Legendary Siblings

Legendary Siblings
7. Muslihat Balas dendam



Melihat lengan kakaknya yang penuh bintik merah berdarah itu, semula Lian-sing melenggong, tapi mendadak ia menubruk ke dalam pelukan Kiau-goat dengan air mata bercucuran, katanya dengan suara tersedu, “O, tak kuduga bahwa… bahwa Cici juga menahan penderitaan batin sehebat ini.”


Sambil merangkul pundak adiknya, Kiau-goat menengadah dan berucap dengan rasa hampa, “Ya, betapa pun aku juga manusia, juga perempuan, aku pun berperasaan seperti perempuan lain, aku pun mendambakan cinta, tapi aku pun bisa iri, cemburu, dendam dan benci...”


Cahaya sang dewi malam yang lembut menyinari rangkulan dua bayangan tubuh menggiurkan.


Kini mereka bukan lagi kedua putri agung dari Ih-hoa-kiong yang disegani dan dihormati melainkan dua gadis biasa yang bernasib malang seperti orang kebanyakan yang harus dikasihani.


“O, Cici, baru sekarang… baru sekarang kutahu engkau...” Lian-sing bergumam pula.


Tapi Kiau-goat lantas mendorongnya dan membentak, “Diam!”


Setelah tenangkan diri, Lian-sing berkata pula dengan rasa pedih, “Cici, sudah lebih dua puluh tahun baru sekarang engkau merangkul diriku, biarpun Cici tetap benci padaku, namun... namun hatiku sudah puas.”


Kiau-goat tidak memandangnya lagi barang sekejap, dengusnya, “Lekas turun tangan!”


“Turun... turun tangan? Terhadap siapa?”


“Siapalagi? Kedua orok itu!” kata Kiau-goat dengan nada kaku dingin.


“Kedua anak itu?” Lian-sing menegas dengan tergegap. “Tapi mereka baru... baru saja dilahirkan, masakah Cici....”


“Pokoknya anak mereka tak boleh ditinggalkan!” ujar Kiau-goat. “Jika anak mereka tidak mati, asal teringat olehku mereka ini adalah anak Kang Hong dan budak hina itu, tentu aku akan menderita, aku akan menderita selama hidup. Nah, lekas turun tangan!”


“Aku... aku tidak tega, Cici, tidak tega turun tangan!”


“Baiklah, biar aku sendiri yang melakukannya!” dengan gesit Kiau-goat jemput golok di tanah, sekali sinar golok berkelebat, secepat kilat lantas menyambar ke arah kedua jabang bayi yang tidur nyenyak di dalam kereta.


Mendadak Lian-sing merangkul tangan sang kakak sekuatnya sehingga ujung golok cuma sempat menggores sejalur luka pada wajah salah satu anak itu.


Seketika orok itu terjaga bangun dan menangis. “Kau berani merintangi aku?” bentak Kiau-goat gusar.


“Cici, kupikir... kupikir....” suara Lian-sing setengah meratap.


“Lepaskan tanganmu! Kau berani merintangi aku? Memangnya kau sendiri ingin mamp*s?”


“Maksudku bukan merintangi tindakanmu, Cici,” tiba-tiba nada Lian-sing berubah. “Justru mendadak aku mendapatkan suatu gagasan bagus yang jauh lebih bagus daripada kita membunuh kedua anak ini.”


Kiau-goat merandek ragu, akhirnya ia bertanya, “Apa gagasanmu?”


“Bukankah merasuk tulang benci Cici terhadap budak hina itu? Juga benci Cici kepada bocah she Kang itu kukira tidaklah berkurang. Nah, apa faedahnya jika kita membunuh kedua anak yang tidak tahu apa-apa ini? Pada hakikatnya sekarang pun mereka tidak kenal apa artinya menderita.”


“Habis bagaimana jika kita tidak membunuh mereka?”


“Agar benar-benar dapat melampiaskan dendam kita, kedua anak ini harus dibuat menderita dan sengsara selama hidup, dengan demikian, walaupun bocah she Kang dan budak hina itu sudah mamp*s juga takkan tenteram di akhirat.”


Sorot mata Kiau-goat menatap dingin kepada adiknya, “Mengapa sikapmu berubah terhadap mereka?”


“Tidak, aku tidak berubah, benciku kepada mereka pun merasuk tulang, bahkan jauh lebih mendalam daripada Cici.”


