
Sekujur badan Siau-hi-ji serasa kaku, biarpun bertenaga juga tidak berani sembarangan bergerak.
Pek-coa-sin-kun mengacungkan jari tengah dan ibu jarinya serta berkata, "Asalkan jariku menjentik perlahan, segera kau akan tenggelam ke surga impian, hehe, seakan-akan belasan perempuan merangkul kau sekaligus, rasa nikmat itu sungguh menggetar kalbu, selain kau kiranya tiada orang lain yang mampu merasakannya."
"Jika begitu rasanya merangkul perempuan, pantaslah kalau orang cerdik pandai lebih suka menjadi Hwesio," ucap Siau hi-ji.
"Huh, kau sendiri belum merasakan, dari mana tahu..."
"Ahah, terima kasih banyak-banyak, rasa nikmat ini lebih baik tak kurasakan," seru Siau hi-ji.
"Maksudmu kau minta ampun?"
"Sudahlah," ucap Siau hi-ji dengan menyengir, "Kau ingin ke mana, biarlah kubawa kau ke sana."
Bercahaya sinar mata Pek-coa-sin-kun, saking girangnya suaranya sampai serak, katanya, "Apakah memang betul tempat penyimpanan harta karun itu terletak di atas Go-bi-san sini?"
"Ya, sedikit pun tidak salah," sahut Siau hi-ji.
Pek-coa-sin-kun menelan air liur, katanya pula, "Jika demikian, malam nanti dapatlah kutemukan harta karun itu."
"Bukan saja dapat kau temukan, bahkan boleh kau bawa pergi."
"Jika begitu, ayolah berangkat!" serentak Pekcoa sin-kun melompat bangun.
"Berangkat? Tapi... tapi... ular-ular ini?"
"Kubiarkan tubuhmu dirangkul kawanan ular betina cantik ini, boleh dikatakan kau mendapat rezeki besar."
"Dirangkul si cantik sebanyak ini, mana aku sanggup berjalan pula?"
"Soalnya aku merasa tidak mampu mengawasi dirimu terpaksa kuminta bantuan mereka. Asalkan kau menurut, mereka pasti lemah lembut padamu, tapi kalau kau sembarangan bergerak, bila mulut mereka yang mungil itu mencium tubuhmu, hehehe, hahaha." mendadak Pek-coa-sin-kun terkekeh-kekeh.
Tiada jalan lain, terpaksa Siau hi-ji menurut perintah, ia berdiri terus berangkat, sama sekali tidak sembarangan bergerak, bahkan batuk saja tidak berani. Selama hidupnya belum pernah sealim ini.
Sekeluarnya dia masih terdengar suara rintihan si kambing dan si sapi yang masih tergeletak di lantai kamar itu, suaranya memelas, seperti mohon ampun dan seperti juga sedang mencaci maki, biarpun orang berhati baja juga pasti terharu bila mendengar.
Tapi hati Pek-coa-sin-kun ternyata jauh lebih keras daripada baja, pada hakikatnya dia tidak ambil peduli, apalagi Siau hi-ji, keselamatannya sendiri saja tak terjamin, bagaimana dia dapat mengurusi kepentingan orang lain?
Tiba-tiba dari depan datang seorang pelayan, melihat Siau hi-ji, pelayan itu memberi hormat dan menyapa, "Siauya, engkau..." tapi belum habis ucapannya, demi nampak muka Siau hi-ji, seketika ia menjerit dan jatuh kelengar saking kagetnya seperti melihat hantu.
Dengan meringis Siau hi-ji berucap, "Saat ini bentukku sangat menarik, telingaku berhias dua ekor ular, leherku juga berkalung ular, pergelangan tangan memakai gelang ular, jadi komplet perhiasan yang kupakai, kelak kalau ada kesempatan, perhiasan ini harus kuhadiahkan kepada Buyung Kiu."
Dia bergumam sendiri, Pek-coa-sin-kun sama sekali tidak menggubrisnya.
"Sebenarnya peta harta karun itu tidak begitu jelas lukisannya, aku memerlukan dua malam suntuk barulah dapat meraba letak tempatnya, siapa tahu kau yang mendapatkan untungnya," demikian Siau hi-ji berkata pula.
"Di mana tempatnya? Bagian depan atau belakang gunung?"
"Belakang gunung..." belum habis ucapan Siau hi-ji, sekonyong-konyong kepalanya telah dikerudungi sepotong kain hitam.
"Dari sini ke belakang gunung tidak memerlukan petunjukmu," kata Pekcoa sin-kun dengan dingin.
"Jika kau cerdik, kau harus menurut saja dan jangan coba-coba bertingkah untuk menarik perhatian orang lain."
