Legendary Siblings

Legendary Siblings
12. Jiwa Luhur Congpiauthau



“Wah, Congpiauthau, kukira... kukira lebih baik kita pergi saja, kita hanya beberapa orang ini, mungkin...” usul Ci-loji.


“Hm, jika perlu kalian boleh saja pergi,” dengus Sim Gin-hong.


“Tapi engkau, Congpiauthau...”


“Pemilik barang telah mempercayakan harta bendanya padaku, mana boleh aku mengelakkan kewajiban, kalian...” Sim Gin-hong tidak melanjutkan, tanpa menoleh ia terus melangkah ke depan sana.


“Congpiauthau...” seru Ci-loji sambil memburu, tapi baru dua tiga langkah sudah lantas berhenti.


“Bagaimana? Kau tidak ikut?” tanya Lui-lotoa.


“Lui-lotoa,” jawab Ci-loji dengan suara tertahan. “Biarkan dia berjuang sendiri sesuai tugasnya, buat apa kita ikut mengantarkan nyawa?”


Lui-lotoa menjadi gusar, dampratnya, “Kep*rat, binatang kau... dasar pengecut, tidak nanti aku Lui Siau-hou juga penakut seperti dirimu!”


“Baik, baik aku memang pengecut, silakan engkau menjadi pahlawan,” ujar Ci-loji sambil menyeringai.


“Keparat, baru sekarang kukenal benar-benar kalian...” damprat Lui-lotoa atau Lui Siau-hou, sambil memaki ia pun menyusul ke arah sang Congpiauthau, Sim Gin-hong.


Sim Gin-hong sedang melangkah ke depan dengan perlahan, menuju ke ladang belukar yang sunyi di tengah remang maghrib.


Langkahnya yang gesit enteng kini berubah menjadi berat seakan-akan kakinya diganduli benda beratus-ratus kati.


Ketika mendengar suara tindakan orang dari belakang, tanpa menoleh ia lantas bertanya, “Apakah ini Lui Siau-hou?”


“Benar, Congpiauthau,” jawab Lui-lotoa.


“Memang sudah kuduga hanya kau seorang saja yang akan menyusul kemari.”


“Dengan ucapan Congpiauthau ini, biarpun mati aku pun rela. Meski Lui-Siau-hou adalah orang bodoh, tapi sekali-kali bukan manusia pengecut dan binatang yang tidak tahu budi. Cuma Congpiauthau engkau... engkau sekali ini...”


“Apakah kau heran karena aku tidak mengajak sahabat-sahabatku yang lain?”


“Ya, begitulah,” jawab Lui-lotoa.


“Kawanan Cap-ji-she-shio itu masing-masing memiliki ilmu saktinya sendiri-sendiri, jarang di antara kawan-kawan Kangouw kita yang mampu mengalahkan mereka. Jika kuajak teman, sudah tentu mereka akan hadir mengingat jiwa setia kawan mereka, tapi apakah aku tega membuat susah kawan sendiri dan mengorbankan jiwa mereka secara sia-sia.”


“Congpiauthau tetap Congpiauthau, jiwamu yang luhur sungguh membuatku tunduk benar-benar,” ujar Lui-lotoa, “Sekalipun aku Lui Siau-hou memiliki kepandaian setinggi Congpiauthau juga tidak mungkin mampu menjabat pemimpin umum dari gabungan tiga buah Piaukiok besar, aku...” belum habis ucapannya, tiba-tiba terdengar suara anj*ng menggonggong.


Ada anj*ng menggonggong atau lebih tepat mengaum bulan di waktu malam di tengah ladang belukar sebenarnya bukan sesuatu yang aneh, yang aneh adalah suara auman anjing ini lain daripada yang lain, suara gonggongan anjing ini mengandung rasa yang aneh dan menyeramkan.


Seketika air muka Lui-lotoa berubah, katanya tergegap, “Jangan-jangan...”


Belum habis ucapannya, serentak suara anjing menggonggong berjangkit di kota kecil tadi, sahut menyahut akibat auman anjing pertama tadi.


Betapa pun besar nyali Lui-lotoa tidak urung juga rada gemetar, tapi ketika dilihatnya sikap sang Congpiauthau tidak gentar sedikit pun, mau tak mau ia pun menjadi tabah, katanya dengan menyeringai, “Tampaknya kawanan Cap-ji-she-shio ini memang rada-rada aneh...”


“Gerombolan Cap-ji-she-shio itu memang suka berbuat aneh-aneh dan menggoda untuk membikin jeri lawannya,” kata Sim Gin-hong. “Kalau kita juga kena digertak berarti kita sudah patah semangat lebih dulu.”


“Tidak, aku tidak takut, Congpiauthau,” seru Lui Siau-hou sambil membusungkan dada. “Pengecutlah orang yang takut, anak kura-kura kalau takut.”