“Baik, coba jelaskan cara bagaimana membuat kedua anak ini sengsara dan menderita selama hidup?”


Seketika Kiau-goat belum dapat meraba jalan pikiran adiknya itu, ia hanya mengangguk dan membenarkan.


“Nah, dengan sendirinya kedua bayi ini juga tidak tahu apa-apa, bukan?”


“Hm, tidak perlu bicara bertele-tele,” jengek Kiau-goat.


“Tapi masih ada seorang Yan Lam-thian yang mengaku sebagai jago pedang nomor satu di jagat ini, dia adalah sahabat karib Kang Hong, ia sudah berjanji akan memapak Kang Hong di jalan ini, kalau tidak, tentu Kang Hong takkan mengambil jalan sepi ini...”


“Tampaknya luas juga sumber beritamu!”


“Tapi yang penting kedatangan Yan Lam-thian ke sini ternyata terlambat.”


“Memangnya bagaimana kalau dia terlambat?” jengek Kiau-goat.


“Jika begitu, akhirnya dia kan pasti akan datang ke sini, bukan?”


Kiau-goat menjadi gusar, teriaknya, “Mengapa bicaramu selalu putar kayun dan bertele-tele, kau kenal watakku tidak?”


“Sabar sejenak, Cici,” ujar Lian-sing dengan tersenyum. “Sekarang kalau kita membawa pergi salah satu anak kembar ini dan tinggalkan satu di sini, bila Yan Lam-thian datang, tentu dia akan membawa pergi anak yang kita tinggalkan ini dan merawat serta membesarkannya, malahan bukan mustahil akan mengajarkan anak itu dengan segenap ilmu silatnya demi untuk menuntut balas sakit hati atas kematian ayah-bunda anak itu, betul tidak?”


“Ehm, anggap saja betul,” dengus Kiau-goat.


“Nah, kalau kita meninggalkan suatu bekas pukulan di tubuh Kang Hong, tentu mereka akan kenal bahwa apa yang terjadi ini adalah perbuatan Ih-hoa-kiongcu dan kelak setelah anak itu dewasa, pasti juga Ih-hoa-kiongcu yang akan menjadi sasarannya untuk menuntut balas, bukan?”


“Ya, betul juga,” jawab Kiau-goat. Sorot matanya gemerlap, tampaknya hatinya mulai goyang.


“Sementara itu anak yang kita bawa tentu juga sudah besar, dan sebagai ahli waris Ih-hoa-kiong, tentunya ia pun menguasai segenap ilmu silat ajaran kita. Sebagai lelaki satu-satunya di Ih-hoa-kiong, apabila kita kedatangan musuh, dengan sendirinya dia akan tampil ke muka untuk menghadapi segala tantangan. Sudah tentu dia takkan mengetahui bahwa musuh yang datang adalah saudara sekandungnya, bahkan saudara kembarnya, di dunia ini juga tiada orang lain yang tahu hubungan sedarah sedaging mereka dan dengan demikian...”


“Mereka akan berubah menjadi musuh dan akan duel satu sama yang lain, begitu bukan maksudmu?” sela Kiau-goat.


“Tepat,” seru Lian-sing dengan tertawa. “Tatkala mana si adik bertekad membunuh kakak dan sang kakak juga berkeras ingin membinasakan si adik. Mereka adalah saudara kembar, kepintaran dan kecerdasan mereka tentu seimbang, dengan begitu cara mereka mengadu akal dan tenaga tentu akan berlangsung dengan sangat dahsyat dan entah akan berlangsung berapa lama baru dapat membinasakan pihak lawan.”


“Ehm, rasanya menarik juga peristiwa demikian,” ujar Kiau-goat dengan tersenyum.


“Tentu saja sangat menarik, bukankah jauh lebih menyenangkan daripada kita membunuh mereka sekarang?”


“Benar, kita tidak perlu urus siapa di antara mereka yang akan terbunuh, cukup bagi kita untuk memberitahukan rahasia pribadi mereka ini kepada yang hidup itu, tatkala mana, hehe, air mukanya tentu sangat lucu dan menarik sekali, akan tetapi, kalau ada orang memberitahukan lebih dulu rahasia ini kepada mereka, maka apa yang bakal terjadi tentunya takkan menarik lagi.”


“Di dunia ini pada hakikatnya tiada orang lain lagi yang tahu persoalan ini selain Cici....”


“Dan kau!” sambung Kiau-goat dengan dingin.


.


.


.