
Yan Lam-thian seperti orang gila, ia menerobos setiap rumah, namun tetap tiada seorang pun yang ditemukan. Ia gelisah dan mengamuk, tapi semua itu tiada gunanya.
Gigi gemertukan, mata merah membara, ia berteriak dengan suara serak, “Baiklah, kalian boleh sembunyi, ingin kulihat sampai kapan kalian sanggup sembunyi!”
Dia ambil sebuah kursi dan sengaja duduk di tengah-tengah jalan raya itu, cahaya rembulan menyinari tubuhnya yang berlumuran darah itu dan menambah seramnya.
Jika yang berada di Ok-jin-kok itu adalah kawanan setan iblis, maka Yan Lam-thian laksana malaikat maut penindas setan.
Sekonyong-konyong terdengar seorang bergelak tertawa dan berkata, “Apa gunanya anak busuk ini, kalau kau mau, ini kukembalikan!”
Yan Lam-thian meraung murka terus menubruk ke sana. Dalam kegelapan tampak bayangan orang berkelebat, sepotong benda terlempar keluar. Tampaknya memang anak terbungkus kain popok, tanpa pikir Yan Lam-thian menangkapnya.
Tapi baru saja jarinya menyentuh benda itu, mendadak ia membentak dengan suara bengis, “B'ngsat, ambil kembali ini!” Berbareng benda itu terus di lemparkan ke arah datangnya tadi dan menumbuk dinding, “blang”, terdengar suara letusan keras, rumah itu meledak dan hampir hancur seluruhnya.
Ternyata yang terbungkus di dalam popok ini bukanlah bayi melainkan bahan peledak.
Setelah suara gemuruh itu berkumandang jauh, kemudian suasana kembali menjadi sunyi lagi.
Yan Lam-thian merasa ngeri membayangkan kejadian tadi, kalau saja dia kurang gesit dan cerdik daya reaksinya ketika merasakan isi bungkusan popok itu mencurigakan, tentu saat ini sudah hancur lebur terledak oleh mesiu itu.
Matinya tidak cukup dibuat sayang, tapi anak itu... Yan Lam-thian mengepal kencang-kencang dan mengeluarkan keringat dingin.
Tipu muslihat keji ternyata tidak kunjung habis di tengah Ok-jin-kok ini. Betapa pun gagah perkasanya, sedikit meleng saja pasti akan binasa di tempat ini.
Meski Yan Lam-thian berhasil lolos dari renggutan maut, tapi dia mampu lolos berapa kali? Betapa pun tenaganya terbatas, mana dia sanggup menghadapi musuh-musuh yang tak kelihatan itu tanpa tidur dan tanpa mengaso?
Berpikir sampai di sini, tanpa terasa Yan Lam-thian ngeri sendiri. Tapi apa daya, Ok-jin-kok seluas ini dan sedemikian gelap, apa yang harus dilakukannya sekarang?
Tiba-tiba terkilas sesuatu pikiran dalam benaknya, 'Jika mereka dapat memperalat kegelapan ini untuk menyergap diriku, kenapa aku tidak menggunakan keadaan gelap ini untuk menyelidiki dan mencari mereka?'
Berpikir sampai di sini, terbangkit semangat Yan Lam-thian, tanpa ayal lagi ia terus menyelinap ke tempat gelap dan menghilang.
Caranya ini memang resep yang paling jitu, meski seketika belum dapat menemukan anak itu, tapi kawanan durjana itu pun tak dapat menyergapnya lagi dengan seenaknya.
Yan Lam-thian merayap dan merunduk di tengah kegelapan seperti ular, seperti kucing. Seumpama orang lain memiliki telinga setajam kucing juga takkan mendengar suaranya, sekalipun lawan memiliki mata sebagai kucing juga jangan harap akan melihat bayangannya.
Terdapat musuh yang setiap saat dapat muncul di sisi mereka, mustahil kawanan durjana takkan gemetar dan ketakutan?
Tapi Yan Lam-thian justru tak dapat menemukan mereka. Setiap rumah itu seakan-akan kosong melompong, penghuninya entah kabur ke mana?
Dengan sabar Yan Lam-thian terus menelusuri rumah-rumah itu sebuah demi sebuah. Baru sekarang ia merasakan rumah-rumah di Ok-jin-kok ini ternyata tidak sedikit jumlahnya.
Sudah larut malam, suasana sunyi senyap, Ok-jin-kok seolah-olah berubah menjadi sebuah kuburan.
Angin silir semilir sejuk. Tiba-tiba di antara embusan angin malam itu seperti membawa semacam suara yang aneh dan lirih. Berdetak jantung Yan Lam-thian, dengan menahan napas ia merunduk ke sana.
Benarlah, ada suara orang yang lirih tersiar dari sebuah rumah. Terdengar seorang berkata, “Boleh juga To molek kita, anak ini dapat ditimangnya hingga tertidur.” Meski orang ini tidak tertawa, tapi jelas suara Ha-ha-ji.