Diam-diam Siau hi-ji gegetun, tapi di mulut ia berkata dengan tertawa, "Untuk apa kutarik perhatian orang lain? Di dunia ini aku hanya punya musuh, mana ada kawan?"
"Tutup mulut!" bentak Pekcoa sin-kun mendadak.
Dia benar-benar seperti orang buta dan dituntun orang, tapi kini dia terpaksa berubah pula menjadi bisu.
Kalau Pekcoa sin-kun berjalan cepat, terpaksa, ia ikut cepat, bila orang berjalan lambat, mau tak mau ia pun melangkah perlahan, mengenai tempat mana yang dilaluinya sama sekali ia tidak tahu.
Tidak lama, suasana terasa mulai sepi, angin meniup sejuk, sekonyong-konyong Siau hi-ji merasa ditarik orang ke tengah semak-semak.
Seketika terpikir olehnya, "Apa barangkali keparat ini melihat seseorang yang ditakutinya..."
Segera terdengar Pekcoa sin-kun mengancam di tepi telinganya, "Awas, jangan bersuara jika sayang akan jiwamu."
Baru saja habis ucapannya, kira-kira belasan meter di sebelah sana berjangkit suara orang berkata, "Budak she Thi itu mengapa mendadak menghilang di sekitar sini?"
Mendengar suara nyaring itu, setiap katanya selalu membuat jantung Siau hi-ji berdegup.
Kiranya itulah suara Siau sian-li Thio Cing.
Mengapa nona itu bisa muncul di sini? Menyusul lantas terdengar suara seorang lagi berkata, "Bisa jadi dia mengetahui penguntitan kita." Suara orang ini dingin ketus, jelas suara Buyung Kiu-moay.
Seketika jantung Siau hi-ji berdetak-detak keras, biasanya dia sudah kabur secepatnya apabila tahu kedua nona itu berada di dekatnya.
Tapi kini dia berbalik berharap semoga kedua nona itu lekas kemari, makin cepat makin baik.
Tiba-tiba ia merasakan kedua nona ini meski musuhnya, tapi juga dapat dianggap sebagai anggota keluarganya.
Terdengar Siau sian-li sedang berkata pula, "Kita menguntit dia sepanjang jalan dan dia tidak tahu sedikit pun, masakah sampai di sini mendadak dia menyadari jejaknya dikuntit? Melihat tingkah lakunya yang linglung, yang dipikirnya jelas cuma si setan cilik itu melulu, seumpama di belakangnya mengintil satu barisan orang juga dia tidak merasakannya."
"Jika begitu masakah kau khawatir takkan menemukan dia?" ucap Buyung Kiu dengan hambar.
"Yang kukhawatirkan adalah... adalah..."
"Tak dapat menemukan setan cilik itu, maksudmu?" jengek Buyung Kiu.
"Benar," jawab Siau-sian-li. "Aku benar-benar khawatir tak dapat menemukan setan cilik itu dan khawatir tak dapat mengorek hatinya untuk dilihat bagaimana bentuk dan warnanya."
"Tidak perlu dilihat juga kau harus tahu... pasti hitam!" kata Buyung Kiu.
Suara mereka ternyata tidak mendekat, sebaliknya malah semakin menjauh.
Sungguh Siau hi-ji ingin berteriak memanggil mereka, tapi ia menyadari bila dirinya bersuara, maka kawanan ular 'cantik' akan menggigitnya sekaligus dan urusan pasti runyam.
Terpaksa ia bersabar, asalkan jiwa selamat, segala urusan masih dapat dipikirkan.
Dari percakapan kedua nona tadi Siau hi-ji dapat menerka Buyung Kiu-moay dan Siau sian-li pasti sengaja membebaskan Thi Sim-lan, habis itu mereka lantas menguntitnya secara diam-diam.
Ini adalah akal kuno dan sederhana, tapi akal ini justru paling mudah dilaksanakan.
Lantas ke manakah Thi Sim-lan saat ini? Beradanya Thi Sim-lan di sini sudah tentu bukan harta karun itu, dia hanya ingin menunggu Siau hi-ji di sini, ia tahu harta karun tersebut tersimpan di Go-bi-san, ia pun tahu Siau hi-ji pasti akan datang kemari.
Tapi Buyung Kiu-moay sendiri telah mengurung Siau hi-ji di ruangan batu itu, dengan sendirinya ia yakin anak muda itu tak mungkin akan datang ke sini.
Lalu, untuk apakah dia juga ikut kemari? Masakah perempuan yang berhati dingin ini pun menaruh perhatian terhadap harta karun?
Dalam pada itu Pekcoa sin-kun telah membisiki Siau hi-ji dengan nada bengis, "Jangan-jangan kau juga memberitahukan tempat harta karun ini kepada orang lain?"
"Kau kira aku akan berbuat begitu atau tidak?" jawab Siau hi-ji dengan tertawa.