itu, tangan mereka baru saja sempat meraba gurita si bayi, pada saat itu juga sebuah tangan mendorong jabang bayi itu menjauhi tangan Kang Hong berdua.


“Berikan. . . berikan padaku ….” pinta Kang Hong dengan suara parau.


“Ji-kiongcu, kumohon, sudilah... sudilah engkau menyerahkan orok itu kepadaku,” si perempuan yang baru melahirkan itu pun memohon.


“Goat-loh,” jawab Lian-sing Kiongcu dengan tertawa, “Bagus sekali kau, sungguh tidak nyana kau melahirkan anak bagi Kang Hong.”


Meski bicaranya seraya tertawa, namun tertawa yang pedih, hampa, penuh rasa benci dan dendam.


Hoa Goat-loh, perempuan yang baru melahirkan itu berkata, “Kiongcu, hamba... hamba bersalah... bersalah padamu, nam... namun anak ini tidak berdosa, sudilah engkau mengampuni mereka.”


Termangu Lian-sing Kiongcu memandang sepasang anak kembar itu sambil bergumam, “Ehm, anak yang montok, sungguh menyenangkan... alangkah baiknya jika menjadi anakku...” mendadak matanya menatap Kang Hong, dengan penuh rasa benci dan dendam, menyesal dan juga kecewa. Sejenak kemudian barulah dia berucap dengan perasaan hampa, “Kang Hong, kenapa kau lakukan hal ini? Kenapa?”


“Tidak kenapa-napa, sebab aku cinta padanya,” jawab Kang Hong tegas.


“Kau mencintai dia?” teriak Lian-sing Kiongcu dengan suara serak. “Kau mencintai seorang babu? Dalam hal apa Ciciku tidak melebihi budak ini? Kau dilukai orang, Ciciku membawamu ke rumah dan merawatmu, selama hidupnya tidak pernah berbuat sebaik itu kepada orang lain, tapi ... tapi dia justru begitu kesengsem padamu. Sebaliknya ... sebaliknya kau malah ... malah minggat bersama babunya.”


Dengan ketus Kang Hong menjawab, “Baik, karena kau ingin tahu, biarlah kujelaskan. Cicimu pada hakikatnya bukan manusia, dia cuma segumpal api, sepotong es, sebilah pedang, bahkan boleh dikatakan setan, malaikat, tapi sama sekali bukan manusia. Sedangkan dia...” sampai di sini ia mengalihkan pandangnya kepada Hoa Goat-loh, istrinya, dengan suara lembut ia menyambung pula, “Dia ... dia adalah manusia, manusia sejati, manusia suci bersih. Dia sangat baik padaku, dapat memahami isi hatiku, menyelami jiwaku. Di dunia ini hanya dia seorang yang mencintai hatiku, sukmaku dan bukan cuma kesengsem pada wajah dan ragaku ini.”


“Plak!” mendadak pipi Kang Hong ditampar sekali oleh Lian-sing Kiongcu dan bentaknya, “Ayo katakan... katakan lagi!”


“Inilah isi hatiku yang harus kuucapkan, kenapa tidak boleh kukatakan?” jawab Kang Hong tegas.


“Kau hanya tahu dia sangat baik padamu, akan tetapi apakah kau tahu bagaimana... bagaimana diriku ini padamu?” ucap Lian-sing Kiongcu. “Sekalipun wajahmu ini buruk, biarpun wajahmu jelek bagai setan juga kutetap... tetap....” sampai di sini suaranya menjadi lemah dan tidak sanggup melanjutkan lagi.


“Jadi... jadi Ji-kiongcu, engkau... engkau juga....” dengan suara terputus-putus Hoa Goat-loh berkata.


Baru sekarang ia paham isi hati bekas junjungannya itu.


“Ya, memangnya aku tidak boleh menaruh hati padanya? Apakah aku tidak boleh mencintai dia?” seru Lian-sing Kiongcu penasaran. “Apakah lantaran badanku cacat, maka aku tidak... tidak berhak mencintai orang yang kucintai?.... Orang cacat kan manusia, juga perempuan?!”


Dalam sekejap itu putri yang agung itu mendadak berubah sama sekali, sejenak sebelumnya dia adalah manusia super yang berkuasa menentukan mati-hidup seseorang secara tak terbantahkan. Tapi kini dia tidak lebih hanya seorang perempuan belaka, seorang perempuan lemah yang bernasib malang dan harus dikasihani. Air mata tampak meleleh dipipinya.


Sukar dipercaya bahwa tokoh ajaib, manusia super yang hampir menyerupai dongeng di dunia Kangouw ini ternyata juga bisa mengucurkan air mata.


Seketika Kang Hong dan Hoa Goat-loh melenggong memandangi putri yang agung tapi cacat badan itu.


Selang agak lama, dengan lesu Hoa Goat-loh berkata, “Ji-kiongcu, toh aku tak dapat hidup lagi, selanjutnya... selanjutnya dia (maksudnya Kang Hong) akan menjadi milikmu, maka kumohon sudilah engkau menolongnya, kuyakin hanya engkau saja yang sanggup menyelamatkan dia.”


Tergetar tubuh Lian-sing Kiongcu, “selanjutnya dia akan menjadi milikmu”, kalimat ini seperti anak panah menancap hulu hatinya.


Tapi mendadak Kang Hong bergelak tertawa, tertawa yang rawan, tertawa yang jauh lebih memilukan daripada tangis siapa pun juga. Sorot matanya yang sayu menatap Hoa Goat-loh, katanya dengan pedih, “Menyelamatkan diriku?.... Di dunia ini siapa yang mampu menyelamatkan jiwaku? Jika engkau mati, masakah aku dapat hidup sendirian?.... O, Goat-loh, masakah sampai saat ini engkau masih belum memahami diriku?”


Hoa Goat-loh menahan air matanya yang hampir bercucuran pula, jawabnya dengan suara lembut, “Aku paham, tentu saja kupahami dirimu, tapi kalau engkau mati, siapa lagi yang akan mengurus anak-anak kita?” Suaranya kemudian berubah menjadi rintihan sedih, ia genggam tangan sang suami dan berkata pula dengan air mata berlinang. “Inilah dosa perbuatan kita. Kita tidak berhak meninggalkan dosa akibat perbuatan kita kepada keturunan kita, sekalipun kau... kau pun tidak boleh, tidak berhak mengelakkan kewajiban dengan jalan mencari kematian.”


Kang Hong tidak sanggup tertawa pilu pula, giginya yang tergigit sampai gemertukan.


“Kutahu, mati memang jauh lebih mudah dan hidup akan lebih sukar dan banyak duka derita,” kata Hoa Goat-loh pula dengan suara gemetar. “Tapi... tapi kumohon, sudilah... sudilah engkau bertahan hidup demi anak-anak kita.”


Air mata membasahi wajah Kang Hong, seperti orang dungu saja dia bergumam, “Aku harus hidup?... Benarkah aku harus bertahan hidup...”


“Ji-kiongcu,” pinta Hoa Goat-loh kepada sang putri, “betapa pun engkau harus menyelamatkan dia. Apabila engkau memang pernah jatuh cinta padanya, maka engkau tidak layak menyaksikan kematiannya di depanmu.”


.


.


.