Di malam sunyi, di tengah ladang belukar auman anj*ng yang mirip orang menangis dan seperti serigala menyalak memang menggetar sukma.


Segera Sim Gin-hong mengangkat tangan memberi hormat dan berseru lantang, “Silakan Cap-ji-she-shio perlihatkan diri. Sim Gin-hong sudah datang berkunjung!”


Biarpun tubuhnya kurus kecil, tapi suaranya lantang keras menembus suara gonggongan anj*ng yang sahut menyahut dengan riuhnya itu.


Di tengah cuaca remang-remang sekonyong-konyong meloncat keluar segulung bayangan hitam yang menyerupai seorang penunggang kuda.


Waktu Sim Gin-hong mengamati lebih teliti, kiranya seekor kera besar berbulu kuning menunggang seekor anj*ng dengan siungnya yang menyeringai seram.


Anj*ng itu sangat besar, yaitu anj*ng serigala atau anj*ng herder (gembala) menurut istilah sekarang.


Kera berbulu kuning emas itu pun aneh, matanya merah memancarkan sinar yang menyeramkan.


Anj*ng dan kera itu seakan-akan bukan makhluk di dunia ini, tapi seperti siluman yang datang dari akhirat.


Dengan tegak tak gentar Sim Gin-hong mengikuti datangnya si kera menunggang anj*ng itu.


Sesudah dekat, mendadak kera itu bersuara mencuit sambil menyodorkan se-buah Tho.


Sim Gin-hong menjengek, “Sungguh bagus anj*ng sakti menyambut tamu dan kera ajaib menyuguh buah. Tapi yang ingin kutemui adalah manusianya dari Cap-ji-she-shio dan bukan kawanan binatang ini.”


Kera bulu emas itu seperti paham ucapan manusia, “ciit”, sambil bersuara mendadak ia berjumpalitan di atas punggung anjing tunggangannya itu, tiba-tiba tangannya sudah membentang sehelai kain putih dengan tulisan, “Jika kau berani makan ini, tentu ada orang yang akan menemuimu”


“Hm, kalau Cap-ji-she-shio hanya kawanan tikus yang cuma pintar menakut-nakuti orang, tentu orang she Sim takkan datang ke sini,” jengek Sim Gin-hong pula, “Apa pun juga Sim Gin-hong percaya penuh pada kalian, biarpun racun juga akan kumakan.”


Baru saja ia hendak menerima buah Tho yang disodorkan si kera tadi, tak terduga mendadak Lui Siau-hou menyerobot maju, buah Tho itu disambernya terus dilalap habis ke dalam perut, katanya, “Makan Tho gratis, kalau tidak mau kan bodoh!”


Serentak terdengarlah seorang tertawa seram dan menanggapi, “Bagus! Pantas Sam-wan-piaukiok dapat berjalan lancar di utara dan selatan Sungai (Yangce), buktinya di dalam perusahaannya memang tidak sedikit laki-laki berani mati...” berbareng beberapa bayangan orang lantas muncul.


Kalau perawakan Sim Gin-hong sudah terhitung kurus kecil, maka kini orang yang muncul paling depan ternyata jauh lebih kurus kecil daripada Congpiauthau gabungan tiga perusahaan pengawalan itu.


Jubah yang dipakai orang kerdil ini berwarna emas mengkilat, mukanya tirus, yakni tulang pipi menonjol dan janggutnya runcing, tapi kedua matanya merah membara, mulutnya lebar, waktu tertawa ujung mulutnya hampir melebar sampai di pangkal telinga.


Kalau tiga bagian masih mirip manusia, maka orang ini tujuh bagian lebih menyerupai monyet.


Enam-tujuh pengikutnya lagi berseragam hitam pula, hanya kelihatan mata mereka yang berkedip mirip mata s*tan.


“Yang datang ini apakah...”


Belum sempat Sim Gin-hong menegur, si kerdil berjubah emas itu sudah memotong, “Dari bentuk kami, sekali pandang saja tentu kau tahu melambangkan apa kami ini, jadi tidak perlu kujelaskan lagi bukan?”


“Ya, cuma Cayhe (aku yang rendah) heran mengapa di antara kalian tiada terdapat Hek-bian-kun dan Su-sin-khek?” ujar Sim Gin-hong.


“O, kedua kawan kami itu sedang melakukan jual-beli yang lain, memangnya kau anggap tidak cukup kehadiran kami ini?”


“Soalnya orang she Sim sudah sengaja datang dan tidak berpikir untuk pulang dengan hidup, maka kuharap bisa melihat wajah asli dari keduabelas lambang binatang yang termasyhur ini. Kalau sekarang jumlah yang hadir ternyata kurang lengkap, betapa pun aku rada menyesal.”


.