“Untung kita mendapatkan sandera anak ini,” demikian kata seorang lagi, “Kalau tidak, wah...”
Mendadak terdengar suara To Kiau-kiau menegur, “He, Li Toa-jui, apa yang hendak kau lakukan?”
“Mayat itu kan sudah mati beberapa hari yang lalu!?” ujar To Kiau-kiau.
“Tidak soal,” kata Li Toa-jui, “Asalkan tersimpan dengan baik masih dapat dimakan.”
“Hihi, boleh juga kamu memakannya,” To Kiau-kiau berkata dengan mengikik genit,
“Perempuan ini mungkin adalah ipar Yan Lam-thian itu, kau makan dia, anggaplah melampiaskan sakit hati Toh-lotoa.”
“Tapi bau wewangian ini harus dilenyapkan dahulu, habis itu....”
Belum habis ucapan Li Toa-jui, Yan Lam-thian tidak tahan lagi akan rasa murkanya, sambil mengerang kalap ia mendepak daun pintu hingga jebol, menyusul ia terus menerjang masuk rumah.
Tentu saja orang-orang di dalam rumah menjerit kaget dan lari berpencaran.
“Makanlah ini!” bentak Li Toa-jui sambil mengangkat peti mati terus dilemparkan ke arah Yan Lam-thian.
Bahan wewangian di dalam peti mati berserakan, mayat juga jatuh ke lantai.
Dalam kegelapan terdengar Ha-hi-ji bergelak tertawa dan berkata, “Bagus, Yan Lam-thian, kamu memang dapat menemukan kami, asalkan kau berani mengejar, hm, rasakan nanti, Ha-ha, hahaha!”
Sebenarnya Yan Lam-thian sudah hampir menubruk maju lagi, demi mendengar ancaman itu, seketika ia urungkan niatnya dengan lesu, ia merasa murka dan pedih pula, karena ketidaksabarannya tadi, urusan menjadi bertambah runyam.
Cahaya bulan menembus masuk melalui pintu yang sudah jebol itu dan terlihat jelas mayat yang menggeletak di lantai.
Itulah mayat ibu si bayi, mukanya yang pucat rada membengkak dengan rambutnya yang semrawut itu kelihatan mengharukan dan seram pula.
“O, maaf, Kang-jite,” gumam Yan Lam-thian dengan sedih, “aku tak dapat... tak dapat menjaga putramu, bahkan jenazah kalian juga... juga tak dapat....” sampai di sini suaranya menjadi tersendat-sendat dan tak sanggup melanjutkan lagi.
Sebisanya ia tenangkan diri, ia betulkan letak peti mati, lalu mengangkat jenazah itu dan menaruhnya kembali ke dalam peti dengan hati-hati sekali. Air matanya bercucuran, sungguh ia tidak tega memandang lagi jenazah iparnya itu.
Dengan rasa pilu ia pejamkan mata dan bergumam, “Semoga engkau istirahat untuk selamanya dengan tenang.”
Cahaya bulan yang lembut, peti mati yang dingin, kegelapan yang tak bertepi, jenazah si cantik yang menyeramkan, semua itu menambah heningnya suasana.
Mendadak, mayat yang baru ditaruh ke dalam peti mati oleh Yan Lam-thian itu melompat bangun. “Blak-bluk-blak-bluk” empat kali, kedua kaki dan kedua tangan mayat itu bekerja sekaligus, dengan tepat empat Hiat-to penting di tubuh Yan Lam-thian terhantam.
Dalam keadaan demikian, betapapun gagah perkasa dan cerdiknya Yan Lam-thian juga sama sekali takkan menduga akan perubahan yang luar biasa itu.
Belum sempat dia berteriak kaget, tahu-tahu empat tempat Hiat-to penting sudah terkena serangan. Tanpa ampun lagi ksatria besar yang tiada taranya itu roboh terguling.
Sementara itu “mayat” tadi telah berdiri sambil bergelak tertawa dan mengejek, “Aha, Yan Lam-thian, sekarang baru kau kenal kelihaianku!”
Di tengah suara tertawa gembira itu, tiba-tiba “mayat” itu menjambak rambut sendiri sehingga seonggok rambut palsu tertarik lepas, wajahnya tersorot cahaya bulan, siapalagi dia kalau bukan To Kiau-kiau, si bukan lelaki bukan perempuan alias si banci.
Semula Yan Lam-thian yakin To Kiau-kiau yang terkenal pandai menyaru itu pasti tak mampu menjebaknya mengingat kedatangannya hanya sendirian disertai seorang bayi, mustahil To Kiau-kiau mampu menyamar sebagai bayi untuk menjebaknya.
Siapa tahu si banci justru menyaru sebagai mayat dan dia tetap kena diakali dan hampir celaka.