Legendary Siblings

Legendary Siblings
19. Teguhnya Pendirian



“Ya, di dunia Kangouw memang tersiar berita demikian,” ujar Hay Tiang-po, “tapi menurut sumber yang mengetahui kejadian di balik layar, katanya para tertua Siau-lim-pay memang sudah berhasil membekuk dan mengurung iblis ‘setengah manusia setengah setan’ itu, namun akhirnya dia berhasil lolos pula. Karena kejadian ini menyangkut kehormatan Siau-lim-pay, maka anak murid Siau-lim-pay sama sekali tidak ada yang mau bercerita.”


“Itulah kelemahan manusia umumnya yang suka menjaga muka,” ujar Yan Lam-thian dengan gegetun. “Sebabnya Siau-lim-pay yang terkenal itu makin hari makin merosot, soalnya karena setiap murid Siau-lim-pay terlalu suka menjaga muka.”


“Ya, memang bukanlah pekerjaan mudah untuk tetap mempertahankan wibawa dan nama baik sesuatu aliran agar tidak merosot,” kata Cong-ek-cu. Sudah tentu ucapannya ini timbul karena ada sebabnya.


Bukankah Kun-lun-pay mereka pun kian hari kian lemah? “Kaum penjahat itu rata-rata adalah orang yang sukar dilayani,” tutur Nyo Peng, “lebih-lebih To Kiau-kiau, si tidak lelaki bukan perempuan itu, bukan saja banyak tipu akalnya, bahkan kepandaiannya menyamar boleh dikatakan tiada bandingannya. Sekalipun orang yang paling karib dengan engkau, bisa jadi mendadak berubah menjadi iblis itu yang menyamarnya. Konon sebabnya orang ini kabur ke Ok-jin-kok bukan karena menghindari pencarian musuh, tapi ada sebab lain.”


“Benar, dengan kepandaiannya menyamar, pada hakikatnya dia tidak perlu kabur ke Ok-jin-kok, sebab orang lain toh tidak tahu persis bentuknya yang asli,” ujar Hay Tiang-po.


“Tak peduli kaburnya ke Ok-jin-kok itu disebabkan apa, tak peduli betapa pintarnya dia mengubah wajahnya, yang pasti ku masuk ke sana sendirian, biarpun dia menyamar menjadi siapa pun juga takkan mengelabui aku,” kata Yan Lam-thian. “Haha, memangnya dia mampu menyamar menjadi bayi yang baru setengah bulan dilahirkan?”


“Benar juga,” kata Nyo Peng dengan tertawa, “sekali ini Yan-tayhiap masuk ke sana dengan sendirian, biarpun dia memiliki kepandaian setinggi langit mungkin juga tiada gunanya lagi. Cuma... cuma....”


Tanpa menunggu selesai ucapan orang, segera Yan Lam-thian memberi salam perpisahan terus melangkah pergi.


“Yan-tayhiap, engkau...” serentak semua orang berseru.


Namun Yan Lam-thian tidak menoleh lagi, sambil menyeret keretanya ia terus melangkah ke depan. Dia menarik keretanya dengan sebelah tangan saja, tapi ternyata jauh lebih kuat dan cepat daripada kereta itu dihela kuda.


Semua orang saling pandang dengan melongo dan terdiam sekian lamanya, akhirnya Cong-ek-cu menghela napas dan berkata, “Sering kudengar orang mengatakan ilmu silat Yan-tayhiap mahatinggi dan tiada bandingannya, setelah menyaksikan tadi.. Ai...”


“Tinggi ilmu silatnya memang sangat membuat kagum orang, yang lebih kukagumi adalah jiwa ksatrianya, budi luhurnya, semua ini membuat kaum kita harus malu diri,” ujar Nyo Peng.


Sambil memandangi bayangan Yan Lam-thian yang semakin menjauh dan akhirnya lenyap, Hay Tiang-po bergumam, “Semoga kepergiannya ke Ok-jin-kok ini masih dapat keluar lagi untuk bertemu dengan kita...”


Di tengah remang maghrib diliputi kabut itu, tiba-tiba timbul setitik sinar pelita di depan sana. Itulah lampu minyak sejenis sentir yang disebut “Khong-beng-teng”, lampu yang asalnya diciptakan Khong Beng, itu ahli siasat di jaman Sam-kok.


Secara tepat dan mengagumkan diselipkan di celah-celah batu cadas yang teraling dari tiupan angin, sinar lampu yang kelap-kelip di lembah pegunungan yang menyeramkan ini tampaknya mirip “api setan” saja di waktu malam.


Di bawah cahaya lampu itu, terlihat dua baris huruf yang terukir pada batu gunung itu berbunyi “Laksana naik ke langit untuk masuk ke lembah ini. Pendatang disilakan jalan di sebelah sini”.


Bagian bawah kedua baris huruf itu ada ukiran ujung panah yang menunjukkan arah yang harus diturut. Sepanjang mata memandang ke sana terlihat lembah yang dikelilingi oleh gunung-gemunung.


“Kurang ajar! Sungguh kaum penjahat yang terlalu berani, secara terang-terangan ternyata berani memberi petunjuk jalan bagi orang yang hendak masuk ke sarang mereka,” demikian omel Yan Lam-thian dengan gemas. “Ya, mungkin kalian mengira di dunia ini tidak ada orang baik yang berani masuk ke lembah maksiat kalian ini.”


Padahal, orang baik-baik yang masuk ke Ok-jin-kok memang Yan Lam-thian sendirilah terhitung orang pertama.


Meski lereng pegunungan Kun-lun-san sangat curam, tapi jalan yang menuju ke Ok-jin-kok itu ternyata teratur dengan baik menembus ke balik gunung sana dan Ok-jin-kok itu justru terletak di dasar lembah yang diapit gunung-gunung itu. Sebab itulah jalan yang masuk Ok-jin-kok bukan menanjak ke atas, tapi justru semakin menurun, sampai akhirnya Yan Lam-thian tidak perlu lagi menghela keretanya, sebaliknya dia malah seperti didorong oleh keretanya.


Hanya jalan pegunungan itu semakin melingkar, cuaca juga tambah gelap sehingga pandangan sukar mencapai jauh.


Sekonyong-konyong pandangan Yan Lam-thian terbeliak, di tengah-tengah lembah yang dilingkari gunung-gemunung itu mendadak timbul lapangan pelita secara aneh dan menakjubkan, begitu banyak titik-titik lampu hingga seperti bintang-bintang bertaburan di langit.


Yan Lam-thian tahu di mana terletak sinar lampu yang tak terhitung jumlahnya itu adalah “Ok-jin-kok”, sarang berkumpulnya penjahat pelarian dari seluruh jagat ini.


Biarpun hatinya sekeras baja, nyalinya sekuat besi, tapi menghadapi Ok-jin-kok, tempat yang paling misterius dan paling berbahaya di dunia ini, mau-tak-mau timbul juga semacam perasaan aneh, serasa darahnya jadi mendidih dan mata berapi.


Tanpa ragu kakinya tetap tegap melangkah ke depan sana.